Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

ORGANISASI INTERNASIONAL MENURUT PANDANGAN REALIS

Institusi Internasional merupakan suatu set peraturan yang ditetapkan sebagai jalan dalam suatu koordinasi untuk menjalankan kooperasi dan persaingan diantara negara-negara yang tergabung di dalamnya, yang dijalankan dengan adanya sebuah norma yang mengikat di dalamnya (Mearsheimer 1995, 8). Institusi Internasional yang terbentuk semenjak berakhirnya Perang Dingin menunjukkan adanya peningkatan dalam menciptakan tatanan dunia yang baru. Kemunculan dari Institusi Internasional dianggap sebagai bentukan yang mampu menciptakan perdamaian dunia. Hal tesebut diutarakan oleh pembuat kebijakan, yang dibuktikan dengan peningkatan yang dialami oleh Barat (Eropa) terkait dengan keadaan ekonominya dan hal tersebut terjadi sebelum Uni Soviet mengalami collapsed (Mearsheimer 1995, 5). Selain itu, dikatakan bahwa dengan kehadiran dari Institusi Internasional dapat meningkatkan stabilitas dunia. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya kooperasi yang dilakukan oleh militer Eropa setelah Perang Dunia. Militer Eropa telah mampu menunjukkan adanya pembuktian bahwa stabilitas dunia dapat diatur (Mearsheimer 1995, 6). Pernyataan yang mengatakan bahwa dengan hadirnya Institusi Internasional mampu untuk menciptakan perdamaian dunia dibantah oleh kaum realis karena menurut sudut pandang realis, Institusi Internasional merupakan sebuah institusi yang menjadi sebuah refleksi dalam menjalankan distribusi power di dunia (Mearsheimer 1995, 7). Power yang dimiliki oleh suatu negara untuk melawan negara lain menjadi sebuah bentukan yang mempertontonkan aksinya karena dengan kepemilikan kekuatan tersebut akan mengahasilkan sebuah akhir untuk negara pemenang, yang berkuasa dan memiliki nilai lebih dalam mewujudkan perdamaian.

            Ketidaksetujuan yang diutarakan oleh kaum realis menunjukkan bahwa Institusi Internasional dianggap sebagai sebuah institusi yang berdasarkan pada kepentingan individu terhadap kalkulasi dari great powers, dan Institusi Internasional dianggap tidak memiliki independent effect on state behaviour. Selain itu, pernyataan yang diutarakan oleh kaum realis tersebut menganggap bahwa dengan terbentuknya Institusi Internasional terlihat bahwa fokusnya hanya terhadap margin, yaitu berbeda dengan anggapan sebelumnya yang mengatakan bahwa dengan Institusi Internasional mampu menciptakan perdamaian dunia. Hal tersebut secara tidak langsung memberikan dukungan bahwa dengan hadirnya Institusi Internasional lebih mementingkan terjadinya perdamaian, namun ternyata tidak (Mearsheimer 1995, 7). Namun, sebelumnya perlu diketahui bahwa kehadiran dari Institusi Internasional dapat mampu menunjukkan adanya penciptaan suatu gerakan yang dapat memberikan pengaruh dalam state behaviour.

            Diketahui bahwa Institusi Internasional erat kaitannya dengan sistem internasional. Dalam hal ini, kaum realis menyatakan bahwa sistem internasional merupakan sebuah arena yang brutal. Alasan tersebut diutarakan karena sistem internasional dianggap sebagai sebuah ajang untuk melaksanakan tindakan dalam mencapai kepentingan karena terdapatnya peluang dan tujuan tersebut juga mempengaruhi terhadap sikap negara yang nantinya akan memberikan perhatian sedikit dengan lawannya agar dapat mewujudkan tujuannya (Mearsheimer 1995, 9). Sebelumnya, telah dijelaskan bahwa Institusi Internasional dijalankan dengan adanya kooperasi yang dibagi ke dalam dua faktor, yaitu relative gains considerations dan concern about cheating (Mearsheimer 1995, 12). Kooperasi yang dijalankan tersebut menurut kaum realis merupakan salah satu cara untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Namun, disamping itu, negara yang menjalankannya tetap fokus terhadap sistem yang dijalankannya, yaitu balance of power.

            Dari penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa kaum realis lebih menunjukkan sikap berlawanan dengan kaum institusionalis. Kaum realis menegaskan bahwa Institusi Internasional tidak dapat menciptakan perdamaian dunia karena terdapat persaingan yang dilakukan oleh negara-negara. Hal tersebut terjadi karena peran utama yang paling berpengaruh di dalamnya adalah power yang dimiliki oleh setiap negara. Sedangkan, di dalam Mearsheimer (1995) dijelaskan juga terkait dengan Institusi Internasional melalui kacamata kaum institusionalis yang menyatakan bahwa Institusi Internasional akan menciptakan perdamaian dunia, yang diperkuat dengan tiga argumen dari kaum institusionalis, yaitu liberal institutionalism, collective security, dan critical theory. Dari ketiga teori tersebut terlihat bahwa adanya sikap optimis bahwa hadirnya Institusi Internasional mampu menciptakan perdamaian dunia.

 

Referensi:

Mearsheimer, John J. 1995. “The False Promise of International Institutions”, dalam  International Security. Chicago: MIT Press, 19 (3), hal: 5-49

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :