Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

Tugas PIHI Kelompok minggu ke-11

PENGANTAR ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL

Kelompok 4 B

Nama Anggota:

1.      Ika Devi Hardianti         (071211232011)

2.      Nikki Samuasa               (071211232018)

3.      Amanda Rizki Y.           (071211233030)

4.      Ashfar Tito Dauli           (071211233044)

5.      Nanda Prasetya P.          (071211233049)

 

Positivisme vs Postmodernisme 

Dalam Hubungan Internasional, dinamika dan sejarah masa lalu sangat berkaitan satu sama lain, masing-masing pihak teoritis dapat memunculkan pemahaman baru yang dapat berupa penyesuain atau adaptasi terhadap permasalahan politik atau aspek lain yang baru dan paling krusial di tiap zamannya. Teori bermunculan, berargumen, berkembang dan memberi pengaruh terhadap studi dan teori praktikal dalam rangka kontribusinya terhadap sistem internasional. Memasuki era baru dimana beberapa teori dan pendekatan sudah mendekati bahkan telah mencapai tahap yang dianggap mapan dan diasumsikan terealisasikan dengan baik, ternyata di lain pihak banyak faktor yang membuat desakan untuk fleksibilitas pembaharuan sistem pemikiran dan bagaimana menerapkan secara metodologis bukan hanya diungkap secara eksplisit melalu serangkaian teori-teori. Fokus sebuah pendekatan atau teori diharapkan dapat mencari setiap masalah atau solusi tepat benar bagi prioritas pemecahan masalah global pada waktunya. Inisiatif tiap teoritis bermunculan kritis dan masing-masing mengangkat nilai yang penting serta independen. Perbedaan interpretasi seringkali menimbulkan tabrakan atau collision terhadap implementasi ke arah yang progesif. Hal ini dapat memperlambat lajunya dan konsistensi sebuah teori. Perbedaan yang terelakkan membuat para teoris saling bersahutan dalam mengunggulkan teori mereka masing-masing. Peristiwa ini dalam studi Hubungan Internasional sering disebut kajian akbar atau The Great Debates.

Positivisme adalah sebuah tren dalam filosofi yang menyatakan tentang ilmu pengetahuan alam  sebagai sumber awal dari pengetahuan yang sebenarnya menolak nilai kognitif dari studi filosofi. Positivisme merespon ketidakmampuan filsofi spekulatif, contohnya  Classical German Idealism untuk memecahkan permasalahan filosofis yang muncul karena hasil dari perkembangan ilmu. Positivis menjadi oposisi ekstrem dan menolak spekulasi teori sebagai pengetahuan yang diperoleh. Positivisme menyatakan bahwa semua permasalahan yang tidak terselesaikan, konsep dan pendekatan dari filosofi atau teori tradisional yang berlaku, substansi dan penyebab yang tidak dapat dipecahkan atau diverifikasi oleh pengalaman dikarenakan derajat tinggi dari alam yang abstrak.

Positivisme mengklaim dirinya sebagai doktrin yang bersifat fundamental yang baru, filosofi non-metafisik, dibentuk melalui ilmu yang empirik dan dilengkapi dengan metodologinya sendiri. Positivisme pada dasarnya adalah empiris yang dibawa menuju konsekuensi logis ekstrim dalam beberapa pemahaman seperti kebanyakan pengetahuan pada umumnya yang merupakan pengetahuan empiris dari satu bentuk ke bentukan lainnya, tidak ada spekulasi yang dapat menjadi pengetahuan. Positivisme tidak dapat dipisahkan dari filosofi tradisional, karena pendekatannya sendiri  yang menjadi tidak dapat diverifikasi oleh pengalaman dan, secara konsekuensif menjadi metafisik.

            Positivisme dicetuskan oleh Auguste Comte, beliaulah yang memperkenalkan pendekatan “positivisme”.  Sebenarnya, ada 3 tingkat atau fase dalam perkembangan teori positivisme. Para teorisnya adalah Comte, E. Littre dan P.Laffitte di Prancis, J S Mill dan Herbert Spencer di Inggris. Sejalan dengan permasalahan dari teori pengetahuan (Comte) dan logisme (Mill), Posisi utama dari Positivisme pertama diperkenalkan dalam sosiologi (Ide Comte dalam mentransformasi  dasar ilmu sosiologi , Asal dari teori masyarakat Spencer.

            Kebangkitan dari fase kedua dari Positivisme –empirio-criticism- kembali ke tahun 1870-1890an dan dikombinasikan dengan Ernst Mach dan Avenarius, yang bahkan memperkenalkan pengenalan formal dari objektif benda nyata (fisik), yang menjadi salah satu nilai dalam Positivisme mula-mula. Pada era Machisme, Masalah pengenalan dipandang sebagai sudut perspektif psikologisme ekstrim, yang mana bergabung dengan subjektivisme. Kemunculan dan bentukan dari teori Positivisme yang terakhir, atau disebut dengan neo-positivisme, terhubung dengan aktifitas Vienna Circle (O.Neurath, Carnap, Schlick, Frank dan lainnya) dan Masyarakat Filosofi Ilmu Berlin (Reinchenbach dan lainnya), yang menggabungkan sebuah rangkaian tren yaitu atomisme logis, positivisme logis, semantik (yang mendekati tren-tren ini adalah Operasionalisme Percy Bridgman dan Pragmatisme William James). Posisi utama dalam positivisme ketiga (neo-positivisme) diambil dari permasalahan filosofis dari bahasa, simbol logis, dan struktur dari penelusuran keilmuan, dan lainnya. Kembali diumumkan sebagai psikologisme, teoris neo-positivisme mengambil langkah untuk menggabungkan dan menyesuaikan logika ilmu matematis, pokok dari pembentukan permasalahan epistemologis.

Istilah postmodernisme pertama kali diperkenalkan oleh Jean Francois Lyotard (1984). Secara bahasa post berarti keadaan lewat, lepas, terpisah dan terputus. Moderisasi berarti proses yang membarukan atau mutakhir. Postmodernism berarti suatu keadaan di mana sudah melewati batas moderinsasi. Federico de Oniz menggunakan istilah postmoderinsm untuk menyebut suatu periode pendek dalam modernisme di bidang sastra khususnya puisi Spanyol dan Amerika Latin. Periode ini terjadi antara tahun 1905-1914. Arnold Toynbee pada tahun 1947 mengartikan postmodern sebagai ciri peralihan politik dan pola pemikiran negara nasional ke interaksi global. Menurut pemikiran ini unity in diversity merupakan konsep yang cocok dengan postmodernisme karena salah satu ciri khas postmodernisme adalah pengakuan adanya pluralisme. Kemudian pada tahun 1970 an postmodernisme digunakan oleh Loytard dalam seminar filsafat. Jadi postmoderisme merupakan suatu tahap historis baru, produk kultural baru, dan tipe baru mengenai dunia sosial yang menentang gerakan moderinisme. Postmoderisme muncul dari adanya keberagaman pemikiran dan tradisi masa lalu yang didasari atas keraguan akan kemampuan moderisme untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur (Jackson &Sorensen, 2005:303).

Dekonstruksi pemikiran merupakan ciri khas postmodernisme. Dekonstruksi pemikiran akan membongkar kemapanan pemikiran modern yang dianggap rasional. Postmodernisme tidak mempercayai pemikiran neorealisme atau neoliberalisme yang menyatakan telah menemukan kebenaran dalam dunia sosial (Jackson&Sorensen, 2005:303). Kecurigaan kemampuan paradigma konvensional memecahkan masalah baru yang muncul, sehingga postmodemisme juga disebut postparadigmatik. Postmodernisme juga disebut poststrukturalis dan postmodern karena merekonstruksi paradigma yang ada.

Kaum postmoderism menganggap hal ini tidak masuk akal karena ilmu sosial bersifat bias dan merupakan gabungan dari ilmu-ilmu yang lain seperti historis, budaya, dan politis. Postmodernisme mengakui adanya rasionalitas dan memberikan kebebasan untuk menempuh jalan kritis untuk menemukan kebenaran. Postmodernisme bukan hendak membuktikan kebenran teteapi hendak mencari kebenaran. Manusia merupakan subjek dalam mencari kebenaran itu sendiri. Manusia bukanlah objek yang dikendalikan oleh struktur dan sistem tertentu untuk mencari kebenaran.

Penganut paham postmodernisme menganggap telah menemukan kebenaran dalam dunia sosial yang didasarkan atas praduga mereka sendiri. Pandangan postmodernisme hal-hal yang dianggap baik adalah hal-hal yang muncul dari kegiatan sosial masyarakat. Sehingga hal ini bersifat relatif, di mana apa yang dianggap baik oleh suatu kelompok belum tentu dianggap baik oleh kelompok yang lain.

Berdasarkan penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam kajian  ilmu sosial terdapat dua pandangan yaitu positivisme dan postmodernisme. Pandangan positivisme menganggap bahwa dunia sosial dapat dipelajari dengan cara yang objektif dan bebas nilai. Postmoderisme merupakan perkembangan dari konstruktivis, yang terbentuk dari antiesesialisme, antifondalisme, antirealisme penolakan terhadap gambaran pengetahuan sebagai representasi yang akurat.

 

Referensi:
Jackson, R., & Sorensen, G. (2005) Pengantar Studi hubungan Internasional, Oxford University Press: New York.

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :