Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

Great Debates : Positivism vs Postmodernism

Amanda Rizki Yuanita (071211233030 / B)

Weekly Assignment 12

Pengantar Ilmu Hubungan Internasional (SOH 101)

Great Debates : Positivism vs Postmodernism

Perdebatan yang terjadi antara positivism dengan postmodernism adalah tentang metodologi. Dalam metodologi ini terbagi menjadi dua, yaitu ontologi (sifat dari dunia sosial) dan epistemologi (hubungan antara pengetahuan kita dan dunia tersebut). Perdebatan ontologis itu berawal dari bagaimana cara memusatkan perhatian pada sifat dari kenyataan sosial, apakah bersifat objektif atau subjektif (bentukan manusia). Sedangkan, epistemologis bagaimana memusatkan perhatian pada cara kita mendapatkan pengetahuan mengenai dunia, apakah kita dapat menjelaskannya secara ilmiah atau memahaminya secara interpretatif. Metodologi positivis dalam ilmu politik, khususnya HI, adalah warisan dari behavioralisme. Dalam metodologi positivis ini memandang dunia sosial dan politik, yang juga mencakup dunia internasional. Selain itu, metodologi positivis berdasarkan pada asumsi yang sama atas kesatuan semua ilmu termasuk ilmu-ilmu sosial. Namun, terdapat pula metodologi positivis yang berpendapat bahwa observasi dan pengalaman adalah kunci untuk membangun dan menilai teori-teori ilmiah, karena yakin akan pengetahuan yang nantinya lebih objektif tentang dunia atau paling tidak sejumlah besar kesepakatan inter-subjektif (Jackson & Sorensen 2005: 294).

Kaum positivis yakin bahwa studi-studi ilmiah adalah yang harus bebas nilai dalam dirinya sendiri. Dengan hal semacam ini bukan berarti mereka tidak dapat atau tidak boleh menggunakan nilai-nilai untuk dimanfaatkan. Hal ini membuktikan bahwa positivisme tidak mengabaikan preskripsi atau bahkan moralitas, tetapi positivisme tetap mendesak bahwa metodologi dan penelitian harus bebas nilai (Jackson & Sorensen 2005: 298). Beda halnya dengan postmodernism yang beranggapan untuk menolak mengenai realita, tentang kebenaran, tentang pemikiran bahwa ada pengetahuan yang terus meluas tentang dunia manusia karena mereka beranggapan bahwa teori semacam ini hanyalah dianggap sebagai sebuah ilusi-ilusi intelektual (Jackson & Sorensen 2005: 303). Dapat diketahui bahwa posmodernisme muncul karena adanya keinginan untuk berpaling dari paham yang mendefinisikan mengenai kehidupan itu terlalu berlebihan. Posmodernisme muncul dari adanya keberagaman pemikiran dan tradisi masa lalu yang didasari atas keraguan akan kemampuan modernisme untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur (Jackson & Sorensen 2005: 303).Aliran posmodernisme berkembang pesat pada tahun 1970-an. Para tokohnya yang dikenal gigih menolak aliran modernisme dan menawarkan solusi terbaik dalam upaya untuk mengikuti perkembangan zaman yang serba menuntut tersebut. Tokoh-tokoh posmodernisme tersebut seperti Jeans Francois Lyotard, Michel Foucault, Jacques Derrida, Richard Rorty, dan lainnya. Lyotard dan Foucault, tokoh aliran ini, menolak keteraturan yang didituntut oleh modernisme. Lebih-lebih Lyotard, ia mengatakan bahwa konsesus dalam apapun dan terutama dalam pengetahuan, bukan dan tidak akan menjadi akhir untuk dirinya sendiri (Subagun 1994: 154). Istilah posmodernisme mula-mula dikenalkan oleh Lyotard secara eksplisit lewat karyanya The Postmodern Condition: A Report and Knowledge. Dalam bukunya tersebut Lyotard menolak ide dasar filsafat modern yang dilegitimasi prinsip kesatuan ontologis. Kemudian, ia menawarkan ide parologi atau pluralitas. Maksudnya disini adalah manusia harus membuka kesadaranya dan menerima realitas plural karena menurutnya tiap pengetahuan bergerak dalam language game masing-masing, dan kebenaran selalu terkait pada penilaian orang melalui bahasa yang digunakan (Arifin 1994: 34). Lyotard sendiri beranggapan bahwa kebenaran adalah selalu interpretatif, dan karena interpretatif maka sulit untuk dipastikan. Selain itu, pendapat dari Lyotard mengenai aliran modernisme terlalu bergantung dan terpaku pada cerita-cerita besar dari kemapanan filsafat yang hanya mengandalkan akal, dialektika roh, dan sebagainya. Hal yang membuat Lyotard gelisah ialah karena aliran ini telah mengklaim dirinya sendiri sebagai aliran yang sudah paling benar atau dengan kata lain sudah mencapai kebenaran dan keadilan. Sedangkan berbeda dengan Lyotard karena ia beranggapan bahwa kebenaran adalah kebenaran dan kebenaran tunggal tidaklah bersifat universal.

Tidak dapat dipungkiri bahwa perbedaan antara positivisme dengan posmodernisme sangat dapat terlihat karena positivism berpendapat bahwa dunia sosial dan politik, termasuk dunia internasional memiliki pola-pola yang berulang. Dengan kata lain positivisme menerapkan metodologi yang tepat. Sedangkan, postmodernism mengeluarkan pendapat mereka mempertentangkan persoalan kenyataan, kebenaran, dan gagasan bahwa di dunia ini terdapat pengetahuan yang meluas mengenai dunia manusia. Menurut para postmodernis, naratif termasuk metanaratif, selalu dibentuk oleh para teoris, dan oleh karenanya selalu dipengaruhi oleh prasangka dan sudut pandang mereka.

 

Referensi :

  • Jackson, Robert & Georg Sorensen. 2005. Pengantar Studi Hubungan Internasional.

Yogyakarta : Pustaka Pelajar

  • Subangun, Immanuel. 1994. Dari Saminisme ke Posmodernisme. Yogyakarta: Pustaka

Pelajar.

  • Arifin, Syamsul. 1994. Postmodernisme dan Masa Depan Peradaban. Yogyakarta:

Aditya Media.

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :