Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

DINAMIKA TAIWAN

Taiwan merupakan wilayah yang masih menjadi bagian dari China. Namun, keberadaanya tersebut masih dipertanyakan karena di dalam perjalinan hubungan antara China dengan Taiwan masih terdapat masalah. Taiwan mengakui dirinya sebagai sebuah negara yang telah merdeka dan berdaulat, tetapi dalam permasalahan ini Taiwan masih belum diakui kedaulatannya oleh pihak-pihak internasional. Permasalahan yang terjadi di dalam konflik antara China dengan Taiwan adalah masalah yang menyangkut perbedaan dalam memposisikan diri negaranya. Hal tersebut digambarkan dengan pengakuan dari Taiwan yang mengakui bahwa dirinya sudah menjadi negara berdaulat dan terlepas dari China. Sedangkan, menurut China, Taiwan masih menjadi bagian dari wilayah negaranya. Hal tersebut kemudian dijelaskan dalam Rubin (2007) bahwa sebenarnya yang terjadi di antara China dengan Taiwan adalah permasalahan asimetris. Pernyataan yang sependapat juga dikeluarkan oleh Lake (2005) bahwa hubungan yang terjadi natara China dengan Taiwan merupakan hubungan yang subordinatif. Permasalahan yang terikat pada Taiwan dan China sebenarnya terjadi sudah sejak lama karena adanya pertentangan (pertarungan) mengenai ideologi yang akan digunakan di China sebelum Taiwan terlepas dari China. Pertentangan tersebut terjadi di antara kaum komunis yang dipimpin oleh Mao Zedong dengan kaum nasionalis yang dipimpin oleh Chiang Kai Shek. Peperangan yang terjadi di antara kedua kaum tersebut terjadi karena adanya perebutan dari wilayah kekuasaan yang berlandaskan dengan pemahaman ideologi yang akan digunakan. Namun, dalam hal ini kaum nasionalis mengalami kekalahan. Kemenangan yang dirasakan oleh kaum komunis ditandai dengan pendeklarasian Republik Rakyat China yang berlandaskan atas dasar ideologi komunis yang kemudian terbentuk menjadi negara komunis.

Kemenangan yang dirasakan oleh kaum komunis juga menyebabkan kaum nasionalis meninggalkan wilayah Republik Rakyat China dengan menempati pulau Formosa atau yang lebih dikenal dengan Taiwan. Namun, dengan perpindahan dari kaum nasionalis ke pulau Formosa juga telah menyebabkan adanya keinginan untuk mendeklarasikan kemerdekaan Taiwan. Hal tersebut tidak disetujui karena secara de jure, Taiwan masih merupakan salah satu provinsi yang berada di bawah kedaulatan China. Taiwan yang dianggap sebagai salah satu provinsi dari China tersebut menjadikan sebuah bentukan dengan adanya pengakuan hanya terdapat One China (Chao dan Hsu 2006, 42). Dalam Chao dan Hsu (2006) dijelaskan bahwa dengan adanya pengakuan One China menyebabkan pada pelaksanaan dari One Country System diharapkan oleh China dalam pelaksanaan dari sistem yang berlaku di Taiwan. Tindakan yang dilakukan oleh China tersebut merupakan sebuah upaya dalam pelaksanaan isolasi yang diberlakukan di Taiwan karena dengan upaya tersebut maka membantu China dengan tidak mendapatkannya Taiwan pengakuan secara internasional dan masih menjadi salah satu bagian dari wilayah China. Namun, dengan tindakan yang dilakukan oleh China tersebut kemudian menyebabkan semakin meluaskan pandangan masyarakat Taiwan yang anti-China. Hal tersebut menjadi sebuah upaya yang alot karena China masih mengalami kesusahan untuk melakukan diplomasi dengan China. Selain itu, China juga menerapkan One China Policy yang menjadi sebuah prioritas untuk menjalankan kebijakan luar negeri China yang dilaksanakan dalam melakukan interaksi dengan komunitas internasional (Sudjatmiko t. t., 106). Hal tersebut bertujuan untuk membendung satu suara dalam menolak kedaulatan dari Taiwan agar tetap bersama dengan China.

Upaya China dalam mempertahankan Taiwan sebagai salah satu bagian wilayahnya dilakukan dengan melaksanakan tindakan secara persuasif ataupun tindakan-tindakan intimidatif (Sudjatmoko t. t., 106). Tindakan tersebut menjadi sebuah upaya untuk merubah pikiran Taiwan yang ingin lepas dari China dan mengurungkan niatnya agar tetap menjadi bagian dari China. Namun, dengan tidak terdapatnya kejelasan mengenai status Taiwan tidak membuat Taiwan lemah dalam menjalankan sistem kenegaraannya. Dapat dikatakan bahwa Taiwan saat ini telah menjadi sebuah negara yang mengalami kemajuan, khususnya dalam bidang industri. Kemajuan yang dirasakan Taiwan tidak setara dengan kemajuan yang dirasakan oleh China sendiri. Selain itu, keberadaan dari Taiwan tersebut seakan didukung oleh Amerika Serikat. Hal tersebut tergambarkan dengan adanya dukungan Amerika secara penuh terhadap kepentingan militer dari Taiwan. Penjualan sistem radar jarak jauh PAVE PAWS (Precission Aquisition Vehicle Entry Phased-Array Warning System) yang dilakukan oleh Taiwan dalam upayanya untuk meningkatkan sistem persenjataan dalam basis teknologi tinggi, khususnya teknologi antariksa (Angkasa 2000 dalam Sudjatmoko t. t., 109).

 Kemajuan industri yang dirasakan oleh Taiwan tersebut telah membuka adanya peluang dalam memajukan ekonominya. Kemajuan ekonomi Taiwan dapat dikatakan telah mengalami perubahan yang sangat signifikan karena Taiwan mampu bertahan dalam menjaga kestabilan ekonominya. Ekonomi Taiwan sebelumnya tidak menunjukkan adanya kenaikan. Hal tersebut dipicu akibat hubungan yang terjadi di antara China dengan Taiwan. Kedua pihak mengeluarkan kebijakan yang melarang rakyatnya untuk berkunjung, khususnya warga China dilarang untuk mengunjungi Tiongkok. Hal tersebut terjadi selama empat tahun. Namun, lambat laun hubungan China dengan Taiwan memberikan perubahan yang kemudian merubah pandangan dari China mengenai kebijakan sebelumnya yang dirubah dengan mengijinkan rakyatnya untuk berkunjung ke Tiongkok. Kejadian ini secara tidak langsung telah memberikan peningkatan pada kedua negara, khususnya Taiwan. Pembukaan kerjasama tersebut juga dapat dilihat dengan kenaikan pertumbuhan Taiwan yang cukup dirasakan selama tiga tahun terakhir dengan kenaikan dari pertumbuhan produk bruto sebanyak 2,62% pada tahun 2014. Selain itu, kerjasama yang dilakukan antara China dengan Taiwan dilihat dengan sumber pemasukan paling banyak di Taiwan karena China merupakan salah satu tujuan wisata dalam kegiatan wisatawan di Taiwan. Namun, pertumbuhan ekonomi yang dirasakan oleh Taiwan tersebut tidak lepas dari kompetisi dari produknya yang semakin sengit di pasaran internasional, yaitu ritel (Syarifudin 2014).

Dalam Yan (2006) dijelaskan bahwa kemajuan yang dirasakan oleh Taiwan tersebut sebenarnya juga akan berdampak baik pada China karena kedua negara telah membangun kerjasama yang menguntungkan kedua belah pihak. Dengan membaiknya dalam sistem ekonomi antara Taiwan dengan China telah menjadi sebuah upaya untuk China untuk melaksanakan reunifikasi dengan Taiwan. Namun, jika pelaksanaan untuk reunifikasi tersebut terjadi akan terjadi gangguan dalam sistem ekonomi yang terjadi di antara keduanya. Selain itu, kemajuan yang dirasakan China sebagai kekuatan dunia tidak terlepas dari pengaruh Taiwan, tetapi pengaruh tesebut seakan menjadi sebuah ancaman untuk Taiwan sendiri karena kemajuan yang dirasakan China telah megambil hati dari Amerika Serikat, yang menyebabkan adanya perbaikan hubungan diantara keduanya. Hal tersebut menjadi sebuah permasalahan sendiri bagi Taiwan karena Amerika Serikat merupakan salah satu negara pendukung Taiwan, namun jika terjadi hal seperti itu Taiwan seakan berada dalam posisi yang tidak aman.

Maka, dapat disimpulkan bahwa keberadaan dari Taiwan hingga saat ini masih terombang-ambing. Hal tersebut akibat dari pengaruh pengakuan secara de jure bahwa Taiwan masih menjadi bagian dari China. Hubungan antara Taiwan dengan China sebenarnya masih memanas, namun kedua negara tersebut tetap melakukan kerjasama dalam hal ekonomi yang memajukan dari kedua negara tersebut. Namun, posisi Taiwan yang masih tidak jelas tersebut Taiwan telah mendapatkan dukungan dari Amerika Serikat dan dukungan tersebut kemudian mengakibatkan Taiwan maju khususnya dalam sektor industri.

 

 

 

Referensi :

Chao, Chien min & Hsu, Chih Chia. 2006. “China Isolates Taiwan”, pp. 41-67 in Edward Friedman (ed). China’s Rise, Taiwan’s Dilemmas and International Peace. Oxon: Routledge. pp. 41-67.

Lake, David A. 2005. Hierarchy in International Relations: Authority, Sovereignty, and the New Stucture of World Politics.

Rubin, Michael. 2007. Asymmetrical threat Concept and Its Reflections on International Security.

Syarifudin. 2014. “Ekonomi Taiwan-Pariwisata Perkuat Pertumbuhan Sektor Ritel” [online] dalam http://www.koran-sindo.com/node/368710 [diakses 3 Mei 2014].

Sudjatmiko, Totok. 2006. “Upaya China-Taiwan untuk Bergabung Dalam International Space Station: Satu Kajian Diplomasi”.

Yan, Jiann-Fa. 2006. “Taiwan’s Asia Pacific Geostrategic Value”, in Edward Friedman (ed). China’s Rise, Taiwan’s Dilemmas and International Peace. Oxon: Routledge. pp. 193-204.

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :