Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

Tugas PIHI Kelompok minggu ke-8

PENGANTAR ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL

Kelompok 4B

Dinamika Hubungan Internasional Sebelum dan Sesudah “Masa Modern” 

 

Darimana kita harus memulai awal mula sejarah perkembangan Ilmu Hubungan Internasional? Bila ditelaah dari awal sejarah perkembangan ilmu HI, mungkin akan banyak ditemukan berbagai perdebatan di antara para pakar ilmu hubungan internasional mengenai sejarah mula sistem HI modern, ada yang menyatakan bahwa keberadaan Ilmu HI baru dimulai sejak pecahnya Perang Dunia I (Doughtery and Pfaltzgraff 1981), tetapi hal ini juga patut diragukan kebenarannya karena ternyata jauh sebelum Perang Dunia I, sebuah susunan besar atau rangkaian literatur raksasa yang membicarakan isu-isu tentang peperangan, kekayaan, perdamaian, kekuasaan, dan kekuatan seperti yang ada dalam unsur-unsur hubungan internasional yang telah lama ada.

Ada satu alasan mengapa diskusi tentang awal mula ilmu HI sering menguap menjadi ide-ide yang kurang jelas tentang apa itu ‘tradition’ IR dan ‘analytical atau modern’ IR (Gunnel 1978). Ketika berbicara tentang asal mula ilmu HI maka kedua poros teori ini akan saling berkaitan dan tidak akan dapat dilepaskan, Tradition disini sendiri merupakan sebuah rekapan sejarah panjang sejak zaman interstate kuno awal hubungan pola antar kota, kerajaan, dan bahkan Negara saling berhubungan dalam berbagai aktualisasi kegiatan entah itu berupa perdagangan atau bahkan konflik peperangan, baik itu yang bersifat lokal maupun intercontinental. Pada jaman Traditional IR, para pakar ilmu baru mendiskusikan penyebab peperangan dan menjelaskan praktek yang terkait mengenai strategi pertahanan, ekspansi kekuasaan, keseimbangan, kemakmuran, dan kesinambungan eksistensi masing-masing penguasa, kekaisaran, dan ajaran paham-paham teologi agama.

Sedangkan, Analytical IR adalah sebuah upaya dan atau langkah intelektual yang berhubungan dengan kegiatan para sarjana atau cendekiawan-cendekiawan pada masa itu (middle ages sampai renaissance) mengenai konsep, tema, paham, dan tulisan-tulisan sebagai fungsi penerapan normatif pada sistem politik pada masa itu. Seperti karya tulis Augustine (The City of God 410) dan Thomas Aquinas (Summa Theologica, buku yang merupakan kombinasi dari dasar logis Kristen, doktrin Katolik, dan juga filosofi-filosofi Aristoteles menjadi satu sistem rasional yang sempurna). Secara implisit IR Modern bukan hanya dimulai pada masa Renaissance saja, tetapi juga sebelumnya sudah mulai terbentuk melalui pola-pola tulisan cendekiawan-cendekiawan masa itu yang mampu menggerakkan perubahan paradigma politis hanya berdasarkan literatur yang ditulisnya. Hal ini menunjukkan literatur sebagai bagian pengaruh politik sudah mulai ada, dan penerapan sistem-sistem modern seperti negosiasi (pada masa kerajaan Charlemagne bertahta, ia sudah mulai menerapkan sistem pertukaran hadiah budaya pada Kalifah Harun ar-Rashid dan Ratu Irene) antar kerajaan dan kerjasama dalam bidang tertentu sudah mulai terjalin. Ini menunjukkan perubahan cara bernegosiasi dengan mereduksi konflik fisik seperti perang melalui berbagai upaya ‘halus’ telah lama ada.

Sebuah tanda awal mula Teori ilmu hubungan internasional pastilah dimulai karena perkembangan politik dan intelektual di Eropa Barat pada abad pertengahan (medieval), karena memang politik modern yang nyata pada saat itu baru berkembang di Eropa dan Timur Tengah dimana peradaban intelektual dan politis sangat berkembang. Hal itu mencakup diskusi tentang Hukum abad pertengahan, yaitu Canon Law yang merupakan hukum fundamental yang berasal dari aturan-aturan Tuhan yang berasal dari kitab suci dan Customary Law yang merupakan kustomisasi atau fleksibilitas dari canon law guna melancarkan urusan-urusan para penguasa feodal dan para Raja. Perbedaan aturan pada berbagai daerah kekuasaan (Customary Law) inilah yang nantinya menjadi awal mula teori-teori ilmu hubungan internasional tentang state system di Eropa modern pada perkembangan era renaissance. Paradigma lama Church-State yang menjadi satu tanpa dibedakan pengkategoriannya, lama kelamaan berkembang luas menjadi terpisah dan Gereja tidak lagi mempengaruhi State atau Emperor secara sepihak berdasarkan sebuah doktrin keagamaan. Menjadi sebuah paradigma politis baru yaitu sistem state yang nantinya akan berdaulat dan memiliki supremasi hukum sendiri, tanpa harus menggunakan motif keagamaan sebagai alasan.

Era modern dapat diketahui melalui tiga analisis yang berkembang di Eropa Barat pada abad keenam belas. Ditandai dengan adanya kemajuan dalam dunia militer dan perang, yaitu diciptakannya senjata api, kompas sebagai penunjuk arah merupakan kemajuan di bidang transportasi, dan yang ketiga ialah mesin cetak. Hingga pada akhirnya penemuan-penemuan ini memiliki implikasi juga ke bidang politik dimana mereka mengubah masyarakat dan mengubah kemampuan relatif dari kelompok sosial masyarakat Eropa dan memberikan aspek yang mendalam kepada interaksi internasional.

Kemunculan dari senjata api membuat pertempuran menjadi lebih destruktif dan biaya perang menjadi lebih mahal, sehingga kenaikan harga dari perang pada awal abad keenam belas berdampak signifikan pula pada bidang politik. Konsekuensi dari ini pada akhirnya mengakibatkan kekuasaan politik semakin bergantung pada kekayaan nasional negara, dan para pemimpin semakin ditekan untuk menemukan cara-cara baru untuk meningkatkan pendapatan negara. Hal inilah yang akhirnya merangsang pertumbuhan negara modern dan sistem negara, dimana raja menjadi otoritas tertinggi di negara ini pada waktu itu. Warga memainkan faktor utama dalam menentukan kebijakan pemerintah. Kaisar harus mempertimbangkan aspirasi warga negara untuk membuat keputusan bagi negara.

Revolusi ekonomi terasa ketika orang menemukan mesin cetak atau teknologi. Penemuan akan mesin cetak tersebut mengakibatkan menyebarnya budaya Renaissance, yang berupa antusiasme terhadap teks-teks kuno, pengetahuan dan semangat kewirausahaan ke seluruh penjuru Eropa. Contoh dari revolusi ekonomi adalah ketika ekspansi industri di Inggris antara tahun 1800 dan 1850 membuat ekspor Inggris tiga kali lipat dan impor menjadi empat kali lipat. Ini revolusi ekonomi mengubah struktur Inggris dan hubungan dalam negara (Knutsen,1992).

Tahun 1900-1945 merupakan periode yang tragis dalam sejarah umat manusia. Saat itu telah terjadi dua perang besar, kemerosotan ekonomi global, dan berbagai peristiwa yang berpengaruh terhadap perkembangan Hubungan Internasional. Eropa memiliki dominasi yang kuat terhadap dunia pada periode 1900-1945. Terdapat hal yang mendukung dominasi Eropa terhadap dunia dan satu diantara empat populasi dunia ada di Eropa, yaitu adanya kekuatan militer dan ekonomi yang kuat, serta dunia berada dalam kolonisasi Eropa (Susan L. Carruthers, 2001:52). Jerman memiliki sumbangsih besar terhadap dominasi Eropa. Karena wilayahnya yang strategis, populasi, militer, dan kekuatan industri yang dimiliki Jerman membuatnya menjadi negara paling dominan di Eropa. Faktor-faktor krusial inilah yang kemudian menjadi problem tersendiri. Namun, keberadaan Jerman justru mengganggu kestabilan Eropa karena Jerman berusaha menguasai daerah baru dan market bagi ekonominya. Jerman melakukan berbagai usaha untuk bersaing dengan negara-negara lain di Eropa yang pada akhirnya mengakibatkan ketidakstabilan politik di Eropa. Bagi Jerman kolonisasi tidak semata-mata untuk status tetapi lebih kepada kepentingan ekonomi (Susan L. Carruthers, 2001:54).

Jerman memiliki peran signifikan dalam perang dunia 1(1914-1918). Fritz Fischer dalam bukunya Bid for World Power menekankan bahwa Jerman sengaja terlibat dalam Perang Dunia I (Susan L. Carruthers, 2001:54). Hal ini berkaitan dengan keinginan Jerman yang ingin melakukan kolonisasi dan ekspansi wilayah. Selain itu, adanya pandangan bahwa Perang Dunia I merupakan More Than Accident Than Design (Susan L. Carruthers, 2001:54). Hal ini didasari bahwa sebenarnya Jerman telah menyusun rencana militer. Ahli strategi Jerman, Count Alfred von Schlieffen, memperkirakan prospek Jerman untuk melawan Prancis dan Rusia. Rencana ini kemudian semakin meluas ketika terjadi penembakan pangeran Franz Ferdinand dari Austria-Hungaria oleh teroris Serbia. Inilah yang kemudian menjadi awal meletusnya Perang Dunia I. Di Eropa aliansi mulai dibentuk, produksi alat persenjataan semakin meningkat. Perang Dunia I melibatkan dua pihak. Pihak Sentral (blok Jerman) yang terdiri dari 4 negara, yaitu Jerman, Turki, Bulgaria, dan Austria-Hongaria. Pihak Sekutu (blok Perancis) yang terdiri dari 23 negara, antara lain Perancis, Rusia, Inggris, Italia, Amerika Serikat, Serbia, Belgia, Rumania, Yunani, Portugal, Jepang, dan lain-lain. Perang ini menimbulkan jutaan korban tewas dan kerugian material yang besar. Perang Dunia I berakhir dengan adanya perjanjian Versailles tahun 1919. Isi perjanjian Versailles menyudutkan posisi Jerman, isi perjanjian tersebut diantaranya 1) Jerman menyerahkan Alsace-Lorraine kepada Perancis dan Eupen-Malmedy kepada Belgia, Danzig, dan sekitarnya menjadi kota merdeka di bawah LBB, 2) Jerman kehilangan semua tanah jajahannya yang diambil oleh Inggris, Perancis, dan Jepang, 3) Jerman harus membayar ganti rugi perang sebesar 132 Milyar Mark emas, angkatan perang Jerman diperkecil, kapal perang maupun kapal dagang Jerman diambil alih oleh Inggris. Hal ini tentu menyebabkan Jerman mengalami keadaan ekonomi yang sulit. Selain Versailles, usaha untuk menciptakan perdamaian juga dikemukakan dalam Fourteen Points oleh presiden Amerika, Woodrow Wilson. Fourteen Point inilah yang mendasari terbentuknya Liga Bangsa-Bangsa.

Dunia mengalami depresi akibat Perang Dunia I, kerugian besar melanda Negara-negara yang terlibat, baik itu negara yang mengalami kekalahan maupun kemenangan. Kekalahan Jerman dalam Perang Dunia I telah mengakibatkan kehidupan rakyat semakin bertambah susah. Keadaan Jerman seperti ini menimbulkan gerakan yang hendak menggulingkan pemerintahan. Akhirnya pada tahun 1918, gerakan tersebut berhasil menggulingkan pemerintahan Jerman dan merupakan penguasa baru Jerman. Gerakan ini bernama NAZI dan dipimpin oleh Adolf Hitler. Nazisme merupakan bentuk dari nasionalisme ekstrem yang menginginkan adanya pembantaian terhadap bangsa di luar Aryan yang merupakan ras asli Jerman. Nazisme menolak adanya perjanjian Versailles. Penolakan ini berujung pada penyerangan Jerman terhadap Polandia tahun 1939. Serangan ini menyulut kemarahan negara-negara lain, yang pada akhirnya menimbulkan perang terbesar sepanjang sejarah, Perang Dunia II. Perang Dunia II merupakan perang antara dua aliansi yang berlawanan, yaitu blok poros yang terdiri atas Jerman, Italia, dan Jepang dengan blok sekutu yang terdiri atas Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis. Perang Dunia II berakhir dengan menyerahnya Jepang kepada Amerika pada tanggal 14 Agustus 1945, setelah dijatuhkan bom di Hiroshima dan Nagasaki.

Perang Dunia II menimbulkan adanya self determination, yaitu keinginan suatu negara untuk menentukan nasibnya sendiri dan menolak penjajahan, Ini terbukti dengan munculnya banyak negara-negara merdeka di kawasan Asia pasca Perang Dunia II. Perang Dunia II mengubah posisi Eropa di dunia, Eropa tidak lagi menjadi dominasi di dunia tetapi berganti dengan dua kekuatan super power, yakni Amerika Serikat dan Uni Soviet (Susan L. Carruthers, 2001:72). Dominasi ini didasarkan pada kekuatan ekonomi dan militer. Selain itu, kekuatan super power ini juga menganut anti kolonialisme, sehingga kolonialisme di dunia mulai menghilang. Saat itulah era dimana Eropa mendominasi dunia juga berakhir.

Periode 1900-1945 memberikan dampak signifikan terhadap dunia. Munculnya imperialisme, kolonialisme, penggunaan nasionalisme secara ekstrem, dan kemerosotan ekonomi global memang terjadi. Tapi disisi lain periode ini merupakan awal munculnya globalisasi, di mana komunikasi dan informasi bergerak melewati batas-batas negara. Perubahan signifikan yang tampak ini merupakan awal perubahan dalam segala aspek bidang di Eropa yang menjadi cikal dan bakal kemunculan bidang ilmu hubungan internasional.

 

Referensi:

 

  • Knutsen, Torbjorn L. (1997) “A History of International Relations Theory,” Manchester

University Press, [pp. 11-114]

  • Jackson, Robert H., (2001) “The Evolution of International Society,” in Baylis, John &

Smith, Steve (eds.), The Globalization of World Politics, 2nd edition, Oxford University Press, pp. 35-50

  • Carruthers, Susan L., (2001) “International History 1900-1945,” in Baylis, John &

Smith, Steve (eds.), The Globalization of World Politics, 2nd edition, Oxford University Press, pp. 51-73

 

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :