Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

PENGARUH GLOBALISASI DALAM MOBILISASI SAAT INI

Globalisasi yang mengancam batas-batas negara telah memiliki dampak terhadap terjadinya mobilisasi yang dilakukan oleh penduduk di setiap negara. Mobilisasi tersebut telah membawa pada dampak yang mengejutkan karena perpindahan yang ingin dilakukan oleh masyarakat dengan tujuan untuk memajukan kesejahteraan hidupnya. Kejadian ini tidak terlepas dari pengaruh globalisasi. Globalisasi yang mempengaruhi perpindahan atau yang lebih dikenal dengan migrasi ini telah membawa pada dampak yang sangat signifikan terhadap negara.

            Mobilisasi terjadi juga diakibatkan karena pengaruh kemajuan dari teknologi dan informasi. Perkembangan tersebut telah membawa dampak pada semakin mudahnya informasi yang di dapat oleh masyarakat, khususnya individu. Kemajuan dari teknologi tersebut juga telah membantu pada tersedianya informasi yang tidak bisa dihitung seberapa cepat mudah dan langsung tersebar ke seluruh penjuru dunia. Akibat pengaruh kemajuan tersebut dengan kemudahan akses informasi yang telah membuat pemikiran dari masing-masing individu untuk ber-hijrah ke wilayah lain. Selain karena kemauan dalam pencapaian kesejahteraan, masyarakat (individu) menginginkan adanya perubahan kehidupan dari dirinya. Dalam Anderson (1998) dijelaskan bahwa mobilisasi yang terjadi juga karena pengaruh dari kapitalisme. Hal tersebut terjadi karena adanya keinginan dalam memajukan global economy yang dianggap sebagai efek dari kelanjutan transnasional kapitalisme dan stratifikasi ekonomi yang terjadi (Anderson 1998, 67).

            Terjadinya mobilisasi akibat pengaruh dari kehadiran kendaraan yang menghubungkan antara satu daerah dengan daerah lain seperti bis, truk, dan pesawat terbang. Dalam hal ini telah berdampak pada terjadinya migrasi yang dilakukan oleh masyarakat (individu) bukan hanya pada masyarakat Eropa saja ataupun Amerika, melainkan telah dilakukan oleh masyarakat yang termasuk dalam bagian kategori negara “dunia ketiga” atau periphery (Anderson 1998, 67). Hal tersebut kemudian memberikan gambaran terhadap adanya keinginan yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu kesejahteraan. Tidak dapat dilepas kemungkinan dari tindakan migrasi yang dilakukan oleh masyarakat tersebut juga telah membawa pada dampak buruk seperti halnya perpindahan yang dilakukan oleh masyarakat kateogori negara “dunia ketiga” ke negara maju, perpindahan tersebut dalam pemenuhan kebutuhannya (masyarakat) memiliki keharusan dalam melakukan kegiatan (kerja) dan dengan pencarian kerja ataupun pelaksanaan kerja sendiri besar kemungkinan untuk masyarakat (individu) tersebut menerima upah rendah yang menjadi keuntungan sendiri bagai negara penerima. Kembali pada pembahasan sebelumnya mengenai buruh, pembayaran upah di luar di rasakan cukup besar bagi masyarakat Indonesia, namun sebenarnya dengan upah tersebut terhitung sama saja karena diberikan upah dengan batas rendah yang kemudian menjadi sebuah penyelewengan tersendiri yang dirasakan akibat dari taraf hidup di daerah (negara) lain tersebut tinggi. Hal tersebut di dalam Anderson (1998, 68) dijelaskan bahwa terdapat imigran, yaitu tenaga kerja Thailand yang mengadu nasib di Hong Kong dan tetap mengirimkan uang kepada keluarganya. Hal tersebut menggambarkan bahwa masih adanya rasa nasionalisme yang dimiliki oleh imigran tersebut. Dengan tidakan yang dilakukannya tersebut telah membantu dalam pergerakan ekonomi yang dapat dirasakan oleh negaranya sendiri. Selain itu, dengan terjadinya mobilisasi tersebut juga telah membawa pada dampak terjadinya kemajuan yang dirasakan oleh negaranya karena mampu membuka lapangan pekerjaan dengan menanamkan investasi di negara tersebut.

            Mobilisasi yang terjadi sering kali dianggap mengancam rasa nasionalisme yang terjalin dan tertanam di masing-masing individu yang melakukannya. Hal tersebut memang dapat dikatakan benar. Namun, dijelaskan di dalam Anderson (1998, 68) bahwa mobilisasi tidak secara serta merta melumpuhkan ataupun melunturkan rasa nasionalisme dari masing-masing individu tersebut seperti halnya imigran yang berasal dari Maroko dan bekerja di Amsterdam sebagai pekerja konstruksi setiap malam mendengarkan siaran radio yang berasal dari negaranya sendiri. Selain itu, dikatakan dalam Anderson (1998) bahwa dengan semakin jauhnya jarak yang memisahkan antara rakyat dengan negaranya biasanya rasa nasionalismenya semakin kuat. Tindakan yang dilakukan oleh imigran tersebut juga tidak lepas dari kemajuan teknologi yang sudah menjadi bagian dari bantuan untuk semakin mendekatkan diri dan menanamkan rasa nasionalisme semakin dalam.

            Dalam hal ini penulis menyatakan persetujuannya dengan yang dibicarakan oleh Anderson (1998) bahwa mobilisasi telah memberikan dampak yang positif. Perlu diingat bahwa mobilisasi yang terjadi tersebut juga seakan telah mengancam terjadinya pluralitas dari keberadaan masyarakatnya sendiri. Hal tersebut terjadi karena dianggapnya dengan mobilisasi telah mampu membantu persebaran penduduk. Namun, terjadinya pluralitas yang membentuk multiteralisme telah menjadi sebuah bentuk yang harus dijaga kedamaiannya karena dianggap rawan. Kerawanan ini pula telah membentuk adanya sebuah rasa kekhawatiran akan terjadinya penyebaran virus, penyakit seperti H5N1, HIV/AIDS, dan lain-lain. Kekhawatiran yang dirasakan tersebut juga diperlukan adanya peran dari pemerintah dalam membatasi banyak imigran yang datang kesana karena upay tersebut merupakan salah satu bentuk penanggulangan dalam meminimalisir pengaruh negatif yang akan mungkin masuk dan menyebar ke negaranya.

 

Referensi:

Anderson, Benedict. 1998. “Long Distance Nationalism” dalam In The Spectre of Comparisons: Nationalism, Southeast Asia, and the World. London: Verso, pp. 58-74.

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :