Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

Great Debates : Realism vs Liberalism ; Traditionalism vs Positivism

Amanda Rizki Yuanita (071211233030 / B)

Weekly assignment 11

Pengantar Ilmu Hubungan Internasional (SOH 101)

Great Debates : Realism vs Liberalism ; Traditionalism vs Positivism

Perkembangan pemikiran dalam studi Hubungan Internasional menjadi kian kompleks. Dengan berkembangnya pemikiran terhadap studi Hubungan Internasional ini telah mengakibatkan terjadinya perdebatan besar. Perdebatan besar bukanlah terjadi begitu saja, namun perdebatan ini terjadi karena adanya perbedaan antar satu pendapat dengan pendapat lain dan pendapat itu menjadi kian berkembang seiring jalannya waktu. Dapat dikatakan bahwa Hubungan Internasional yang muncul dari zaman dahulu hingga saat ini terjadi karena adanya perkembangan teori-teori yang berdasarkan atas pemikiran yang berbeda-beda. Terdapat tiga perdebatan besar yang terjadi sejak HI dikatakan menjadi subjek akademik dan sekarang ini termasuk dalam perdebatan yang keempat (Jackson & Sorensen, 2005:45). Namun, kali ini akan dibahas tentang great debates yang pertama dan yang kedua, yaitu realism vs liberalism dan traditionalism vs behavioralism. Perdebatan pertama yang terjadi ini diakibatkan karena adanya bagaimana cara pandang atau berpikir yang dominan tentang hubungan internasional. Perdebatan ini terjadi antara rentang waktu tahun 1920-1940 dan pada masa ini terdapat isu politik bagaimana untuk membangun perdamaian internasional. Dalam hal ini kaum liberalis untuk mencapai agar tidak terjadinya perang, para kaum realis ini berpikir untuk membuat sebuah wadah yang nantinya akan berfungsi dalam melaksanakan tugas tersebut, yaitu melaksanakan perdamaian dunia. Agar tercapainya perdamaian dunia ini kaum liberalis memerlukan adanya sebuah organisasi yang nantinya dapat mewujudkan hal tersebut dan hal ini telah tercapai dengan terbentuknya Liga Bangsa-Bangsa.

Liberalisme landasan internasionalisme liberal diletakkan pada abad ke-18 dan 19 oleh kaum liberal ketika mengajukan suatu syarat bagi sebuah tatanan dunia yang damai. Ikhtisarnya secara umum, kaum liberal menyimpulkan bahwa prospek penghapusan perang berada pada keinginan untuk lebih memilih demokrasi daripada aristokrasi, perdagangan bebas daripada autarki, dan keamanan bersama daripada keseimbangan sistem kekuasaan. Menurut kaum liberal, perdamaian merupakan permasalahan negara yang lazim : istilah Kant, perdamaian bisa bersifat abadi. Hukum alam mengatur keselarasan dan kerjasama antara manusia. Oleh karenanya, perang itu tidak alami dan tidak masuk akal dan perang merupakan alat buatan dan bukanlah hasil dari hubungan sosial atau keganjilan sifat manusia yang tak sempurna (Burchill & Linklater, 1996:41). Kaum liberal dikatakan lebih memilih sebuah dunia yang endogin (berasal dari dalam) menentukan exogenous (yang ada di luar) karena kaum liberal melakukan pendekatan “dari dalam ke luar” (inside-out) terhadap hubungan internasional.  Selain itu, terdapat pemikiran dari kaum realis yang dikatakan dominan atau lebih berpengaruh terhadap (dalam) hubungan internasional karena dalam praktek diplomasi internasional yang telah menempatkan posisinya dalam posisi penting. Kekuatan tradisi kaum realis terletak pada kemampuannya menyatakan argumen karena kebutuhan. Tradisi kaum realis berusaha menjabarkan realitas, memecahkan masalah dan memahami keberlangsungan politik dunia. Dalam menyelesaikan tugas ini tradisi dari kaum realis, yaitu dengan membangkitkan sebuah filsafat, dengan Hobbes, Rousseau, dan Machiavelli yang mencoba kembali melengkapi teori dengan otoritas klasikisme. Dengan cara ini, realisme kembali menekankan kekekalan dan pentingnya kontinuitas dalam penelitian teoritis.Perhatian normatif dengan permasalahan sebab-sebab perang dan keadaan damai, keamanan dan ketertiban yang menjadi pedoman penelitian dan pengajaran Hubungan Internasional karena semua itu pada intinya merupakan permasalahan-permasalahan yang penting. Realisme membicarakan masalah-masalah ini secara langsung dengan mengistimewakan interaksi dan distribusi kekuasaan global di atas pertimbangan lain. Realisme menjelaskan kompetisi dan konflik yang tidak bisa dihindari antar negara dengan menyoroti sifat tidak aman dan anarkis dari lingkungan internasional.Pemikiran kaum realis inilah yang menyebabkan jatuhnya pemikiran dari kaum liberalis, karena hal inilah yang menyebabkan pemikiran realislah yang digunakan dalam Hubungan Internasional.

Perdebatan pertama yang terjadi ini tidak kalah pentingnya dari perdebatan kedua yang terjadi diantara traditionalism dengan behavioralism. Bedanya disini tradisionalisme menggunakan metode holistik dan kaum behavioralisme lebih mengedepankan metode ilmiahnya dalam menjelaskan fenomena yang terjadi dalam hubungan internasional.Jadi, pendekatan tradisional dapat dikatakan sebagai pendekatan holistik, yang dimana menerima kompleksitas dunia manusia, yang memahami dengan cara-cara kemanusiaan, tidak menggunakan metodologi eksplisit.Inti yang didapat ialah pendekatan tradisionalisme ini tidak membuat kerangka hipotesis serta pengujiannya, juga tidak ada alat-alat observasi yang formal serta tidak mengumpulkan dan mengorganisasikan data yang ada. Kaum behavioralis mempunyai cara sendiri, yaitu dengan mengedepankan pada metode dan metodologi saja. Menjadi ilmuwan daripada behavioralisme ini mengarah pada kegiatan observasi terhadap sebanyak mungkin kasus demi mencari pola berulang. Memang behavioralisme terlihat mendominasi, tetapi akhirnya juga tidak ada yang menang dari perdebatan ini, buktinya keduanya sama-sama digunakan dalam studi HI, yang dimana nantinya melahirkan konsep neorealisme dan neoliberalisme (Jackson & Sorensen, 2005:62). Perdebatan-perdebatan yang terjadi kali pada masa perkembangan Hubungan Internasional dari dahulu hingga sekarang ini memang mengalami perkembangan yang sifatnya berbeda-beda dalam cara berpandangnya. Namun, dengan adanya banyak pemikiran-pemikiran tentang paham-paham yang terjadi ini membuat kaya akan paham-paham yang nantinya dimiliki oleh studi hubungan internasional itu sendiri. Dengan banyaknya paham-paham yang berkembang inilah akan dapat mengakibatkan terjadinya perbedaan antara cara pandang seseorang mengenai paham yang ia pandang atau menjadi sebuah pedoman yang nanti ia miliki, yang mungkin ia pandang dalam sisi positifnya namun bisa saja bagi pihak lain dapat mengatakan atau berpandangan bahwa pandangan yang ia pandang itu dikatakan negatif.

 

 

 

Referensi :

Jackson, Robert & Georg Sorensen. 2005. Pengantar Studi Hubungan Internasional. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Burchill, Scoot & Linklater, Andrew. 1996. Theories of International Relations. New York: ST Martin's Press, INC

 

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :