Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

Tugas PIHI Kelompok Minggu ke-12

PENGANTAR ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL

Kelompok 4 B

Nama Anggota:

1.      Ika Devi Hardianti         (071211232011)

2.      Nikki Samuasa               (071211232018)

3.      Amanda Rizki Y.           (071211233030)

4.      Ashfar Tito Dauli           (071211233044)

5.      Nanda Prasetya P.          (071211233049)

Globalization in International Relations

Berdasarkan pandangan tradisionalis ada kesamaan antara istilah international politics dan international relations. Seiring semakin dinamisnya perkembangan dunia kemudian ada reformulasi dari istilah tersebut. Saat ini lebih tepat untuk menggunakan world politics daripada international politics maupun international relations. International politics melihat perkembangan politik dari negara-negara yang ada di dunia. Sementara world politics melihat perkembangan politik secara global, tidak hanya perkembangan politik secara eksternal dari negara tersebut tetapi  juga mencakup perkembangan politik secara internal di negara tersebut. Istilah international relations memiliki cakupan terlalu luas meliputi interaksi antar kota, pemerintah, negara dan berbagai aspek lain. Dalam world politics aspek yang dikaji lebih spesifik, yaitu pola-pola politik yang berkembang tidak hanya dalam negara, tetapi juga dalam organisasi yang bergerak di dalamnya. Penggunaan world politics diharapkan mampu mengubah cara pandang orang yang mendiskripsikan politik secara sempit. Saat ini politik berkembang secara dinamis dan bidang kajiannya tidak hanya dalam politik, tapi juga berkembang di bidang ekonomi. World politics memang sulit untuk dijelaskan karena aspek-aspek yang ada di dalamnya terlalu kompleks. Untuk itulah diperlukan teori untuk menjelaskan proses politik dalam world politics.

Proses dan Perkembangan Globalisasi

Teori tidak hanya sebuah bentuk formal dari hipotesis dan asumsi, teori adalah alat untuk mengetahui mana hal-hal yang penting dan mana yang tidak (Smith & Baylis, 2001 : 2). Terdapat tiga teori yang digunakan untuk menjelaskan world politics, tetapi sebelum masing-masing teori dijelaskan ada beberapa hal yang harus dipahami terlebih dahulu. Teori bukanlah pilihan, maksudnya jika memang tidak ingin terganggu dengan berbagai teori, maka harus melihat fakta yang ada. Tapi hal ini sulit untuk dilakukan karena diantara berbagai kemungkinan fakta yang ada seharusnya diperlukan teori untuk membantu memberikan pilihan. Selain itu ada kemungkian bahwa teori yang digunakan mungkin hanyalah pandangan umum yang didapatkan dari lingkungan. Jadi, sebenarnya teori ini tidak berpengaruh dalam mengambil keputusan. Setelah mengetahui bagaimana perspektif dari masing-masing teori kemudian dapat disimpulkan bagaimana teori-teori tersebut berpengaruh terhadap globalisasi.

Sejak adanya pemisahan studi Interational Politics pada tahun 1919 di departemen International Politics, Universitas Aberystwyth, world politics mulai dikenal (Smith & Baylis, 2001 : 3). Salah satu tokoh dari Aberystwyth, David Davies, berpandangan bahwa dengan menemukan masalah politik dan menyelesaikannya maka perang dapat dihindari dan akan tercipta perdamaian. Pandangan ini kemudian dikenal dengan liberalisme, yang pada intinya ingin menciptakan keadaan yang lebih baik bagi dunia melalui perdamaian. Manusia sesungguhnya lebih senang bekerjasama daripada berkonflik, itulah pemikiran yang mendasari paham liberalisme untuk menentang perang. Menurut paham ini tidak hanya memfokuskan pada negara, tapi juga melihat aktor-aktor lain seperti MNC dan organisasi internasional. Globalisasi meruntuhkan paham realisme yang berpandangan bahwa negara adalah aktor utama, tetapi seiring dengan globalisasi muncul aktor-aktor lain seperti NGO yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan dunia. Liberalisme tertarik pada revolusi teknologi dan komunikasi yang merupakan produk dari globalisai (Smith & Baylis, 2001 : 6). Revolusi ini menyebabkan kerjasama antara berbagai aktor semakin berkembang sehingga mengubah cara pandang lama bahwa negara adalah satu-satunya aktor. Dunia akan terlihat seperti cobweb model, dimana tidak ada aktor yang mendominasi, tetapi semua aktor saling bekerja sama. Selanjutnya, teori kedua yang menolak pemikiran-pemikiran dari liberalisme, yaitu realisme. Realisme merupakan teori yang paling mendominasi dunia sejak seratus tahun yang lalu (Smith & Baylis, 2001 : 3). Hal ini dikarenakan beberapa hal yang diungkapkan dalam realisme memang sesuai dengan kondisi dunia saat ini. Manusia dipandang sebagai makhluk yang egois sehingga menimbulkan konflik satu sama lain. Konflik ini kemudian berlanjut pada tahap yang lebih serius, yaitu negara. Negara saling berkonflik untuk memperebutkan power yang pada akhirnya digunakan untuk memenuhi national interest negara tersebut. Negara dipandang sebagai satu-satunya aktor dan negara memiliki legitimasi untuk menggunakan kekuatan militer demi mendapatkan power yang diinginkan. Realisme mendukung adanya kerjasama antar aktor untuk menciptakan perdamaian. Kerjasama antar berbagai aktor ini pada akhirnya akan membuat semua pihak saling bergantung satu sama lain, tetapi hal ini tidak berlaku bagi negara karena negara adalah pemegang kekuasaan tertinggi. Globalisasi akan berpengaruh terhadap aspek ekonomi, sosial dan budaya, tetapi tidak akan mempengaruhi sistem politik suatu negara (Smith & Baylis, 2001 : 6). Teori terakhir dalam menjelaskan world politics adalah marxisme. Paham marxisme berpandangan bahwa aspek terpenting dalam world politics adalah ekonomi kapitalis (Smith & Baylis, 2001 : 5). Ekonomi kapitalis ini kemudian berpengaruh pada aktor yang berperan dalam world politics sendiri, aktor-aktor yang ada dibagi berdasarkan kelas. Kelas yang memiliki alat-alat produksi (borjuis) dan kelas yang tidak memiliki alat-alat produksi (kaum proletar). Hal yang ditekankan adalah penguasaan oleh satu kelas, yaitu borjuis, terhadap kelas yang lain, yaitu proletar. Penguasaan ini menyebabkan konflik antar kelas. Marxisme memandang globalisasi bukanlah sesuatu yang baru, tetapi hanyalah tahapan dalam perkembangan ekonomi kapitalis. Globalisasi tidak mengubah teori apapun. Peran dunia barat yang seolah memimpin globalisasi menandai bahwa kapitalisme telah tumbuh subur di dunia. Marxis memandang bahwa daripada menjadikan dunia ini sama, lebih baik membedakannya berdasarkan kelas-kelas tertentu. Menurut Thomas Kuhn kebenaran mengenai world politics berada pada perdebatan antar ketiga teori tersebut (Smith&Baylis,2001:5). Sulit untuk memilih mana yang benar diantara ketiga teori ini karena ketiganya seolah memiliki dunia yang berbeda untuk dijelaskan. Setiap perspektif memiliki argumen yang kuat. Ketiga teori tersebut memilki pandangan yang berbeda-beda mngenai globalisasi karena ketiganya juga melihat dunia dari sisi yang berbeda.

Secara umum globalisasi diartikan sebagai proses untuk menambah interaksi antara masyarakat sehingga suatu kejadian di satu belahan dunia mampu mempengaruhi masyarakat di belahan bumi yang lain (Smith & Baylis, 2001 : 7). Pengaruh ini juga melibatkan beberapa aspek, yaitu ekonomi, sosial, dan politik. Jika berbicara mengenai globalisasi, maka akan menjurus pada hubungan internasional. Globasasi secara tidak langsung menyebabkan hilangnya sekat-sekat negara yang pada akhirnya memudahkan untuk saling berinteraksi satu sama lain. Globalisasi telah mendorong pergeseran dan perubahan dalam sistem pemerintahan. Globalisasi berperan sebagai penghubung ke sejumlah perubahan yang berpotensi luas dalam tatanan dunia. Globalisasi telah menghadirkan tantangan mendasar bagi sistem negara dan prinsip kedaulatan negara. Kemudahan berinteraksi itu kemudian pada akhirnya melahirkan isu global. Adanya isu global yang ditandai dengan meningkatnya hubungan saling ketergantungan antar negara. Hal itu karena adanya kesadaran bahwa kegagalan dalam mengatasi isu global tersebut dapat mempengaruhi kehidupan masyarakat internasional secara keseluruhan. Sehingga, upaya penyelesaian masalah global dilakukan oleh seluruh negara dan menyebabkan seluruh negara berinteraksi satu sama lain.

Dalam konteks hubungan internasional pasca perang dingin, terdapat satu hal yang menjadi perdebatan hangat di masyarakat internasional yakni “kedaulatan nasional” seperti yang tersirat dalam perjanjian Westphalia 1948. Dalam perjanjian Westphalia 1948 dinyatakan bahwa dengan kedaulatannya, sebuah negara berhak mengatur segala urusan dalam negerinya, termasuk yang berkaitan dengan perlakuan terhadap warga negaranya. Suatu negara juga dilarang campur tangan dalam urusan negara lain. Kini di era globalisasi, dunia serasa menjadi satu. Kedaulatan memang masih ada, tapi kekuatannya sudah terpengaruh oleh arus globalisasi. Kedaulatan negara saat ini memang tidak sepenuhnya hilang, namun yang terjadi saat ini adalah seperti yang di katakan oleh neoliberal, yaitu mereka harus rela membagi kedaulatannya dengan aktor-aktor non-states dikarenakan makin terhubungnya satu sama lain tak terikat batasan negara yang ada. Fenomena globalisasi yang mengucur kian derasnya tersebut  tidak cukup dijelaskan oleh persperktif-perspektif tradisional hubungan internasional dikarenakan dunia yang menjadi kian kompleks dan bergerak dinamis. Globalisasi telah mendorong peningkatan kolaborasi lintas batas secara langsung antara pemerintah provinsi dan kota serta membawa ekspansi besar bagi regulasi negara. Globalisasi diibaratkan sebagai dua sisi koin yang berbeda. Di satu sisi, globalisasi memberi implikasi positif yaitu berupa adanya kemajuan IPTEK, semakin terbukanya pasar internasional, yaitu ekspor-impor sebuah negara,  meningkatkan kemampuan suatu negara untuk meningkat taraf kehidupan yang lebih baik dan sebagainya, sedangkan implikasi negatifnya ialah munculnya sikap individualisme karena masyarakat merasa mudah mendapatkan berbagai macam informasi yang berasal dari internet, masyarakat merasa tidak membutuhkan orang lain dalam aktivitasnya. Terdapat contoh nyata dari globalisasi ialah dengan adanya internet, dengan adanya intenet ini bagi penggunanya bisa melakukan salah satu fasilitas yang tersedia seperti video call, fasilitas ini memungkinkan para penggunanya untuk berkomunikasi dengan saling bertatap muka padahal berada di dua negara yang berbeda. Dampak negatif lainya ialah munculnya kesenjangan sosial. Apabila dalam suatu komunitas masyarakat hanya ada beberapa individu yang dapat mengikuti arus modernisasi dan globalisasi maka akan memperdalam jurang pemisah antara individu dengan individu lain yang stagnan. Hal ini menimbulkan kesenjangan sosial. Walaupun ini tidak sepenuhnya mutlak apakah globalisasi merupakan sebuah fenomena baru ataupun sebuah hasil akhir dari rangkaian panjang kejadian masa lalu. Meskipun begitu globalisasi memiliki kesamaan dengan fenomena lain yang pernah terjadi dalam sejarah. Menurut Modelski (1972) dan Morse (1976) industrilisasi membawa sebuah tatanan baru dalam masyarakat dan mengubah proses politik, ekonomi, dan sosial yang dikategorikan oleh pramodernisme (Smith & Baylis, 2001 : 7). Masyarakat lebih cenderung untuk bekerja sama dan mulai mengutamakan negosiasi daripada konflik untuk memecahkan masalah. Marshall McLuhan (1964) mengatakan bahwa globalisasi membuat waktu dan ruang menjadi dipersempit dan seolah-olah meninggalkan tradisionalisme (Smith & Baylis, 2001 : 7).

Komunikasi elektronik menjadi fokus utama McLuhan dalam meninjau globalisasi. Komunikasi elektronik menyebabkan seoleh tidak ada batasan dalam waktu dan ruang. Melalui televisi orang bisa menyaksikan berbagai kejadian di belahan dunia lain secara langsung. John Burton (1972) mengatakan bahwa state system sudah tidak berlaku lagi karena interaksi yang semakin intens antar non state actors (Smith & Baylis, 2001 : 8). Negara tidak lagi menjadi penentu utama dalam world politics tetapi ditentukan oleh komunikasi, perdagangan, bahasa, ideologi, dan lain sebagainya. Hal ini seperti layaknya fenomena sosial yang lain, globalisasi juga menjadi perdebatan tersendiri. Apakah globalisasi merupakan sebuah fenomena atau hanya sebuah mitos belaka. Ada beberapa alasan yang dikemukakan mengapa globalisasi dikatakan sebagai sebuah fenomena. Pertama, transformasi ekonomi menghasilkan sebuah tatanan baru dalam world politics (Smith & Baylis, 2001 : 9). Kegiatan perekonomian yang terus mengalami pertumbuhan menyebabkan world politics bergerak semakin dinamis. Perdagangan dan pasar bebas melahirkan sebuah tatanan dunia yang baru. Negara tidak lagi memiliki kekuasaan tunggal, bahkan dalam era globalisasi negara tidak mampu mengontrol perekonomiannya sendiri. Kedua, revolusi komunikasi memberi kontribusi besar dalam kehidupan umat manusia. Ditemukannya komunikasi elektronik menyebabkan manusia dapat mendapatkan informasi yang tidak terbatas. Ketiga, saat ini dunia memiliki kesadaran untuk berbagi budaya antar satu negara dengan negara lain. Interaksi yang terjadi melalui bidang ekonomi maupun komunikasi menyebabkan timbul keinginan untuk mengetahui budaya yang berbeda. Keempat, dengan semakin berkembangnya dunia melalui globalisasi, maka sebenarnya resiko yang mengintai juga semakin berat. Permasalahan ini tidak hanya menjadi permasalahan satu negara saja, tetapi sudah menjadi permasalahn global. Isu global warming yang marak akhir-akhir ini merupakan bukti kongkret untuk menjelaskan masalah global yang sedang dihadapi dunia.

Sementara itu, pihak yang mengatakan bahwa globalisasi hanyalah sebuah mitos juga memilki alasan tersendiri. Pertama, Hirst dan Thompson (1996) mengatakan bahwa globalisasi membuat berkurangnya power yang dimiliki pemerintah nasional dalam dunia global (Smith & Baylis, 2001 : 10). Mereka memiliki beberapa alasan untuk mendukung pernyataan tersebut. Ekonomi sebenarnya tidak berkembang secara global, tetapi dikuasai oleh blok-blok tertentu seperti Eropa, Amerika Serikat dan Jepang. Sementara negara-negara lain sebenarnya tidak memiliki peran berarti. Perkembangan ekonomi hanya terfokus pada negara-negara maju dan negara berkembang hanyalah sebagai pelengkap. Kedua, globalisasi dipandang sebagai tahap terakhir dalam perkembangan imperialisme barat (Smith & Baylis, 2001 : 10). Globalisasi muncul dari pemikiran barat kemudian seolah diterapkan di semua negara, tidak peduli apakah itu cocok dengan negara-negara tersebut atau tidak. Ketiga, keterbukaan yang diusung oleh globalisasi justru memicu timbulnya eksploitasi. Teknologi-teknologi baru yang ditemukan digunakan oleh negara maju untuk mengontrol negara-negra lain. Keempat, tidak semua hal yang berbau globalisasi dapat dikatakan baik. Internet menimbulkan berbagai permasalahan seperti tidak adanya privasi bagi banyak orang yang kemudian menyebabkan permasalahan sosial.

Sejarah Globalisasi dan Dampak Globalisasi Bagi Studi Hubungan Internasional

Berbicara tentang globalisasi adalah berbicara tentang fenomena praktikal internasional secara luas, globalisasi mencakup berbagai aspek penting dalam hubungan internasional. Ia muncul sebagai fenomena yang merujuk pada sebuah proses yang masih terus berlangsung dalam berbagai aspek di belahan dunia, globalisasi menjadi satu tempat atau sistem konstruksi yang diintegrasikan secara bersama-sama dan berkaitan satu sama lainnya (Scholte, 2001 : 19). Globalisasi adalah sebuah fenomena sistem internasional yang dalam perkembangannya mengalami perubahan dinamisasi perluasan dan penerapan pada maknanya itu sendiri. Kebutuhan masyarakat internasional dan entitas negara di seluruh dunia yang memerlukan suatu efisiensi sistem pertukaran baik itu informasi, komoditas ekonomi, sumber daya alam maupun manusia, dan mendesaknya sebuah sistem negosiasi yang lebih fleksibel menyebabkan adanya gerakan dan atau pendekatan pada proses atau fenomena yang disebut dengan globalisasi.

Sejarah globalisasi sendiri bermula ketika adanya penemuan kata baru terhadap sebuah fenomena yang mungkin butuh dijelaskan dalam sebuah istilah. Sebuah kata akan dianggap penting ketika ia mampu menangkap atau mencakup sebuah maksud perubahan besar terhadap dunia secara keseluruhan, secara mudahnya sebuah ide atau istilah baru dibutuhkan untuk menjelaskan sebuah kondisi baru atau fenomena baru (Scholte, 2001 : 13). Inilah asal mula muncul istilah globalisasi, penemuan ini mungkin berasal dari kata global yang muncul dari kata globe (sebuah model tiruan bumi) yang mengindikasikan hal ini menyangkut civitas bumi atau dunia. Global berarti sifatnya mendunia, dan jika ia ditambahkan dengan kata hubung –isasi artinya akan menjadi proses menuju perubahan yang sifatnya mendunia.

Memang benar ide untuk sebuah proses globality telah muncul sebelum tahun 1980. Pembicara-Inggris pada waktu telah menggunakan kata ‘global’ untuk menjelaskan ‘keseluruhan dunia’ semenjak akhir abad ke-19. Penggunaan kata globalize dan globalism baru diperkenalkan dalam sebuah buku bacaan kecil yang diterbitkan pada tahun 1944 (Scholte, 2001 : 14), sementara kata ‘globalisasi’ sendiri baru memasuki perbendaharaan kata pada kamus pertama kali pada tahun 1961 (Webster M, 1961). Pada tahun 1960-an globalisasi belum menjadi bahasan komprehensif dan intens yang secara cepat merubah sistem perilaku internasional. Begitu juga pembicaraan menggunakan kata global tidak menjadi bahasan sehari-hari sampai pada beberapa dekade setelahnya.

Baru pada tahun 1980, globalisasi mulai menjadi pembicaraan umum di dunia. Isu-isu yang membutuhkan pemahaman secara luas dari berbagai aspek pengetahuan dan interteritorial mulai diperbincangkan, hal ini memunculkan sebuah pandangan baru tentang hubungan internasional. Hubungan internasional tidak lagi dipandang sebagai hubungan diplomasi praktikal antara aktor negara dengan negara lainnya, akan tetapi kajiannya jauh lebih meluas, makin kompleks juga dinamis dan juga mencakup berbagai interdependensi aspek. Ketika pandangan tentang globalisasi muncul sebenarnya ia merupakan penerapan metodologi dari berbagai teori mapan maupun teori-teori kontemporer yang berkembang. Beberapa teori tersebut antaranya adalah neo-liberalisme, neo-realisme dan neo-marxisme. Ketiga teori tersebut paling tidak adalah ketiga teori atau pendekatan yang paling gencar memberi pengaruh terhadap proses globalisasi. Pemuktahiran dan revisi pada teori mereka dikarenakan dinamika perkembangan dari berbagai isu-isu lawas yang muncul sebelumnya telah memaksa masing-masing teori berlomba untuk membuat sebuah  bentukan mindset pada masyarakat internasional yang paling komprehensif dan konseptual. Pemikiran kritis yang mampu menjabarkan dan menggambarkan secara jelas bagaimana proses globalisasi ini harusnya berjalan.

Masing-masing teori mempunyai sudut pandang berbeda menyikapi arah tujuan globalisasi. Namun secara garis besar nilai-nilai yang ditawarkan pada teori-teori tersebut tidaklah terlalu berbeda, yang paling sering diajukan dalam perdebatan mereka adalah bagaimana merekonstruksi sistem ekonomi pasar dunia dan strukturisasi peran negara karena status anarchy yang dapat dibatasi oleh batas-batas teritorial. Proses globalisasi sendiri merupakan rangkaian dari tanggapan dan cara bagaimana masyarakat menanggapi isu-isu atau fenomena yang sedang berkembang pada waktunya, semisal ketika negara dunia ketiga, dalam hal ini membutuhkan bantuan-bantuan teknologi dan rancangan infrastruktur untuk pembangunan mereka, maka mereka sangat butuh untuk diberikan bantuan dari pihak luar. Oleh karenanya, peran globalisasi sangatlah penting.

Dampak yang paling terasa bagi praktikal hubungan internasional pada umumnya dan studi Hubungan Internasional pada khususnya dapat dilihat pada berbagai aspek dan perubahan metode interaksi para aktor HI juga. Baik itu dari sudut pandang perspektif negara, masyarakat, bahkan individu. Keterbukaan dan kemudahan dalam akses dan transaksi serta pertukaran (utamanya informasi dan komoditas pasar global) membuat sistem hubungan internasional jauh lebih terbuka dan lebih bisa memberikan pengaruh secara cepat luas tanpa harus melalui jangka waktu atau periode yang panjang dan memakan waktu yang lama. Hal ini tentu menimbulkan dua sisi dampak berbeda yang mungkin dapat menguntungkan tapi di sisi lain dapat juga merugikan, tentu bagi negara atau aktor non-negara yang memiliki ekonomi kuat dan pangsa pasar yang memadai akan semakin tinggi posisinya dalam dunia internasional, namun demikian ekonomi menjadi titik utama marginalisasi negara-negara dunia ke-3. Kadangkala pada beberapa kasus globalisasi menjadi semacam kapitalisme era modern, maksudnya adalah tuntutan untuk memperkaya dan memperkuat ekonomi aktor-aktor HI makin terasa. Namun, globalisasi juga tidak semata-mata merupakan sudut pandang pengaruh pasar internasional dan sistemnya saja. Lebih kompleks daripada itu masih banyak isu-isu yang dapat dikaji lebih jauh dalam globalisasi dan itu dapat ditelaah dan lebih cepat dicari kesimpulan untuk pemecahan solusinya karena kemudahan dan akses saling bertukar pikiran.

Globalisasi membawa HI pada sebuah level baru, sebuah tatanan baru. Dari sistem internasional state-centric (anarchy) menjadi lebih fleksibel dan lebih terbuka yaitu market-oriented. Begitu juga dalam sistem penyelesaian dan pencarian solusi, negara tidak lagi dipandang sebagai satu-satunya institusi yang mampu dan berkapasitas dalam mengurusi permasalahan internasional, keterlibatan organisasi atau bahkan individu mulai diperhitungkan pada era globalisasi. Intinya globalisasi dengan segera dalam dekade terakhir ini telah mampu mengubah mindset sistem dan masyarakat internasional secara menyeluruh tetapi tetap mempertahankan beberapa nilai-nilai kedaulatan negara tentunya.

            Globalisasi yang kian mendunia untuk sekarang ini dan dapat dikatakan sangat berpengaruh dalam kemajuan yang ada saat ini dan bukanlah merupakan fenomena yang baru. Karena dapat diketahui bahwa Globalisasi mengubah dunia sedemikian rupa, tetapi yang lebih penting globalisasi juga mengubah world politics itu sendiri. Selain itu, dengan adanya globalisasi itu sendiri diharapkan mampu untuk memudahkan bagi para penstudi hubungan internasional dalam melakukan tugasnya dengan seimbang.

 

Referensi :

  • Smith, Steve & Baylis, John (2001) “Introduction”, in Baylis, John & Smith, Steve (eds.),

The Globalization of World Politics, 2nd edition, Oxford University Press, pp 1-12

  • Scholte, Jan Aart (2001) “The Globalization of World Politics”, in Baylis, John & Smith,

Steve (eds.), The Globalization of World Politics, 2nd edition, Oxford University

Press, pp 13-34

  • G. & C. Merriam (1961). Webster’s Third New International Dictionaryof The English

Language, Unabridged.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :