Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

PERMASALAHAN DEMOGRAFI DAN MIGRASI DI CHINA

Keadaan demografi pertama kali terlihat dan terjadi di kawasan Eropa. Tingkat demografi yang terjadi di kawasan tersebut dibuktikan dengan terjadinya transisi demografi dengan tingkat mortalitas yang menurun pada awal abad 19. Hal tersebut diakui sebagai pengaruh yang dapat dirasakan dalam jangka waktu panjang karena pengaruh dari tingginya tingkat harapan hidup individu yang terjadi di kawasan Eropa seperti UK, Perancis, dan Swedia. Penurunan yang dirasakan dalam tingkat mortalitas diimbangi dengan angka harapan hidup seseorang yang naik dari 37,3, 33,9, dan 36,5 sejak tahun 1800-1809 menjadi 69,2, 66,5, dan 71,3 pada tahun 1950. Pembentukan yang terjadi dengan adanya transisi demografi tersebut dianggap sebagai penciptaan dalam sebuah ikatan negara menjadi modern world (Zhao 2011, 285). 

            Kejadian yang dirasakan di kawasan Eropa merupakan perbandingan yang kontras jika dilihat keadaan demografi yang terjadi di kawasan Afrika, Asia, dan Amerika Latin. Telah terlihat bahwa pada kawasan-kawasan tersebut terjadi ketimpangan terhadap kenaikan dalam tingkat kematian dan kelahiran yang dirasakan sejak akhir Perang Dunia II. Hal tersebut tergambarkan dari kejadian yang tercatat dalam sejarah negara-negara yang berada di ketiga kawasan tersebut, termasuk China yang memiliki tingkat harapn hidup rendah, yaitu hingga berumur 41 tahun dan rata-rata dari tingkat kelahiran adalah berjumlah enam hingga lebiih anak yang terjadi pada awal 1950-an (UN 2009 dalam Zhao 2011, 285). Dikatakan China sebagai salah satu negara yang mengalami permasalahan dalam urusan demografi menjadi sebuah perjalanannya dalam pengaturan sistem kependudukannya. Ketidakteraturan dalam sistem kependudukan China tersebut terlihat pada abad 20 memiliki angka harapan hidup yang rendah, yaitu di bawah 35 tahun dan rata-rata tingkat kelahiran berada pada tingkat lima hingga enam anak yang terlahir dalam seorang rahim wanita (Zhao 2011, 286).

            Namun, diluar daripada konteks yang terjadi dengan terjadinya perubahan demografi yang berbeda dari keadaan demografi yang terjadi di kawasan Eropa tersebut dibuktikan dengan terdapatnya pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan sosial dan ekonomi yang menjadi sebuah tindakan pembuangan terhadap sumber daya manusia (Zhao 2011, 286). Hal tersebut juga menjadi salah satu kontribusi yang menggagalkan kenaikan ekonomi yang diharapkan dari sebuah negara. Kenaikan (perkembangan) ekonomi yang terjadi di kawasan Eropa merupakan salah satu dampak panjang yang ditimbulkan dengan terjadinya transisi demografi karena dengan meningkatnya angka harapan hidup menjadi sebuah penggerak dalam individu yang ingin melakukan sebuah tindakan dalam memenuhi kebutuhannya. Pemenuhan kebutuhan tersebut kemudian berdampak pada terbentuknya sebuah karakter dari individu yang tidak terlalu memikirkan mengenai keturunan, yang digeserkannya ke dalam sebuah tindakan dalam penciptaan hasil perkembangan ekonomi negaranya. Namun, hal tersebut juga menjadi sebuah dampak negatif yang akan ditimbulkan, jika tidak adanya kesadaran dalam keinginan untuk memiliki keturunan, yang berakibat pada pengurangan sumber daya manusia (Zhao 2011, 285). Hal tersebut menjadi sebuah permasalahan karena tidak adanya regenerasi yang nantinya akan mampu menggantikan usia-usia yang sudah tidak produktif kembali, maka diperlukan adanya sebuah pemenuhan sumber daya manusia pada usia produktif. Terjadinya kejadian transisi demografi yang menimbulkan dampak negatif tersebut menjadi sebuah permasalahan yang terjadi, khususnya di China.

            Permasalahan transisi demografi yang terjadi di Cina mengalami kenaikan yang pesat. Permasalahan yang berkutat pada populasi penduduk yang padat dengan konsekuensi angka harapan hidup rendah berubah dengan cepat. Namun, perubahan yang dialami Cina hanya sebatas pada angka mortalitas tidak pada angka kelahiran. Hal tersebut dibuktikan dengan pada tahun 1950 hingga 1960, Cina mampu menurunkan tingkat mortalitas yang diimbangi dengan angka harapan hidup tinggi. Terdapat data yang menyebutkan bahwa angka harapan hidup pada tahun 1957, individu di Cina dapat hidup dengan umurnya mencapai 50 tahun, 61 tahun pada tahun 1970, dan 65 tahun pada tahun 1981. Data tersebut kemudian menjadi sebuah penilaian tersendiri bahwa Cina mampu memperbaiki keadaan demografinya. Selain itu, data tersebut kemudian diperkuat dengan adanya peningkatan dalam mortalitas yang berhubungan dengan angka harapan hidup individu, yang tercatat individu berumur hingga 74 tahun pada tahun 1980. Peningkatan yang dihadapi Cina kemudian menjadi satu hal positif baginya, namun dibalik semua peningkatan tersebut, angka kelahiran Cina masih tercatat tinggi (Zhao 2011, 289).

            Kenaikan kelahiran yang dihadapi Cina kemudian membuat pemerintah Cina membuat suatu kebijakan untuk mengurangi permasalahan fertilitas di negaranya. Hal tersebut didukung dengan adanya pemberlakuan kebijakan mengenai one child policy. Pelaksanaan dari kebijakan tersebut menjadi sebuah pembatasan pada angka kelahiran yang terjadi di Cina. Pembatasan kelahiran yang terjadi di Cina kemudian memberikan bukti dengan adanya kenaikan yang ditunjukkan oleh pelaksanaan dari kebijakan tersebut, yaitu rata-rata tingkat kelahiran yang terjadi pada tahun 1950-1955 menunjukkan pada angka 3,3, namun kemudian peningkatan terjadi pada tahun 2005-2010 yang menunjukkan angka rata-rata kelahiran yang terjadi di Cina pada angkan 1,6 (Zhao 2011, 290). Peningkatan dalam jumlah kelahiran yang didapatkan Cina kemudian memberikan pengaruh yang dapat menaikkan tingkat perekonomiannya. Pertumbuhan ekonomi yang diinginkan Cina menjadi suatu hal yang pasti dan hal tersebut menjadi sebuah gambaran mengenai keterkaitan demografi yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Cina. Namun, perlu diingat kembali bahwa pertumbuhan ekonomi yang dialami Cina menjadi sebuah hal yang mematikan Cina sendiri. Demografi menjadi sebuah tren baru karena pertumbuhan atau pergantian dari regenerasi penduduk tidak ada (Zhao 2011, 292). Hal tersebut menjadi sebuah permasalahan yang muncul kemudian dengan peningkatan penduduk berumur tua yang sudah bukan lagi menjadi tulang punggung untuk Cina sendiri.

            Masalah demografi yang dihadapi Cina dengan peningkatan dari tingkat mortalitas dan fertilitas menjadi pemicu munculnya masalah baru karena tidak adanya penggantian yang dimiliki Cina untuk mempertahankan peningkatan ekonominya tersebut. Hal tersebut walaupun didukung dengan adanya migrasi internasional yang terjadi di Cina menjadi hal yang tidak akan berpengaruh dalam pertumbuhan penduduk di Cina sendiri. Selain itu, dengan semakin sedikitnya penduduk Cina tersebut bukan hanya dibatasi dengan adanya kebijakan yang berjalan di dalam sistem pemerintahan Cina, melainkan juga dipengaruhi dengan adanya pengaruh lingkungan yang semakin berkembang seperti wabah penyakit, bencana alam, dan lain-lain (Zhao 2011, 292). Penurunan yang dirasakan Cina kemudian menjadi sebuah permasalahan tersendiri dengan adanya prediksi yang mengatakan penurunan yang dihadapi Cina akan berakibat pada lima hal. Pertama, perubahan dalam populasi nasional Cina, yang menjadi sebuah penilaian bahwa populasi di Cina akan terus mengalami penurunan yang kemudian disalip oleh India. Penurunan dari populasi Cina tersebut kemudian akan mempengaruhi pada pertumbuhan ekonomi Cina. Kedua, penurunan angkatan kerja diakibatkan dengan semakin menuanya angkatan kerja. Hal tersebut kemudian di dukung dengan terjadinya penurunan sebanyak 68 persen pada jumlah angkatan kerja. Ketiga, penurunan pada angak kelahiran yang masih dihitung dengan adanya pengaruh dibuatkannya kebijakan pemerintah, namun disisi lain juga terdapat pengaruh lain mengenai semakin produktifnya masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya. Keempat, peningkatan pada angka penduduk berumur tua, berakibat pada tingkat ketergantungan nantinya yang akan memberatkan pemerintah. Kelima, meningkatnya perpidahan penduduk dan urbanisasi. Hal tersebut berpengaruh terhadap pemberian hak yang diberikan dari pemerintahan Cina terhadap penduduk asli dengan penduduk pendatang (Zhao 2011, 293-5).

            Masalah demografi mengenai populasi sudah tidak dapat dipergunakan lagi dengan adanya pemberlakuan sistem kebijakan dari pemerintahan yang berjalan di dalam suatu negara. Hal tersebut terjadi karena pengaruh dengan bergesernya pandangan dari penduduk yang semakin dipengaruhi oleh faktor ekonomi. Pemenuhan kebutuhan sehari-hari untuk keluarga menjadi hal terpenting yang kemudian menggeser pandangan penduduk untuk tidak memikirkan dan mempermasalahkan keturunan (Du dan Wang 2011, 304). Pelaksanaan dalam pemenuhan kebutuhan hidup sudah tidak terdapat batasan untuk wanita. Hal tersebut kemudian mempengaruhi terbentuknya wanita yang semakin modern untuk memajukan tingkat kehidupannya baik itu dalam peningkatan pendidikan yang diterimanya maupun penerimaan dari lapangan pekerjaan yang ada.

            Dengan demikian kesimpulan yang di dapat dengan semakin trennya transisi demografi di Cina menjadi sebuah permasalahan baru karena tidak memikirkan untuk masa depan Cina. Hal tersebut memang berpengaruh terhadap jumlah penduduk Cina yang banyak yang kemudian memberikan pemerintah untuk memberlakukan kebijakan dalam pembatasan kepemilikan dari anak. Namun, hal tersebut juga harus dipikirkan kembali karena penurunan keturunan saat ini juga semakin terjadi seiring dengan banyaknya pekerjaan yang dibuka untuk wanita, yang membuat wanita semakin modern. Maka, dengan demikian kebijakan yang dilaksanakan dari Cina harus dipikirkan kembali ke depannya untuk mengatasi hal-hal kemudian yang akan mungkin terjadi karena akan mempengaruhi pengurangan pada kepemilikan angakatan kerja yang dapat memajukan pertumbuhan ekonominya.

 

 

Referensi:

Zhao, Zhongwei. 2011. “China’s Demographic Challenges from a Global Perspective” dalam Rising China: Global Challenges and Opportunities. Canberra: ANU E Press, pp. 285-300

Du, Yang & Melyan Wang. 2011.“Population Ageing, Domestic Consumption and Future Economic Growth in China” dalam Rising China: Global Challenges and Opportunities. Canberra: ANU E Press, pp 301-314

 

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :