Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

GEOPOLITIK MASIH BERLAKU ATAU TIDAK?

Akhir Perang Dingin merupakan tanda yang menunjukkan awal keruntuhan dari Uni Soviet dan kemunculan Amerika Serikat sebagai hegemoni. Kemunculan dari Amerika Serikat merupakan pertanda bahwa keberadaan dari konsep neoliberalnya mampu diterima di dunia. Konsep neoliberalisme yang dibawa oleh Amerika seakan merubah sistem dunia. Dengan sistem neoliberalis yang dibawa Amerika Serikat merupakan salah satu upayanya dalam melancarkan aksinya dalam melakukan manifest destiny. Pelaksanaan dari manifest destiny dijelaskan dalam Foster (2006) merupakan penyamaran yang dilakukan oleh Amerika Serikat dalam menyebarkan konsep imperialisme pelaksanaan perdagangan bebas. Konsep tersebut menjelaskan ke dalam tiga aspek penting, yaitu mengenai perdagangan bebas, keterbukaan, dan integrasi ekonomi global. Aspek yang menjelaskan mengenai perdagangan bebas yang dibawa oleh neoliberalis tersebut lebih menekankan terhadap kerjasama antarnegara. Aspek yang menjelaskan mengenao keterbukaan pasar menekankan pada aspek sosial, ekonomi, politikm dan informasi. Sedangkan, pada aspek yang menjelaskan mengenai integrasi ekonomi global lebih menekankan pada keberadaan dari organisasi-organisasi internasional seperti IMF dan World Bank (Roberts et al. 2003, 886-7).

Sebelumnya, peran Amerika Serikat di dunia terlihat membutuhkan perjuangan panjang karena bertindak sebagai pesaing dari Uni Soviet. Peran Amerika Serikat yang begitu jelas dan nyata dalam menyaingi Uni Soviet dengan melakukan penyebaran ideologi liberalisnya untuk menyaingi ideologi komunis yang dibawa oleh Uni Soviet. Selain itu, keinginan kuat dari Amerika Serikat tersebut seakan menunjukkan bahwa Amerika Serikat menginginkan dirinya sebagai poros utama yang berpengaruh di dunia (yale.edu 1992). Hal tersebut dibuktikan dengan adanya tindakan Amerika Serikat karena pengaruh dari terjadinya peristiwa 11 September 2001 mengenai peristiwa serangan World Trade Center semakin menyemarakkan dunia akan penyerangan yang dilakukan oleh pelaku terorisme. Kemunculan dari terorisme tersebut menyebabkan Amerika Serikat membuat penyatuan suara untuk melawan tindakan war on terrorism, yang kemudian dijadikannya sebagai alat untuk memperluas pengaruhnya terhadap dunia global. Penggunaan taktik yang dibuat oleh Amerika Serikat menandakan adanya keinginannya untuk semakin mendominasikan dirinya ke dalam tatanan dunia global.

Dalam Roberts (2003) dijelaskan mengenai kemunculan dari geopolitik neoliberal, yaitu pasca Perang Dingin menegaskan bahwa kapitalisme lebih dominan karena kemunculan dari neoliberal yang semakin membuka tatanan dunia pada paham yang menganut kebebasan, keterbukaan, integrasi, ekonomi, dan sebagainya. Geopolitik neoliberal yang semakin dikembangkan tersebut memberikan hal yang berbeda karena negara-negara pada masa geopolitik neoliberal memperlihatkan sikapnya yang langsung menuju pada kepentingan yang ingin dicapai. Hal tersebut dapat dilihat dengan keberadaan invansi yang dilakukan Amerika Serikat terhadap Irak. Tindakan yang dilakukan oleh Amerika Serikat tersebut merupakan salah satu contoh mengenai geopolitik yang berhubungan dengan keuntungan ekonomi. Hal tersebut dijelaskan dalam Spinger (2013) lebih menekankan bahwa struggle-nya lebih menekankan pada peran pentingnya dalam geoekonomi. Selain itu, kemunculan dari neoliberalisme tersebut karena pengaruh dari containment policy yang sudah tidak efektif kembali karena tidak terdapat objek komunisme yang dapat dibendung kembali. Maka, dengan pengaruh tersebut memunculkan adanya kapitalisme yang semakin transnasional.

Munculnya geopolitik neoliberal tersebut menjadi pertanda bahwa geokonomi yang mempengaruhinya juga berkaitan dengan militerisasi (Roberts, et al. 2003, 887). Peningkatan dalam peran militer tersebut digunakan untuk pengambilan keuntungan, yang digambarkan dengan tindakan Amerika Serikat mengenai geopolitics of oils. Geopolitics of oils dapat dilihat dengan hubungan Amerika Serikat yang mengikat hubungan dengan Amerika Latin dalam ikatan kerjasama minyak di Amerika Latin. Amerika Latin saat ini dalam posisi turn to left, yaitu mengarah pada kerjasama dengan China karena memiliki kesamaan dalam hal ideologi yang dianutnya. Hal tersebut membuat Amerika Serikat semakin gencar untuk menjaga hubungannya dengan Amerika Latin karena hubungan Amerika Latin dengan China menjadi ancaman baru. Namun, upaya yang dilakukan oleh Amerika Serikat tersebut harus menggunakan upaya yang maksimal karena Amerika Latin terus saja mengundang China dalam hal kerjasama minyaknya. Tindakan yang ditunjukkan oleh Amerika Latin tersebut merupakan tindakan yang menunjukkan bahwa dirinya menentang proyek-proyek yang dibuat oleh neoliberalisme (Putra t. t.).

Selain itu, terdapat pembagian dari functioning core and gap and east and west. Hal tersebut menjadi hal utama karena menentukan untuk sumber yang nantinya akan menguntungkannya. Dalam fuctioning core dan gap dijelaskan mengenai perbedaan yang mendasar dari kedua sistem tersebut, yaitu fuctioning core dikatakan sebagai wilayah yang menjadi akar dari perkembangan dan munculnya dari globalisasi dan biasanya menjadi negara maju, sedangkan fuctioning gap dikatakan sebagai wilayah yang tertinggal dan menolak adanya globalisasi. Dengan adanya functioning gap menandakan bahwa keberadaan dari sumbernya tersebut menjadi buruk akibat dari pengaruh dalam tindakan terorisme, penyeludupan, migrasi, ilegal, dan lain-lain yang nantinya akan mempengaruhi operasionalisasi kekuatan Amerika Serikat menjadi tidak lancar. Namun, dalam pengaruh yang ditimbulkan oleh functioning gap tersebut, Amerika Serikat memainkan peranannya untuk menghilangkan pengaruh dari functioning gap dengan unholly trinity (Wahyudi 2014).

Geopolitik neoliberal merupakan salah satu contoh dari geopolitik modern. Hal tersebut ditekankan dengan kemunculan dari geopolitik kritikal. Geoplitik kritikal merupakan geopolitik yang melakukan kritik terhadap geopolitik klasik yang telah berlangsung lama dan kemunculannya tersebut juga bertujuan untuk menyempurnakan classical geopolitics karena menurut critical geopolitics, classical geopolitics masih bersifat utopis. Hal tersebut terjadi karena menurut  critical geopolitics diperlukan adanya perluasan dalam pembahasan yag diperlukan jika membahas mengenai geopolitik. Perluasan bahasannya bisa berlangsung pada bidang politik, kemanan yang mencakup mengenai militer, dan kontrol negara (Tuathail 1999, 107). Selain itu, dalam geopolitik kritikal tersebut dipahami berdasarkan teori-teori dari pembangunan. Hal tersebut terjadi karena adanya pandangan mengenai diskursus bahwa dunia ketiga dianggap sebgai objek. Dalam hal ini dibuktikan pula bahwa terdapat pembaguan dunia yang terbagi atas utara dan selatan.

Dunia ketiga yang menjadi objek tersebut juga melakukan tindakan dengan melakukan perlawanan karena dalam hal ini, negara dunia ketiga dianggap memiliki kepentingan lebih jika dibandingkan dengan negara dunia pertama atau kedua. Selain itu, terdapat argumen yang dikeluarkan oleh critcal geopolitic yang dijelaskan oleh Tuathail dan Dalby (2002), yaitu geopolitik tidak hanya sekedar politik tetapi juga menyangkut mengenai kebudayaan, geopolitik telah membawa pengaruh terhadap perluasan luas mengenai kajian politik, subjek geopolitik menjadi plural, dan dalam bahasan politik dalam praktek geopolitik menurut geopolitik kritik tidak memikili sifat kenetralan, serta perluasan dalam bahasan mengenai teori geopolitik yang lebih luas dalam penggunaannya dan pembangunan. Selain itu, dalam geopolitik kritik juga telah memberikan penjelasan bahwa penguasaan dari wilayah dikuasai oleh sistem internasional.

Kemuculan dari geopolitik kritik dirasa tidak memberikan perubahan sama sekali karena dalam tindakan kritik yang dilakukan oleh critical geopolitics hanya sebatas memberikan wacana saja yang tidak memberikan adanya solusi dalam melakukan penyelesaian (Toal.org t. t.). Pernyataan yang diberikan oleh critical geopolitics tersebut lebih mengarah pada pembentukan karakter dalam memperbaiki pandangan untuk geopolitik sendiri karena keadaan geopolitik untuk masa sekarang sudah tidak dapat diperjelaskan kembali dengan teori geopolitik klasik. Lalu, penjelasana mengenai geopolitik dikembangkan pada arah geopolitik modern. Geopolitik modern telah memberikan penjelasan yang lumayan rinci untuk perubahan tatanan dunia yang semakin kabur saat ini. Dalam penggambaran geopolitik modern tersebut dalam Tuathail dan Dalby (2002) dijelaskan bahwa adanya pembagian dalam pengenalan status, yaitu antara borjuis dan proletar. Dalam perbedaan status tersebut terdapat sebuah dominasi yang menjadikan adanya kepentingan dari hegemoni. Kepentingan hegemoni tersebut bisa dilihat dengan adanya tindakan penindasan dalam upaya pencapaian dominasinya. Hal tersebut dapat dilihat dengan adanya dominasi dari Amerika Serikat yang mempengaruhi keadaan dunia karena dengan semakin berpengaruh perannya di tatanan internasional. Namun, kehadiran dari geopolitik modern telah mengalami kehancuran. Hal tersebut dilihat dengan runtuhnya Bretton Woods System (Tuathail dan Dalby 2002, 24).

Geopolitik modern yang telah hancur tersebut kemudian digantikan keberadaannya dari postmodern geopolitics. Postmodern geopolitics merupakan geopolitik yang hanya bisa menjelaskan mengenai keberadaan geopolitik tidak secara rinci. Namun, keberadaannya tersebut tergambarkan dengan tidak semakin jelasnya mengenai tatanan dunia baik itu dalam kaitan time, people, space, dan struggle. Ketidakjelasan tersebut karena pengaruh dari globalisasi. Keadaan ini kemudian dijelaskan bahwa geopolitik saat ini sudah harus semakin berubah dan dipandangn sesuai dengan pengaruh yang terjadi saat ini, maka dengan pandangan untuk geopolitik masa sekarang sudah tidak bisa menggunakan geopolitik klasik. Dalam Barber (2003) geopolitik postmodern tersebut bisa dilihat dengan adanya pembahasan mengenai konflik yang terjadi antara Jihad vs Mc World. Konflik tersebut mengenai pengaruh yang bisa berkuasa di dunia global akibat dari munculnya globalisasi. selain itu, geopolitik postmodern bisa dilihat dengan munculnya kekuatan-kekuatan baru, dahulu yang hanya dikuasai oleh satu negara seperti Amerika Serikat, namun saat ini kekuatan baru dunia sudah mampu untuk menyaingi dari Amerika Serikat seperti China.

Kemunculan dari negara-negara sebagai kekuatan baru dunia yang semakin meningkatkan persaingan tersebut juga tidak dapat dilepaskan dengan kemunculan dari kepentingan yang pengaruhi oleh masing-masing pihak. Alasan tersebut kemudian menggambarkan bahwa dunia semakin memiliki tingkat ketergantungan yang tinggi antara satu dengan yang lain. Maka, dengan semakin tinggi tingkat ketergantungan tersebut mempengaruhi untuk semakin pentingnya informasi yang dibutuhkan oleh setiap pihak karena dengan informasi tersebut merupakan salah satu kekuatan penghubung yang bisa membentuk jalinan kerjasama di antara aktor-aktor yang bermain di dalamnya. Dalam Burton (1997) dijelaskan bahwa dengan semakin diperlukannya informasi-informasi tersebut juga akan menghubungkan satu pihak dengan pihak lain dan dalam pihak tersebut jika terjadi gangguan akan berakibat pada terganggunya pada jaringan yang lain. hal tersebut dicontohkan dengan penggunaan jaring laba-laba, jika salah satu bagian putus, maka bagian yang lain akan terganggu atau mungkin akan terputus juga.

Maka, sesuai dengan pemaparan yang telah dilakukan geopolitik pada masa sekarang ini sudah mengalami perubahan bentuk. Pengertian mengenai geopolitik juga menjadi semakin luas karena geopolitik harus disesuaikan pada masanya. Dengan penggunaan geopolitik masa sekarang tidak dapat menggunakan pemahaman mengenai geopolitik pada masa klasik. Hal tersebut menjadi sebuah pemikiran ulang untuk memahami geopolitik itu sendiri.

 

 

 

Referensi:

Barber, B. R. 2003. Jihad and McWorld in the New World Disorder dalam 'Jihad vs. McWorld: Terrorism's Challenge to Democracy'. London: Corgi Book. pp. 219-235

Burton, D. 1997. The Brave New Wired World. Foreign Policy. Pp. 106: 23-38.

Foster, John Bellamy, 2006. The New Geopolitics of Empire. Monthly Review. Vol. 57, Iss. 8,pp 1-18

Putra, Adhitia Pahlawan. t. t. “Memahami Geopolitik, Geoekonomi, dan Geokultur” [online] dalam http://www.academia.edu/2624135/Memahami_Geopolitik_Geoekonomi_dan_Geokultur [diakses 15 April 2014]  

Roberts, Susan, et al. 2003. Neoliberal Geopolitics. Malden,MA: Blackwell Publishing

Springer, Simon. 2013. Neoliberalism, dalam Dodds, Klaus (ed.), 2013. The Ashgate Research Companion to Critical Geopolitics. England: Ashgate Publishing Limited

The Washington Post. 1992. “Keeping the U.S. First: Pentagon Would Preclude a Rival Superpower” [online] dalam http://www.yale.edu/strattech/92dpg.html [diakses 14 April 2014]

Toal.org. T. t. “Critical Geopolitics” [online] dalam http://toal.org/critgeo/ [diakses pada 19 April 2014].

Tuathail, Gearóid Ó. 1999. “Understanding Critical Geopolitics: Geopolitics and Risk Society” dalam Journal of Strategic Studies: Geopolitics, Geography and Strategy, pp. 107-124. London: Frank Cass. 

Tuathail, Gearóid Ó dan Dalby, Simon (ed.) (2002). Rethinking Geopolitics. Routledge: London and New York.

Wahyudi. 2014. Neoliberal Geopolitics, dalam kuliah Geopolitik dan Geostrategi, Fakultas Ilmu Sosial dan Polit

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :