Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

Tugas PIHI kelompok minggu ke-7

PENGANTAR ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL

Kelompok 3 B

Nama Anggota:

1.      Atika Wardah (NIM: 071211232016)

2.      Henry Cipta P. (NIM: 071211233015)

3.      Pradipta Aditya S. (NIM: 071211233021)

4.      Amanda Rizki Y. (NIM: 071211233030

5.      Rizky Kurniawan (NIM: 071211233052) 

 

Peran dan Pentingnya Nasionalisme dalam Hubungan Internasional

 

Hubungan Internasional memberikan berbagai macam teori yang berkembang secara pesat semenjak abad ke-16. Salah satu teori yang berkembang adalah teori nationalism (nasionalisme). Hal ini bisa dilihat dari perkembangan teori nasionalisme dari berbagai abad. Abad ke-17 fokus kepada “revolusi ilmiah” (Knutsen p. 179, 1997) yang memberikan warna baru terhadap keberadaan nasionalisme dengan kaitannya dalam  eksistensi sebuah negara. Abad ke-18 memperkenalkan pandangan baru tentang kesimetrisan dunia dan hak-hak masyarakat dalam keberlangsungan nasionalisme. Pada abad ke-19 para pakar mulai mempertimbangkan untuk melihat sejarah dan kaitannya terhadap kemajuan keberlangsungan hidup manusia. Pada abad ke-20 terbangun sebuah persepsi baru mengenai relasi model-model nasionalisme. Setiap abad memiliki ciri dan karakteristik sendiri. Namun, dari setiap abad tersebut, muncul empat pokok studi. Pokok studi ini nantinya akan disebut sebagai kekuatan intelektual (Knutsen p. 179, 1997). Kekuatan-kekuatan ini adalah  nationalism, industrialism, imperialism, dan Darwinism. Tidak seperti bab-bab sebelumnya yang mendiskusikan spekulasi dari beberapa teori, bab ini akan menelusuri kembali transisi teori nasionalisme melalui pandangan para pakar dari berbagai abad, namun juga dapat dilihat dari perkembangan negara di dunia.

Ide mengenai kemunculan kata “nation” (dalam hal ini adalah bangsa) bermula dari kekuatan politis pada abad ke-18 di Eropa. Kekuatan ini terus berkembang dan mulai berubah fokusnya menjadi “nasionalisme” dan menyebar sampai ke luar Eropa, seperti Amerika dan Asia. Pada tahun 1860-an mulai  bermunculan nation-states yang mulai mengaitkan keberadaan mereka dengan nasionalisme, seperti Italia dengan pemikiran barunya, Jerman dengan kekuatan barunya, Dual Monarchy Austria-Hungary, dan reorganisasi politik di USSR. Pada tahun-tahun ini AS juga mulai memberikan otoritas penuh kepada negara-negara bagian mereka. Nasionalisme juga menyeruak di kawasan Asia dengan mulai berdirinya Jepang dengan kemampuan “negara barat” mereka yang baru.

Melalui penggambaran di atas, nasionalisme sendiri bisa dilacak keberadaannya dengan melihat asal mula kata “nation”. Nation dapat diartikan sebagai kumpulan dari satu asal yang sama (common origin). Pada zaman-zaman berikutnya, nation tidak hanya melihat kesamaan sebuah kumpulan orang dengan kesamaan asal atau geografi saja, namun menjadi sekelompok orang yang berkumpul berdasarkan kesamaan dalam kepentingan dan keinginan untuk bersatu. Benedict Anderson (1983), melihat nation sebagai “komunitas imajiner”. Komunitas ini hanya berangkat dalam tatanan yang tertutup, sederhana dan terbatas sehingga muncul definisi baru, yaitu nation sebagai komunitas politik yang imajiner – yang diibaratkan tidak hanya terbatas namun juga memiliki kedaulatan yang semu”. Ketika berbicara mengenai kedaulatan semu yang terbatas hanya pada kelompok tersebut, barulah kita bisa memahami nasionalisme itu sendiri. Ketika pencerahan mengenai arti dari nation yang bersifat terbatas dan berkedaulatan semu muncul, makin banyak teori mengenai nasionalisme yang tumbuh dan berkembang seiring mulai melekatnya identitas nation pada negara-negara baru. Ide mengenai determinasi diri dari nation dan partisipasi dari anggota (dalam hal ini masyarakat), akan membawa dinamika berpolitik dalam negara, dan nasionalisme akan berkembang menjadi sebuah kekuatan politik baru yang tidak bisa dibendung kekuatannya (Knutsen p. 180, 1997).

Nasionalisme memiliki peranan yang multidimensional. Multidimensional di sini memiliki artian nasionalisme mampu menggerakkan berbagai macam aspek dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Contoh konkret adalah bagaimana nasionalisme mampu menggerakkan negara–negara di Eropa untuk menuju era industrialisasi. Hal ini bisa dilihat dari kemunculan jalur kereta api, kapal uap, telegraf, produksi industri. Kesemua ini dilihat sebagai dampak dari penyebaran rasa nasionalisme. Produk-produk industri ini membuat komunikasi ide, pertukaran barang dan transportasi massa menjadi mudah. Ketiga hal ini memberikan dampak kepada negara dalam bentuk ekspansi industri. Ekspansi industri ini membawa perkembangan yang amat cepat dalam hal munculnya perusahaan-perusahaan baru, teori mengenai model ekonomi yang baru, dan kelas-kelas organisasi sosial yang semakin beragam. Hal ini jika bisa dikelola oleh negara dengan baik, tentu akan membawa dampak positif kepada negara, yaitu kemajuan industrialisasi. Kemajuan industrialisasi sebuah negara akan membuat kekuatan negara menjadi berkembang. Sehingga kekuatan ini bisa berkembang menjadi kekuasaan negara.

Nasionalisme juga mampu melecutkan semangat imperialisme. Kebutuhan bahan mentah untuk menyokong semangat industrialisasi dianggap sebagai faktor utama munculnya imperialisme. Imperialisme sendiri telah mengubah pola ekonomi Eropa. Jika pada masa-masa sebelumnya negara barat aktif sebagai pembeli barang mentah, namun mereka mengubah paradigma tersebut dan menjadi eksportir (bahan setengah jadi dan jadi) dan penjual produk yang terbuat dari mesin. Kemajuan idustrialisasi (yang kelak akan selalu disebut sebagai revolusi industri) akan selalu memiliki kebergantungan tinggi dengan kemampuan ekonomi negara. Inilah peranan nasionalisme dalam hal melecutkan semangat imperialisme suatu negara dengan dalih revolusi inustri demi mencapai kemampuan ekonomi.

Nasionalisme juga sejalan dengan teori Darwin yaitu “survival of the fittest”. Teori ini menjelaskan bahwa yang paling kuat dan bisa beradaptasi sesuai dengan perubahan-perubahan zaman adalah yang bisa bertahan sampai akhir . Hal ini juga mengacu pada ideologi kapitalisme yang mengunggulkan pihak berkekuatan besar. Dalam hal ini, nasionalisme menyulut bangsa untuk menjadi nomor satu agar bisa tetap bertahan hidup.

Apabila individu telah memiliki rasa nasionalisme yang kuat, maka individu tersebut akan merasa bahwa dirinya harus menjadi manusia yang berguna bagi kemajuan negaranya. Dengan semangat nasionalisme yang dimiliki, individu akan merasa turut bertanggungjawab terhadap berbagai persoalan yang sedang dihadapi oleh negaranya. Individu tersebut, dengan rasa cintanya terhadap tanah airnya, akan terus berusaha menjadi abdi yang baik bagi negaranya. Individu tersebut akan memiliki suatu motivasi untuk terus berkarya, bekerja dengan etos kerja yang tinggi, dan melakukan berbagai hal yang mendukung kemajuan negaranya. Di sisi lain, apabila suatu negara memiliki warga yang beranggotakan individu-individu dengan rasa nasionalisme yang tinggi, maka negara tersebut telah memiliki potensi untuk dapat berkembang pesat. Negara akan memiliki pekerja-pekerja yang gigih dan setia yang akan mengisi berbagai posisi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Negara sebagai aktor hubungan internasional akan sangat diuntungkan dari kepemilikan warga negara yang memiliki rasa nasionalisme  tinggi.  Warga negara yang menjadi wakil negara dalam menjalankan perannya dalam hubungan internasional akan berjuang secara maksimal agar berbagai tujuan dalam kepentingan nasional yang dimiliki tercapai dengan maksimal. Wakil-wakil negara tersebut akan mewakili negaranya dengan penuh rasa tanggung jawab terhadap kepentingan negaranya serta memiliki suatu kebanggaan terhadap negara. Dengan begitu, negara sebagai anggota dari masyarakat internasional akan memiliki kepribadian kuat dan tidak mudah untuk digoyahkan  oleh pengaruh-pengaruh asing karena elemen-elemen vertikal dari rakyat sampai pemimpin telah tertanam suatu rasa cinta di mana dari rasa cinta tersebut akan memunculkan suatu penerimaan dari kekurangan serta kelebihan dari negaranya.

Akan tetapi, rasa nasionalisme yang berlebih akan mempersulit terciptanya perdamaian global karena negara-negara di dunia ini akan mementingkan kepentingannya masing-masing. Padahal tiap-tiap negara di dunia ini memiliki kepentingan yang berbeda dan seringkali terjadi benturan kepentingan dari tiap-tiap negara tersebut. Negara yang digerakkan oleh rakyat dengan tingkat nasionalisme berlebih akan berpotensi memiliki suatu pandangan menganggap rendah negara lain dan bahkan tidak segan untuk menyerang negara lain demi tercapainya tujuan dari kepentingan negaranya.

Memang nasionalisme menjadi suatu kewajiban untuk dimiliki warga negara sebab hal ini bukan lagi merupakan sesuatu yang privat dan opsional bagi individu. Bahkan ada pepatah dari Perancis, “France, love it or leave it” (Miscevic p. 19, 2001). Namun, kepemilikan rasa nasionalisme harus sewajarnya dan individu mampu menempatkan rasa nasionalismenya secara tepat dan disertai rasa toleransi persaudaraan agar negara mampu menempatkan posisi dan peranannya secara tepat terhadap masyarakat internasional.

 

Referensi

Knutsen, Torbjorn L. (1997) A History of International Relations Theory, Manchester University Press, [pp 179-201]

Miscevic, Nenad (2001) Nationalism and Beyond, CEU Press, [pp. 3-38]

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :