Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

GLOBALISASI DALAM RANAH KORPORASI DAN RESPONSIBILITAS

Telah terlihat dengan munculnya globalisasi, peran negara sudah mulai tergerus. Namun, bukan hanya peran negara yang sudah mengalami pergeseran, melainkan kedaulatannya juga. Perlu diingat bahwa peran negara yang berdaulat atas pergerakan korporasi yang terdapat di negaranya, tetapi hal tersebut juga sudah mulai mengalami pergeseran kembali akibat dari munculnya aktor-aktor non negara yang seakan menyaingi keberadaan negara. Kemunculan daari Trans-National Corporations (TNCs) menjadi salah satu akibat dari pergeseran keberadaan negara semakin terlihat. Hal tersebut terjadi karena tugas dalam masalah korporasi yang seharusnya ditangani oleh negara sudah berhasil dipegang oleh Trans-National Corporations (TNCs) tersebut. Selain itu, kemunculan dari TNCs tidak hanya berada di negara maju saja, melainkan di negara berkembang sudah berhasil menampakkan keeksistensiannya. 

            Dalam Soedernberg (2006, 53) dijelaskan bahwa keberadaan dari Corporation Social Responsibility (CSR) merupakan keberadaan yang memerlukan adanya perluasan dalam penyimpangan dan kepentingan dalam persaingan seperti korporasi, negara, lokal, dan internasional NGOs, dan keberagaman stakeholders yang memiliki jaringan luas. Hal tersebut masih menjadi pertanyaan besar mengenai pemahaman dari CSR, namun dapat diberikan garis besar bahwa keberadaan dari CSR masih dianggap sebagai hal yang memungkinkan. Selain itu, CSR merupakan sebuah korporasi yang menekankan adanya perasaan dalam perjalinan sebuah kerjasama, yaitu bisnis. Dengan kata lain, CSR menekankan sebuah jalinan yang terjadi di antara korporasi dan stakeholders seperti perkerja, komunitas jaringan luas, suppliers, kreditur, lingkungan, dan lain-lain, yang memiliki sebuah jaringan dengan menekankan etik dalam bisnis dan kontribusi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, yang kemudian memiliki pengaruh ke dalam kualitas hidup untuk pekerja dan keluarganya, baik itu sebagai sebuah komunitas lokal maupun komunitas pada umumnya (Holme dan Watts 2000, 3 dalam Soedernberg 2006, 53).

            Terdapat penilaian yang dilakukan oleh Oxam, yaitu sebuah komunitas bantuan luar negeri yang menilai mengenai isu-isu yang terjadi dalam aktivitas bisnis yang terjadi di selatan yang dipengaruhi oleh keberadaan dari tiga faktor. Pertama, human right, yang mempertanyakan mengenai apakah perusahaan memiliki kebijakan dalam pelaksanaan dari hak asasi manusia. Kedua, workplace relations, yang mempertanyakan mengenai apakah para pekerja mendapatkan kesesuaian dari perusahaan tersebut, dengan kata lain tidak mendapatkan diskriminasi dari perusahaan tempatnya bekerja. Ketiga, community relations, mempertanyakan mengenai apakah perusahaan memiliki hubungan dalam investasi yang mempengaruhi dari pelaksanaan sistem kerjanya. Ketiga hal tersebut menjadi sebuah penggambaran mengenai keberadaan dari CSR yang sudah memasuki ranah dalam menggantikan posisi dari peran negara dalam mengatasi masalah korporasi. Selain itu, terdapat dua strategi dari CSR tersebut, yaitu the Code of Conduct dan the Code’s neoliberal successor (Soedernberg 2006, 53-4). Strategi pertama, the Code of Conduct, dijelaskan bahwa merupakan sebuah strategi yang dapat dilaksanakan untuk TNCs yang berada di wilayah selatan untuk pelaksanaan dari aktivitas-aktivitas perusahaannya, yang kemudian tertuang ke dalam United Nations Centre on Transnational Corporations (UNCTC) tahun 1974. Sedangkan, pada strategi kedua, the Code’s neoliberal successor, dijelaskan mengenai keberadaan TNCs menjadi global compact, yang diperkenalkan oleh United Nations pada tahun 2000. Kedua strategi yang diperkenalkan tersebut merupakan salah satu upaya dalam menyelesaikan permasalahan korporasi yang terpengaruh dari keberadaan TNCs yang perannya semakin menguat. Hal tersebut kemudian menjadi sebuah bukti bahwa dengan terdapatnya strategi yang ada tersebut akan membantu dalam menyelesaikan konflik yang dimunculkan oleh kapitalis global yang berpengaruh di wilayah selatan (Soedernberg 2006, 54-5).

            Kemunculan dari CSR merupakan sebuah bentukan yang jika dilihat dari level kemuculannya yang berada di bagian aktornya hanya dalam cakupan negara dan non-negara yang kemudian mengalami koalisi dengan dunia luas seperti global, nasional, dan lokal. Koalisi yang terjadi di antara CSR merupakan sebuah penggambaran bahwa terdapat [embentukan yang terjadi dari kontrol mekanisme yang menyetujui dengan perpaduan dari CSR. Selain itu, dikatakan bahwa kemunculan dari Global Compact adalah terjadi akibat kontradiksi dan relasi dari kekuatan kapitalisme global. Namun, perlu dilihat bahwa alasan yang sama juga terjadi akibat dari terdapatnya Global Compact dengan Code of Conduct juga dikatakan berasal dari akar yang sama. Kesamaan yang dimiliki dari kedua strategi yang tadi dikatakan untuk penyelesaian masalah pada wilayah selatan. Pergeseran dari perubahan yang terjadi tersebut perlu dilihat bahwa sebenarnya strategi yang diberikan oleh CSR adalah sebagai bentuk netralisasi, legitimasi, dan normalisasi, yang kemudian berakibat pada kenaikan dari kekuatan yang dimiliki oleh TNCs berpengaruh secara alami pada faktor lingkungan dan kesejahteraan dari tenaga kerja (Soedernberg 2006, 55).

            Perlu dilihat juga bahwa dari masing-masing strategi menekankan pada wilayah jangkauannya masing-masing. Global Compact menyebutkan bahwa wilayahnya bukan muncul sebagai ide hanya dibuat berdasarkan pada United Nation Secretary General, yang dianggap sebagai pengganti dalam penyelesaian antara kontradiksi dan kesesuaian dengan sejarah yang menjadi pembentuk diantara golongan kekuatan utara dan selatan. Hal tersebut menjadi sebuah penyelesaian yang menjadi bentuk persetujuan organisasi internasional seperti UN dengan konfrontasi yang terjadi di antara ideologi neoliberal dan actual social experience. Dengan melihat dari salah satu strategi terhadap pengaruh yang dapat diberikan dalam jangkauan untuk menjelaskan kemunculan dari TNCs, disamping itu pula terdapat penjelasan bahwa dengan kemunculan dari TNCs juga diperlukan adanya gambaran mengenai akibat negatif yang ditimbulkan. Maka, kemudian menjadi hal yang pantas dengan strategi yang dimunculkan tersebut akan dapat dan mampu membantu menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Selain itu, munculnya TNCs dapat dikatakan paska Bretton Woods (Soedernberg 2006, 55-6).

            Kemunculan dari TNCs juga telah menandakan adanya pengaruh yang diberikan terhadap sikap negara yang berubah seperti terjadinya persaingan yang mengharuskan negara untuk saling-saling menguasai investasi di dunia. Hal tersebut merupakan pengaruh yang ditimbulkan adanya kapitalisme global. Selain itu, kapitalisme global menandakan pengaruh yang berakibat pada keputusan domestik yang dilakukan oleh negara dalam mengatasi permasalahan CSR menjadi terbatasi akibat dari kuatnya pengaruh yang dimunculkan oleh TNCs. TNCs merupakan pengaruh yang buruk kembali karena jika dilihat keeksistensiannya di dunia ketiga, kekuatannya menjadi lebih meluas pengaruh dari tidak ditemukannya penguatan sendiri untuk dunia ketiga (Soedernberg 2006, 66). Namun, perlu dilihat kembali dengan kemunculan dari teknologi yang semakin berkembang menjadi salah satu pengaruh terhadap keeksistensiannya TNCs menjadi menguat dan kemudian menjadi pengaruh dari semakin tergerusnya peran negara dalam mekanisme pasar karena salah satu dari strategi TNCs sebagai restrukturisasi dari kapitalis global (Soedernberg 2006, 57).

            Dengan ini, maka penulis setuju dengan pernyataan yang diutarakan oleh Soedernberg (2006) yang menyatakan bahwa kemunculan dari TNCs merupakan salah satu yang mempengaruh peran negara semakin tergerus. Pergeseran dari peran negara tersebut kemudian dibantu dengan adanya bantuan dalam pembuatan strategi, yaitu the Code dan Global Compact untuk membantu dalam membatasi peran dari TNCs tersebut. Selain itu, negara sudah tidak dapat menempatkan posisinya yang semakin tidak jelas akibat adanya aktor non negara dan pembentukan dari CSR yang dibentuk oleh negara dapat dikatakan sebagai penyelesaian untuk membantu penghindaran terhadap eksploitasi dari aktivitas-aktivitas TNCs tersebut.     

 

 

 

Referensi:

Soedernberg, Susanne. 2006. “Global Governance and Corporate Social Responsibility” dalam Global Governance in Question. London: Pluto Press.

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :