Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

Organisasi Internasional Dalam Pendekatan Liberal atau Institusionalis

Kehadiran organisasi internasional mendapatkan perbedaan pandangan antara kaum realis dengan kaum liberalis. Dalam Dunne (2001, 170) menjelaskan bahwa kaum realis menyatakan bahwa kehadiran dari organisasi internasional tidak dapat menciptakan perdamaian dunia, namun berbeda halnya dengan pandangan yang dikemukakan oleh kaum liberalis, yang menyatakan bahwa dengan kehadiran dari organisasi internasional mampu untuk menciptakan perdamaian dunia. Kehadiran dari organisasi internasional dianggap sebagai organisasi yang mampu mewadahi segala keteraturan baik itu masukan-masukan bagi negara-negara yang ada. Hal tersebut dimaksudkan adalah untuk menjadikan organisasi internasional sebagai wadah untuk mencapai kepentingan-kepentingan nasional dari sebuah negara (Martin 1992, 765). Dalam Abbott dan Snnidal (1998, 4) dijelaskan bahwa organisasi internasional memunculkan kehadiran dari aktivitas yang lebih tersentralisasi. Hal tersebut dianggap akan mampu menciptakan efisiensi dari kegiatan kolektif dan meningkatkan kemampuan dari organisasi internasional yang lebih dapat memberikan pengaruh, baik itu dalam permasalahan envirenment dan kepentingan dari negara-negara.

            Dengan kata lain, kaum liberalisme menyatakan bahwa organisasi internasional memiliki kelebihan seperti centralization dan independence. Kelebihan tersebut mampu untuk meningkatkan terciptanya efisiensi yang ada. Hal tersebut dapat dianalogikan dengan keberadaan dari privat business firm yang merupakan sebuah instruktif dan dalam organisasi tersebut dibentuk sebuah sistem yang terpusat, yaitu berbentuk horizontal (Abbott dan Snnidal 1998, 9). Sentralisasi yang dianggap sebagai kelebihan dari organisasi internasional dianggap sebagai sebuah sistem yang akan mamu menyediakan adanya forum netral. Dalam hal ini pelaksanaan yang ada akan lebih menciptakan sebuah pelaksanaan yang lebih efektif. Sedangkan, independence lebih menunjukkan fungsi organisasi internasional yang lebih efisien dan terbentuknya pelaksanaan dari legitimasi, baik itu dalam bentuk kolektif maupun individual. Selain itu, independence dianalogikan sebagai privat business firm terkait dengan pelaksanaan penanaman saham. Dalam hal ini pemegang saham dari perusahaan tersebut menjalankan pekerjaannya sebagai monitor dalam membatasi biaya agensi. Namun, perlu diingat bahwa dengan pelaksanaan dari independence harus disesuaikan dengan sistem pelaksanaannya, yaitu dengan tidak diperbolehkannya sebuah pelaksanaan yang berat sebelah karena hal tersebut akan mampu menciptakan sebuah persaingan yang nantinya berakibat pada hasil akhir, yaitu tidak tercapainya sebuah kepentingan awal (sudah direncanakan sebelumnya) (Abbott dan Snnidal 1998, 16). Pelaksanaan dari organisasi internasional yang berdasarkan pada pendekatan liberalisme dapat diperlihatkan dengan pelaksanaan dari European Court of Justice. Dalam institusi tersebut memberikan gambaran bahwa European Court of Justice mementingkan pelaksanaannya yang sesuai, yaitu perlakuan sama terhadap anggota-anggota yang ingin melakukan penyelesaian, yaitu cakupan Eropa. Hal tersebut juga didukung dengan terbentuknya sikap dari para anggota European Union yang memiliki kepatuhan pada European Court of Justice. Selain itu, pelaksanaan tersebut juga lebih tersentralisasi, yang memungkinkan adanya kestabilan dan efektif.

            Maka, dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan organisasi dalam sudut pandang liberalisme lebih menekankan bahwa organisasi internasional akan mampu membentuk perdamaian internasional. Hal tersebut dipengaruhi karena dengan kemunculan organisasi internasional akan mampu membentuk kerjasama yang terjalin dan dengan penggabungan tersebut akan mampu menyamakan kedudukan dari power yang dimiliki oleh masing-masing negara. Namun, hal tersebut masih menjadi hal yang tidak sesuai karena organisasi internasional berdasarkan kacamata liberalisme tidak mampu menekan dari kehadiran hegemon, yang dianggap sebagai salah satu dari penguat terjadinya persaingan yang akan mungkin terjadi di antara para anggota yang tergabung di dalam organisasi internasional.

 

Referensi:

Abbott, Kenneth W. dan Duncan Snnidal. 1998. Why State Act Through Formal International Organizations, dalam The Journals of Conflict Resolution 42 (1)

Martin, Lisa L. 1992. Interest, Power, and Multilateralism, dalam International Organization 46 (4). Page 765-792.

Keohane, Robert O. Dan Lisa L. Martin. 1995. The Promise of Institutionalist Theory, dalam International Security 20 (1). Page 39-51

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :