Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

Tugas PIHI kelompok minggu ke-9

Dalam mencari konstelasi hubungan struktur politis pada komunitas global yang kompleks pada zaman sekarang ini pasti dibutuhkan penelusuran mendalam terhadap sejarah masa lampau. Dari mulai zaman yunani kuno, abad pertengahan, renaissance sampai dicetuskannya sistem territorial state hingga pemikiran modern manusia yang menghasilkan sisi individualitas liberal manusia pada komunitas dunia barat yang sekuler pada waktu itu. Munculnya paham-paham dari berbagai sudut pandang politis yang berakar dari berbagai dasar pemikiran rasional di berbagai belahan dunia barat akhirnya melahirkan beberapa ‘-isme’ besar yaitu liberalisme, radikalisme dan konservatisme yang menjadi dasar atau tradisi yang diterapkan di dunia pada masa Perang Dunia I dan Perang Dunia II.

Liberalisme memiliki konsentrasi pada tiga hal. Pertama, adanya kepercayaan bahwa demokrasi mampu menciptakan perdamaian di dunia. Negara dengan demokrasi tidak akan berperang satu sama lain dan jumlah Negara yang menganut demokrasi semakin banyak semenjak tahun 1970 (Cox,  2001:114). Kedua, perlunya peran institusi internaional, seperti PBB dan Bank Dunia. Ketiga,  globalisasi mampu memperkuat sektor ekonomi. Pada intinya aliran liberlaisme berpandangan bahwa pasca Perang Dunia akan muncul perdamaian dan keadaan dunia yang lebih baik.

Realisme menekankan pada tiga hal pokok. Pertama, sistem internasional dikuasai oleh Negara neoliberalisme. Kedua, ideologi dan struktur pasca Perang Dingin sama dengan sebelumnya. Ketiga, keadaan dunia pasca Perang Dingin masih tidak stabil dan masih adanya kemeerosotan ekonomi. Realisme berpandangan bahwa pasca Perang Dingin, tidak berpengaruh terhadap dunia. Hal ini didasarkan pada fakta seperti runtuhnya Yugoslavia dan daerah yang terus mengalami kemunduran di sub Saharan Afrika.

Radikalisme berfokus pada lima hal. Pertama, pasca Perang Dingin, sistem internasional mengalami ssedikit perubahan tetapi masih ada pembeda antara Negara yang kaya dengan Negara yang memiliki power. Kedua,  Amerika Serikat ingin menciptakan keamanan dunia. Ketiga, demokrasai bertujuan untuk mengurangi pilihan politik. Keempat, pencapaian Amerika Serikat untuk menguasai dunia. Kelima, Negara barat sebenarnya masih menganut imperialisme pasca Perang Dingin.

Studi Hubungan Internasional muncul dilandasi dengan adanya cita-cita anti-perang pada masyarakat yang tumbuh selama Perang Dunia I. Pada masyarakat ini, sistem politik pemikiran barat telah berakar dalam pikiran mereka dan menimbulkan suatu dampak berupa terjadinya 1900 gerakan perdamaian internasional, dimana dalam hal ini teori perdamaianlah yang menjadi dasar dalam pengembangan lembaga-lembaga internasional baru dan aturan hukum baru yang mengatur perilaku atau hubungan antar Negara.

Setelah berakhirnya Perang Dunia I berakhir pada tahun 1926 maka banyak institusi-institusi dari banyak Negara untuk mencegah terjadinya perang kembali. Woodrow Wilson, sebagai Presiden Amerika Serikat yang menjadi Negara netral, yang menjadi penengah diantara dua kubu yang berperang memutuskan untuk membuat badan  yang menangani tentang masalah-masalah yang terjadi di antara Negara-negara didunia, yaitu League of Nation dan mencetuskan perjanjian diantar dua kubu yang berperang di Perang Dunia I yang dinamakan Treaty of Versailles. Perjanjian yang berisi tentang persempitan wilayah sentral dari Jerman yang menjadi pemasukan utama sangat merugikan Jerman. Tetapi  Jerman harus menandatangani perjanjian itu karena kekalahan Jerman dalam Perang Dunia I. Karena itu sistem pemerintahan di Jerman mulai goyah karena daerah kasa sentralnya telah dibatasi. Termasuk daerah industri bahan-bahan perangakat  besi, logam berat, dan alat-alat berat lainnya. Dan sistem pemerintahan yang mulai tersurut membuat Jerman harus membangun kembali dari awal termasuk juga sistem politik yang terbatasi yang membuat Jerman sedikit menutup hubungannya dengan Negara lain.

Dampak dari Perang Dunia I ini juga mempengaruhi Prancis dan Inggris yaitu di dalam sistem perekonomian. Hutang besar terhadap Amerika sebagai Negara yang memiliki perekonomian terbesar saat itu dalam persenjataan dan bahan-bahan perang dan juga karena mata uang pada saat itu digunakan membuat mereka tertekan untuk melunasi hutang-hutang mereka. Maka dari itu mereka meminta Jerman untuk mensuplai dana untuk melunasi hutang. Padahal pada saat itu Jerman sedang mengalami krisis yang paling kritis akibat kekalahannya pada perang dunia pertama. Sehingga League of Nation memberi pinjaman kepada Jerman untuk mendirikan kembali industri industrinya untuk membayar utang Prancis dan Inggris kepada Amerika. 

Tujuan utama Hubungan Internasional adalah menciptakan perdamaian. Jika berbicara mengenai peradamaian tentu tidak dapat dipisahkan dari perang. Dunia mengalami beberapa tahapan untuk mencapai perdamaian, tahapan yang melibatkan banyak perang dan pengorbanan. Dampak nyata dari Perang Dunia I(1914-1918) dan Perang Dunia II(1939-1945) adalah timbulnya semangat untuk menciptakan perdamaian. Meskipun Perang Dunia telah berakhir, muncul perang baru yang mengatasnamakan ideologi yakni Perang Dingin (pasca Perang Dunia II). Muncul satu harapan bahwa setelah Perang Dingin kondisi dunia lebih stabil, adanya perdamaian dan perbaikan ekonomi. 

Sementara makin jelas peperangan membawa dampak buruk pada stabilitas dunia, para pakar Hubungan Internasional-pun mulai merevolusi berbagai teori menjadi lebih terstruktur dan menggabungkan berbagai aspek anutan dari teori lainnya. Interdepensi antar pahampun ada yang menghasilkan pertentangan menjadi kubu-kubu Negara dan aliansi juga akhirnya nanti menentukan kedua blok  yaitu Blok Barat (Amerika Serikat) dan Blok Timur (Uni Soviet) yang nantinya akan menjadi pemicu terjadinya Perang Dingin. Perlombaan untuk saling menimbulkan pengaruh pada dunia internasional menimbulkan ketegangan sepihak diantara kedua kubu.

Dampaknya makin jelas aliansi terbentuk antar kubu-kubu teori ideologis, menjadi ketiga paradigma Hubungan Internasional. Realisme-Konservatif , Rationalisme-Liberal, dan Revolusionisme-Radikal. Ketiga paradigma dan ideologi politik yang menjadi dasar persinggungan inipun membentuk kubu-kubu Negara yang masing-masing menganut sistem ideologi yang terbaik menurut mereka. Negara adidaya semakin haus kekuatan. Status Anarchy membawa mereka pada keberkuasaan sepihak dan hegemoni dari berbagai sudut dan aspek. Wacana dekolonisasi PBB pun memperlemah posisi inggris dan Negara penjajah lain, Russia dilain pihak semakin gencar meluaskan wilayah teritori ‘ideologi’-nya.

Seperti tokoh realis Morgenthau pernah berkata bahwa power dijelaskan sebagai kemampuan ‘seseorang’ dalam mengendalikan pemikiran dan perilaku dari manusia lainnya sesuai dengan yang Ia kehendaki, sebuah hubungan psikologis antara subjek penerap perilaku dan objek perilakunya (Morgenthau, 1978:30). Begitu juga Negara yang memiliki struktur sama seperti manusia pada masa perang dingin menghasilkan perang psikologis (psy war), yang berdampak dan mempengaruhi paham-paham di Negara aliansi dan Negara yang ingin memunculkan ideologi baru dinegaranya. Seperti kasus Perang Korea dan Perang Vietnam yang merupakan perang kubu Komunis-Russia dengan kubu aliansi Liberal-Amerika.

Pasca Perang Dingin, kemungkinan terjadinya perang nuklir antara Amerika Serikat dan Rusia lebih sedikit dibanding apa yang pernah terjadi antara Amerika Serikat dan Uni Soviet (Cox, 2001:135). Usaha dunia internasional untuk mengontrol penggunaan nuklir dapat dikatakan berhasil. Namun beberapa Negara justru berusaha untuk memiliki kemampuan dalam bidang nuklir, sepert Irak dan Korea Utara.

Setelah berakhirnya Perang Dingin, terjadilah peristiwa 9/11. 9/11 diduga adalah serangan dari kelompok teroris, Al-Qaeda. Peristiwa ini terjadi pada 11 September 2001 di New York, Amerika Serikat. Serangan ini terjadi dengan ditabraknya gedung WTC oleh dua pesawat yang telah dibajak oleh teroris. Peristiwa ini menyebabkan runtuhnya gedung WTC. Pada tahun 2004 Osama bin Laden mengaklaim bahwa dia adalah orang yang bertanggung jawab atas penyerangan ke WTC. Ada beberapa alasan mengapa Osama bin Laden menyerang Amerika Serikat. Pertama dikarenakan karena Amerika Serikat mendukung Israel. Kedua dikarenakan karena adanya tentara Amerika Serikat di Arab Saudi. Dengan diserangnya WTC, Amerika Serikat melakukan serangannya ke Afghanistan untuk menghancurkan kelompok Al-Qaeda.

Pasca Perang Dingin muncul sebuah tatanan baru dalam pola Hubungan Internasional, hanya ada satu Negara yang berpengaruh yaitu Amerika Serikat. Setelah runtuhnya Uni Soviet pada Perang Dingin,  Amerika Serikat menjadi satu-satunya Negara yang mengusai dunia dan tidak ada yag mampu mencegahnya. Masalah yang dikaji dalam Hubungan Internasional juga mengalami perubahan. Masalah lama yang berkaitan dengan ideologi dan militer masih ada namun pasca Perang Dunia lebih memfokuskan pada tiga hal, yaitu lingkungan hidup, hak asasi manusia dan demokratisasi.

 

 

 

Referensi:

 

Knutsen, Torbjorn L. (1997) A History of International Relations Theory, Manchester University Press, [pp. 202-258].

Crockatt, Richard (2001) “The End of the Cold War,” in Baylis, John & Smith, Steve (eds.), The Globalization of World Politics, 2nd edition, Oxford University Press, pp. 92-110.

Cox, Michael (2001) “International History,” in Baylis, John & Smith, Steve (eds.), The Globalization of World Politics, 2nd edition, Oxford University Press, pp. 111-140.

 

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :