Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

Tugas PIHI kelompok minggu ke-4

PENGANTAR ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL MINGGU KE-4

Kelompok: 3 B

Nama Anggota:

1. Atika Wardah (NIM: 071211232016)

2. Henry Cipta P. (NIM: 071211233015)

3. Pradipta Aditya S. (NIM: 071211233021)

4. Amanda Rizki Y. (NIM: 071211233030)

5. Rizky Kurniawan (NIM: 071211233052)

 

Aktor-aktor dan Peran yang Dilakukan dalam HI

HI memiliki beberapa esensi, yaitu interaction, interest, actors, dan power. Actors yan memiliki peran sangat penting dalam HI dibedakan menjadi state (negara) dan non-state (bukan negara). Keduanya berkontribusi besar dalam HI, namun yang berperan sebagai aktor utama di sini adalah negara. Agar suatu negara dapat diakui keberadaanya dalam masyarakat dunia, maka suatu negara harus memiliki kedaulatan penuh (sovereignty) sebab hal ini merupakan simbol status yang penting agar dapat mengikuti berbagai interaksi global dengan negara-negara lain. Negara menjadi aktor utama dalam hubungan internasional dikarenakan oleh kepentingan suatu negara itu lebih luas daripada aktor-aktor lainnya. Jika aktor-aktor lain hanya memiliki satu atau dua kepentingan, maka negara cenderung memiliki cakupan kepentingan yang lebih luas, memiliki modal, serta kekuatan yang memadai daripada aktor-aktor lainnya. Kepentingan-kepentingan itu, antara lain bidang ekonomi, budaya, politik, militer, dll. Suatu negara juga menjadi naungan bagi aktor–aktor lain dalam melakukan hubungan internasional. Misalnya, perusahaan Jepang akan dengan mudah melebarkan sayap bisnisnya di Indonesia karena hubungan diplomatik Indonesia-Jepang cukup harmonis. Akan tetapi, perusahaan Amerika Serikat hampir bisa dipastikan mengalami kesulitan jika ingin berekspansi ke Iran sebab sudah diketahui bahwa hubungan kedua negara tidaklah sebaik hubungan Indonesia-Jepang.

Hal yang dijelaskan di atas membuktikan bahwa peran negara sangat vital dalam percaturan hubungan internasional, karena selain memiliki cakupan kepentingan yang luas, negara juga menjadi pembuka pintu gerbang bagi aktor-aktor lain untuk melakukan hubungan internasional. Jika kerjasama antar negara itu mencapai titik di mana telah tercipta rasa saling percaya dan rasa saling membutuhkan yang erat, maka negara-negara itu akan cenderung mengadakan perjanjian bersama agar keuntungan yang diperoleh maksimal. Perjanjian-perjanjian antar negara yang telah disepakati oleh negara anggota pada perjanjian-perjanjian tersebut dapat memungkinkan terciptanya suatu penghapusan sekat antar negara, agar proses penyampaian kepentingan dan pemenuhan kebutuhan dapat lebih mudah tercapai. Dengan begitu, aktor-aktor lain pun dapat melakukan aksi seperti penggabungan kekuatan ekonomi dan pengurangan kerumitan birokrasi batas negara.

 

Aktor-aktor Lain

Di sisi lain, akan muncul suatu kerumitan jika negara hanya menjadi aktor tunggal dalam hubungan internasional. Negara memang memiliki sub-unit-sub-unit yang mempunyai kewenangan untuk melaksanakan kepentingan negara. Sub-unit ini pada awalnya mampu melaksanakan tugasnya dengan baik. Namun lama kelamaan, sub-unit ini menjadi kewalahan karena banyaknya masalah yang bersifat global. Masalah-masalah ini memberi semacam batasan bagi negara dan negara menjadi semakin lemah. Masalah ini akan terus berkembang dan akan bertambah karena negara semakin lama akan memegang peranan luas, sehingga negara menjadi tidak fokus. Maka dibutuhkan sebuah solusi baru yang mampu menyikapi masalah terebut. Maka muncul INGO (International Non-Government Organization) dan IGO (Inter-Government Organization). Organisasi-organisasi tersebut diharapkan mampu menghubungkan masyarakat dengan struktur yang baru yang mampu melewati batasan-batasan tradisional dan menyelesaikan masalah-masalah global yang tidak mampu diatasi oleh negara sendirian.

INGO

INGO (Intenational Non-Government Organization) menjadi salah satu aktor yang seringkali keberadaannya sangat dibutuhkan negara untuk membantu menyelesaikan berbagai persolan dalam negeri. Banyak INGO yang berperan besar bagi kesejahteraan masyarakat global, misalnya INGO yang bergerak di bidang amal untuk pengentasan kemiskinan, membantu korban bencana alam, dan donatur pendidikan bagi negara terbelakang. Beberapa INGO yang banyak dikenal yaitu The American Red Cross (bantuan makanan), Save the Children (untuk anak-anak tanpa keluarga), dan U.S. Comittee for UNICEF (bantuan air dan vaksin). Beberapa contoh tersebut menunjukkan bahwa keberadaan INGO dapat meringankan beban kerja suatu negara yang membutuhkan bantuan. INGO juga dapat menjadi sarana peningkatan solidaritas global, melalui program-program kerjasama yang dimilikinya. Peningkatan solidaritas itu memunculkan rasa kekeluargaan dalam masyarakat internasional pada jangkauan luas sehingga keberadaan INGO dapat dijadikan salah satu faktor pendukung bagi terciptanya dan terpeliharanya stabilitas global di samping peran negara yang lebih utama. INGO memiliki beberapa bagian, antara lain MNCs (Multi National Corporations), Terrorist Organization, dan Churches (Henderson p. 85-87, 1998).

MNCs

MNCs adalah organisasi bisnis multinasional yang memperluas kepemilikan manajemen produksi dan aktivitas penjualan ke berbagai negara, tetapi MNCs memiliki markas utama di negara asal MNCs tersebut berdiri. Markas utama melakukan berbagai aktivitas bisnis dengan dibantu oleh kantor-kantor cabang di berbagai negara yang telah diekspansi. Kantor cabang bertanggungjawab terhadap cakupan wilayah kantor cabang tersebut di bawah komando markas utama. “MNCs ini lebih banyak berekspansi di negara-negara berkembang sehingga menimbulkan pertanyaan tentang sejauh apa mereka bisa mengeksploitasi kedaulatannya ke negara-negara yang mereka tempati” . Di sisi lain, “MNCs selalu mencoba “masuk” ke dalam negara lain dengan tujuan untuk memudahkan mereka melakukan ekspor dan mengurangi pajak yang dibebankan negara tersebut” Sementara pemerintah menginginkan pajak besar dari MNCs yang masuk ke negarannya, MNCs sendiri terkadang memiliki ahli-ahli yang bisa diandalkan untuk meminimalisasi tariff dan pajak yang seharusnya di bayar. Masalah tersebut menjadi riskan untuk diselesaikan jika negara yang terlibat memiliki power yang kuat, sedangkan MNCs juga berasal dari negara adidaya.

Selain MNCs, ada juga aktor dalam HI yang muncul sebagai organisasi teroris. Terorisme adalah aksi atau ancaman kekerasan yang dilakukan satu individu atau kelompok secara kalkulatif demi menciptakan ketakutan. Tindakan teroris kuno sudah ada ketika pergerakan politik Yahudi yang mencoba untuk mengusir tentara Romawi keluar dari Palestina antara tahun 6 M-135 M. Pola modern terorisme dimulai pada tahun 1960 (Henderson p. 79-85, 1998). Pada saat itu, organisasi teroris secara berkala menemukan keuntungan dari perjalanan melalui berbagai negara untuk menyerang target dan melarikan diri. Kelompok teroris saling membantu melalui jaringan lintas negara. Dengan jaringan yang luas, maka teroris memiliki kekuatan untuk melakukan aksi teror. Mereka memiliki tempat berlindung, kamp pelatihan, uang, senjata, peledak, dll. Hal ini merupakan pendukung bagi teroris dalam melancarkan aksi terorisme.

 

IGO

IGO bisa dikatakan sebagai aktor paling penting setelah negara. IGO (Inter-Government Organization) adalah salah satu pelaku hubungan internasional yang memiliki peran penting selain negara. IGO sendiri dapat diartikan sebagai organisasi resmi antar pemerintahan, yang dapat memfasilitasi pemerintah-pemerintah antar negara untuk saling berinteraksi yang bertujuan untuk saling bekerjasama dalam berbagai bidang strategis. Beberapa contoh IGO antara lain NATO yang bergerak di bidang pertahanan dan keamanan; Uni Eropa dan ASEAN yang menjadi organisasi kerjasama regional; dan PBB yang menaungi negara-negara dunia. Apabila IGO berdiri sebagai hasil dari perjanjian antar negara, kemudian negara-negara menyerahkan kewenangan penuh terhadap IGO tersebut, maka IGO dapat menjadi aktor hubungan internasional yang kewenangannya melebihi negara-negara anggotanya. Dapat dilihat contoh dari IGO yang memiliki kewenangan tinggi tersebut adalah PBB. Setiap anggota PBB diharuskan untuk mematuhi apa yang menjadi keputusan PBB serta memegang prinsip yang dianut PBB.

 Intinya, aktor-aktor dalam HI memiliki their own roles yang tidak bisa dicampur adukkan namun tidak bisa dipisahkan begitu saja. Semua yang dilakukan masing-masing aktor memiliki keterkaitan satu sama lain. MNCs membutuhkan negara, sedangkan negara membutuhkan IGO, dan begitulah seterusnya. Perlu ditekankan bahwa tiap aktor hendaknya memerankan bagiannya dengan sesuai demi terciptanya keamanan dan perdamaian di dunia.

 

 

 

 

Referensi :

  • Minix, Dean A. & Hawley, Sandra M. (1998) Global Politics, West/Wadsworth, (Chapter 4)
  • Henderson, Conway W. (1998) International Relations, Conflict, and Cooperation at the Turn of 21st Century, McGraw-Hill Interntional Editions, (Chapter 3)
  • Herz, John H., (1999) “The Territorail State Revisited: Reflections on the Future of the Nation State,” in Williams, Phil &Goldstein Donald M., & Shafritz, Jay M., (eds.) (1999) Classic Readings of International Relations, 2nd edition, Harcourt Brace College Publishing, pp. 119-130.

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :