Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

GEOPOLITIK TIMUR TENGAH, ASIA SELATAN, DAN ASIA TENGGARA

Keadaan geopolitik dan geostrategi dari tiga kawasan, yaitu Timur Tengah, Asia Selatan, dan Asia Tenggara memiliki perbedaan tersendiri yang menjadi suatu ciri khas dari masing-masing kepemilikan atau penanda dari keadaan geopolitik dan geostrateginya. Ketiga kawasan tersebut sebenarnya memiliki kesamaan dari tanda-tanda geopolitik dan geostrateginya karena tempat (wilayah) yang strategis. Kawasan Timur Tengah dan Asia Selatan memiliki kesamaan terhadap isu-isu yang terangkat ke permukaan seperti keadaan geopolitik dan geostrategi yang beraitan denagn konflik perbatasan dan kepemilikan dari Weapon of Mass Destruction (WMD). Isu-isu tersebut menjadi sebuah penanda bahwa kedua kawasan dengan kepemilikan dari WMD menjadi hal yang menentukan untuk memperlihatkan kekuatan yang dimiliki dari masing-masing negara yang memiliki persenjataan tersebut. Namun, dilain hal untuk kawasan Timur Tengah juga terdapat isu yang berkaitan dengan penjualan persenjataan. Berbeda halnya dengan isu-isu yang terkait di kawasan Asia Tenggara mengenai geopolitik dan geostrateginya, yaitu lebih mengarah pada isu-isu yang lebih kooperatif. Hal tersebut terkait dengan keberhasilan dari Asia Tenggara dalam membentuk organisasi regional, yaitu Association of South East Asia Nations (ASEAN).

 

Geopolitik dan Geostrategi Timur Tengah

            Kondisi geopolitik dan geostrategi di kawasan Timur Tengah dipengaruhi dari terjadinya peristiwa 9/11. Peristiwa tersebut telah memberikan dampak pada keterlibatan dari Amerika Serikat di dalam kawasan Timur Tengah. Kawasan Timur Tengah dianggap sebagai sarang dari berkumpulnya teroris. Hal tersebut didasari pada doktrin yang dibuat oleh Bush. Namun, dilain pihak kawasan Timur Tengah dalam Ewan (2000) dijelaskan bahwa keadaan geopolitik dan geostrategi dari Timur Tengah dapat dilihat dengan hubungan bilateral yang terjadi di kawasan tersebut dan hubungan yang terjalin di luar dari kawasan Timur Tengah. Hal tersebut dilakukan sebagai sebuah upaya dalam memperjuangkan kepentingan dari Timur Tengah sendiri ataupun kepentingan negara lain terhadap Timur Tengah.

            Kondisi geopolitik dan geostrategi dari kawasan Timut Tengah terkait dengan isu-siu yang berhubungan dengan konflik perbatasan, dan perdagangan dan persaingan persenjataan. Pada isu pertama terkait dengan konflik perbatasan. Dalam Michael (1977) dijelaskan mengenai jenis-jenis perbatasan yang diklasifikasikan ke dalam empat jenis, yaitu fisiografi, geometri, antropomorphis, dan kombinasi dari fisiografi, geometri, dan anthropomorphis. Pada jenis pertama terkait dengan fisiografi yang didasarkan pada perbatasan yang dilihat (ditunjukkan) dengan keadaan alam. Jenis kedua, geometri merupakan perbatasan yang dilihat berdasarkan pada penentuan yang dilihat dari garis lintang dan garis bujur. Jenis ketiga, anthropomorphis merupakan perbatasan yang dilihat berdasarkan pada kepemilikan dari suku dan adat tradisi yang dilihat sebagai pembeda dari masing-masing negara. Sedangkan, jenis keempat, kombinasi dari fisiografi, geometri, dan anthropomorphis dilihat pada gabungan-gabungan dari ketiga ciri untuk pembedaan dalam pembatasan wilayah. Perbatasan wilayah yang sering dijadikan sebuah konflik tersebut menjadi salah satu alasan dalam ketidakpastian yang terjadi hingga saat ini. Hal tersebut dapat digambarkan dengan adanya permasalahan di antara Israel dan Palestina akibat perebutan wilayah negara. perebutan wilayah menjadi salah satu alasan tidak terselesaikannya permasalahan di antara kedua negara tersebut yang menjadi satu bagian dari konflik masa lalu.

            Michael (1977) menyebutkan bahwa perebutan wilayah yang dilakukan oleh Israel terhadap Palestina menjadi salah satu cara yang dilakukan oleh Israel dalam menjadikan wilayah Palestina sebagai struggle dari geopolitik Israel. Dalam hal ini konflik yang terjadi karena dijadikan sebuah alat dalam menarik perhatian dari dunia luar, yaitu dunia internasional (dunia Islam, dunia Arab, dan Amerika Serikat, yang merupakan sekutunya). Berbeda halnya dengan isu terkait perdagangan dan persaingan persenjataan. Kawasan Timur Tengah menjadi kawasan sebagai salah satu bentuk persaingan dari kepemilikan WMD. Kepemilikan dari WMD menjadi sebuah pertunjukkan kekuasaan dan kekuatan dari negara-negara yang memiliki senjata tersebut di kawasan Timur Tengah. Dalam Shobokshi (2012) dijelaskan bahwa penggunaan dari WMD telah mengakibatkan banyaknya korban jiwa terkait dengan peperangan yang terjadi di antara Irak dengan Amerika Serikat, yaitu Perang Teluk, dan perang yang terjadi di antara Irak dan Iran tahun 1998. Namun, dengan terdapatnya kepemilikan dari persenjataan nuklir dari negara-negar tersebut menjadi sebuah ancaman bagi Non Ploriferation Nuclear Treaty (NPT). Ancaman tersebut terjadi karena adanya sebuah perbedaan pandangan dalam kepemilikan nuklir tersebut karena sudah terdapatnya larangan dalam memiliki ataupun mengembangkan nuklir. Tetapi, terjadi sebuah kejanggalan dalam kepemilikan nuklir sendiri, yaitu dengan adanya kepemilikan nuklir dari Iran yang menjadi masalah. Hal tersebut dianggap oleh Iran sebagai sebuah bentuk perdamaian yang ingin diterapkan oleh Iran dan ditunjukkan kepada dunia. Alasan tersebut sebenarnya lebih terlihat seakan Iran ingin melindungi negaranya sendiri terkait dengan keamanan dari Timur Tengah yang masih sering terjadi konflik (Sulistyo 2014).

            Kepemilikan nuklir dari Iran menjadi sebuah perhatian khusus bagi negara-negara lain yang termasuk di kawasan Timur Tengah karena dianggap sebagai sebuah ancaman. Terlebih lagi dengan adanya ikatan yang terjalin di antara Amerika Serikat dengan Israel, yang ditunjukkan dengan sikap Amerika Serikat memasok persenjataan di Israel dan menjadi polisi di kawasan Timur Tengah. Selain itu, keterlibatan dari Amerika Serikat seakan membuat gerah dari negara-negara lain karena tidak adanya perlakuan yang sama karena sikap Amerika Serikat yang terlihat lebih menjaga Israel. Maka, dengan hal ini negara-negara Timur Tengah juga tidak mau kalah, yaitu dengan melakukan kerjasama dengan Eropa untuk salah satu pemasok persenjataan di negara-negara tersebut (Lenczowski 1993).

 

Geopolitik dan Geostrategi Asia Selatan

            Dalam Chapman (2009) dijelaskan bahwa geopolitik di Asia Selatan terlihat lebih berpengaruh terhadap keadaan di dalam ideologi yang dimiliki, namun didasarkan pada agama. Pelaksanaan dari ideologi tersebut semakin jelas terlihat perbedaannya dengan adanya konflik di antara India dan Pakistan. Kedua negara tersebut masih  menjadi dua negara yang memperebutkan wilayah Kashmir. Perebutan dari wilayah Kashmir yang berlangsung antara India dan Pakistan sebenarnya juga telah menarik perhatian dari Cina. Wilayah Kashmir yang terletak disebelah utara India dan dekat dengan Cina, serta memiliki kestrategisan dari wilayahnya tersebut menjadi satu-satunya wilayah yang diperebutkan oleh tiga negara. Hal tersebut kemudian memunculkan adany persaingan dari ketiga negara tersebut, yang kemudian persaingan tersebut juga ditunjukkan dengan adanya kepemilikan dari WMD dari masing-masing negara agar dapat merebut wilayah Kashmir. Namun, dengan tindakan yang ditunjukkan dari ketiga negara tersebut kemudian memberikan akhir yang menakutkan karena kepemilikan dari nuklir telah menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan dalam tatanan internasional yang dikaitkan dengan konflik perebutan wilayah. Selain itu, persaingan di antara keduanya terkait dengan permasalahan mengenai perubahan kecenderungan terhadap pandangannya terkait dengan negara yang dianggapnya sebagai bentukan aliansinya. Hal tersebut digambarkan dengan adanya sikap pro oleh kehadiran Pakistan oleh Amerika Serikat di dunia ketiga, namun berbeda dengan sikap India yang lebih mengarah pada Uni Soviet. Sikap tersebut kemudian mengalami pergeseran pandangan saat ini, yaitu India saat ini lebih pro dengan Amerika Serikat, sedangkan Pakistan berbalik posisi dengan India. Hal tersebut kemudian disebut dengan istilah the politics of triangle, yang menjelaskan mengenai hubungan buruk yang terjalin di antara Pakistan dengan India (Chapman 2009, 308).

            Terdapat pula gambaran terkait dengan geopolitik dan geostrategi di kawasan Asia Selatan, yaitu mengenai munculnya India sebagai kekuatan hegemoni. Hal tersebut menjadi salah satu yang menarik perhatian dunia akibat dari the rising-nya India, yang kemudian menunjukkan India adalah hegemoni yang terdapat di kawasan Asia Selatan. Namun, keberadaannya tersebut juga menjadi sebuah penempatan posisi yang netral karena menjadi sebuah upaya dalam menyeimbangkan kekuatan dari Asia Selatan di mata dunia. Selain itu, dengan munculnya India sebagai kekuatan baru menyebabkan timbulkan kecemburuan yang ditunjukkan oleh Pakistan. Pakistan yang merasa sebagai pesaing dari India menunjukkan sikapnya yang memberikan keputusan dengan mengirimkan sumber daya manusianya untuk belajar di luar negeri, yang nantinya jika sudah lulus dipekerjakannya di Pakistan dengan tujuan untuk membangun Pakistan, yang dikenal dengan istilah brain gain, untuk menyaingi the rising-nya India (Sulistyo 2014).

 

Geopolitik dan Geostrategi Asia Tenggara

            Kawasan Asia Tenggara dianggap sebagai kawasan yang penuh dengan isu-isu kooperatif. Kawasan tersebut merupakan kawasan yang memiliki diversitas yang tinggi dalam hal agama, suku, dan budaya. Selain itu, kawasan ini merupakan kawasan yang memiliki latar belakang sama karena persamaan dalam pengalaman pernah dijajah (merasakan kolonialisme), kecuali Thailand. Dalam Narine (2007) dijelaskan bahwa kawasan Asia Tenggara dianggap lebih berhasil dibandingkan dengan kawasan lain seperti kawasan Asia Selatan karena kawasan Asia Tenggara berhasil menyatukan satu pikiran dengan membuat suatu organisasi regional, yaitu ASEAN. Organisasi tersebut merupakan organisasi yang bertujuan untuk melindungi stabilitas regional tanpa melakukan adanya intervensi dari negara lain, mengurangi kompetisi yang terjadi di antara negara-negara di Asia Tenggara, dan menjadi alasan dalam mempertahankan kemerdekaan dari negara-negara di Asia Tenggara terkait dengan ideologi-ideologi yang menyebar pada masa Perang Dingin.      

            Berdirinya ASEAN merupakan salah satu tujuan untuk mewujudkan adanya kolaboraasi regional, perdamaian, pentingnya solidaritas kawasan, dan menghindari adanya intervensi asing. Namun, berdirinya ASEAN masih dianggap memiliki kelemahan karena negara-negara yang termasuk ke dalam organisasi tersebut masih dianggap memiliki kepentingan yang berbeda-beda, kepemilikan tradisi yang beragam, dan terbentuknya dari organisasi tersebut masih diaggap sebagai organisasi yang terbentuk tidak secara alami yang disertai dengan adanya diplomasi brinkmanship. Dalam hal ini kelemahan yang terjadi akibat perbedaan kepentingan dapat dilihat dengan adanya konflik yang terjadi di negara-negara seperti Myanmar, Laos yang masih relatif baru menjadi anggota dari organisasi regional tersebut dan negara-negara tersebut masih menekankan prinsip-prinsip yang berjalan di ASEAN dengan mewujudkan prinsip non-intervensi. Pada kelemahan yang lainnya seperti kepemilikan dari tradisi yang beragam menjadi salah satu alasan untuk tidak adanya perhatian dari masing-masing anggota. Sedangkan, pada kelemahan ketiga, yaitu diplomasi brinkmanship menjadi salah satu alasan yang terjadi akibat terjadinya konflik-konflik di antara satu negara dengan negara lain yang berada di kawasan yang sama akibat dari perebutan wilayah seperti konflik yang sering terjadi diantara Malaysia-Indonesia (Emmerson 2005, 174).

            Kehadiran dari organisasi ASEAN masih dianggap belum mampu untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi pada internalnya. Hal tersebut menjadi pukulan keras bagi ASEAN yang digambarkan dengan gagalnya ASEAN dalam menyelesaikan konflik Spratly Island. Kasus tersebut yang gagal diselesaikan oleh ASEAN kemudian digiring ke internasional. Namun, disisi lain dari kelemahan yang ditunjukkan oleh ASEAN, masih terdapat kepercayaan yang diberikan kepada ASEAN karena adanya organisasi ASEAN menjadi salah satu pendukung dalam pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut dan seiring dengan daftar kegagalan dalam penyelesaian masalah ASEAN masih dipercaya dalam menjadi mediator dalam ranah internasional (Sulistyo 2014). Kepercayaan tersebut dapat dibuktikan dengan adanya keterlibatan dari Indonesia sebagai mediator dalam penyelesaian konflik Laut Cina Selatan. Selain itu, Indonesia juga menjadi negara yang melakukan promosi dalam mengusahakan penyelesaian dari konflik Laut Cina Selatan dengan usaha pelaksanaan dari diplomasi preventif (Wiryono 2007, 20).

            Dapat disimpulkan bahwa geopolitik dan geostrategi dari ketiga kawasan, yaitu Timur Tengah, Asia Selatan, dan Asia Tenggara memiliki persamaan dalam hal kestrategisan dari wilayah-wilayah kawasan tersebut, namun terdapat perbedaan dan arah masing-masing dalam menunjukkan keadaan geopolitik dan geostrategi dari ketiga kawasan tersebut. Hal tersebut ditunjukkan dengan keadaan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang semakin gencar dengan pelaksanaan dari persenjataan dengan mengembangkan WMD karena merasa tidak aman dengan kawasan tersebut tanpa adanya kepercayaan satu sama lain. Kawasan Asia Selatan yang masih menekankan pertumbuhan masing-masing negara yang terdapat di kawasan tersebut seperti India yang saat ini sedang mengalami peningkatan tanpa mempedulikan ketimpangan yang terjadi di negaranya sendiri ataupun dengan negara-negara yang berada dalam satu kawasan. Namun, diantara kedua kawasan, yaitu Timur Tengah dengan Asia Selatan memiliki persamaan dalam hal kepemilikan dari WMD menjadi salah satu hal yang menarik perhatian, disamping dari keberadaan India sebagai wilayah yang dilewati pipa gas (minyak bumi) dari Timur Tengah juga memiliki dampak langsung dari kestrategisan Timur Tengah. Sedangkan, Asia Tenggara masih menekankan dengan organisasi yang terbentuk, meskipun organisasi tersebut masih menjadi organisasi yang dipertanyakan. Tetapi, keberadaan dari organisasi tersebut menjadi sebuah batu loncatan yang dipergunakan oleh masing-masing negara di kawasan Asia Tenggara sebagai pertunjukkan eksistensinya di dunia internasional.

 

Referensi:

Chapman, Graham P. 2009. The Geopolitics of South Asian from Early Empires to The Nuclear Age dalam ASHGATEe-BOOK

Emmerson, Donald K. 2005. Security,Community, and Democracy in Southeast Asia: Analayzing ASEAN.

Ewan, W. Anderson. 2000. The Middle East – Geography & Geopolitics. London: Roudledge.

Lenczowski, George. 1993. Timur Tengah di Tengah Kancah Dunia. Bandung: Sinar Baru Algesindo.

Michael C. Hudson. 1977. Arab Politics – The Search for Legitimacy. Amerika: New Haven and London Yale University Press.

Narine, Shaun. 1999. ASEAN into the 21st Century: Problem and Prospect, dalam The Pacific Review. Taylor and Francis Ltd.

Shobokshi, Hushein. 2012. Middle East in Focus [ONLINE] dalam http://mepc.org/articles-commentary/articles-hub [diakses 16 Juni 2014]

Sulistyo, Djoko. 2014. Geopolitic and Geostrategy, dalam kuliah Geopolitik dan Geostrategi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Airlangga.

Wiryono, Sastrohandoyo. 2008. Indonesia and Southeast Asian Territorial Peace Processes dalam Asia-Europe Foundatio. Springer.

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :