Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

PENDEKATAN KONSTRUKTIVIS DALAM ORGANISASI INTERNASIONAL

Perkembangan suatu negara tidak dapat dilepaskan dari pengaruh struktur yang mampu membentuknya. Hal tersebut menjadi hal utama karena dengan jelas terlihat bahwa struktur yang terbangun mampu menunjukkan adanya suatu kesatuan sistem dalam pembangunan sebuah negara. Dalam Finnemore (1993) dijelaskan bahwa struktur dari negara telah dirasakan semenjak terjadinya pembentukan dari kawasan Eropa, yaitu EU dan terutama sekali terlihat sejak terjadinya Perang Dunia I. Kejadian tersebut seakan mampu menunjukkan kepentingan dari kehadiran organisasi internasional, yang dianggap sebagai trendsetter dalam memberikan pengaruh bagi negara-negara karena mampu merubah sikap dari negara-negara tersebut.

            Perubahan sikap yang dialami oleh sebuah negara tersebut digambarkan dengan apa yang terjadi di dalam birokrasi dari sebuah negara. Hal tersebut menjadi hal yang berpengaruh akibat dari kemunculan organisasi internasional yang memberikan dampak pada pembentukan dalam wilayah sistem birokrasi sebuah negara. Sistem birokrasi yang ada menjadi sebuah gambaran dalam pembentukan ataupun penggabungan dari sikap negara pada permasalahan yang berkaitan dengan pengetahuan dan keamanan, yang merupakan suatu kontrol dalam pembentukan dari kepentingan nasional sebuah negara (Finnemore 1993, 565). Sistem birokrasi sebuah negara menjadi permasalahan pokok karena menjadi sebuah gambaran yang mampu menunjukkan pada tingkatan seberapa jauh keadaan suatu negara tersebut berada. Hal tersebut juga memunculkan adanya eksplanasi dalam perkembangan terkait dengan investigasi yang mungkin akan lebih dikembangkan terkait dengan sistem birokrasi sebuah negara karena dalam hal ini telah mampu menunjukkan adanya sebuah pembaharuan dari sistem birokrasi, munculnya organisasi internasional yang berputar dalam permasalahan dalam kebijakan science.

            Terkait dengan kemunculan dari kebijakan science tersebut, menjadi gambaran yang jelas yang ditunjukkan oleh kehadiran dari organisasi internasional, yaitu UNESCO. Organisasi internasional tersebut seakan mampu memberikan contoh dan perluasan terkait dengan kasus yang mungkin akan dijadikan pedoman oleh negara-negara. Hal tersebut kemudian menunjukkan bahwa organisasi internasional yang digambarkan oleh UNESCO tidak hanya sebatas pada peranannya menjadi “agen”, melainkan menjadi principle (Finnemora 1993, 594). Kehadiran dari UNESCO sendiri menjadi hal yang membentuk bahwa terdapat kebijakan-kebijakan yang dibentuk oleh negara yang masih berpedoman pada organisasi internasional karena dengan kehadiran dari UNESCO, yang merupakan salah satu contoh bentukan organisasi internasional, khususnya bentuk dari komunitas epistemik, yang menunjukkan bahwa kehadirannya mampu memberikan gambaran untuk negara-negara yang ada dalam memahami prosedur pengambilan keputusan dan kebijakan yang akan diambil. Hal tersebut seakan berpengaruh terhadap cara pandangn sebuah negara untuk lebih memikirkan cost and benefit dari tindakan yang diambil (Finnemore 1993, 566).

Dalam Kelley (2004, 426) dijelaskan terkait keadaan dari organisasi internasional dengan menggunakan perbandingan di antara tiga bentukan organisasi, yaitu European Union (EU), Council of Europe (CE), dan Tha Organization for Security and Cooperation in Europe (OSCE). Perbandingan dari ketiga bentuk tersebut dijelaskan dengan dikeluarkannya tiga proporsi dari penulis. Proporsisi pertama, terdapat dukungan dari membership oleh EU dan dukungan dari CE terkait dengan pembentukan dari keputusan kebijakan, tetapi dalam hal ini sosialisasi yang ada hanya sebatas pada usaha yang berpengaruh di dalamnya. Proporsi kedua, oposisi domestik jauh memiliki pengaruh yang besar untuk pelaksanaan yang berkaitan dengan sosialisasi yang berlandaskan pada usaha yang dilakukan oleh organisasi. Hal tersebut dapat dilihat dengan adanya tindakan yang dilakukan oleh institusi Eropa yang menggunakan sosialisasi berlandaskan pada usahanya dan dilakukan secara bertahap, tetapi hal tersebut seakan tidak memberikan pengaruh terhadap tindakan yang akan diambil oleh pemerintah karena pemerintah dalam hal ini jarang/tidak akan menunjukkan sikapnya. Selanjutnya, oposisi ketiga, dilihat pada pertumbuhan domestik yang berlandaskan pada pelaksanaan yang efektif. Hal tersebut berpengaruh karena dapat menimbulkan tingkat efektifitas dari pengaruh sebuah institusi internasional.

Selain itu, kehadiran dari organisasi internasional yang mempengaruhi sikap sebuah negara memiliki dua faktor utama, yaitu membership conditionaly dan socialization based on effort. Pada faktor pertama dijelaskan bahwa terdapatnya unsur pemaksaan. Hal tersebut seakan menggambarkan bahwa sebuah negara yang telah bergabung ke dalam organisasi internasional dipaksa untuk mengikuti persyaratan awal yang sudah dibentuk dan disetujui. Tindakan tersebut berlaku karena dengan kehadiran dari organisasi internasional dan bergabungnya negara-negara ke dalam organisasi internasional seakan tidak menjadi hal yang percuma karena kemampuan dari organisasi internasional yang dapat menjanjikan sebuah insentif dari keikutsertaan negara di dalam organisasi internasional tersebut. Namun, berbeda dengan faktor yang kedua, yang lebih menekankan bahwa organisasi internasional hanya sebatas pada penunjuk arah. Hal tersebut ditunjukkan dengan sikap yang seakan hanya sebatas pada ala kadarnya (sewajarnya) karena tidak ada implikasi yang mampu di dapatkan dari ikatan negara dengan organisasi internasional tersebut (Kelley 2004).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kehadiran dari organisasi internasional dalam pandangan konstruktivisme akan menunjukkan adanya perubahan sikap dari sebuah negara. Hal tersebut menunjukkan bahwa organisasi internasional menjadi faktor utama yang mampu memberikan pandangan luas bagi negara-negara yang ada dan telah membangun konstruksi ulang dari pandangan yang telah dibuat oleh negara-negara. Namun, perlu diingat bahwa kehadiran dari organisasi internasional yang dipengaruhi oleh dua faktor menunjukkan adanya pandangan dalam perbedaan yang akan mempengaruhinya.

 

Referensi:

Finnemora, Martha.1993. International Organization as Teachers of Norms: The United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization and Science Policy.

Kelley, Jusith. 2004. International Actors on the Domestic Scene: Membership Conditionally and Socialization By International Institution dalam International Organization 58 (3), hal 425-457.

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :