Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

ANALISIS LEVEL KEBIJAKAN LUAR NEGERI: POLITIK DOMESTIK

Politik domestik yang dimiliki setiap negara memiliki pengaruh terhadap pelaksanaan dari kebijakan luar negeri masing-masing negara. Dalam hal ini, politik domestik sering dianggap sebagai kepanjangan tangan dari pelaksanaan politik luar negeri. Hal tersebut juga dianggap tidak memiliki pengaruh yang begitu pasti terkait dengan dalam pengkolaborasian di antara politik domestik dengan politik luar negeri (Fearon 1998, 289). Perbandingan politik luar negeri jika dilihat dari variabel domestiknya, yaitu politik domestik terlihat memiliki pengaruh. Hal tersebut merupakan salah satu bukti bahwa negara merupakan satu kesatuan (unitary) dan aktor rasional, dan dalam politik domestik sendiri, peran negara tersebut dapat menghasilkan kebijakan luar negeri yang sesuai dengan standar normatif. Dalam analisis level politik domestik, kebijakan politik luar negeri suatu negara yang dihubungkan dengan politik domestik memiliki dua variabel pengaruh, yaitu sistemik atau struktural dan domestik (Fearon 1998, 291).

            Pada variabel sistemik menjelaskan bahwa negara merupakan satu kesatuan (unitary) dan aktor yang rasional. Hal tersebut berkaitan dengan pandangan negara terhadap pembentukan kebijakan politik luar negeri negara lain dan terdapat penambahan yang berkaitan dengan sudut pandang suatu negara yang tidak bersandar pada suatu level unit yang berhubungan dengan pembuatan dan pemilihan dari penentuan foreign policy (Fearon 1998, 300). Dalam variabel sistemik distribusi power tidak dapat menjelaskan terkait dengan keterlibatan dalam pembuatan ataupun pemilihan dari foreign policy (Fearon 1998 307). Sedangkan, pada variabel domestik dijelaskan bahwa negara bukan merupakan satu kesatuan. Dalam pembentukan dari foreign policy suatu negara diyakini bahwa dengan terdapatnya interaksi yang terdapat di dalam politik domestik ini akan membantu dalam pelaksanaan pembentukannya. Hal tersebut juga berkaitan dengan terdapatnya suatu level unit, yaitu dengan kehadiran dari argumen, yang dikeluarkan oleh aktor-aktor yang terlibat dalam pembentukan foreign policy (Fearon 1998, 300). Selain itu, dijelaskan bahwa dalam variabel domestik tidak hanya menjelaskan peran dari foreign policy yang suboptimal untuk menyelesaikan permasalahan terdahulu, namun dapat juga menyelesaikan permasalahan yang terkait dengan karakteristik suatu negara yang tidak hanya berdasar pada sisi power yang dimiliki dalam penentuan pembuatan foreign policy-nya (Fearon 1998 307). Dengan kata lain, variabel domestik yang berhubungan dengan foreign policy ini merupakan hal yang lebih berhubungan dengan kepemilikan atas culture dan nilai-nilai yang dimiliki suatu negara karena dengan kehadiran kedua sentral tersebut merupakan suatu identitas dari suatu negara.

            Dalam Hudson (2014, 142) dijelaskan bahwa politik domestik suatu negara memiliki pengaruh dalam pelaksanaan dari pembuatan rezim. Rezim diartikan sebagai bagian sentral dalam pelaksanaan analisis dalam kebijakan politik luar negeri suatu negara karena diyakini bahwa kebijakan tersebut berakar dari politik domestik. Dalam hal ini level analisis yang berdasar pada politik domestik diyakini bahwa terbentuknya foreign policy terdapat keterlibatan dari institusi. Institusi merupakan aktor yang membuat aktor domestik dapat bermain dengan menentukan pilihannya masing-masing. Hal tersebut dimaksudkan bahwa keterlibatan dari institusi telah memunculkan banyak permasalahan seperti pembentukan hubungan yang berkaitan dengan penerimaan suntikan dana dan pembiayaan dari pihak asing, yang merupakan aktivitas mempengaruhi terhadap kemunculan dari aktor-aktor dominan. Dengan kata lain, hadirnya institusi telah mampu menciptakan pilihan-pilihan yang berkaitan dengan veto power, supermajorities necessary for certain types of legislative action, confirmation and investigational hearings, requirements for judicial review, the system of budgeting, dan forth (Hudson 2014, 143).   

            Ketidakteraturan yang terbentuk tersebut kemudian memunculkan bahwa institusi memiliki pengaruh langsung dan tidak langsung dalam foreign policy. Kekuatan yang dimiliki oleh institusi sering kali mengesampingkan keputusan pemimpin. Hal tersebut terjadi karena institusi mampu menguasai kekuatan politik. Keberadaan dari power struggle dalam foreign policy menjadi kunci utama dalam pengaruh kontrol yang terjadi dalam pembentukan dan pelaksanaan dari foreign policy (Hudson 2014, 141). Selain itu, terdapat tanggung jawab elektoral terkait dengan kegagalan yang mungkin terjadi pemilihan foreign policy akan memberikan pengaruh dalam sikap pemerintahan. Namun, perlu diingat bahwa dalam pemilihan kembali foreign policy  juga dilaksanakan penyaringan terlebih dahulu dalam politik domestiknya (Hudson 2014, 144).

            Keterlibatan aktor dalam politik domestik memiliki pengaruh tersendiri karena dengan kehadirannya mampu menunjukkan bagaimana peranan dari kepemilikan power struggle dapat mempengaruhi foreign policy. Aktor-aktor dala politik domestik, yaitu the executive branch of government; the legislative branch; the judicial branch; political parties, their factions and wings; businesses and business coalitions; political action group; domestic interest group; the media; unions; state governments; powerful/influential individuals; epistemic communities; religious groups; and criminal and terrorist forces (domestic). Sedangkan, terdapat aktor politik non domestik, tetapi memiliki pengaruh dalam politik domestik seperti other nation-states, treaty alliances, multinational corporations, international non-governmental organizations, intergovernmental organizations, transgovernmental coalitions, foreign media, foreign powerful/influential individuals, foreign epistemic communities, foreign courts, dan foreign criminal and terrorist forces (Hudson 2014, 145). Keterlibatan dari aktor-aktor yang ada memberikan bukti bahwa terdapat dua bagian dalam pelaksanaan yang berkaitan di dalam politik domestik dan politik internasional. Namun, dalam hal ini politik internasional tidak dapat mempengaruhi pelaksanaan dari politik domestik. Hal tersebut ditunjukkan dengan peranan dari aktor internasional yang tidak memiliki kekuatan dalam pemilihan kebijakan dalam rezim kedaulatan nasional. Dengan demikian, maka pengaruh politik domestik dalam pemilihan kebijakan luar negeri suatu negara merupakan hal penentu. Namun, perlu diingat bahwa politik domestik masih memiliki kekurangan, yaitu dalam melaksanakan politik domestik tidak seharusnya berdasarkan atas pemahamana yang diinginkan oleh kepentingan. Selain itu, perlu diingat bahwa pandangan yang berbasis pada politik domestik harus berada pada konteks dalam negara tersebut tanpa adanya pengaruh dari luar.  

 

Referensi:

Fearon, James D. 1998. “Domestic Politics, Foreign Policy, and Theories of International Relations”, Annual Review of Political Science, (1). pp. 289-313

Hudson, Valerie M. 2014. Foreign Policy Analysis, Classic and Contemporary Theory, Rowman & Littlefield; Ch.5 (pp.141-160)

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :