Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

Tugas PIHI kelompok minggu ke-13

Pada abad keenam di Yunani, para filsuf Heraclitus pra-Sokrates memberikan analogi bahwa di dunia ini akan terjadi perubahan terus-menerus dan akhirnya menjadi kekal. Semua perubahan berasal dari interaksi yang dinamis dan siklus berlawanan. Sedangkan, di China, Lao Tzu mengajarkan bahwa transformasi dan perubahan adalah fitur penting dari alam dan perubahan yang dihasilkan berasal dari interaksi dua kutub yang berlawanan, yaitu yin dan yang, yang kemudian tidak dapat ditarik kembali karena terikat bersama. Sejatinya, Heraclitus dan Lao Tzu tidak tahu apa-apa mengenai ajaran masing-masing, mereka berani melangkah lebih jauh untuk mengatakan bahwa akal manusia sebenarnya tidak pernah dapat memahami realitas-realitas yang terjadi didunia ini. Konsep-konsep yang dibentuk oleh pikiran manusia semata-mata hanya untuk mengekspresikan makna batin yang telah berpikir secara mendalam tentang evolusi dan homo faber. Dari pemikiran konsep-konsep tersebut, manusia ditujukan agar mampu untuk memahami makna alam semesta (Bergson 1944: 153-4).

Sejarah dari disiplin ditulis dalam retrospeksi melihat peristiwa melalui teori-teori yang memenangkan perdebatan dan karena itu tampak seolah-olah peristiwa-peristiwa yang terjadi menyebabkan munculnya teori-teori. Dengan mengasumsikan bahwa argumen terbaik yang akan menang dan karena itu dengan melihat siapa yang benar dan yang salah dalam suatu perdebatan sudah dapat dilihat bagaimana kelanjutannya. Apa yang diketahui dari hubungan internasional selalu bergantung pada teori yang digunakan dan tidak dapat pengetahuan yang murni dari realita. Potret dari suatu disiplin sebenarnya bukanlah dilihat dari tujuannya itu sendiri, tetapi juga perlu untuk memahami teori masa lalu, sekarang, dan masa depan pada saat yang diperlukan untuk memahami apa yang dipelajari (Waever 2007: 289). Ketika melihat teori secara keseluruhan mereka membentuk dan menjadi mungkin untuk membuat teori disiplin. Sering dibicarakan apakah Hubungan Internasional adalah telah menjadi disiplin atau telah terjadi perpecahan.

Banyak kecemasan terjadi tentang matinya disiplin yang disebabkan oleh dasar pemikiran yang salah. Dengan terjadinya perdebatan, perdebatan menuntut adanya objek yang jelas dan berbeda atau adanya kesepakatan dari suatu definisi. Jika dasar dari disiplin bukanlah dalam objek itu sendiri, karena benda dapat dibentuk dan digambarkan dengan cara yang berbeda, dasar tersebut harus ada dalam constant reproduction of a consensus sesuai dengan yang ada objek (Weaver 2007: 291). Dari sini akan terlihat bahwa kemampuan untuk terus menghasilkan kesepakatan dalam komunitas peneliti adalah kunci untuk menjadi dan bertahan sebagai suatu disiplin. Banyak perubahan yang telah menyingkirkan berbagai macam disiplin. Paradigma-paradigma yang dianggap penting telah datang dan pergi. Suatu disiplin menjadi lebih penting dan lebih kuat adalah karena difokuskan perhatian kita pada struktur internal disiplin, dari pada menganggap bahwa kelangsungan hidupnya adalah suatu hal yang selalu harus dipertaruhkan. Disiplin memperbanyak dan berkembang (Weaver 2007: 292). Namun, masalah yang jelas bisa dikatakan bahwa Hubungan Internasional sub-disiplin dari ilmu politik. Di Amerika Serikat terdapat empat sub-bidang dari ilmu politik, yaitu American politics, comparative politics, political theory, dan Hubungan Internasional. Sedangkan, dalam sistem Eropa sub-bidang dari ilmu politik terdiri dari comparative politics, political theory, public administration, dan Hubungan International. Dari empat sub-bidang tersebut Hubungan Internasional memiliki rasa yang lebih kuat untuk menjadi disiplin yang mandiri. Hubungan Internasional merupakan suatu disiplin di dalam disiplin (Weaver 2007: 293). Menurut Stanley Hoffmann (1977), Hubungan Internasional adalah ilmu politik Amerika. Teori Hubungan Internasional modern pertama lahir di Amerika Serikat setelah Perang Dunia II ketika Hubungan Internasional menjadi disiplin yang telah tersebar luas dan merupakan disiplin yang umum pada saat itu. Telah terjadi diskusi tentang apakah ini hanya sebuah ketidakadilan sosial di mana scholars non-Amerika Serikat dan terutama non-Western yang dinilai kurang mampu atau apakah ada perbedaan kualitatif tetapi Hubungan Internasional akan terlihat berbeda jika ditulis dari tempat lain. Dunia Hubungan Internasional paling baik dipandang sebagai campuran dari sistem Amerika Serikat/global dan nasional/regional yang memiliki berbagai tingkat kemandirian (Weaver 2007: 296).

Dari Hubungan Internasional, sering terjadi suatu perdebatan yaitu great debates. Perdebatan memastikan bahwa teori tetap menjadi pusat. Tanpa perdebatan yang berulang-ulang, teori-teori yang bersifat empiris akan pecah dan hanya menerapkan teori yang sudah ada (Weaver 2007: 297). Dalam Hubungan Internasional, great debates adalah suatu hal yang berkala dan telah menjadi bagian dari struktur disiplin. Perdebatan berfungsi untuk memfokuskan disiplin dan untuk menentukan baik hirarki bentuk kerja dan memberikan peran yang berarti untuk bagian yang lebih besar dari apa yang terjadi (Weaver 2007: 299). Great debate adalah suatu hal yang dianggap ganjil dan negatif dan berharap tidak akan terjadinya perdebatan lagi. Namun, great debate itu sendiri memiliki damapk yang positif karena 3 alasan. Pertama, kritik dari perdebatan besar secara implisit menganggap bahwa alternatif adalah disiplin yang lebih koheren. Sebaliknya, hasil yang lebih mungkin adalah bahwa bidang akan kurang terintegrasi jika narasi great debates hilang. Kedua, debate adalah bagian dari struktur, dengan demikian haruslah sungguh-sungguh dalam menanggapinya untuk mengetahui bagaimana suatu disiplin bekerja. Ketiga, perdebatan ini mempermudah kita untuk memahami teori-teori (Weaver 2007: 300).

Selain itu, terdapat faktor penyebab timbulnya keraguan mengenai Hubungan Internasional adalah kemunculah Hubungan Internasional yang bisa dikatakan terlambat bila dibandingkan dengan berbagai disiplin ilmu yang lain. Hubungan Internasional baru muncul sekitar abad ke-20. Hal-hal yang dikaji dalam Hubungan Internasional sendiri hanyalah berupa politik global, bagaimana menciptakan perdamaian, dan menghindari perang. Hubungan Internasional dikatakan sebagai internasionalisasi sistem berfikir dan dalam prakteknya yang terjadi di Eropa, dasar dari Hubungan Internasional sendiri muncul di Westphalia (Darby 2008: 95). Setelah Westphalia kemudian muncul berbagai pandangan dalam Hubungan Internasional yang optimis terhadap perdamaian. Permasalahannya adalah pandangan-pandangan ini nyatanya tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Apalagi dengan meletusnya Perang Dunia II, sudah cukup bukti yang menunjukkan bahwa pandangan dalam Hubungan Internasional sendiri keliru. Semakin banyak perang yang terjadi semakin menimbulkan banyak pertanyaan lalu apakah fungsi dari Hubungan Internasional yang awalnya ingin menciptakan perdamaian dan berbagai pandangan optimis lainnya? Apakah kontribusi Hubungan Internaisonal dalam menyelesaikan berbagai permasalahan global yang pelik? Di sinilah muncul kekurangan dari Hubungan Internasional itu sendiri. Hubungan Internasional seharusnya mampu menunjukkan teori-teori yang relevan dengan keadaan dunia saat ini.

Ketika sekarang berpikir mengenai perubahan dalam politik dunia dan masyarakat, maka akan berpikir apa yang harus dilakukan untuk menjamin kelangsungan hidup umat manusia dari moderat konflik antara orang-orang. Tugas utama dari studi ilmu Hubungan Internasional bersama dengan departemen pengetahuan lainnya mengenai urusan manusia adalah untuk membantu setiap individu agar mampu mengatur hubungan antar masyarakat sehingga pada akhirnya akan tercapai tujuan ini. Untuk mencapai tujuan ini, maka ilmu sosial seharusnya menangguhkan pendekatan masa lalu yang berusaha untuk menekuni struktur dan hukum yang harus mengadopsi pendekatan deterministik fisika dan biologi baru dengan bersikap peka terhadap fenomena berupa munculnya penurunan struktur sejarah dan pergerakan organisasi dalam hubungan sosial dan politik.

Semakin berkembangnya tulisan dan literatur dalam beberapa dekade terakhir tentang banyak aspek kehidupan telah membawa dampak besar terhadap sistem internasional secara praktikal. Hal ini sebagian besar merupakan konsekuensi dan hasil dari proses yang disebut dengan globalisasi, melalui globalisasi, dunia mulai berpikir secara terbuka dan meluas, isu-isu lokal tidak lagi menjadi bahasan regional saja tetapi juga internasional, demikian berlaku sebaliknya. Dalam beberapa literatur dinyatakan bahwa, globalisasi mungkin telah mengantar kita pada era post-international relations (Youngs 1999). Untuk membuktikan demikian, ada beberapa pertimbangan yang akan membuktikan atau malah memperdebatkannya.

Berhubungan dengan kaitan masa depan dari hubungan internasional dan studi Hubungan internasional sendiri nantinya akan semakin kompleks dan interdependen. Globalisasi telah membawa kita, mau tidak mau, merekonstruksi, meredefinisi, serta mengkonsep ulang tentang apa itu Hubungan Internasional (Hay 2007: 267). Globalisasi telah membawa dampak besar terhadap dunia, bukan hanya terhadap fenomena praktikal tetapi juga ikut mempengaruhi basis-basis kajian studi Hubungan Internasional sendiri. Untuk itu perlu diketahui apa, siapa dan mengapa globalisasi itu terjadi, serta bagaimana pengaruhnya terhadap kajian studi Hubungan Internasional di masa depan.

Ada beberapa struktur penalaran dan teori-teori dasar pendahulu yang perlu diketahui terhadap hirau mereka menyikapi globalisasi. Seperti yang telah diketahui globalisasi sebagai proses yang tidak berdefinisi tunggal (Wardhani 2012), memang telah sering menjadi bahan perdebatan. Di dalam globalisasi ada banyak teori yang berperan, berkontribusi atau bahkan menyikapi secara skeptis. Dalam berbagai perdebatan tentang globalisasi ada beberapa poin penting bagaimana globalisasi bisa diperdebatkan. Pertama, definisi dari globalisasi sendiri yang begitu beragam. Kedua, debat ini juga merupakan perwujudan atau inkarnasi perdebatan klasik antara state-centric (realis/neorealist skeptis) dan non-state-centric (neoliberalis dan cosmopolitan globalis). Hal ini bukan berarti teori-teori seperti pospositivis dan turunannya tidak berperan penting dalam globalisasi, tetapi yang perlu digaris bawahi adalah kedua teori, skeptis dan globalis inilah yang memegang dan memiliki perspektif variabel kunci dasar terhadap struktur globalisasi.

Ranah debat ini telah membawa sebuah pemahaman baru, tentang bagaimana kedaulatan dan kebijakan negara sebagai aktor anarchy dapat dipengaruhi dan bahkan secara koersif ikut dalam alur sistem globalisasi. Neorealis seperti Barry Buzan misalnya, dalam tesis Review of International Studies telah merestrukturisasi beberapa nilai-nilai realis untuk dapat beradaptasi terhadap sistem globalisasi. Penyesuaian demikian tentunya merupakan dampak tidak terhindarkan, karena neorealist sadar ada nilai-nilai pada globalisasi yang tidak dikaji oleh realis, fokus yang didapat adalah negara tetap berperan terhadap globalisasi sebagai akibat dari high politic anarchy nature negara dan fenomena ekonomi global yang harus dan memang melibatkan negara. Hal ini membuktikan bahwa globalisasi mampu berkembang dan diaplikasikan nilai-nilainya pada teori-teori Hubungan Internasional (Hay 2007: 273).

Aplikasi globalisasi dalam Hubungan Internasional praktikal dapat dibuktikan melalui berbagai aspek. Diantaranya pertukaran lintas batas seperti barang, investasi dan informasi; proses politik antar dan multi-negara yang mempengaruhi pembuatan kebijakan baik domestik maupun internasional; berkembangnya sistem dunia menjadi dinamis, objektif dan lebih terbuka, tidak seperti deskripsi anarchy yang subjektif dan tertutup; berkembangnya isu-isu dan permasalahan kompleks yang membutuhkan solusi global; dan juga perkembangan institusi atau organisasi internasional yang berperan dalam mengarahkan kebijakan internasional (Hay 2007: 274). Melalui indikasi di atas telah membuktikan globalisasi sebagai fenomena yang kompleks dan multi dimensi (Hay  2007: 275).

Merujuk pada hal-hal yang telah dijelaskan tadi adalah perihal globalisasi secara semantik, definitif dan teoritis. Globalisasi tentu juga perlu dikaji dalam kenyataan dunia secara empiris. Dalam kajian empiris sendiri ada dua kategori perbandingan terhadap dampak globalisasi dalam hubungan internasional, yaitu tingkatan perluasan dan konsekuensi atau akibat terhadap sistem internasional. Kedua variabel ini menjadi sebuah kajian studi sebab-akibat globalisasi, fokusnya adalah bagaimana proses dan keberlangsungan integrasi ekonomi sebagai aspek terpenting dalam manifestasi kebijakan politik sebagaimana ekonomi juga sangat mempengaruhi kajian studi dan aspek fundamental yang latent, ini juga disebut dengan interdependensi ekonomi yang kompleks (Hay 2007: 279). Tetapi globalisasi ekonomi yang menjadi fokus dunia saat ini bukanlah globalisasi yang dimengerti seutuhnya sebagai globalisasi, melainkan lebih tepat jika disebut triadization. Ketiga hubungan ekonomi regional antara Amerika Utara, Eropa dan Asia Tenggara yang terintegrasi menghasilkan dampak keterkaitan global tersebut.

Bagaimana selanjutnya dampak pengarahan fokus ekonomi membawa dunia pada sebuah fase baru yang memahami klasifikasi aktor negara sebagai dua perang penting. Globalisasi (ekonomi) menjadikan dua kategori terhadap negara, yaitu welfare state dan competition state (Cerny 1997). Kedua jenis peran ini saling membutuhkan dan berkompetisi untuk survive dan develop, welfare state berusaha mempertahankan posisinya sementara competition state mengejar posisi menjadi welfare. Perilaku negara yang dibentuk seperti ini adalah melalui globalisasi; kecenderungan negara berperilaku menjadi market and trade-oriented. Globalisasi menjadi sebuah ajang kompetisi yang berlangsung terus-menerus dalam berbagai bidang, entah itu ekonomi, teknologi atau bahkan keilmuan. Perubahan state-behavior yang anarchy menjadi berbagi fokus menuju providing welfare to its citizen kiranya telah menunjukkan rata-rata besaran dampak globalisasi terhadap dunia internasional.

Dampak terbesar globalisasi dalam Hubungan Internasional secara praktikal maupun Hubungan Internasional sebagai studi sangat terasa dan mengakar dalam tiap sendi struktur masing-masing. Interdependensi dan saling ketergantungan rumit yang teraplikasi melalui proses panjang telah membawa dunia pada proses transisi independent nation-state menjadi integrated global-governance and society sekaligus yang disatu sisi kooperatif namun juga kompetitif. Pembaharuan dan revisi pemahaman banyak teori dalam satu dunia yaitu globalisasi telah meleburkan kita sebagai keseluruhan global society yang objektif. Memahaminya dari perspektif paling strategis, inilah masa depan hubungan internasional, globally strategical system.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa sebagai sebuah bidang studi yang baru Hubungan Internasional tidak memiliki teori dan metodologi sebanyak yang dimiliki ilmu-ilmu sosial yang lain. Hubungan Internasional sendiri memiliki teori dan metodologi yang unik karena tidak ada teori dan metodologi yang kaku. Hubungan Internasional merupakan studi yang senantiasa berkembang dan tidak bisa terpaku pada hal-hal tertentu. Hubungan Internasional bukanlah studi mengenai politik semata, tetapi juga mengenai ekonomi dan hukum. Itulah yang menyebabkan Hubungan Internasional sebagai studi yang interdisipliner. Hubungan Internasional mencakup berbagai studi dan hanya mempelajari bidang studi yang memang memiliki kaitan dengan Hubungan Internasional. Studi Hubungan Internasional seharusnya fokus pada isu-isu kunci utama yang mempengaruhi kelangsungan hidup biologis umat manusia dan kemudian mengejar keadilan sosial masyarakat, dimana masyarakat memiliki andil penting dalam mempertahankan tatanan dunia. Adapun daftar singkat yang menjadi prioritas untuk masyarakat meliputi kelangsungan hidup masyarakat luas, menghindari adanya perang nuklir, mengurangi kesenjangan sosial antara kaya atau miskin, menjamin perlindungan bagi orang-orang yang paling rentan serta adanya pengaturan yang paling efektif untuk negosiasi penyelesaian konflik.

 

Referensi :

Waever, Ole (2007) “Still a Discipline Ater all These Debates?,” in Tim Dunne, Milja Kurki & Steve Smith (eds.,) International Relations Theories, Discipline and Diversity, Oxford University Press, pp. 288-308.

Darby, Phillip (2008) “A Disabling Discipline?” in Reus-Smit, Christian & Snidal, Duncan (eds.), The Oxford Handbook of International Relations, Oxford University Press, pp. 94-108.

Cox, Robert W. (2008) “The Point Is not Just to Explain the World but to Change It,” in Reus-Smit, Christian & Snidal, Duncan (eds.), The Oxford Handbook of International Relations, Oxford University Press, pp. 84-93.

 Hay, Collin (2007) “International Relations Theory and Globalization,” in Tim Dunne, Milja Kurki & Steve Smith (eds.,) International Relations Theories, Discipline and Diversity, Oxford University Press, pp. 266-287.

Youngs, G. (1999). “International Relations in a Global Age: A Conceptual Challenge (Cambridge: Polity).

Wardhani, Baiq. (2012). ‘Penjelasan pemateri tentang Globalization in IR’, dalam materi presentasi Globalization & IR oleh Dugis, Vinsensio. 2012, disampaikan pada perkuliahan pengantar Hubungan Internasional, Universitas Airlangga.

Cerny, P. G. (1997). ‘Paradoxes of the Competition State: The Dynamics of Political Globalization’, Government and Opposition, 32/1: 251-74.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :