Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

Tugas PIHI kelompok minggu ke-10

Studi Hubungan Internasional sendiri tidak begitu saja muncul ke permukaan dalam bentuk yang ada seperti saat ini, namun juga memiliki sejarah perkembangannya yang cukup panjang dan rumit. Banyak perdebatan di dalamnya yang mempertanyakan teori-teori dan praktik yang berjalan selama perkembangan Hubungan Internasional. Beberapa berpendapat bahwa studi Hubungan Internasional ini lebih condong ke arah bagaimana masyarakat berpikir dan cara mereka melihat dunia secara global. Akan tetapi, perdebatan-perdebatan lain mengenai apa dan bagaimana seharusnya Hubungan Internasional dipelajari juga berlangsung sejak awal tumbuhnya Hubungan Internasional. Ada beberapa perdebatan besar yang biasa disebut dengan The Great Debate yang muncul selama perkembangan Hubungan Internasional.

Realisme sudah menjadi teori yang cukup berpengaruh pada dunia politik sejak awal dari studi ilmu Hubungan Internasional. Realisme mempunyai sejarah yang sangat lama. Realisme terus menarik akademisi dan menginformasikan para policy-makers, meskipun berlalunya Perang Dingin telah menjadi kebangkitan nasib liberalisme (Dunne & Schmidt, 2001:145). Asumsi dasar realisme, antara lain pandangan pesimis atau sifat manusia, keyakinan bahwa hubungan internasional pada dasarnya konfliktual dan bahwa konflik internasional pada akhirnya diselesaikan melalui perang, menjunjung tinggi nilai-nilai keamanan naisonal dan kelangsungan hidup negara dan skeptisisme dasar bahwa terdapat kemajuan dalam politik internasional seperti yang terjadi dalam kehidupan politik domestik. Selain itu, terdapat pandangan dari Thucydides, Machiviavelli, Hobbes, dan kaum realis lainnya, mereka berpendapat bahwa merekaberjalan dengan asumsi dasar bahwa politik dunia berkembang dalam anarki internasional, yaitu adanya sistem tanpa didampingi dengan adanya kekuasaan yang berlebihan, tidak ada pemerintahan dunia (Jackson & Sorensen, 1999 : 68). Terdapat pemikiran dari kaum realis yang menyebutkan bahwa manusia digambarkan sebagai makhluk yang selalu gelisah akan keselamatan dirinya dalam hubungan persaingannya dengan yang lain. Mereka berjuang untuk mendapatkan “yang terkuat” dalam menjalankan hubungannya dengan yang lain dan tujuan mereka bukanlah untuk mengambil keuntungan. Namun, terdapat pandangan yang menyebutkan bahwa kaum realis itu melihat hubungan internasional pada dasarnya konfliktual dan konflik tersebut diselesaikan dengan jalan melalui perang.

Pengelompokan jenis realism adalah hal yang penting. Pengelompokan yang terpenting adalah antara mereka yang melihat realisme sebagai lisensi untuk mengambil tindakan yang diperlukan untuk menjamin kelangsungan hidup politik (historical realist) dan mereka yang melihatnya sebagai kondisi permanen konflik atau persiapan untuk konflik di masa depan (structural realist). Structural realism terbagi menjadi dua, yaitu mereka yang menekankan sifat manusia sebagai struktur (structure realism I) dan mereka yang mempercayai bahwa anarchy adalah struktur yang mempunyai berbentuk dan lebih merepresentasikan tingkah laku sebuah negara (structure realism II)

Structure realism I mempunyai pandangan bahwa internasional politik didorong oleh perjuangan tanpa akhir untuk mendapatkan kekuasaan yang berakar pada sifat manusia. Structure realism II mempunyai pandangan bahwa realism bukanlah sifat manusia namun sistem anarkis yang meningkatkan rasa takut, kecemburuan, kecurigaan, dan ketidakamanan. Konflik dapat muncul bahkan jika pelaku memiliki niat yang baik dengan satu sama lain. Historical realism mempunyai ide bahwa realisme politik adalah prinsip-prinsip yang tunduk kepada kebijakan, yang terpenting adalah kemampuan pemimpin negara adalah untuk menerima dan beradaptasi dengan perubahan konfigurasi kekuasaan politik di dunia politik (Dunne & Schmidt, 2001:149). Dalam Realisme juga dapat ditemukan kelompok liberal realism yang menolak ide dari historical dan structural realist. Realisme liberal juga percaya bahwa perang dapat dikurangi dengan manajemen kekuasaan oleh negara-negara terkemuka dalam sistem dan pengembangan tersebut sebagai diplomasi dan hukum internasional.

Kaum realis sangat menekankan mengenai keseimbangan diantara kekuatan satu dengan yang lainnya karena hal itu merupakan tujuan yang sah dan petunjuk bagi ketatanegaraan yang tugasnya bertanggung jawab pada pemimpin-pemimpin negara. Hal ini dilakukan untuk menegakkan nilai-nilai dasar perdamaian dan keamanan. Terdapat tradisi masyarakat internasional yang melakukan kritik terhadap realisme dalam dua hal, yaitu masyarakat internasional beranggapan bahwa realisme sebagai teori Hubungan Internasional satu dimensi yang terlalu sempit dalam pemfokusannya. Selain itu, masyarakat internasional menyatakan bahwa realisme gagal mencakup perluasan dimana politik internasional adalah suatu dialog aliran-aliran dan perspektif-perspektif Hubungan Internasional yang berbeda.

Politik internasional selalu bertarung untuk mendapatkan power, tetapi apakah yang sebenarnya realis maksud dengan power? Menurut Morgenthau, power adalah seseorang mengontrol dan mengendalikan perbuatan dari orang lain. Ada 2 poin yang penting para realis buat tentang konsep power yang merupakan konsep yang sulit untuk dipahami. Pertama, power adalah relasional konsep yang berarti seseorang tidak menjalankan kekuasaan dalam ruang hampa, tetapi dalam kaitannya dengan entitas lain. Kedua, power adalah konsep relatif perhitungan perlu dibuat bukan hanya untuk menghitung kemampuan kekuasaan sendiri tetapi tentang kekuasaan yang aktor negara lainnya memiliki (Dunne & Schmidt, 2001:150).

Realisme mempunyai tiga elemen. Pertama adalah statisme. Statisme adalah pusat Realisme. ini melibatkan dua klaim. Pertama, untuk teori ini, negara adalah aktor unggulan dan semua aktor lain dalam politik dunia. Kedua, 'kedaulatan' negara menandakan adanya komunitas politik independen, salah satu yang memiliki otoritas yuridis atas wilayahnya.

Kedua adalah survival. Tujuan primer dari semua negara adalah survival. Ini meruapakan  kepentingan nasional tertinggi yang semua pemimpin politik harus mematuhi. Semua tujuan lain seperti kemakmuran ekonomi adalah tujuan yang bersifat sekunder. Dalam menjaga keamanan negara mereka, pemimpin harus mengadopsi kode etik yang menilai tindakan sesuai dengan hasil bukan dalam hal tindakan individu yang benar atau salah.

Ketiga adalah self-help. Tidak ada negara lain yang dapat diandalkan untuk menjamin survival negara kita. Dalam politik internasional, sistem tidak mengizinkan persahabatan, kepercayaan, kehormatan. Koeksistensi yang kita dapatkan dari keseimbangan kekuasaan, dan kerjasama yang sifatnya terbatas dimungkinkan dalam interaksi di mana negara realis berdiri untuk mendapatkan lebih dari negara lain (Dunner & Schmidt, 2001:155).

Realisme adalah perjuangan untuk kekuatan militer untuk memastikan baik kelangsungan hidup dan konservasi kepentingan nasional. Hal ini mempengaruhi Hubungan Internasional, seperti yang terlihat dalam hal keseimbangan kekuasaan. Hal ini mendorong perang sebagai interaksi antarnegara yang paling dasar dan alami. Banyak sekali kejadian nyata seperti kerusakan perang adalah suatu hal yang akan menimbulkan dampak yang memiliki sifat yang berjangka panjang maupun pendek dan sifatnya berbahaya.

Liberalisme dalam Hubungan Internasional memiliki arti moral, hukum dan organisasi internasional dapat membentuk dasar dalam hubungan antar negara,  sifat manusia yang baik, kerja sama antar negara itu mungkin terjadi dan negara bisa berkembang sebagai sebuah komunitas daripada hanya agen otonom untuk mencapai kepentingan sendiri (Goldstein, 2005:101). Liberalisme merupakan suatu pandangan optimis, yakin akan adanya perdamaian. Perang merupakan hal yang ditentang dalam pandangan liberalisme. Hubungan Internasional juga dipandang secara positif, yakni mampu menyelesaikan masalah global dan menciptakan perdamaian. John Locke berpendapat bahwa negara ada untuk menjamin kebebasan rakyatnya dan memungkinkan rakyatnya untuk hidup sesuai kehendaknya untuk mencapai kebahagiaan. Individu-individu ini akan hidup bersama untuk bekerjasama didasari atas toleransi. Liberalisme meyakini bahwa dengan kerjasama yang semakin kuat maka perdamaian lebih mudah tercapai.

Power sering diartikan negatif  karena dipandang mampu membawa konflik dan disintegrasi. Dalam pandangan liberalisme power memiliki arti tersendiri. Power bukanlah alat untuk menguasai pihak lain tetapi power merupakan alat untuk mencapai tujuan yang diinginkan (Goldstein, 2005:103). Sumber power dalam liberalisme adalah keinginan dari berbagai pihak untuk berinteraksi dan bekerjasama satu sama lain.

Hubungan Internasional memiliki cakupan yang luas, tidak hanya hubungan antar negara, tetapi juga menyangkut hubungan antar individu, kelompok dan organisasi internasional (Jackson&Sorensen, 1999:113). Berbagai keberagaman dalam Hubungan Internasional akhirnya menimbulkan keberagaman atau pluralisme. Dalam bukunya World Society, John Burton memperkenalkan Cobweb Model. Cobweb Model menggambarkan dunia terdiri dari berbagai kelompok yang berbeda dan saling berhubungan satu sama lain. Selain itu Cobweb Model mengimplikasikan bahwa dunia lebih dikendalikan oleh perdamaian daripada konflik.

Negara dan individu yang ada di dalamnya dipengaruhi oleh faktor eksternal yaitu apa yang terjadi di belahan bumi lain. Modernisasi dalam liberalisme dipandang sebagai suatu proses untuk memperluas kerjasama dan mempengaruhi area yang luas dalam kehidupan manusia (Jackson&Sorensen, 1999:110). Proses ini memiki tujuan untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi umat manusia. Dengan semakin berkembangnya modernisasi hal-hal yang berkembang di dunia tidak hanya terbatas pada penguasaan wilayah dan militer tetapi beralih pada hal-hal yang berkaitan dengan akses informasi dan ekonomi. Selain itu modernisasi membawa dampak ketergantungan antar negara, aktor-aktor lintas negara memiliki peran yang semakin penting, kekuatan militer dipandang tidak penting dan isu mengenai kesejahteraan lebih mendapatkan perhatian Ini membuktikan bahwa modernisai sebagai sebuah proses mampu berkembang sesuai dengan perkembangan zaman sehingga mudah diterima dalam berbagai bidang ilmu.

Institusi liberalisme mampu mendukung kerjasama antar negara. Institusi liberalisme memfokuskan pada hal-hal tertentu, misalnya perdagangan dan investasi yang merupakan spesifikasi dari bidang ekonomi. Contoh nyata dari institusi liberlisme adalah WHO yang berada dalam naungan UN.

Perdebatan antara para realis dengan idealis yang berlangsung sebelum, selama, dan sesudah Perang Dunia II terjadi. Selama waktu tersebut, para idealis menghendaki minimalisasi atau pengontrolan perang yang berlangsung dengan peran HI. Sedangkan, menurut para realis, apa yang dikemukakan oleh para idealis terhadap HI terlalu ilmiah dan tidak sistematis.

Ini pada dasarnya perdebatan metodologi seputar kepercayaan Behaviouralis bahwa IR hanya dapat mengajukan dirinya sendiri dengan menerapkan metode ilmu naturalis. Mereka percaya bahwa lapangan itu terlalu didominasi oleh sejarawan, yang mereka berlabel Tradisionalis, yang mengambil pandangan bahwa IR harus dikembangkan melalui metode historis yang lebih interpretatif. Fokus Behaviouralist pada pengamatan sistem dan bahwa mereka analisis, harus tunduk pada pengujian empiris, terutama melalui pemalsuan. Bahwa pengetahuan Hubungan Internasional dapat semakin dibangun, memungkinkan untuk intuisi yang lebih besar dan kemajuan dalam pengembangan teori. Behaviouralisme juga dikritik atas apa kelemahan yang ada dalam mempelajari Hubungan Internasional. Itu merupakan dasar dari positivisme dan sehingga aplikasi yang ketat akan berarti menolak faktor yang tidak dapat diukur, seperti persepsi manusia dan motivasi dan juga akan mencegah perkembangan teori normatif karena mereka berfokus pada empiris tidak diuji. kritik juga ditujukan pada praktek awal Behaviouralism tentang seharusnya memisahkan teori dan nilai-nilai dari pengamatan. Kekuatan tradisionalisme menjadi kemampuan peneliti untuk menganalisis proses temuan, dengan dampak termasuk dorongan dari para ahli Hubungan Internasional.

 Perdebatan mengenai “neo-neo” sudah menjadi fokus dominan dalam Hubungan Internasional di Amerika Serikat selama 10-15 tahun. Neorealism dan Neoliberalism merepresentasikan paradigma atau konseptual mengenai sebuah kerangka yang membentuk individu-individu di dunia dan mempengaruhi prioritas dalam mengambil sebuah kebijakan dalam sebuah perdebatan. Seperti pada realisme, Neo-realisme masih memandang bahwa negara merupakan unsur yang terpenting dalam suatu hubungan internasional. Teori mengenai neorealism diecetuskan oleh seorang neorealis terkenal bernama Kenneth Waltz. Menurut Kenneth Waltz (1979) dalam bukunya Theory of International Politics, ia menyatakan bahwa neorealism merupakan sebuah sistem internasional yang bersifat anarki yang mana berarti tidak ada kekuasaan yang lebih tinggi di atas negara. Waltz sendiri mendefinisikan anarki sebagai tidak adanya pemerintahan di dunia. Selain bersifat anarki, berdasarkan pendapat Waltz, negara-negara penyusun sistem internasional harus mampu untuk menjalankan kegiatan yang berhubungan dengan kelangsungan pemerintahan negara mereka, baik dari segi keamanan, pertahanan, maupun perekonomian. Teori Kenneth Waltz mengenai struktural realisme hanyalah salah satu versi tentang neorealisme. Kelompok kedua dari neorealis, memiliki pemikiran, kontribusi ilmiah, serta ide-ide yang diwakili oleh Joseph Grieco, dimana ide-ide itu telah terintegrasi dengan ide Waltz dan ide dari orang-orang realis tradisional seperti Hans Morgenthau, Raymond Aron, dan Robert Gilpin.

Selain itu, menurut Waltz, neo-realism memiliki pembeda yang khas yang membedakannya dari teori realisme tradisional dalam beberapa hal. Pertama, realisme merupakan sebuah teori induktif. Dalam hal ini, Hans Morgenthau memberi contoh mengenai politik internasional dengan melihat tindakan dan interaksi antar negara-negara dalam suatu sistem. Kedua, adanya pandangan yang berbeda mengenai pengertian power antara pendapat dari tradisional realist dengan pendapat Waltz di neo-realism. Untuk realist, mereka menyatakan bahwa power merupakan tujuan itu sendiri. Sedangkan menurut neorealist, Waltz menyatakan bahwa power merupakan akumulasi dari kekuatan sumber-sumber militer dan kemampuan untuk menggunakan power tersebut untuk memaksa dan mengontrol negara lain dalam sebuah sistem internasional. Waltz dan neorealist lainnya melihat power sebagai kombinasi dari kemampuan sebuah negara, yang mana dalam sistem internasional negara dinilai berdasarkan power nya bukan berdasarkan fungsinya.

Sedangkan neo-liberalisme lebih fokus kepada integrasi regional dan mengurangi konflik. Kegagalan kaum liberalis dalam membentuk Liga Bangsa-Bangsa tidak membuat nyali mereka ciut dalam mengahadapi kritik dari kaum realis dan neo-realis. Salah satu bentuk dari integrasi regional kaum neo-liberalis yaitu Uni Eropa. Di sini, seolah-olah semua negara di Eropa melebur jadi satu, batas negara menjadi transparan, dan mata uang mereka diseragamkan, menjadi Euro (kecuali Inggris yang masih mempunyai hak menggunakan Poundsterling). Tokoh neo-liberalis yang terkenal yaitu Keohane dan Joseph Nye.

 

 

Referensi:

Jackson, R., & Sorensen, G. (1999) Introduction to International Relations, Oxfor University Press, [Chapter 3, 4, 5]

Goldstein, Joshua S. (2005) International Relations, Pearson/Longman, [pp. 101-111].

Baylis, John & Smith, Steve (eds.) (2001), The Globalization of World Politics, 2nd edition, Oxford University Press, [Part 2 Chaps. 7-11]

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :