Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

Dinamika Hubungan Internasional Semenjak Perang Dunia Hingga Setelah 9/11

Amanda Rizki Yuanita ( 071211233030 / B)

Weekly Assignment 10

Pengantar Ilmu Hubungan Internasional (SOH 101)

Dinamika Hubungan Internasional Semenjak Perang Dunia Hingga Setelah 9/11

 

Perang Dunia I merupakan perang yang terjadi antara tahun 1941-1918. Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya Perang Dunia I, yaitu faktor mengenai wilayah, bisa dikatakan mengenai wilayah teritorial suatu negara yang ingin memperluas wilayah yang nantinya akan dimiliki. Pada Perang Dunia I negara-negara yang berperan serta dalam melakukan perang kebanyakan dari negara-negara Eropa karena dengan adanya hal semacam inilah yang menyebabkan munculnya sistem aliansi-aliansi. Aliansi-aliansi tersebut ialah tripple alliance yang beranggotakan Jerman, Austria-Hungaria, Italia, serta terdapat pula tripple entente yang beranggotakan Perancis, Inggris, Rusia. Namun, terdapat pula faktor karena perlombaan senjata,  pengaruh Darwinisme Sosial,  sampai krisis rempah-rempah di kota Bremen dan Hamburg, Jerman. Hal-hal yang telah disebutkan tadi merupakan faktor-faktor umum yang menyebabkan Perang Dunia I. Selain faktor umum, terdapat juga faktor khusus yang menyebabkan Perang Dunia I seperti perang ini dapat terjadi karena disebabkan oleh terbunuhnya Pangeran Franz Ferdinand dari Austria-Hungaria oleh anggota kelompok teroris Serbia. Terbunuhnya Pangeran Franz ini menyebabkan Austria mengeluarkan ultimatum kepada Serbia karena merasa tidak terima dengan terbunuhnya Pangeran Austria tersebut. Ultimatum seperti ini maka terdapatlah perang yang bisa dikatakan sebagai awal munculnya Perang Dunia I. Saat Austria dan Serbia melakukan perang, disini Jerman juga menyatakan perang ke Rusia dan Perancis. Lalu, Inggris membantu Rusia dan Perancis karena Inggris merupakan bagian dari tripple entetnte.

Dalam Perang Dunia I terdapat blok-blok, yaitu blok sentral yang diketuai oleh Jerman dan terdiri dari empat negara, antara lain Jerman, Austria, Turki, dan Bulgaria, serta blok sekutu yang diketuai oleh Perancis dan terdiri atas 23 negara, yaitu Perancis, Inggris, Serbia, Belgia, Rumania, Portugal, Jepang, dan negara-negara Eropa Barat lainnya. Perang Dunia I dinyatakan usai dengan ditandai dengan adanya Perjanjian Versailles (1919). Namun, perjanjian ini menyebabkan pihak Jerman merugi karena Jerman kehilangan daerah jajahannya, berkurangnya angkatan bersenjata, dan pembayaran ganti rugi akibat Perang Dunia I. Hal seperti ini terjadi kepada pihak Jerman karena Jerman dianggap sebagai provokator. Dengan adanya pengalaman perang semacam ini menyebabkan presiden Amerika Serikat, Woodrow Wilson, menggagas adanya LBB (Liga Bangsa-Bangsa). LBB dibuat untuk menciptakan perdamaian dunia (Jackson & Sorensen, 2005 : 49). Namun, LBB ini gagal dalam menjalankan kewajibannya untuk menciptakan perdamaian dunia. Dengan gagalnya LBB dalam menjalankan tugasnya menyebabkan Amerika Serikat mengurungkan niatnya untuk bergabung dalam organisasi tersebut, begitu pula dengan Jerman dan Rusia yang mengurungkan niatnya itu. Lalu terdapat paham fasisme yang diterapkan di Italia yang dipelopori oleh Mussolini, Hitler yang merupakan Nazi Jerman, dan fasisme militer di Jepang oleh Tenno Meijii. Paham inilah yang menyebabkan LBB mengundurkan diri. Selain itu, menjadi latar belakang pecahnya PD II.

Sejak Perang Dunia I, setelah berkembangnya Nazi oleh Hitler, Jerman kembali bangkit, bahkan menjadi lebih agresif. Perang Dunia II dimulai ketika Jerman menyerang Polandia yang dibantu oleh Inggris dan Perancis. Pada saat ini pula, Jepang melakukan tindakan dengan mengebom pangkalan AL Amerika Serikat, Pearl Harbor. Dengan dibomnya pangkalan tersebut menyebabkan Amerika Serikat marah terhadap Jepang dan akhirnya Amerika Serikat berperan serta dalam Perang Dunia II tersebut. Namun, pihak Amerika Serikat melakukan perang balasan terhadap Jepang dengan mengebom dua kota besar, yaitu Hirosima dan Nagasaki. Dengan dibomnya kedua kota ini menyebabkan Jepang menyarah tanpa syarat terhadap Amerika Serikat. Dampak yang ditimbulkan oleh Perang Dunia II ini menimbulkan efek hingga ke berbagai belantara dunia. Selain itu, Amerika Serikat yang dibantu oleh Uni Soviet dan beberapa negara sekutu berhasil menundukkan Jerman, yakni dengan memakai Konferensi Postdam (1945), yang nantinya menjadikan Jerman menjadi dua bagian, yaitu Jerman Barat dan Jerman Timur dan terdapt pula Perjanjian San Fransisco (1951) tentang pendudukan Jepang oleh tentara Amerika Serikat. Dapat diketahui bahwa dahulu negara yang memegang jabatan sebagai negara adikuasa adalah Inggris, namun kali ini setelah Perang Dunia II yang memegang jabatan sebagai negara adikuasa ialah Amerika Serikat dan Uni Soviet. Namun, kedua negara ini memiliki dua ideologi yang berbeda, antara lain Amerika Serikat yang berideologi liberal dan Uni Soviet yang berideologi komunis. Semenjak adanya Perang Dunia II baik Amerika Serikat maupun Uni Soviet telah membangun pengaruh dan menyebabkan terjadinya atau adanya blok barat dan blok timur. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya Perang Dingin (1947-1991). Pada dasarnya perang ini terjadi karena adanya perang mengenai ideologi. Namun, dengan munculnya perang tersebut sebenarnya kedua negara adikuasa tersebut tidak pernah mengalami kontak fisik senjata antara satu sama lain, tetapi perang ini telah menyebabkan terjadinya peperangan seperti halnya perang Korea, Vietnam, perang di Hungaria. Selain itu, terjadinya krisis di Kuba dan menyebabkan krisis yang tengah terjadi di Timur Tengah menjadi lebih kompleks karena Perang Dingin tersebut.

Pada tahun 1980an, Mikhail Gorbachev melaksanakan program reformasi, restrukturisasi ekonomi, dan keterbukaan politik. Secara perlahan akhiranya Uni Soviet kehilangan kuasanya terhadap Eropa Timur dan hal ini merupakan salah satu sebab bagaimana Perang Dingin usai. Selain itu, usainya perang ini ditandai juga dengan runtuhnya Tembok Berlin yang saat itu menjadi pemisah antara Jerman Barat dan Jerman Timur. Setelah berakhirnya Perang Dingin tersebut isu-isu hubungan internasional mengalami pergeseran dan tidak hanya fokus pada kepentingan nasional saja, melainkan berfokus terhadap tata kelola hubungan antarnegara dan tidak hanya mengenai masalah ideologi, tetapi juga mengenai dinamika internasional yang kurang jelas, keamanan regional, ekonomi-politik internasional, dan hak asasi manusia. Namun, dapat diketahui bahwa dengan adanya Perang Dingin teersebut telah memberikan dampak bagi berkembangnya teknologi (Wardhani, 2012).

Selain itu, terdapat isu-isu yang digembor-gemborkan oleh Bush, ini dikarenakan terjadinya tragedi 11 September 2001, yakni ketika menara kembar WTC dan Pentagon di AS ditabrak atau dapat dikatakan dihancurkan oleh teroris Al-Qaeda dengan menggunakan 4 pesawat penumpang komersial. Tragedi ini menewaskan lebih dari 2000 warga, dan menyisakan luka dalam bagi warga Amerika Serikat. Lalu Amerika Serikat yang didukung oleh Piagam NATO, memimpin sebuah koalisi ad hoc untuk memerangi organisasi teroris dengan jangkauan global. Selain itu, Amerika Serikat juga menginvasi Afganishtan untuk menggulingkan rezim Taliban, yang dicurigai menyediakan tempat berlindung untuk Osama bin Laden dan organisasi Al-Qaeda, dari tragedi inilah teroris diangkat menjadi musuh utama dunia. Pada dasarnya terorisme ini sulit untuk diatasi dan butuh kerja sama karena teroris selalu punya koneksi dan selalu melakukan kaderisasi. Dengan upaya mengatasi hal semacam ini perlu terus digalakkan dan dikembangkan karena dasarnya masalah terorisme ini adalah tanggung jawab dunia internasional. Studi Hubungan Internasional mulai muncul semenjak (after) Perang Dunia I karena pada Perang Dunia I telah mengalihkan perhatian masyarakat dunia. Selain itu, perkembangan akan teknologi pada masa Perang Dingin telah memengaruhi dampak yang sangat positif karena dengan hal ini telah membantu banyak bagi sebagian orang yang mendalami studi hubungan internasional dalam hal menjalankan aksinya. Dengan kata lain, pada masa Perang Dingin telah memberikan dampak perubahan yang sangat besar untuk seluruh bidang dan mampu untuk mempelajari bagaimana metologi dalam memecahkan masalah dengan cara melakukan perjanjian-perjanjian yang menjadi kajian dalam bidang studi Hubungan Internasional.

 

Referemsi :

  • Jackson, Robert & Georg Sorensen. 2005. Pengantar Studi Hubungan Internasional.

Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

  • Wardhani, Baiq L. S., Between World Wars and 9/11 , materi disampaikan pada kuliah

Pengantar Ilmu Hubungan Internasional, Departemen Hubungan Internasional,

Universitas Airlangga, 19 November 2012.

 

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :