Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

ISU-ISU DI ASIA TENGGARA TERKAIT TERORISME

Masuknya Islam di Asia Tenggara sekitar abad 10 yang dibawa oleh India melalui Arab. Perkembangan Islam yang terjadi di Asia Tenggara merupakan salah satu hal yang pasti untuk mengetahuinya karena munculnya Islam tersebut pertama kali dibawa oleh pedagang India, bukan oleh Timur Tengah yang selama ini dianggap telah menyebarkan kepercayaan dari agama tersebut. Diyakini bahwa agama Islam yang dibawa oleh India berbeda dengan agama Islam yang disebarkan ataupun diyakini oleh masyarakat yang berasal dari Timur Tengah. Hal tersebut terjadi karena agama Islam yang diyakini oleh masyarakat India sudah banyak mengalami perubahan dengan adanya pengaruh-pengaruh dari agama Hindu-Buddha yang ada di India seperti dengan terpengaruhnya melalui tradisi-tradisi yang berasal dari Ramayana dan Mahabharata (Shih 2002, 114).

            Dalam Shih (2002) dijelaskan bahwa terjadinya perubahan ataupun pengaruh di dalam agama Islam yang dibawa oleh India tersebut juga akibat dari pengaruh kuatnya elemen Sufism dari India. Pada awal abad 19, di Asia Tenggara khususnya di Malaysia dan Indonesia memiliki keterkaitan dengan hubungan yang terjalin dengan migran yang berasal dari Arab seperti Yemen. Masuknya migran tersebut juga telah menandakan bahwa perkembangan Islam di Asia Tenggara semakin mengarah kepada pembentukan Islam yang moderat, yang berbeda bentuknya dengan Islam yang diyakini di Timur Tengah. Namun, perbedaan yang terjadi di antara bentuk Islam yang berkembang di Asia Tenggara dengan Timur Tengah kemudian memberikan adanya perubahan dalam cara memahaminya karena diketahui bahwa bentuk agama Islam di Timur Tengah lebih keras dibandingkan dengan di Asia Tenggara yang sudah tercampur dengan budaya-budaya lain. Selain itu, terdapat pandangan negatif dari pihak barat mengenai agama Islam karena dianggap telah melakukan jihad. Tindakan yang dilakukan tersebut diyakini adalah sebuah bentuk tindakan atas kepercayaan yang terlalu berlebihan dan ingin menjadikan agamanya sebagai sebuah bentukan yang paling benar dan melawan sesama umat dengan melakukan tindakan-tindakan yang berbahaya dan mematikan. Tindakan yang dilancarkan tersebut merupakan tindakan yang bertujuan untuk melakukan perubahan yang membawa pada sebuah bentukan negara yang berdasarkan pada hukum Islam.

Anggapan mengenai bentuk agama Islam yang berada di Timur Tengah dikatakan lebih menekankan unsur yang lebih keras kemudian memberikan adanya pandangan bahwa munculnya war on terrorism merupakan tindakan yang berasal dari komunitas agama tersebut. Hal tersebut merupakan sebuah upaya yang dilakukan untuk memberikan pandangan terhadap dunia mengenai eksistensi keberadaan dari agamanya sendiri dan menjadi sebuah alasan untuk membentuk dunia yang berada dalam hukum Islam. Tindakan war on terrorism mengganggu kestabilan dari negara-negara yang ada di dunia (Jones dan Smith 2002, 31). Terdapat keterkaitan antara agama dengan war on terrorism merupakan sebuah pandangan bahwa sebenarnya telah muncul adanya keyakinan atas dasar kepercayaan yang dianut oleh individu tersebut secara berlebihan. Namun, sebenarnya terjadinya tindakan yang menyatakan bahwa terorisme yang ada di dunia tersebut lebih mengarah pada perbuatan tindakan yang dilakukan oleh individu yang menganut Islam Radikal (Jones dan Smith 2002, 31).

            War on terrorism pertama kali muncul dengan adanya peristiwa 11 September 2001 di Amerika Sserikat (Jones dan Smith 2002, 31). Munculnya peristiwa tersebut diyakini sebagai bentuk terorisme yang mengancam keutuhan dunia. Selain itu, tindakan terorisme diyakini sebagai bentukan yang dilancarkan oleh Al-Qaeda (Gunaratna 2006, 1). Peristiwa tersebut mungkin dapat dihubungkan dengan tindakan yang dilakukan oleh GAM (Gerakan Aceh Merdeka) yang ingin mengganggu kestabilan dari Indonesia dan menginginkan adanya bentukan Indonesia yang lebih mengarah pada hukum Islam (Shih 2002, 114). Kedua hal tersebut menjadi sebuah tindakan yang sama-sama menunjukkan adanya keinginan untuk membentuk negara yang berasaskan pada hukum Islam. Selain itu, bentukan yang dianggap sebagai pengaruh yang dibawa oleh Al-Qaeda menjadi sebuah pemicu terjadinya perang dengan semakin menimbulkan tindakan untuk mengganggu keamanan dunia. Tindakan yang dilakukan oleh Al-Qaeda juga dilancarkan di Irak tahun 2003 dengan melakukan invansi terhadap Irak (Gunaratna 2006, 1).

            Al-Qaeda sendiri dianggap sebagai sebuah bentukan komunitas dari masyarakat yang diyakini berasal dari Afghanistan dan Pakistan. Gerakan tersebut muncul dengan adanya sebuah bentukan dengan membuat pusat internasional dalam pembentukan karakter ideologi dan psikis secara Islami dan tindakan tersebut menjadi sebuah ancaman karena komunitas tersebut melancarkan aksi gerilya dan teror (Gunaratna 2006, 1). Dalam melancarkan aksinya tersebut, Al-Qaeda telah berhasil melaksanakan tindakan pengeboman yang dilakukan di Jakarta dan Bali. Selain itu, keberadaan dari Al-Qaeda tersebut menjadi sebuah ancaman bagi Asia Tenggara karena Asia Tenggara dianggap sebagai sarang tempat berlindung bagi Al-Qaeda. Hal tersebut juga berdasarkan alasan mengenai pemasokan bantuan yang dikirimkan oleh Al-Qaeda ke wilayah Asia Tenggara seperti Moro National Liberation Front (MNLF). Keberadaan dari kelompok tersebut menjadi sebuah bentuk yang memberikan pernyataan bahwa Al-Qaeda masih terikat kuat dengan Asia Tenggara, keberadaannya tersebut dengan memberikan bantuan sebagai bentuk untuk melaksanakan aksi terorisme, khususnya di Asia Tenggara (Jones dan Smith 2002, 39). Dalam Jones dan Smith (2002, 47-50) bentuk ancaman terorisme yang berada di Asia Tenggara merupakan salah satu ancaman regional di kawasan Asia Tenggara. ASEAN sebagai komunitas regional kemudian membuat adanya ikatan untuk melawan aksi dari terorisme tersebut. Namun, bentuk perlawanan tersebut lebih terlihat dilancarkan oleh masing-masing pihak dari negara-negara yang menjadi anggota di ASEAN. Hal tersebut menjadi sebuah masalah sendiri karena dilain pihak ASEAN yang menjadi sebuah komunitas berupaya untuk melawan bersama mengenai terorisme tersebut, namun perlawanannya hanya terlihat sesuai dengan ketentuan dari masing-masing negara, sesuai dengan keputusan nasionalnya, yang semakin memperlihatkan tidak adanya bentukan utuh ataupun kerjasama dari para anggota ASEAN.

            Maka, dengan ini dapat disimpulkan bahwa keberadaan dari terorisme telah mengacam kestabilan dunia. Hal tersebut juga mempengaruhi pandangan luar terhadap negara-negara ataupun kawasan yang dianggap sebagai gudang tempat berkumpulnya teroris. Asia Tenggara merupakan salah satu kawasan yang mendapatkan pandangan dari pihak luar mengenai keberadaan teroris yang menjadi tempat bersemayamnya untuk mendapatkan perlindungan. Hal tersebut kemudian memberikan gambaran mengenai keputusan yang harus diambil oleh ASEAN sebagai komunitas, namun eksistensi ASEAN mengenai masalah ini masih terlihat setengah-setengah akibat dari prinsip non-intervensi yang menjadi pedoman dalam membangun komunitas ini. Alasan ini kemudian membuat sebuah anggapan bahwa tidak adanya keseriusan untuk melawan terorisme sendiri akibat dari bentuk pertahanan bagi kedaulatan negaranya masing-masing.

 

                                                                                             

Referensi:

Gunaratna, Rohan. 2006. “Terrorism in Southeast Asia: Threat and Response” dalam Centre for Eurasian Policy Occasional Research Paper.

Jones, David, dan Michael Smith. 2002. “The Perils of Hyper-Vigilance: The War on Terrorism and the Survrillance State in South-East Asia” dalam Intelligence and National Security. London: Frank Cass.

Shih, Anthony. 2002. “The Roots and Societal Impact of Islam in Southeast Asia: Interview With Professor Mark Mancall” dalam Stanford Journal of East Asian Affairs

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :