Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

Dinamika Hubungan Internasional

Layaknya seperti halnya manusia, hubungan internasional juga memiliki sejarah. Ilmu hubungan internasional tidak dapat dipisahkan dari sejarah bagaimana dahulu hubungan internasional itu muncul (Wardhani, 2012). Dengan mempelajari sejarah yang ada ini, dapat membantu untuk memahami dan mengerti akan bagaimana hubungan internasional, serta esensinya. Sejarah hubungan internasional kali ini dilihat pada konteks sejarah di belahan bumi Eropa. Hubungan internasional muncul karena adanya perjanjian Westphalia. Sejarah hubungan internasional dapat dimulai pada masa Yunani Kuno. Benih hubungan internasional dapat dilihat pada dengan adanya hubungan antar-negara yang disebut interstate. Hubungan antar-negara tersebut lebih mengarah pada aspek-aspek kenegaraan saja. Berbeda dengan hubungan internasional yang mengarah pandangannya pada segala aspek, yaitu dalam aspek ekonomi, sosial, politik, dll. Hal ini menjelaskan bahwa hubungan internasional itu mengarah pada segala aspek kehidupan yang berperspektif global.

                     Pada masa Yunani kuno sistem yang digunakan ialah city-state (negara-kota). Namun, masa Yunani Kuno ini sistemnya tidak benar-benar mengenal komunitasnya sendiri karena hal ini yang menyebabkan sistem yang dimiliki ini tidak berpikiran untuk mengartikulasikan sebuah hukum internasional. Selain itu, terdapat alasan lain yang menyebabkan seperti ini karena masyarakatnya lebih bersifat cultural-religious ketimbang legal-political. Penyebab inilah yang pada akhirnya membuat masa Yunani Kuno itu sendiri merasa tidak mampu karena munculnya imperialis Makedonia. Imperialis Makedonia menyebabkan Yunani Kuno tunduk pada kekaisaran Romawi (200 SM – 500 M) dengan menjadi budaknya (Jackson & Sorensen, 2005 : 15). Dengan bangkitnya kekuasaan Romawi ini menyebabkan bangkitnya juga Gereja Katolik Roma. Hal inilah yang disebut Middle Age. Pada masa Middle Age, kekuatan gereja yang mendominasi aspek kehidupan manusia. Maksudnya disini adalah segala kegiatan diatur oleh gereja karena untuk mempertahankan kepentingan gereja dan raja pada masa ini hanya bersifat semu sebagai penguasa. Masa ini juga dapat disebut sebagai Dark Age. Dikatakan sebagai Dark Age karena jika ada yang menentang gereja maka akan mendapatkan perlakuan yang sangat kejam semacam sanksi serta bisa juga mendapatkan perlakuan yang keji seperti dibunuh. Contohnya Copernicus yang karena teori heliosentrisnya berlawanan sama paham geosentris gereja. Setelah Dark Age, muncul sebuah kebangkitan yang disebut sebagaiRenaissance (lahir kembali), dimana nilai-nilai humanisme zaman Yunani Kuno itu berasa terlahir kembali. Sebenarnya gerakan kebangkitan ini dipelopori oleh F. Bacon yang akhirnya berhasil meruntuhkan dominasi gereja. Intinya Renaissance ini pemikirannya bersifat konkret, realistis, nyata, fokus pada dunia, dan manusia dianggap sebagai pencipta. Pada masa Renaissance ini juga memunculkan berbagai kebebasan individu dan penjelajahan samudera. Renaissance ini berkembang di Italia dan Eropa bagian barat. Perkembangan Reinaissancedi Italia, mulai muncul mode baru cara berdiplomasi, yakni dengan penempatan dubes di luar negeri. Namun, karena pada masa dahulu masih menggunakan sistem city-state dan sistem ini tidak bertahan lama, serta menyebabkan adanya penjajahan antar negara. Penjajahan ini disebabkan karena negara memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi.Nicollo Machiavelli itu mengemukakan pendapatnya lewat bukunya berjudul "The Prince". Dalam buku ini menjelaskan dimana manusia itu segalanya, dan bebas bertindak sesuai kehendak hatinya. Jadi, untuk mencapai kepentingannya, manusia itu otomatis harus ikut berkonflik. Sedangkan di Eropa bagian Barat, ada birokrasi baru yang tujuannya mendekatkan rakyat dan pemerintah. Tapi disamping hal-hal tersebut, muncul paham yang bernama "More's Utopia", yaitu manusia itu dianggap bukan segalanya, tapi "common interest" merupakan hal yang paling penting. Saat itu juga Feodalisme dan superioritas berkembang pesat, sejalan dengan ekspansi-ekspansi terhadap negara lain. Pada era Renaissance ini juga terkenal dengan meletusnya Perang 30 tahun (1618-1648). Hal ini dikarenakan ambiguitas loyalitas rakyat karena rakyat bingung. Kebingungan ini mengenai gereja dengan raja karena kedua hal itu sama-sama kuat dan mereka tidak tahu untuk memilih yang mana. Perang ini diakhiri dengan perjanjian Westphalia (1648)yang jadi benih dari munculnya negara modern, dimana pemerintah membawahi rakyatnya secara langsung dan juga bisa dikatakan sebagai tatanan dalam masyarakat internasional karena memisahkan kekuasaan pemerintah dari intervensi gereja untukmemangkas kekuasan yang dilakukan oleh gereja dan meninggikan posisi raja (Jackson & Sorensen, 2005 : 21).

              Westphalia ini mulai memunculkan kehidupan modern, dimana kehidupan tersebut ditandai dengan lahirnya nation-states, yang dapat dibilang juga merupakan manifestasi dari negara modern. Negara modern mulai memiliki konsepsi hukum dan sistem kenegaraan yangjelas adanya batas teritorial, begitu juga dengan model baru kedaulatan. Dari hal inilah yang menyebabkan hubungan internasional jadi pilihan utama setiap negara-negara tersebut untuk meraih tujuan dan kepentingannya. Awalnya ada dua konsep untuk kedaulatan yang dibuat oleh negara-negara yang baru lahir tersebut, yakni sovereignty dan suzerainty. Sovereignty disebut konsep kedaulatan terkait dengan suatu pemerintahan yang memiliki kendali penuh terhadap urusan dalam negerinya sendiri dalam suatu wilayah atau geografisnya. Berbeda dengan suzerainty adalah kondisi suatu negara yang tidak mampu menentukan langkah politik luar negerinya sendiri karena intervensi dari negara lain yang lebih superior. Selain dua konsep tersebut, ada juga konsep yg disebut kedaulatan populer dan partisimasi massa. Kedaulatan populer sendiri dapat diartikan sebagai demokrasi langsung, jadi warga negara itu langsung memutuskan apa yang harus mereka lakukan jika ada semacam masalah kenegaraan, bukan dengan mendelegasikan keputusannya untuk badan perwakilan. Partisipasi massa, dalam hal ini warga negara ikut serta dalam membangun dan memajukan negaranya sesuai dengan tujuan dan kepentingan nasional negaranya. Esensi dari semua hal ini yakni otoritas dalam pengambilan keputusan. Dapat dilihat kalau dulu jaman Westphalia itu kebijakan pemerintah diintervensi gereja danyang sekarang itu keputusannya disesuaikan dengan common interest yang ada.

              Dapat disimpulkan bahwa hubungan internasional yang kali ini sudah berkembang ini tidak lepas dari sejarah yang telah ada pada masa dahulu. Adanya sejarah itu merupakan hal yang sangat penting untuk dapat mengetahui untuk bagaimana proses terjadinya semua hal yang telah dicapai. Namun, dengan adanya sejarah yang menjelaskan bagaimana peran hubungan internasional dulu dan sekarang itu sangat berbeda karena hubungan internasional saat ini sudah lebih interdisipliner demi meningkatkan perannya dalam ilmu-ilmu sosial yang berprespektif global.

 

Referensi :

  • Wardhani, Baiq L. S., Dynamic of International Relations : Before and During

“Modern Era”, materi disampaikan pada kuliah Pengantar Ilmu

Hubungan Internasional, Departemen Hubungan Internasional, Universitas

Airlangga, 12 November 2012.

  • Jackson, Robert & Georg Sorensen. 2005. Pengantar Studi Hubungan Internasional.

Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :