Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

PANDANGAN BIROKRATIS TERHADAP ORGANISASI INTERNASIONAL

Kemunculan dari organisasi internasional yang dianggap sebagai alat untuk mencapai tujuan, yaitu perdamaian dunia didukung dengan pandangan yang diungkapkan oleh kaum birokratis. Dalam pandangan birokratis menyebutkan bahwa dengan organisasi internasional akan mampu memunculkan kerjasama antar negara yang nantinya akan mempengaruhi dalam pelaksanaan manajemen dari ketergantungannya yang mengikat di antara negara (Gallarotti 1991, 186). Telah dijelaskan bahwa dalam pandangan liberalisme menekankan bahwa organisasi internasional merupakan salah satu cara untuk mewujudkan perdamaian dunia. Hal tersebut juga didukung oleh pandangan birokratis, yang kemudian didukung dengan pernyataannya yang menyatakan persetujuan bahwa kemunculan dari organisasi internasional memungkinkan untuk meminimalisir terjadinya perang (Ness dan Brechin 1988, 251). Namun, dengan kehadiran dari kerjasama yang dilakukan antar negara telah membuktikan bahwa organisasi internasional memiliki kelemahan tersendiri dalam pandangan birokratis ini, yaitu dengan semakin keterikatan yang semakin kuat di antara negara-negara akan memperbesar kemungkinan dalam memudarkan nilai-nilai yang ada. Hal tersebut dimaksudkan bahwa dengan organisasi internasional kemunculan persaingan antar negara lebih besar peluangnya. Selain itu, organisasi internasional juga dianggap sebagai alat yang digunakan oleh negara-negara dalam mencapai kepentingannya masing-masing. Kejadian ini membuktikan bahwa organisasi internasional menjadi sebuah alat kontrol dari pelaksana organisasi internasional tersebut baik itu pembuatnya maupun anggotanya (Ness dan Brechin 1988, 254).

            Dalam Barnett dan Finnemore (1999, 699-700) dijelaskan bahwa pandangan birokratis organisasi internasional memilliki otoritas dalam pembuatan peraturan yang sifatnya legal, dengan kemampuannya yang membentuk peraturan tersebut juga akan mampu menciptakan social knowledge. Namun, walaupun demikian organisasi internasional dalam pandangan birokrasi yang terlihat bahwa kemampuannnya yang memiliki kekuatan lebih dalam modern life saat ini memiliki kelemahan, yaitu dengan semakin berkurangnya respon terhadap lingkungannya sendiri. Hal tersebut kemudian mempengaruhi dalam pelaksanaan dari organisasi internasional yang semakin disfungsional dan tidak efisien. Selain itu, dijelaskan bahwa organisasi internasional memiliki pengaruh dalam jalannya sistem perpolitikan dunia. Alasan ini merupakan salah satu dari tiga perdebatan yang terjadi di dalam pandangan birokrasi yang menjelaskan bahwa terjadi perbedaan pandang antara neoliberalis-instituionalis dengan neorealis, yaitu menunjukkan bahwa organisasi internasional dilihat dalam segi kepemilikan power-nya yang menganggap bahwa global organizations lebih dari sekedar kooperasi dalam hal fasilitas seperti collective action dillemas, helping states to overcome market failures, dan problems associated with independent social choice. Namun, organisasi internasional dalam hal ini mampu menciptakan aktor yang mampu lebih menekankan arti kehadirannya terkait dengan tindakan yang harus dilakukan dan pelaksanaan dari nilai normatif. Hal tersebut kemudian mendukung bahwa organisasi internasional mampu untuk meng-constitute dan mengkonstruksi social words.

            Disamping itu, dijelaskan pula dalam Gallarotti (1991, 192) terkait dengan kegagalan dalam memanejemen organisasi internasional, yang dikelompokkan ke dalam empat bagian, yaitu organisasi internasional dapat memperkeruh suasana akibat dari tindakannya yang menginginkan terjadinya pengaturan yang lebih kompleks, organisasi internasional dapat memperburuk keadaan karena pengaruhnya yang mengeluarkan solusi tanpa adanya pemikiran yang matang dan mengakibatkan pendeknya jangka waktu bertahannya solusi yang dikemukakannya, keterlibatan dari organisasi internasional yang terlalu berpihak pada permasalahan-permasalahan internasional, baik itu dalam permasalahan terkait dengan intervensi dan konfrontasi, dan organisasi internasional yang menjadi sumber dari moral hazard. Terdapat lima bentuk alasan kegagalan yang dialami oleh organisasi internasional yang juga disebutkan dalam Barnett dan Finnemore (1999, 719), yaitu the irrationality of rationalization, univesalism, normalization of deviance, organizational insulation, dan cultural contertation.

            Maka, dapat disimpulkan bahwa dengan semakin terlibatnya peran birokratis dalam organisasi internasional menyebabkan semakin rumitnya proses yang terjadi. Hal tersebut seakan memperlebar kemungkinan terjadinya kegagalan di dalam organisasi internasional. Namun, dalam Gallarotti (1991) dijelaskan bahwa kegagalan tersebut juga akan lebih terminimalisir, jika terdapat keterbukaan yang diadakan oleh organisasi internasional terhadap lingkungannya, yang kemudian juga didukung dengan adanya kemampuannya untuk menopang diri karena selama ini organisasi internasional dianggap sebagai kendaraan bagi negara untuk mencapai kepentingannya. Selain itu, dengan perubahan yang mungkin akan diambil oleh organisasi internasional menyebabkan munculnya dinamika di dalam organisasi internasional itu sendiri.

Referensi:

Barnett, Michael N & Martha Finnemore. 1999. The politics, power, and pathologies of international organization, dalam International Organization 53 (4). pp.699-732

Gallarotti, Guilio. 1991. The Limits of International Organization: Systematic Failure in the Management of International Relations, dalam International Organization 45(2). hal. 183-220.

Ness, Gayl dan Steven Brechin. 1988. Bridging the Gap: International Organization as Organization, dalam International Organization 42(2). hal. 245-273.

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :