Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

REGIONALISME DAN DINAMIKA ASIA TENGGARA

Dalam Acharya dan Johnston (2007) dijelaskan mengenai regionalisme yang merupakan pembentukan dunia baru yang dirasakan karena adanya perubahan yang mengarah pada sebuah keteraturan global. Dalam hal ini akan membentuk sebuah posisi baru atau mereformasikan mengenai aktor-aktor yang terlibat di dalamnya. Pembentukan dari regionalisasi merupakan sebuah upaya untuk memudahkan pada aktor seperti negara untuk melakukan kerjasama dengan negara lain. Kerjasama yang semakin luas tersebut menjadi salah satu bukti bahwa dunia saat ini sudah terjadi pembauran di antara sesama. Pembauran tersebut kemudian diwujudkan dengan pelaksanaan dari kerjasama yang dilakukan di antara para aktor-aktor tersebut seperti dalam bidang ekonomi, politik, sosial, budaya, dan lain-lain.

Dalam Acharya dan Johnston (2007) menjelaskan bahwa keamanan dunia dan perekonomian terbuka karena semakin terbukanya komunikasi yang semakin intesif di antara para aktor. Keintensifan komunikasi yang dibentuk tersebut menjadi salah satu ajang untuk pembuktian dari eksistensinya di ranah internasional. Selain itu, dengan pelaksanaan dari regionalisme tersebut merupakan salah satu upaya untuk memudahkan pelaksanaan dari kerjasama di antara para aktor yang menjadi anggota dalam regional tersebut. Namun, dengan pelaksanaan dari regionalisme tersebut kemudian menjadikan sebuah ikatan yang terjalin di antara para anggota karena terdapat keterikatan dari kesepakatan-kesepakatan yang telah dibuat diantara para aktor tersebut. Dengan kesepakatan tersebut akan membantu dalam memudahkan pemenuhan kebutuhan dari kepentingan-kepentingan yang menjadi salah satu tujuan utama dari masing-masing aktor. Selain itu, dengan terbentuknya regionalisme berfungsi sebagai pengatur dan pengatasan atas konflik-konflik regional yang ada di dalam kawasan aktor-aktor yang menjadi bagian dari anggotanya (Zaini 2013).

Dalam Fawcett (1995) dijelaskan bahwa regionalisme dikategorikan ke dalam dua bentuk, yaitu regionalisme yang terbentuk sebelum Perang Dingin dan regionalisme yang terbentuk setelah masa Perang Dingin. Jika, dilihat pada bentuk regionalisme yang terjadi sebelum masa Perang Dingin tersebut terjadi karena pengaruh dari kebutuhan collective security yang digunakan sebagai alat keamanan bersama. Dalam hal ini regionalisme yang terjadi terdapat bentuk sebuah kedaulatan yang dimiliki oleh negara yang digunakan sebagai jaminan dalam mencegah terjadinya perang. Sedangkan, regionalisme yang terjadi pada masa setelah Perang Dingin merupakan sebuah bentukan regionalisme karena pengaruh dari keterikatan yang dibentuk oleh aktor-aktor yang terlibat seperti negara-negara dalam suatu wilayah yang berdekatan yang bertujuan untuk mencapai kepentingan bersama. Hal tersebut kemudian mencegah untuk terjadi pemecah belahan yang berkiblat pada dua kekuatan besar yang nantinya akan menimbulkan bipolaritas, melainkan dalam hal ini regionalisme yang terjadi dengan adanya pelaksanaan kerjasama internasional.

Pelaksanaan dari bentukan regional tersebut juga terjadi di Asia Tenggara, yaitu dengan adanya ARF (ASEAN Regional Forum). Terbentuknya ARF merupakan forum yang dibuat oleh ASEAN pada tahun 1994, yang digunakan sebagai wahana dialog dan konsultasi yang menyangkut hal-hal politik dan keamanan di kawasan, serta ruang untuk membahas dan menyamakan mengenai pandangan antara negara-negara peserta ARF. Hal tersebut merupakan salah satu upaya untuk mengurangi bentukan ancaman terhadap stabilitas dan keamanan kawasan. Di dalam ARF tersebut menyepakati mengenai konsep comprehensive security yang mencakup aspek politik, ekonomi, sosial dan isu lainnya (kemlu.go.id 2009).

            Pembentukan ARF merupakan sebuah upaya dalam mendorong RRC untuk melaksanakan tindakan positif di ranah internasional. Alasan yang mengarah pada keberadaan China tersebut karena China merupakan salah satu negara yang mengalami kebangkitan setelah Uni Soviet mengalami keruntuhan dan Amerika sebagai negara yang memiliki kemiliteran yang kuat menjadi jatuh pasa Perang Dingin (Garofano 2002, 513). Keberadaan ARF yang juga menjadi alat pertemuan dari negara-negara besar yang menjadi bagian dari Mitra Wicara ASEAN menjadi sebuah bentukan yang mampu melaksanakan sebuah perimbangan dalam hal kekuatan. Hal tersebut dimaksudkan untuk memperlihatkan keinginan ASEAN mengenai keberlanjutan dari kehadiran AS-Jepang dan RRC dan mengajak seluruh negara di kawasan Asia Pasifik untuk memberkan kontribusi terhadap kestabilan kawasan (Chandrawati 2008, 139). Dalam Garofano (2002) disebutkan bahwa ARF terbentuk dengan harapan dalam bentukan komunitas sejati, lembaga yang kuat, dan yang terjadi hanya politik kekuasaan. Dalam hal ini dibentuknya ARF dipandang oleh kaum konstruktivis sebagai sebuah forum yang keberadaannya jelas menurut anggota-anggota yang terikat di dalamnya. Hal tersebut kemudian menciptakan sebuah kemanan dalam kawasannya dan juga bentuk kerjasama yang terjadi akan semakin kooperatif.

            Dengan adanya pembentukan regional yang dirasakan di ASEAN tersebut juga telah menghasilkan sebuah bentukan Asian Development Bank (Bank Pembangunan Asia). Sesuai dengan Asian Development Bank (2008) dijelaskan bahwa pembentukan dari ADB tersebut terdiri dari 16 negara anggota di kawasan Asia seperti Brunei Darussalam, Kamboja, Republik Rakyat China, Hongkong, India, Indonesia, Jepang, Republik Korea, Republik Demokrasi Laos, Malaysia, Myanmar, Filiphina, Singapura, Taipei, Thailand, dan Vietnam yang masih berada dalam proses berintegrasi secara ekonomi baik secara formal maupun informal. Pembentukan regional yang dirasakan di kawasan Asia tersebut merupakan salah satu tujuan untuk menciptakan sebuah perekonomian yang sehat dan menjalani hubungan baik antara satu dengan yang lain  dan dengan pusat-pusat global. Selain itu, kemitraan yang terbentuk tersebut juga akan menjamin adanya sebuah kemajuan yang damai dan berlanjut dari kawasan ini dan membantu mengupayakan kemakmuran bersama secara global dan regional.

            Dengan penjelasan diatas penulis menyimpulkan bahwa dengan terbentuknya forum regional seperti ARF merupakan salah satu kemajuan yang dirasakan oleh ASEAN. Namun, pembentukan tersebut masih dianggap lemah karena keberadaan dari negara-negara kawasan lain yang ikut terlibat di dalamnya. Selain itu, dengan terbentuknya forum regional tersebut menjadi sebuah ajang pembuktian oleh ASEAN bahwa ASEAN benar-benar ingin mewujudkan adanya penciptaan perdamaian dunia khususnya di kawasannya dan terbentuknya jalinan kerjasama yang tidak akan menimbulkan ketimpangan di antara satu dengan yang lain.

 

 

Referensi:

Acharya, Amitav dan Alastair Iain Johnston. 2007. “Comparing Regional Institutions: An Introduction”, dalam Crafting Cooperation: Regional International Institutions in Comparative Perspective. Cambridge: Cambridge University Press.

Asian Development Bank. 2008. “Kebangkitan Regionalisme Asia: Kemitraan Bagi Kemakmuran Bersama”. Philippine.

Chandrawati, Nurani. 2008. ASEAN Regional Forum.

Fawcett, Louise. 1995. Regionalism in Historical Perspective. New York: Oxford University Press.

Garofano, John. 2002. Power, Institution, and the ASEAN Regional Forum : A Security Community for Asia?. Asian Survey, Vol 42, No 3. (May - Jun. 2002), pp. 502 - 521.

Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. 2009. “ASEAN Regional Forum: ARF” [online] dalam http://kemlu.go.id/Pages/IFPDisplay.aspx?Name=RegionalCooperation&IDP=5&P=Regional&l=id [diakses 3 Mei 2014]

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :