Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

Nationalism

Amanda Rizki Yuanita (071211233030 / B)

Weekly Assignment 8

Pengantar Ilmu Hubungan Internasional (SOH 101)

Nationalism 

Nasionalisme yang dimiliki oleh berbagai bangsa di penjuru dunia tidaklah sama antara satu dengan yang lain. Nasionalisme yang dimiliki suatu bangsa bisa saja dipandang berbeda oleh bangsa lain. Terdapat bangsa yang memandang nasionalisme dengan pandangan negatif, namun terdapat pula bangsa yang memandang nasionalisme itu dalam artian yang positif (Wardhani, 2012). Dapat dilihat bahwa nasionalisme yang dipandang secara positif contohnya di Indonesia. Pemahaman Indonesia terhadap nasionalisme itu seperti rasa cinta terhadap tanah air dan memiliki rasa salling memiliki. Namun, dapat juga disimpulkan bahwa pengertian rasa akan hal ini bisa saja dianggap sebagai patriotisme. Selain itu, terdapat bangsa barat yang memiliki pemahaman nasionalisme itu berbeda dengan bangsa Indonesia. Bangsa barat memandang nasionalime itu dalam pandangan negatif. Hal ini dapat dipandang negatif oleh bangsa barat karena bangsa barat melihatnya berdasarkan sejarahnya. Selain itu, bangsa barat lebih menyukai untuk menggunakan kata patriotisme dari pada nasionalisme. Menurut mereka, kata nasionalisme itu hanyalah sebuah rasa yang hanya dapat dirasakan atau hanya diungkapkan saja, melainkan berbeda dengan kata patriotisme. Kata patriotisme menurut mereka lebih menjiwai perasaan cinta akan bangsanya dengan melakukan sebuah tindakan yang sangat berarti, misalnya dengan menjadi relawan dalam mengikuti sebuah peperangan. Terdapat pula pendapat dari seorang ahli, Benedict Anderson menyatakan nasionalisme adalah sesuatu yang ada di imajinasi manusia dan itu tidak benar-benar ada, hal ini merupakan imagine community.

Nasionalisme tidak akan terlepas kaitannya dari bangsa dan negara. Hal ini dikarenakan negara merupakan aktor yang memiliki entitas dan diakui teritorialnya, serta memiliki rakyat. Sedangkan, bangsa tidak sama pengertiannya dengan negara karena bangsa ruang lingkupnya lebih sempit. Maksudnya disini adalah bangsa merupakan sekumpulan orang yang berkumpul karena persamaan etnik dan kultur yang dimiliki (Colombus & Wolfe, 1995, p. 66). Namun dalam bahasan nasionalisme disini, terdapat kaitan negara masih memiliki keeratan dalam nasionalisme. Karena nasionalisme sebenarnya tumbuh dari bangsa lalu sebuah bangsa itu bisa berkembang menjadi sebuah negara. Dalam pembentukan sebuah negara dapat dibedakan menjadi empat macam, antara lain negara-bangsa, bangsa-negara, negara tanpa bangsa, dan bangsa tanpa negara. Negara-bangsa, sebuah negara sudah terbentuk dahulu sebelum adanya bangsa, misalnya United States of America (USA). Bangsa-negara, sebelum terbentuknya negara sudah terbentuk dahulu sebuah bangsa yang kemudian bersatu, misalnya Indonesia. Hal ini dapat terjadi karena adanya rasa nasionalisme yang muncul dan didasari persamaan budaya, bahasa, dan sejarah. Negara tanpa bangsa, sebuah negara yang berdiri tanpa adanya bangsa dan dominasi penduduknya ini dikuasai dari bangsa lain ketimbang bangsa aslinya, misalnya Australia dan Singapura. Bangsa tanpa negara, sebuah bangsa yang tidak memiliki sebuah negara dan mereka yang membentuk sebuah bangsa ini berkeinginan untuk membentuk sebuah negara dan menguasainya, negara yang mereka diamilah yang ingin mereka bentuk sebagai sebuah negara baru, misalnya Palestina dan Kurdi. Terdapat pula dua macam landasan nasionalisme, antara lain ethnic dan civic. Pada konteks ethnic, rasa nasionalisme ini muncul karena adanya perasaan mengenai asal suku yang sama, contoh kaum Kurdi yang menempati (tinggal) di Turki. Sedangkan, pada konteks civic, rasa nasionalisme muncul karena adanya rasa kepemilikan yang berlandaskan dalam kewarganegaraan tersebut, misalnya rakyat Indonesia yang memiliki rasa senasib dan sepenanggungan dalam menjadi warga negara Indonesia.

Kesimpulan yang didapat adalah pentingnya sebuah nasionalisme sebuah negara itu sangat berpengaruh dan hal ini yang dapat membantu para aktor hubungan internasional dalam menemukan jati dirinya. Namun, rasa nasionalisme yang terlalu berlebihan juga tidak baik, karena hal itu pula dapat menyebabkan perpecahan atau menjadi ancaman bagi suatu bangsa. Selain itu dengan adanya rasa nasionalisme akan dapat membantu interaksi dalam kancah internasional dan itulah yang menjadi dasar dalam melakukan interkasi karena dengan melakukan interaksi, erat kaitannya bagaimana atau apa yang akan ditunjukkan oleh sebagian masyarakat dalam menjunjung tinggi atas bangganya dirinya, sikap nasionalisme terhadap bangsa dan negaranya. 

Referensi :

  • Couloumbis, Theodore A., & James H. Wolfe. 1995. Pengantar Hubungan

Internasional

  • Wardhani, Baiq L. S., Nasionalisme, materi disampaikan pada kuliah Pengantar Ilmu

Hubungan Internasional, Departemen Hubungan Internasional, Universitas

Airlangga, 22 Oktober 2012.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :