Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

GEOPOLITIK INDONESIA, EROPA, DAN ASIA TIMUR

Geopolitik dan geostrategi yang dimiliki negara satu dengan negara lain adalah berbeda. Perbedaan tersebut membawa sebuah ciri khas tersendiri. Hal tersebut dapat dilihat dengan penjelasan dalam paper kali ini mengenai geopolitik Indonesia, Eropa, dan Asia Timur. Ketiga wilayah tersebut memiliki keadaan geopolitik yang berbeda, misalnya saja Indonesia yang disebut sebagai negara kepulauan terbesar memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan wilayah Eropa dan Asia Timur. Hal tersebut juga telah mempengaruhi dari tindakan strategi yang digunakan karena terlihat Indonesia telah memanfaatkan geografi negaranya untuk menentukan kebijakan, tujuan, dan sarana dalam mencapai tujuan nasionalnya. Tindakan tersebut merupakan tindakan yang berguna dalam pemanfaatan kondisi lingkungan untuk mewujudkan tujuan politik (file.upi.edu t. t.).

            Geostrategi Indonesia sendiri menjadi sebuah cara dalam mewujudkan cita-cita proklamasi sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945. Maka, dengan adanya percerminan berdasarkan pembukaan UUD 1945 menjadi sebuah cara untuk menjaga unsur-unsur yang menjadi pertahanan dalam integritas bangsa dalam menciptakan kualitas, keuletan, dan kualitas kekuatan (file.upi.edu t. t.). selain itu, jika dilihat berdasarkan letak Indonesia yang diapit oleh dua benua, yaitu Australia dan Asia, disini peran Indonesia adalah sebagai daerah penyangga, yang dikenal dengan istilah bufferzone (Pujayanti t. t., 4). Letak posisi dari Indonesia kemudian berpengaruh pula terhadap semua tindakan dalam penentuan geopolitik Indonesia, yaitu dalam hal ini bisa dikatakan bahwa geopolitik Indonesia lebih berfokus pada pertahanan terhadap kepemilikan dari wilayah-wilayah yang sudah ada. Hal tersebut kemudian menjadi sebuah landasan untuk pelaksanaan dari geopolitik Indonesia yang berdasarkan pada Wawasan Nusantara (Zulkarnain 2012, 11). Namun, pendapat tersebut berbeda dengan penjelasan yang dipaparkan oleh Laksama (2011) bahwa geopolitik Indonesia tersebut dapat dibagi ke dalam dua proposisi, yaitu ciri geografi Indonesia dan faktor sejarah dan fondasi konseptual. Dari kedua hal tersebut terlihat bahwa geopolitik Indonesia telah berubah seiring dengan berkembangnya zaman. Dalam hal ini dilhat bahwa geopolitik Indonesia telah meberikan peluang terhadap pencegahan dalam kelemahan yang dimiliki Indonesia karena geopolitik saat ini sudah tidak selalu berkutat pada potensi yang dihasilkan dari faktor ekonomi, politik, maupun militer. Maka, dengan semakin berubahnya keadaan geopolitik Indonesia kemudian memberikan adanya pembentukan baru yang harus dimantapkan kembali oleh Indonesia baik itu merenovasi geostrateginya yang lama ataupun merubahnya secara keseluruhan.

            Perkembangan dari geopolitik yang disesuaikan dengan perkembangan dari zaman tersebut juga telah menimbulkan adanya tindakan sebagai ancaman dalam kesatuan dari geopolitik Indonesia sendiri. Hal tersebut dapat dilihat dengan adanya ancaman baik itu dari dalam negeri maupun luar negeri. Ancaman tersebut pula yang dapat mengganggu kedaulatan dari negara seperti perompakan, illegal fishing, penyeludupan manusia, dan penyeludupan barang dan senjata. Ancaman seperti perompakan sebenarnya lebih menunjukkan terjadinya ancaman tersebut dalam ruang di perairan Indonesia. Hal tersebut semakin berkembang ketika permasalahan separatisme di Indonesia terkait GAM berakhir. Namun, hal tersebut juga tidak dapat dilepaskan begitu saja karena diketahui bahwa dengan adanya GAM tersebut juga telah menimbulkan terjadinya perompakan semakin besar-besaran. Kejadian ini dipercayai merupakan ulah yang dilakukan oleh GAM di selat Malaka. Kasus tersebut kemudian memberikan pandangan pada Indonesia, yaitu tidak memiliki kemampuan dalam menjaga wilayah ekamanan lautnya dan alasan ini kemudian menjadi sebuah bagian dari pihak asing dengan alasan untuk mengintervensi dalam upaya pengamanan wilayah laut nasional (Pujayanti t. t., 21-2). Terjadinya kasus tersebut juga tidak dapat dipisahkan dari sistem ketahanan nasional yang dilakukan di Indonesia. Sistem ketahanan nasional Indonesia menjadi sebuah gambaran dalam pengimplementasiannya ke dalam semua aspek yang mencakup kehidupan nasinal baik itu dalam memperkuat kondisi politik negaranya. Alasan ini kemudian membentuk adanya kesadaran dari masing-masing negara untuk menjaga dan menciptakan keamanan bersama. Hal tersebut terwujudkan dengan adanya pembentukan dari kawasan regional ASEAN. Pembentukan ASEAN menjadi sebuah upaya yang dilakukan oleh negara-negara kawasan Asia Tenggara dalam pengupayaan untuk menciptakan perdamaian bersama tanpa menimbulkan rasa kecurigaan di antara satu pihak dengan pihak lainnya (Laksamana 2011, 108-9).

            Pembahasan selanjutnya mengenai geopolitik Eropa, lebih terlihat perbedaan ketika pada masa perang dingin, yang saat itu Eropa terbagi menjadi dua wilayah, yaitu Eropa Barat dan Eropa Timur. Hal tersebut terjadi karena adanya perbedaan dalam pelaksanaan ideologi dari kedua wilayah tersebut, yaitu kapitalis dan sosialis. Namun, kemudian terjadi kesenjangan di antara kedua Eropa tersebut, yang menjadi salah satu penyebab sebagai pembentukan dari geopolitik. Hal tersebut dapat dilihat dengan adanya tindakan dari Eropa Timur, yang tertarik akan sistem geostrategi dari Eropa Barat, tetapi dalam penerapannya Eropa Timur mengalami kegagalan. Kegagalan tersebut kemudian menyebabkan terjadi penurunan kesejahteraan untuk rakyatnya (Sulistyo 2014). Alasan tersebut kemudian menunjukkan adanya perubahan dalam geopolitik di antara keduanya, yang ditandai dengan pembentukan dari NATO dan EU.

            Pembentukan dari NATO dan EU sebenarnya merupakan tujuan untuk menyaingi kehadiran dari Rusia dan CIS. Dalam hal ini, dijelaskan dalam Isakova (2005) diketahui bahwa Rusia merupakan negara yang mendukung terdapatnya CIS, tindakan yang diambil oleh Rusia tersebut menjadi sebuah upayanya dalam melakukan kerjasama dengan negara-negara pecahan Uni Soviet. Selain itu, pembentukan dari NATO dan EU menjadi sebuah pelaksanaan untuk mempersempit wilayah dari Rusia sendiri. Tindakan tersebut kemudian menjadi sebuah upaya dalam penarikan agar Rusia ikut berperan serta dalam menjaga keamanan internasional (Sulistyo 2014). Selain itu, pembentukan dari NATO dan EU menjadi sebuah pelaksanaan dalam pembendungan dari dominasi Rusia, hal tersebut dijelaskan oleh Kuus (2007, 63-4) yang menyatakan bahwa pembentukan dari NATO, khususnya EU menjadi sebuah cara dalam menghadapi dominasi dari Rusia, namun dengan pembentukan EU tersebut, negara-negara yang ikut tergabung di dalamnya juga harus merelakan kedaulatannya terambil. Pengambilan ataupun pemberian kedaulatan bagi negara-negara yang tergabung di dalam EU sudah menjadi konsekuensi, namun dengan adanya penyerahan kedaulatan tersebut, membuat Inggris seakan tidak menyerahkan kedaulatannya sama sekali atau dapat dikataka bahwa Inggris merupakan salah satu negara yang hanya ikut 2/3 dari pelaksanaan EU. Keputusan yang diambil oleh Inggris tersebut menjadi sebuah bukti bahwa dirinya merupakan negara yang memiliki keadaan stabil dalam permasalahan ekonomi dan militernya, yang kemudian memberikan keputusan untuknya bergabung dengan EU yang disesuaikan dengan kepentingannya (Sulistyo 2014).

            Pembahasan terakhir mengenai geopolitik di Asia Timur. Telah diketahui bahwa kawasan Asia Timur merupakan kawasan yang penuh persaingan di antara negara-negara yang berada di kawasan tersebut. Kawasan Asia Timur menjadi sebuah kawasan yang penuh konflik akibat tidak adanya rasa kepercayaan dari masing-masing negara antara satu negara dengan negara lain. Maka, dapat dikatakan bahwa geopolitik Asia Timur lebih mengarah pada persaingan di antara negara-negara tersebut. Persaingan tersebut lebih terlihat dengan adanya kemajuan dari teknologi yang dikembangkan dan penerapan nilai konfusianisme masih menjadi hal yang terpenting untuk perjalanan dalam sistem pemerintahannya. Selain itu, Dijelaskan dalam Ross (1999) bahwa kemajuan secara dinamis telah terjadi di kawasan Asia Timur, khususnya dalam bidang teknologi. Namun, tidak dapat dipisahkan juga bahwa kemajuan dari teknologi telah menimbulkan adanya persaingan teknologi nuklir. Tetapi, dalam kelanjutan untuk pengembangan dari nuklir sendiri telah terjadi pembatasan. Hal tersebut diakibatkan adanya penjanjian NPT yang mengikat antara Korea Selatan dengan Jepang. Dilain pihak Korea Utara yang tidak peduli dengan perjanjian tersebut telah mengadakan kegiatan untuk perkembangan nuklirnya sendiri.

            Tindakan yang dilakukan oleh Korea Utara telah membuat adanya ketegangan dengan rasa tidak aman di kawasan Asia Timur sendiri. Namun, tindakan yang diambil oleh Korea Utara seakan mendapatkan dukungan dari Cina. Dukungan dari Cina tersebut menjadi sebuah upaya untuk mencegah terjadinya reunifikasi di antara Korea Utara dengan Korea Selatan. Selain itu, dengan perkembangan teknologi yang dirasakan di kawasan Asia Timur telah menyebabkan kemajuan dari pertumbuhan ekonomi. Hal tersebut kemudian menjadi salah satu yang mempengaruhi pandangan geopolitik di Asia Timur (Bosworth 2006, 41). Jika, dilihat dari luar konteks, telah terjadi sebuah tindakna yang dilakukan oleh Cina berdasarkan implementasi dari strateginya, yaitu string of pearl. Strategi tersebut merupakan sebbuah upaya dalam pendapatan dalam hal permasalahan geopolitics of oils. Hal tersebut merupakan sebuah tindakan yang dilakukan Cina agar pasokan minyak untuk ke wilayahnya tidak terhambat. Dalam Pehrson (2011) dijelaskan bahwa tindakan yang dilakukan oleh Cina tersebut dengan membuat pipa-pipa di Laut Cina hingga Teluk Arab dan membantu pihak-pihak yang berada diperbatasan dengan adanya pipa-pipa kilang minyak tersebut dengan bantuan secara militer.

            Dapat disimpulkan bahwa keadaan geopolitik dari ketiga kawasan tersebut memiliki ciri khas masing-masing. Hal tersebut disesuaikan dengan pelaksanaan dari strategi yang dilancarkan oleh masing-masing pihak. Selain itu, pelaksanaan dari geopolitik Indonesia seakan lebih terlihat menekankan keamanan wilayah, geopolitik Eropa menekankan pada perimbangan kekuatan yang terjadi dengan Rusia, sedangkan geopolitik Asia Timur menjadi sebuah ajang persaingan di antara negara-negara yang berada di kawasan tersebut, yang kemudian berpengaruh terhadap tidak terbentuknya kerjasama regional di antara satu negara dengan negara lain di kawasan Asia Timur. Maka, dengan ini kepemilikan dan penerapan dari geopolitik menjadi sesuatu hal yang disesuaikan oleh pihak pemerintahnya yang kemudian nantinya juga harus disesuaikan dengan perkembangan zaman yang terjadi karena telah diketahui bahwa pandangan terhadap geopolitik berubah dari masa ke masa.

 

Referensi:

Bosworth, Stephen W. 2006. Dancing with the Giants: The Geopolitic of East Asia in the 21st Century, dalam Global Imbalances and the Evolving World Economy, Conference Volume.

Geostrategi. t. t. “Geostrategi Indonesia”  [online] dalam file.upi.edu/Direktori/.../GEOSTRATEGI._illging.pdf [diakses 25 Mei 2014]

Isakova, Irina, 2005. Russians Governance in the Twenty First Century: Geo-strategy, Geopolitics and Governance. New York: Frank Cass

Kuus, Merje. 2007. “Sovereignty for Security?”. dalam Geopolitics Reframed: Security and Identity in Europe’s Eastern Enlargement. New York: Palgrave MacMillan.

Laksmana, A. Evan. 2011. The Enduring Strategic Trinity: explaining Indonesia’s Geopolitical Architecture. Centre for Strategic and International Studies and Indonesian Defense University, Jakarta. Journal of the Indian Ocean RegionVol. 7, No. 1, June 2011, 95-116  ; Roudledge.

Pehrson, Christopher J. 2006. String of Pearls: Meeting the challenge of china’s rising power across the Asian littoral. Strategic Studies Institute. 

Pujayanti, Adirini. T. t. “Bagian Kesatu: Budaya Maritim, Geo-Politik dan Tantangan Keamanan Indonesia” [online] dalam berkas.dpr.go.id/pengkajian/.../buku-lintas-tim-3.pdf [diakses 25 Mei 2014]

Ross, Robert S. 1999. “the Geography of the Peace: East Asia in the Twenty-First Century”. International Security, Vol. 23, pp. 81-118

Sulistyo, Djoko. 2014. “Geopolitik Eropa”, dalam kuliah Geopolitik dan Geostrategi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Airlangga, 19 Mei 2014

Zulkarnain. 2012. “B. S. Geopolitik dan Wawasan Nusantara” [online] dalam www.polisiku.net [diakses 25 Mei 2014]

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :