Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

ASEAN COMMUNITY

Sebelum masuk ke dalam penjelasan mengenai ASEAN Community sebenarnya terbentuknya komunitas dari ASEAN sendiri masih dipertanyakan keberadaannya. Hal tersebut berpengaruh karena terbentuknya ASEAN sendiri masih dilihat tidak membawa pada dampak yang positif seperti adanya kerjasama dari setiap negara anggota, melainkan di dalam ASEAN masih terjadi persaingan secara pribadi di dalamnya. Hal tersebut juga dikuatkan dengan pernyataan mengenai terbentuknya ASEAN Community berawal dari krisis yang dirasakan oleh ASEAN. Krisis tersebut telah mengakibatkan terjadinya efek dari ketidakpedulian dari masing-masing anggota karena anggota dari ASEAN sendiri masih terlihat sibuk dengan urusan masing-masing. Hal tersebut kemudian mengakibatkan terjadinya ketidakmampuan akan gelombang krisis keuangan yang terjadi di ASEAN pada tahun 1997 (Cipto 2007, 80). Dalam Jones dan Smith (2002) dijelaskan bahwa terbentuknya ASEAN dianggap sebagai bentuk dari imitasi dari European Union (EU). Penyebutan seperti itu tidak lain adalah karena pengaruh ketidaksanggupan ASEAN dalam menyelesaikan masalah internalnya seperti kasus Sipadan dan Ligitan yang dibawa hingga ke Mahkamah Intenasional. Namun, terbentuknya ASEAN tidak dapat dipungkiri bahwa ASEAN telah dapat memprakarsai kenaikan ekonomi regionalnya. Hal tersebut tercatat dalam World Bank pada tahun 1960 telah menaikkan kegiatan ekspornya, tetapi dengan kemajuan yang dirasakan oleh komunitas regional tersebut, ASEAN telah  menjadi kelinci percobaan dari FDI karena kawasan regional ASEAN dianggap memiliki tenaga buruh murah yang dapat digunakan untuk kegiatan manufaktur untuk kegiatan pengeksploitasian dalam kegiatan ekspor barang untuk pasar Amerika Utara (Jones dan Smith 2002, 102-3).

Pengaruh yang telah ditimbulkan dengan adanya FDI tersebut kemudian berdampak pada terjadinya krisis di ASEAN pada tahun 1997. Pencegahan yang dilakukan oleh ASEAN, yaitu dengan membentuk ASEAN Community. Ketidakmampuan yang dirasakan oleh ASEAN dalam menghadapi krisis yang terjadi, khususnya Thailand dan Indonesia menimbulkan adanya kepentingan sendiri dalam membuat komunitas yang nantinya akan dapat membantu dalam menghadapi krisis yang terjadi. ASEAN Community merupakan sebuah komunitas yang berpandangan maju, hidup dalam lingkungan yang damai, stabil, dan makmur, dipersatukan oleh hubungan kemitraan yang dinamis dan masyarakat yang saling peduli. Pembentukan dari ASEAN Community menjadi sebuah landasan dalam mempererat integrasi ASEAN dalam menghadapi perkembangan konstelasi politik internasional (lemhannas.go.id 2012, 89).

Terbentuknya ASEAN Community terhitung sejak enam tahun setelah krisis yang melanda ASEAN. Awal mula terjadi dengan penyelenggaraan yang diadakan di Bali pada tahun 2003, yang membahas mengenai keberlangsungan ASEAN dengan mengusung tema yang bertujuan untuk mencapai tujuan-tujuan seperti ekonomi, politik, dan sosial. Tujuan-tujuan yang diusung tersebut kemudian memberikan sebuah penggambaran dengan membentuk pilar-pilar dalam pembentukan ASEAN Community (Cipto 2010, 81). Namun, sebelum mengentahui ketiga pilar yang menjadi fondasi dari ASEAN Community tersebut dijelaskan bahwa dalam roadmap ASEAN menjelaskan mengenai pilar ASCC (ASEAN Socio-Cultural Community) bertujuan untuk mewujudkan “to promote a people-oriented ASEAN in which all sectors or society are encouraged to participate in, and benefit from, the process of ASEAN integration and community building”. Hal tersebut bertujuan untuk mendapatkan peningkatan dari interaksi dari antar rakyat negara-negara anggota ASEAN (lemhannas.go.id 2012, 89).

            Kembali pada pilar-pilar yang menjadi fondasi dari ASEAN Community. Dalam Cipto (2007, 81-82) dijelaskan bahwa pada pilar pertama adalah ASEAN Security Community (ASC), yaitu mengenai tujuan yang ingin dicapai dengan meningkatkan kerjasama politik dan keamanan internasional antar negara anggota. Hal tersebut merupakan salah satu upaya dalam mengatasi serangan terorisme yang marak dan gencar-gencarnya. Pilar kedua adalah ASEAN Economic Community (AEC), yang menjelaskan mengenai tujuannya yang beralasan untuk mengantisipasi dari kemajuan yang sedang dialami oleh India dan Cina yang dianggap sebagai ancaman untuk ASEAN. Terakhir, pilar ketiga adalah ASEAN Socio-Cultural Community (ASCC), yang menjelaskan mengenai tujuan yang dihubungkan dengan masyarakat ASEAN. Kehadiran dari masyarakat merupakan salah satu upaya dalam meningkatkan kesejahteraan yang terjadi di dalamnya dan mengangkat derajat dari masyarakat ASEAN tersebut.

            Dalam pencapaian dari ASEAN Community diperlukan adanya sebuah usaha untuk benar-benar mewujudkannya karena telah terbukti bahwa ASEAN Community masih dianggap setengah-setengah dalam perwujudannya. Selain itu, masih tidak terdapat ketidakjelasan dalam pencapaian dalam pilar ketiga, yaitu ASCC karena tidak ada pengukuran yang jelas dari pencapaian building the ASEAN identity. Hal tersebut berkaitan dengan kepemilikan dari budaya, etnik, dan ras ASEAN yang berbeda-beda (lemhannas.go.id 2012, 91).  

            Keputusan yang mendasari mengenai ASEAN Community yang dimulai pada tahun 2015 tersebut dilihat dengan pembukaan pasar bebas di ASEAN. Hal tersebut adalah upaya dalam menghadapi kompetisi global seperti yang dijelaskan sebelumnya karena munculnya China dan India sebagai negara yang menyaingi produk-produk ASEAN. Percepatan yang dilakukan tersebut berdasarkan dari pertimbangan dari terjadinya potensi penurunan biaya produksi di ASEAN sebanyak 10 hingga 20 persen untuk barang konsumsi akibat dari integrasi ekonomi dan meningkatkan kemampuan kawasan dengan implementasi standar dan praktik internasional, HAKI, dan adanya persaingan (ditjenkpi.kemendag.go.id t. t., 7).

            Kesimpulan yang dapat diberikan, yaitu dengan terbentuknya ASEAN Community sebenarnya memiliki manfaat tersendiri, yang dianggap sebagai komunitas yang menjadi pencegah dan yang membantu jika ASEAN kembali mengalami krisis. Selain itu, ASEAN Community dianggap sebagai komunitas yang dibentuk karena kemunculan dari persaingan pasar China dan India. Namun, pembentukan tersebut dianggap masih belum bisa untuk dicapai karena di dalam salah satu pilar ASEAN, yaitu pilar ketiga mengenai ASCC masih dianggap belum mampu dalam pengimplementasiannya. Hal tersebut lebih tergambar dengan pencapaian mengenai “core Building the ASEAN Identity” yang masih dirasa sulit akibat dari pengaruh latar belakang negara-negara anggota ASEAN yang memiliki perbedaan dalam budaya, etnik, maupun ras yang kompleks tingkat kesejahteraannya berbeda (lemhannas.go.id 2012, 93-4).

 

 

Referensi: 

Cipto, Bambang. 2007. Hubungan Internasional di Asia Tenggara. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Departemen Perdagangan Republik Indonesia. T. t. Menuju ASEAN Economic Community [online] dalam http://ditjenkpi.kemendag.go.id/website_kpi/Umum/Setditjen/Buku%20Menuju%20ASEAN%20ECONOMIC%20COMMUNITY%202015.pdf [diakses 9 Mei 2014]

Jones, David Martin dan Michael L. R. Smith. 2002. ASEAN’s Imitation Community. London: Elesevier Science Limited.

Jurnal Kajian Lemhannas RI. 2012. Peran Indonesia Dalam Mewujudkan ASEAN Socio-Cultural Community Guna Mendukung Ketahanan Nasional [online] dalam www.lemhannas.go.id/portal/images/stories/.../jurnal_internasional2.pdf [diakses 9 Mei 2014]

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :