Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

DINAMIKA DAN PERSPEKTIF MASA DEPAN ASIA TENGGARA (ASEAN)

Asia merupakan wilayah yang memiliki kekurangan dalam hal penjaminan dibandingkan dengan Eropa. Jaminan tersebut menjadi salah satu alasan karena di Asia masih terjadi perbedaan pandang dan masih terdapatnya kontrol utama dari kekuatan yang paling dominan. Hal tersebut juga terpengaruh akibat dari tidak dimilikinya sebuah kontrol yang berkutat di dalamnya seperti permasalahan terkait kekuatan militer dan ekonomi. Berbeda halnya di Eropa yang memiliki kontrol dalam hal kemiliteran, yaitu NATO dan kekuatan ekonomi yang ditopang dengan keberadaan dari European Union. Asia Tenggara merupakan kawasan yang dikenal sebagai kawasan yang memiliki 40 persen ketergantungan hidup pada kehidupan yang berasal dari maritim dan kepemilikan minyak bumi. Selain itu, Asia Tenggara, khususnya Indonesia merupakan negara yang memiliki populasi Muslim paling banyak di dunia. Pembentukan dari ASEAN menjadi sebuah bentukan organisasi yang diharapkan akan mampu membawa pada pelaksanaan dari stabilitas regional. Dalam pelaksanaan ini kemudian ASEAN mampu menunjukkan hal positif karena dapat menaikkan pertumbuhan ekonomi di Asia Tenggara. Namun, telah terjadi krisis pada tahun 1998 yang melanda dan hal tersebut membawa Indonesia kepada kemerosotan yang lebih dalam, serta mengganggu pertumbuhan ekonomi negara-negara lain seperti Thailand, Malaysia, dan Philipina (Dibb 2001, 829).

            Kawasan Asia Tenggara yang dibentuk dengan adanya ASEAN memberikan gambaran terkait dengan pembentukan pandangan baru pasca Perang Dingin. Hal tersebut berkaitan karena Asia Tenggara lebih mengarah pada kerjasama dalam bidang keamanan dan ekonomi, yang kemudian mempengaruhi dalam arah ASEAN yang semakin berpandangan keluar (Cipto 2007, 263). Terjadinya hal semacam ini tidak terlepas dari adanya keterkaitan pihak-pihak asing yang masuk ke Asia Tenggara seperti Amerika Serikat dan Cina. Pengaruh dari kedua negara tersebut masih dan sangat terasa hingga saat ini, jika dilihat dari pengaruh Amerika Serikat terhadap Asia Tenggara dapat dilihat dengan adanya bantuan secara militer yang dirasakan oleh tiga negara yang berada di kawasan Asia Tenggara dan menjadi anggota dari ASEAN, yaitu Singapura, Philipina, dan Thailand. Pengaruh tersebut lebih ditekankan dengan bantuan pensuplaian bantuan militer seperti pelaksanaan pelatihan militer Cobra Gold antara Amerika Serikat dengan Thailand dan penyediaan lahan pangkalan militer bagi pasukan dan transportasi militer Amerika Serikat dari Singapura (Cipto 2007, 259). Berbeda lagi dengan kerjasama yang dilakukan antara Asia Tenggara dengan Cina yang lebih menekankan dalam bidang ekonomi yang bertujuan untuk memperluas jangkauan pasar perdagangan bebasnya. Hal tersebut kemudian didukung oleh aksi Cina yang terlibat dalam pengembangan ASEAN Plus Three. Keterlibatan Cina di Asia Tenggara merupakan salah satu tujuannya untuk menyaingi keterlibatan dari Amerika Serikat terhadap Asia Tenggara. Hal tersebut juga menjadi salah satu upaya dalam menekankan kecurigaan bagi Asia Tenggara terhadap Cina tmengenai meningkatnya kekuatan ekonomi dan militer dari Cina (Cipto 2007, 260).

            Dalam Cipto (2007, 264) dipaparkan mengenai perkembangan yang dialami oleh kawasan Asia Tenggara, khususnya ASEAN mengalami perkembangan isu-isu yang muncul di permukaan. Hal tersebut dapat terlihat dengan semakin banyaknya isu terkait dengan kejahatan terorganisir, pembajakan, penyeludupan dan perdagangan manusia, keamanan lingkungan, terorisme, dan lain-lain. Kemunculan dari isu-isu tersebut telah memberikan pengaruh terkait cara ASEAN dalam menyelesaikan permasalahan yang ada. Hal tersebut kemudian menjadikan sebuah pukulan bagi ASEAN karena dalam penyelesaian masalah sebagai organisasi regional ASEAN belum mampu menyelesaikan permasalahan terkait dengan isu-isu yang ada. Terdapatnya pendapat yang menyebutkan bahwa penyelesaian yang dilaksanakan masih belum efektif dan keefektifitasannya masih tidak disesuaikan dengan tindakan nyata yang seharusnya terjadi (Niklas dan Bjornehed 2004). Terjadinya tindakan yang masih tidak secara nyata tersebut juga muncul akibat dari pelaksanaan prinsip dari ASEAN terkait prinsip non intervensi. Pegaruh tersebut menjadi salah satu alasan untuk tantangan bagi ASEAN ke depannya karena pelaksanaan dari prinsip tersebut masih mengganggu kesesuaian yang seharusnya dapat dilaksankan oleh ASEAN.

            Kekurangan yang masih dimiliki oleh ASEAN tersebut masih harus dilihat bahwa keberadaan dari organisasi ASEAN masih memiliki keterlibatan dari organisasi tersebut. Dalam Emmerson (2005) dijelaskan bahwa dengan adanya ASEAN telah mampu menunjukkan bahwa tekad dari ASEAN adalah untuk menjaga stabilitas dari keamanan regional. Selain itu, kekurangan ASEAN dalam penyelesaian masalah, masih mendapatkan perhatian tersendiri bagi dunia internasional. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya keterlibatan dari salah satu anggota dari ASEAN, yaitu Indonesia yang ditunjuk sebagai mediator dalam penyelesaian konflik Laut Cina Selatan yang kemudian dikenal dengan penyelesaian dengan penggunaan dari diplomasi preventif (Wiryono 2007, 20).

            Dapat disimpulkan bahwa dinamika yang dirasakan oleh kawasan Asia Tenggara mengalami pasang surut. Hal tersebut juga dipengaruhi oleh adanya tindakan-tindakan dari dunia luar yang memiliki maksud tertentu dalam menjalin hubungan dengan ASEAN. Selain itu, kemampuan ASEAN yang diragukan juga menjadi sebuah pukulan utama dan diharuskan adanya penyelesaian dan perbaikan dari ASEAN sendiri, yang juga menjadi sebuah gambaran bahwa sebenarnya ASEAN juga masih memiliki kemampuan sehingga menunjukkan adanya kepercayaan dari dunia luar untuk ASEAN dalam menjadikan ASEAN sebagai mediator.

 

Referensi:                                                                                               

Cipto, Bambang. 2007. Hubungan Internasional di Asia Tenggara. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Dibb, Paul. 2001. Indonesia: The Key to South East Asia’s Security dalam Interntional Affairs.

Emmerson, Donald K. 2005. Security, Community, and Democracy in Southeast Asia: Analyzing ASEAN.

Niklas, Swanstrom dan Emma Bjornehed. 2004. Conflict Resolution of Terrorist Conflict in Southeast Asia dalam Terrorim and Political Violence. London: Frank Cass.

Wiryono, Sastrohandoyo. 2008. Indonesia and Southeast Asian Territorial Peace Processes dalam Asia-Europe Foundation. Springer.

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :