Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

KEBERADAAN NUKLIR DI ASIA TIMUR

Keberadaan nuklir di dunia mungkin sudah bukan menjadi sesuatu hal yang mencengangkan. Hal tersebut terjadi akibat dari kemajuan teknologi. Kemajuan teknologi bermula pada masa Perang Dunia yang mengakibatkan adanya persaingan dalam kekuatan masing-masing negara dengan dipengaruhi dari keberadaan teknologi. Namun, keberadaan teknologi tersebut kemudian memunculkan adanya penciptaan dari senjata pemusnah massal atau yang lebih dikenal dengan Weapon Mass Destruction (WMD). Keberadaan dari WMD tersebut kemudian membuat keadaan dunia semakin tidak stabil. Dengan ketidakstabilan dari dunia tersebut kemudian menyebabkan adanya kemunculan dari pembuatan perjanjian yang berhubungan dengan persetujuan untuk tidak mengembangkan nuklir, yaitu Non-Proliferation Treaty (NPT). Pengembangan nuklir tidak dapat dilepaskan dari keberadaan Asia Timur yang dianggap memungkinkan untuk memunculkan aksi perlawanan antar negara dengan penggunaan nuklir. Tetapi, dalam penggunaan nuklir di kawasan Asia Timur masih menjadi hal yang patut dipertanyakan kembali karena masih adanya ketegangan dari masing-masing negara di kawasan tersebut. Selain itu, masing-masing dari negara di kawasan Asia Timur juga masih mementingkan terbentuknya keamanan dalam stabilitas internasional, kecuali Korea Utara.

            Masalah nuklir yang menghantui kawasan Asia Timur tersebut menjadi sebuah pembuktian bahwa keamanan dan kemampuan teknologi menjadi dua hal yang berpengaruh terhadap pengembangan nuklir. Namun, diluar dari kedua hal tersebut keadaan dari keamanan, perkembangan ekonomi, dan pengaruh politik dalam negeri dapat menjadi alasan dalam mempengaruhi keberadaan dari nuklir. Selain itu, diketahui bahwa dengan adanya penandatanganan mengenai perjanjian mengenai nuklir, yaitu Non-Proliferation Treaty juga dapat menyebabkan terjadinya pengembangan nuklir, yang` ditunjukkan dengan semakin ditingkatkannya teknologi nuklir pada masing-masing negara yang menandatangani perjanjian tersebut, tetapi NPT tersebut juga tidak menghalangi terhadap terjadinya proliferasi dalam tingkat sistem (Jo dan Gartzke 2007, 167).

            Kepemilikan terhadap nuklir menjadi sebuah bukti dalam pelaksanaan dalam perlindungan geopolitik yang dimiliki suatu negara. Namun, keberadaan dari NPT, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya telah mempengaruhi bagi negara-negara yang terikat di dalamnya karena dengan tindakan dalam melakukan pengembangan nuklir dapat menyebabkan terjadinya penekanan dalam sanksi dan diplomatik atas kecaman moral dan hukum secara internasional (Jo dan Gartzke 2007, 168). Namun, keberadaan dari NPT tersebut tidak menjadi sebuah penghalang bagi negara-negara yang tidak menyetujui adanya perjanjian tersebut akibat dari pengaruh posisi negaranya yang dianggap menderita, yang kemudian melakukan tindakan proliferasi. Keberadaan dari nuklir tersebut telah memberikan dampak terhadap  munculnya kesempatan dalam produksi senjata nuklir yang dibagi ke dalam tiga kategori, yaitu seperangkat teknologi (pengetahuan) yang mempengaruhi dalam pembuatan senjata nuklir, bahan fisil nuklir, dan kemampuan ekonomi (Jo dan Gartzke 2007, 169).

            Kawasan Asia Timur merupakan sebuah kawasan yang menunjukkan kepemilikan masing-masing atas senjata nuklir. Kepemilikan tersebut juga dianggap sebagai ancaman tersendiri bagi setiap negara di kawasan tersebut. Namun, dengan keberadaan dari perjanjian NPT yang ditandatangani oleh Jepang dan Korea Selatan menjadi sebuah pembatasan bagi kedua negara tersebut untuk tidak mengembangkan nuklir. Pengembangan nuklir yang mungkin akan terjadi tersebut mengalami pergeseran pada batas minimal untuk menunjukkan bahwa dari kedua negara tersebut menjunjung tinggi kestabilan internasional dalam upaya perwujudan perdamaian internasional. Tindakan yang diambil oleh Korea Selatan dan Jepang dengan menandatangani NPT merupakan sebuah perjanjian yang terjadi di antara Amerika Serikat dengan negara-negara yang menjunjung tinggi untuk tidak mengembangkan nuklir, khususnya kedua negara tersebut, yaitu Korea Selatan dan Jepang (Jo dan Gartzke 2007, 170). Tetapi, terjadi sebuah perbedaan tindakan yang dilakukan oleh Korea Utara karena sikap isolasionismenya terhadap dunia luar, yang kemudian menunjukkan sikapnya dengan tidak kepeduliannya terhadap kestabilan internasional. sikapnya tersebut kemudian ditunjukkan dengan semakin mengembangkan senjata nuklir yang dimilikinya (Haggard dan Noland 2010, 540).

            Tindakan yang dilakukan oleh Korea Utara merupakan upayanya dalam menunjukkan keeksistensiannya yang dipengaruhi dari kondisi domestiknya. Kondisi tersebut kemudian memberikan gambaran bahwa dengan tindakan yang dilakukan oleh Korea Utara telah mengancam stabilitas internasional, khususnya keamanan di dalam kawasan Asia Timur (Haggard dan Noland 2010, 541). Alasan tersebut kemudian memberikan peningkatan dalam ketegangan yang terjadi saat ini di antara negara-negara di kawasan Asia Timur yang memungkinkan untuk terjadinya perang dengan penggunaan senjata nuklir. Namun, dilain hal juga perlu dilihat bahwa Korea Utara juga telah membuka diri dalam pelaksanaan kegiatan perekonomiannya.

            Pelaksanaan dari kegiatan perekonomiannya tersebut juga dipandang dari sisi Korea Utara dengan tidak memberikan sanksi terhadap kepentingan yang berpengaruh dalam keberadaan dari nuklir. Pelaksanaan kerjasama tersebut terjalin antara Korea Utara dengan Cina, Iran, Suriah, dan Mesir. Selain itu, dengan tindakan yang dilakukan oleh Korea Utara tersebut juga merupakan sebuah keuntungan tersendri karena pada saat yang sama Jepang sedang mengalami keruntuhan dalam hal perdagangan dan Eropa yang mengalami stagnansi (Haggard dan Noland 2010, 541).

            Keterbukaan yang dilakukan oleh Korea Utara tersebut menjadi sebuah penanda dalam hubungan Cina dengan Korea Utara. Hubungan tersebut merupakan sebuah hubungan yang memberikan keuntungan di antara masing-masing negara. Namun, dalam hubungan yang terjalin tersebut menjadi sebuah upaya dari Cina untuk memegang peranan terhadap Korea Utara agar tidak melakukan upaya dalam penyatuan di antara Korea Utara dengan Korea Selatan, yang dikenal dengan reunifikasi (Hennida 2014). Maka, hal tersebut menjadi sebuah pertimbangan tersendiri bagi Cina untuk menjaga hubungannya dengan Korea Utara. Selain itu, tindakan yang dilakukan Cina juga merupakan sebuah upaya dalam menjaga dan mempersiapkan diri jika Jepang tiba-tiba melakukan tindakan “go nuclear”. Namun, dilain hal lagi bahwa dengan tindakan dari Cina tersebut merupakan tindakan dalam berhati-hati jika rezim yang tiba-tiba mengalami keruntuhan, dan kemudian menyebabkan adanya perpindahan penduduk Korea Utara ke Cina. Maka, untuk mengantisipasi terjadinya hal tersebut Cina lebih baik membantasi tekanannya terhadap Korea Utara (Haggard dan Noland 2010, 566).

            Maka, dengan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa masalah nuklir yang menjadi bahasan di kawasan Asia Timur merupakan permasalahan yang sensitif. Hal tersebut dipengaruhi dari kepemilikan nuklir dari masing-masing negara tersebut, yang kemudian memunculkan adanya kemungkinan akan menyebabkan terjadi perang nuklir di kawasan Asia Timur. Kemungkinan besar untuk terjadinya hal tersebut juga dipengaruhi terhadap pilihan dan tindakan dari Korea Utara yang tidak mementingkan keamanan dalam stabilitas internasional, yang ditunjukkan dengan semakin mengembangkan teknologi nuklirnya. Pengaruh tersebut menjadi salah satu yang memungkinkan adanya perang di antara negara kawasan Asia Timur. Selain itu, pencegahan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dengan membuat perjanjian tentang pembatasan nuklir, khususnya dengan Jepang dan Korea Selatan telah menunjukkan sikap terhadap dunia untuk menjaga keamanan dalam stabilitas internasional.

 

Referensi:

Haggard, Stephan dan Marcus Noland. 2010. “Sanctioning North Korea: Political Economy of Denuclearization and Proliferation”, dalam Asian Survey. California: University of California Press.

Hennida, Citra. 2014. ”China”, materi disampaikan pada kuliah MBP Asia Timur, Departemen Hubungan Internasional, Universitas Airlangga, 19 Mei 2014.

Hughes, Llewelyn. 2007. “Why Japan Will Not Go Nuclear (Yet) International and Domestic Constraints on the Nuclearization of Japan”, dalam International Security. MIT Press.

Jo, Dong Joon dan Erik Gartzke. 2007. “Determination of Nuclear Proliferation”, dalam The Journal of Conflict Resolution. Sage Publication, inc.

 

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :