Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

PANDANGAN PRINSIPAL AGENSI DALAM ORGANISASI INTERNASIONAL

Pandangan dalam organisasi internasional dengan diiringi oleh perkembangan dunia semakin memperjelas dan memperluas batas-batas yang ada. Perkembangan dalam pandangan tersebut tidak hanya pada kisaran yang membahas terkait dengan realisme ataupun liberalisme saja, melainkan menyebabkan munculnya pandangan baru, yaitu principal agent. Pemahaman terkait dengan principal agent menekankan pada peran organisasi internasional dalam tataran sistem internasional. Hal tersebut seakan memperjelas dari pandangan-pandangan yang sebelumnya ada, yaitu yang hanya menekankan pada aspek negara saja. Dalam hal ini, pandangan principal agent menjelaskan bahwa peran organisasi internasional cakupannya adalah sebagai agen. Peranannya tersebut terbukti dengan pembentukan member governments, yang pada dasarnya membentuk bentuk kerja dengan memberikan keuntungan bagi para member yang tergabung di dalam organisasi internasional (agen) (Nielson dan Tierney 2003, 245).  

Dalam Nielson dan Tierney (2003) dijelaskan bahwa terbentuknya organisasi internasional merupakan wadah bagi tempat berkumpulnya anggota member yang tergabung di dalam organisasi internasional tersebut. Dengan kata lain, peran organisasi internasional adalah sebagai tempat interaksi dari anggota-anggota tersebut. Hal tersebut juga dapat dibedakan pada subjek yang dilihat dalam sudut pandang principal agent, yaitu principal dan agen. Principal merupakan pihak yang memiliki sumber daya alam, yaitu negara, sedangkan agen merupakan pihak yang menjalankan tugas yang diutus oleh principal, yaitu organisasi internasional. Pelaksanaan tugas yang dilakukan oleh agen tersebut harus berjalan secara efektif. Hal tersebut terjadi karena berhubungan dengan tugas yang dilaksanakan oleh principal yang memiliki kelemahan ketika melakukan pendelegasian untuk pelaksanaan tugasnya. Kelemahannya dibagi ke dalam tiga bagian, yang dikenal dengan agency slippage (konflik antara agen dengan principal), yaitu agen dapat menyembunyikan informasi karena memiliki otoritas di dalamnya, agen dapat melaksanakan tindakan yang berbeda (berlawanan) dengan principal, dan tindakan agen yang dapat melawan principal karena pengaruh dari pemberian power oleh utusan delegasi, yang dikenal dengan Madison’s Dilemma (Kiewiet dan McCubbins dalam Nielson dan Tierney 2003, 246).

            Terdapat dua bentuk principal dalam permasalahan common agency, yaitu collective principal dan multiple principals. Pada bentuk collective principal dijelaskan bahwa hanya memiliki kontrak tunggal dengan principal, sedangkan multiple principals dijelaskan terbentuknya lebih dari satu aktor, namun dalam satu agen delegasi (Nielson dan Tierney 2003, 247). Dalam Copelpovitch (2010) dijelaskan terkait dengan terbentuknya organisasi internasional, yaitu International Monetary Fund (IMF). Organisasi tersebut merupakan organisasi yang terbentuk dengan tujuan untuk membantu dalam pelaksanaan ekonomi (finansial) suatu negara, yang tentunya memiliki persyaratan di dalamnya. Selain itu, perlu diingat bahwa di dalam IMF terdapat lima negara yang memiliki power lebih, yaitu Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Jepang, dan Perancis, yang memiliki hak untuk memutuskan terkait dengan aturan dan norma yang berlaku di dalam IMF. Hal tersebut terjadi karena kepemilikan hak veto dari masing-masing negara G5 tersebut. Namun, peranan dari IMF sering kali menjadi permasalahan tersendiri bagi negara-negara yang telah mendapat bantuan dari IMF. Hal tersebut berpengaruh karena dengan bantuan IMF, negara-negara akan semakin bergantung dan dibuat oleh IMF untuk semakin bersifat konsumtif untuk kelancaran jalannya organisasi tersebut. Maka, dapat disimpulkan bahwa organisasi internasional dalam sudut pandang principal agent memiliki pengaruh yang berkaitan dengan agency slippage. Dalam hal ini peran dari principal dan agen memiliki pengaruh antara satu dengan yang lain. Kehadiran dari agen menjadi sangat membantu demi pelaksanaan pencapaian kepentingan dari principal, namun dalam hal ini principal juga harus memfokuskan dirinya yang benar-benar mengawasi pelaksanaan kerja dari agen.

 

 

Referensi:

Copelovitch, Mark. 2010. Master or Servant? Common Agency and the Political Economy of IMF Lending, dalam International Studies Quarterly 54(1). Hal. 49-77.

Nielson, Daniel L dan Michael Tierney. 2003. Delegation to International Organizations: Agency Theory and World Bank Environmental Reform, dalam International Organization 57. Hal. 241-276.

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :