Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

KEJAHATAN TRANSNASIONAL DAN TKI DI ASIA TENGGARA

Kejahatan transnasional merupakan kejahatan yang tidak dapat dikategorikan sebagai kejahatan nasional maupun internasional. Kejahatan transnasional tersebut menjadi sebuah permasalahan yang berkutat pada wilayah regional (kawasan). Permasalahan kejahatan transnasional melingkupi kejatahan baik berupa perdagangan manusia, pencucian uang, migrasi ilegal, penyeludupan narkoba, prostitusi transnasional, arms smuggling, piracy, credit card fraud, dan korupsi (Emmers 2003, 1). Kejahatan tersebut menjadi sebuah permasalahan sendiri ketika permasalahan yang menimpa satu negara mengalami sebuah konsekuensi untuk bertindak cepat agar permasalahan tersebut hilang. Namun, dalam tindakan yang dilakukan dalam memperbaiki keadaan diperlukan kerjasama dari masing-masing pemerintahan negara, cakupan regional. Hal tersebut terjadi karena kejahatan transnasional bukan merupakan kejahatan yang dapat diselesaikan di ranah internasional.

            Terjadinya kejahatan transnasional menjadi sebuah pekerjaan rumah yang besar untuk negara-negara di dunia, khususnya di Asia Tenggara. Kejahatan transnasional yang terlihat sangat mengancam kondisi di Asia Tenggara adalah penyeludupan obat-obatan terlarang. Aksi dari penyeludupan tersebut dipelopori dari aksi komplotan yang berasal dari Cina (Chinese triad), Jepang (Japanese yakuza), dan Vietnam (Vietnamese gangs). Kejadian transnasional yang seakan-akan menghantui negara-negara tersebut terjadi akibat lemahnya dari kekuatan pemerintahan yang berjalan. Hal tersebut terjadi karena pengaruh dari semakin gencarnya tindakan korupsi yang dilakukan di ranah pemerintahan akibat dari lemahnya sistem dan hukum yang berjalan pada ranah tersebut (Emmers 2003, 1).

            Kejahatan transnasional yang pernah terjadi di kawasan regional Asia Tenggara seperti kejadian bom di Bali pada tahun 2002 tepatnya bulan Oktober. Peledakan tersebut merupakan sebuah ancaman yang terjadi akibat adanya aksi terorisme. Aksi tersebut juga dianggap sebagai salah satu aksi yang pernah dialami oleh Amerika Serikat, yaitu peristiwa diledakkannya WTC pada 11 September 2001. Kejadian-kejadian tersebut merupakan sebuah kejadian akibat ulah dari terorisme, yang kemudian berdampak pada keamanan sebuah negara. Selain itu, kejadian yang terjadi seperti tindakan pencucian uang dan sindikat narkoba yang terjadi pada saat terjadi sebuah diskusi ASEAN+3 di Bangkok menjadi sebuah gambaran bahwa maraknya kejahatan transnasional semakin meluas. Hal tersebut dianggap sebuah permasalahan yang menyangkut karena globalisasi. Pengaruh dari globalisasi kemudian dianggap sebagai perubahan kejahatan yang dulunya bersifat secara lokal kemudian dengan adanya globalisasi mempengaruhi perubahan secara global, yang diakibatkan karena revolusi teknologi informasi dan kemajuan transportasi (unisosdem.org 2014).

            Kemajuan dari teknologi informasi dan transportasi kemudian berimbas pada terjadinya integrasi ekonomi. Namun, bukan hanya integrasi ekonomi saja, melainkan nilai demokrasi dan hak asasi manusia telah mengalami perembesan nilai moral. Hal tersebut kemudian mengganggu kenyamanan dalam intensitas negara yang semakin harus menguatkan perannya dalam hal keamanan dan pertahanan. Maka, dengan adanya kejahatan transnasional tersebut menjadi sebuah upaya ASEAN sebagai organisasi regional dapat membantu dalam menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan kejahatan transnasional tersebut. Hal tersebut juga tidak lepas dari peran para anggota ASEAN yang harus mendukung untuk menyelesaikan kasus yang berbau kejahatan transnasional. Penyelesaian yang diharuskannya adanya kerjasama dari para anggota ASEAN kemudian memberikan hasil yang nihil. Hal tersebut akibat dari pengaruh tidak adanya keinginan dari masing-masing negara untuk dikutik atau dicampuri urusan kedaulatannya, yang kemudian menjadi sebuah anggapan bahwa prinsip non-intervensi yang dijalankan di ASEAN dipegang kuat dan berakibat pada lambannya upaya untuk mencegah kejahatan transnasional tersebut (Emmers 2003, 11).

            Diluar dari permasalahan kejahatan trasnasional, tenaga kerja Indonesia merupakan sebuah permasalahan yang menjadi salah satu permasalahan yang mempengaruhi stabilitas dari keamanan Indonesia. Hal tersebut karena pengaruh dari keberadaan TKI yang bekerja diluar mendapatkan pelayanan buruk oleh negara-negara penerimanya. TKI merupakan salah satu bentuk migrasi dari Indonesia yang terjadi sehak zaman modern, yaitu tahun 1960-an hingga 1970-an. Migrasi tersebut merupakan sebuah upaya dalam pemenuhan kebutuhan. Selain itu, terjadinya migrasi merupakan sebuah alasan karena ketiadaannya atau kurangnya peluang pekerjaan, kemiskinan, dan perbedaan gaji di Indonesia dengan negara tujuan (iom.int 2010, 9). Hal tersebut yang kemudian menjadi sebuah upaya dalam penyelesaian untuk dapat menghidupi kebutuhan para TKI.

            Kasus TKI yang menjadi permasalahan khusus di Indonesia karena diperlukan perhatian lebih. Hal tersebut berpengaruh karena semakin banyaknya para TKI wanita yang ikut bekerja di luar, yang lebih lagi pekerjaan yang di dapatkannya sebagai pembantu rumah tangga, pengasuh anak, dan pengasuh orang tua. Pekerjaan tersebut masih tidak memiliki perhatian khusus, khususnya di dalam perundang-undangan tenaga kerja di negara tujuan karena pekerjaan yang dilakukannya bertempat di majikannya, yang kemudian mempersulit keadaan untuk memberikan pengawasan dari pihak berwenang. Selain itu, dengan pengaruh tersebut kemudian berpengaruh terhadap kerentanan dalam pengeksploitasian praktek ketenagakerjaan, kekerasan fisik, dan mental, serta penahanan gaji (iom.int 2010, 9).

            Rumah kedua tujuan TKI lebih banyak mengarah pada Malaysia. Malaysia merupakan tempat bagi terjadinya migrasi dari Indonesia baik ilegal maupun legal. Kejadian tersebut merupakan sebuah alasan karena persamaan etnis, budaya, dan bahasa yang memungkinkan pembauran dengan mudah terjadi pada TKI tersebut (iom.int 2010, 10). Namun, diluar dari konteks tersebut terdapat tantangan yang dihadapi oleh migrasi tenaga kerja di Indonesia, yaitu migrasi ilegal dan perdagangan manusia. Terjadinya hal tersebut akibat pengaruh rumitnya regulasi yang harus dijalankan jika menginginkan pekerjaan di luar negeri. Selain itu, pengaruh dari pengetahuan yang rendah dan lemahnya penegakan hukum, serta kurangnya informasi yang memberitahukan mengenai kasus-kasus tersebut di Indonesia menjadi salah satu pengaruh untuk terjadinya migrasi ilegal maupun perdagangan manusia (iom.int 2010, 16-9). Terdapat salah satu tindakan atas penyelewengan yang di dapatkan dari para TKI yang bekerja di luar negeri seperti kasus di Malaysia, yaitu TKI sering mendapatkan permasalahan yang berhubungan langsung dengan rendahnya kesadaran akan HAM. Masalah tersebut terkait dengan kekerasan seperti penyiksaan, penganiayaan seksual, pencambukan, dan pemerkosaan, dan hak TKI seperti gaji yang tidak di bayarkan, beban kerja luar biasa, tidak ada libur, penipuan, dan pengusiran. Tindakan-tindakan tersebut menjadi sebuah permasalahan yang harus diselesaikan karena akan berkepanjangan dampak yang akan ditimbulkan (iom.int 2010, 42-5).

            Penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa kejahatan transnasional dan tenaga kerja Indonesia menjadi permasalahan yang dapat mengganggu stabilitas keamanan regional Asia Tenggara. Asia Tenggara dengan pembentukan ASEAN menjadi sebuah permasalahan yang harus diselesaikan secara bersama-sama. Selain itu, permasalahan yang menyangkut dengan TKI, pihak Indonesia seharusnya bersikap lebih tegas untuk memperkecil kejadian yang melanggar dari HAM yang dimiliki oleh masing-masing TKI. Pengawasan dan kerjasama dengan negara-negara yang menerima TKI merupakan salah satu tindakan untuk mengurangi tindakan penyelewengan yang diterima oleh TKI tersebut.

 

 

 

 

Referensi:

Emmers, Ralf. 2003. The Threat of Transnational Crime in Southeast Asia. Institute of Defence and Strategic Studies Singapore, UNISCI Discussion Paper

International Organization for Migration (IMO). 2010. “Migrasi Tenaga Kerja dari Indonesia: Gambaran Umum Migrasi Tenaga Kerja Indonesia di Beberapa Negara Tujuan di Asia” [online] dalam www.iom.int/jahia/webdav/.../Final-LM-Report-Bahasa-Indonesia.pdf [diakses 31 Mei 2014]

Uni Sosial Demokrat. 2014. “Kaitan Kejahatan Transnasional dengan Kriminalisasi Ekonomi” [online] dalam http://www.unisosdem.org/article_detail.php?aid=3524&coid=2&caid=30&gid=1 [diakses 31 Mei 2014]

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :