Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

National Power

Amanda Rizki Yuanita (071211233030 / B)

Weekly Assignment 7

Pengantar Ilmu Hubungan Internasional (SOH 101)

National Power

 

Dalam bahasan mengenai national interest telah disebutkan bahwa power sangat berkaitan dengan national interest. Dapat dijelaskan bahwa power dalam national interest merupakan sebuah modal yang harus dimiliki sebuah negara untuk mencapai tujuan dalam national interest (Wardhani, 2012). Dalam sebuah negara power memiliki peranan yang sangat penting karena power merupakan alat untuk mencapai tujuan dan sebagai alat kontrol sumber daya, baik itu alam maupun manusia. Power dalam hal ini sangat erat kaitannya dengan perkembangan sebuah negara. Power merupakan sebuah kemampuan dalam mengontrol sesuatu. Kemampuan yang dimiliki tersebut ialah kemampuan negara agar dapat melakukan suatu tindakan dan mampu mengendalikan apa yang terjadi pada negaranya ataupun apa yang dikehendakinya. Contoh yang dapat diambil untuk power ini dari konteks kehidupan sehari-hari, yaitu seorang guru yang memberikan tugas terhadap anak didiknya dan tugas itu wajib untuk dikerjakan oleh anak didiknya, dalam hal ini dapat dilihat bahwa power itu dapat dikatakan sebagai kemampuan mengontrol (Wardhani, 2012).  Selain itu, demi terwujudnya power maka terdapat dua pihak atau lebih untuk mencapai semua yang diinginkan. Pihak pertama merupakan aktor yang melakukan power, sedangkan pihak kedua merupakan pihak yang merasakan power atas apa yang telah dilakukan oleh pihak pertama.

Power merupakan kemampuan suatu negara yang dimiliki dan bersumber dari alam, buatan, dan psikologis, serta sosial (Minix & Hawley, 2005 : 17). Telah disebutkan bahwa power memiliki peranan penting karena power merupakan alat untuk mencapai tujuan sebuah negara dan sebagai alat kontrol sumber daya, namun dapat ditambahkan lagi bahwa peranan penting power ini sangat berpengaruh terhadap jalannya sebuah negara. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya power negara tersebut akan dapat mendapatkan peranan atau tempat yang sesuai dengan power yang dimilikinya. Dengan semakin besarnya power yang dimiliki sebuah negara maka negara tersebut memiliki peranan penting dalam kancah internasional untuk melakukan aksi baik itu aksi sosial dalam hal berdiplomasi ataupun yang lainnya atau dengan kata lain, sebuah negara (aktor) yang memiliki power yang paling tinggi dari aktor yang lain dapat mendominasi jalannya interaksi (Henderson p.99, 1998). Dengan kata lain, power yang dimiliki oleh sbuah negara itu sudah menjadi national power yang memang mutlak untuk dimiliki negara yang terkait. Selain itu, hal yang paling penting dari national power adalah adanya interaksi karena interaksi dalam masalah ini sangat penting untuk melakukan diplomasi serta demi kegiatan lain yang nantinya akan banyak membutuhkan kerjasama antar negara baik itu dalam wilayah regional ataupun internasional. National power dapat dibedakan menjadi tiga tipe, antara lain soft power, hard power, dan smart power. Soft power lebih menjalankan aksinya dalam pendekatan yang tanpa ancaman seperti diplomasi. Hard power lebih menjalankan aksinya dalam hal yang lebih keras atau dengan kata lain terdapat ancaman di dalamnya, misalnya dengan cara kekerasan, keagresifan atau dengan kata lain dapat dilakukan dengan cara melakukan perang. Sedangkan, smart power melakukan aksinya dengan cara melancarkan strategi dan dengan menggunakan prinsip dalam hal mengeluarkan biaya yang hemat tapi dengan mementingkan keefektifannya. Dengan kata lain, bahwa smart power merupakan perpaduan antara soft power dengan hard power.

Selain hal yang telah disebutkan, national power juga dipengaruhi oleh status sebuah negara, misalnya AS yang merupakan negara adi kuasa dan AS memiliki pengaruh yang sangat penting dalam kancah international. National power juga dipengaruhi oleh adanya unsur-unsur seperti force, influence, dan authority. Sumber-sumber national power dikategorikan menjadi tiga macam, antara lain natural sources, social-psychological sources, dan synthetic sources. Natural sources dapat dikategorikan menjadi tiga macam, yaitu geography, natural resources, dan population. Geography erat kaitannya teritorial dan posisi sebuah negara. Natural resources dapat berupa keuntungan atau curse (kutukan). Sedangkan, population adalah sumber yang tidak menjamin untuk sebuah negara karena bukan berarti dengan memiliki penduduk yang banyak belum tentu negara tersebut memiliki national power yang kuat juga, dengan kata lain national power dilihat dari kualitasnya bukan dari kuantitasnya (Visensio, 2012). Social-psychological sources dapat dikategorikan menjadi tiga, yaitu national stability, leadership, dan political will. National stability merupakan sumber national power yang jika sebuah negara mengalami ketidakstabilan nasional, maka sulit untuk melakukan sebuah hubungan internasional dengan negara lain. Leadership adalah kepemimpinan yang dilaksanakan oleh seorang pemimpin dan dalam hal ini pemimpin merupakan model yang ditujukan agar mencapai kesuksesan, namun semua hal ini juga bergantung pada pemimpin itu sendiri. Sedangkan, political will adalah tentang keamanan negara tersebut dan apabila sebuah negara memiliki kemauan (tujuan) demi tercapainya sesuatu hal, misalnya keamanan, tetapi apabila rakyat tidak setuju dengan hal tersebut maka tidak akan jalan apa yang diinginkan tadi. Synthetic sources dibagi menjadi dua macam, antara lain industrial capacity dan military capacity. Industrial capacity merupakan kapasitas industri dalam sebuah negara yang juga mempengaruhi national power. Sedangkan, military capacity dapat dilihat dari angkatan militer yang kuat dapat mencerminkan adanya power dalam sebuah negara.

Pengukuran power dapat dibagi menjadi dua macam, antara lain tangible power dan intangible power (Bueno de Mesquita p. 236, 2003). Tangible power diartikan sebagai power yang berbentuk sumber daya yang tampak dan dapat dihitung. Sedangkan, intangible power diartikan sebagai power yang lebih mengarah pada wisdom (kebijaksanaan), will power, dan moral. Selain itu, terdapat cara pengukuran sebuah negara dengan memberikan julukan yang sesuai dengan power yang dimiliki oleh negara-negara tersebut, antara lain super power, great power, middle-range power, dan small power, serta ministates. Terdapat pula teori yang menyebutkan bahwa pengukuran power yang dimiliki sebuah negara dapat dihitung melalui, antara lain dengan cara mengukur power sebuah negara melalui urutan dan memberikan ranking berdasarkan urutan-urutan yang telah diperoleh, namun dengan cara ini data-data tersebut harus berdasarkan data yang terpercaya. Namun, hal ini segera disanggah oleh Ray S. Cline pendapatnya di dalam World Power Trends dan menjelaskan tentang tangible power dan intangible power (Henderson p. 102, 1998) :

PP = (C + E + M) x (S + W)

Keterangan dalam rumus tersebut, antara lain C adalah population and teory (critical mass), E adalah economic capability, M adalah military capability, S adalah coherent planning, W adala national strategy and will. Selain itu, terdapat pula teori COW (Correlates of War) yang menjelaskan tentang pengumpulan data yang terus-menerus berjalan, berfokus pada pola terang, dan kapabilitas negara berdasarkan ukuran populasi, produktivitas ekonomi, dan kekuatan militer (Henderson p. 102, 1998). Teori Cline dengan COW memliki perbedaan dalam penempatan ranking untuk sebuah negara dalam hirerarki kekuatan. Dapat disimpulkan bahwa kunci dari national power adalah interaksi.  Selain itu, national power bukan hanya membahas tentang number dan capacity. National power merupakan hal penting yang sangat diperlukan untuk sebuah negara dalam mencapai sebuah tujuan untuk mencapai national interest.

Referensi :

Henderson, Conway. 1998. International Relations, Conflict and Cooperation at the Turn

of 21st Century. McGraw Hill International Editions (Chapter 4).

 

Bueno de Mesquita, Bruce. 2003. Principles of International Politics, People’s Power,

Preferences, and Perception. QC Press, pp 222-286.

 

Minix, Dean dan Hawley, Sandra M. 1998. Global Politic. West / Wadswosth.

 

Wardhani, Baiq L. S., National Power, materi disampaikan pada kuliah Pengantar Ilmu

Hubungan Internasional, Departemen Hubungan Internasional, Universitas Airlangga, 15 Oktober 2012.

 

3B, Kelompok, National Interest, materi jurnal kelompok pada tanggal 8 Oktober 2012.

 

Dugis, Vinsensio, 2012. National Power, materi disampaikan pada kuliah Pengantar Ilmu

Hubungan Internasional, Departemen Hubungan Internasional, Universitas Airlangga. 15 Oktober 2012.

 

Wardhani, Baiq L. S., National Interest, materi disampaikan pada kuliah Pengantar Ilmu

Hubungan Internasional, Departemen Hubungan Internasional, Universitas Airlangga, 8 Oktober 2012.

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :