Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

Rezim-Rezim Internasional

 

Rezim yang sering terdengar di telinga masyarakat, belum tentu memiliki makna yang sebenarnya yang dapat diterima oleh masyarakat itu sendiri. Rezim banyak diartikan sebagai kekuasaan pada masa pemerintahan seseorang. Kekuasaan ini dilihat dari kekuatan pada saat kekuasaan pada masa yang dijalankan oleh seseorang dan juga dari masa berlakunya bagi kependudukannya dalam masa kepemimpinannya. Pengertian akan rezim sendiri sangatlah beragam yang selalu terbesit dalam pikiran bagi masyarakat dan hal ini sering sekali disalah artikan. Pada masa sekarang ini media pun bisa langsung menganggap sesuatu dengan rezim, contohnya “Rezim Soeharto”, rezim ini oleh masyarakat dinilai karena masa kepemimpinan Soeharto sangatlah lama dan dianggap bahwa beliau memiliki rezim yang nantinya akan berpengaruh terhadap bangsa Indonesia, khususnya masyarakat Indonesia. Dengan kata lain pada masa pemerintahan Soeharto merupakan pemerintahan yang otoriter. Karena dengan pengertian yang diperoleh oleh masyarakat bahwa rezim ialah aturan main yang dibuat oleh seseorang dan hal ini lah yang membuat masyarakat salah kaprah terhadap makna rezim itu sendiri.

Rezim internasional memiliki pengertian sebagai prinsip, norma, peraturan, dan prosedur pengambilan keputusan yang dapat menjadi suatu harapan dalam suatu isu tertentu. Dalam penjelasan yang dibuat oleh Oran Young, Raymond Hopkins dan Donald Puchala melihat rezim sebagai karakteristik yang dapat mempengaruhi sistem internasional (Krasner, 1983: 1). Rezim yang ada bukan hanya sebagai rezim biasa saja, karena rezim sendiri memiliki pandangan yang nantinya akan berpengaruh ke depannya. Rezim memiliki fungsi yang sangat berpengaruh bagi jalannya kerjasama antar kedua negara. Hal ini disebabkan karena dengan kemunculan adanya rezim sendiri dapat memunculkan standar yang nantinya sangat berguna bagi terciptanya kerjasama yang telah dijalankan oleh negara-negara yang saling melakukan kerjasama.      

Perkembangan rezim sendiri sebenarnya terjadi karena adanya pengaruh dari perkembangan metodologi studi hubungan internasional. Perkembangan pertama diawali dengan munculnya perspektif baru, yaitu conventional structural yang menyebutkan bahwa rezim itu kurang berguna atau dapat dikatakan tidak berguna karena dalam pandangan ini dikatakan bahwa negara bersifat egois dan mereka dalam untuk melakukan hal ini hanyalah untuk mencari kepentingan dan kekuatan, serta nilai yang nantinya akan akan di dapatinya (Krasner, 1983). Dengan kata lain, rezim disini diibaratkan alat dari prinsip dan norma agar bisa mencapai pola tingkah laku untuk mencapai hasil akhir yang diinginkan. Selain itu, konsep ini juga menjelaskan bahwa segala sesuatu di dunia ini tidaklah langsung terbentuk sendiri, melainkan terbentuk atas keinginan untuk alasan tertentu dan rezim ini terbentuk karena ada penyebab dasar untuk tujuan perilaku yang diharapkan nantinya. Perkembangan kedua ialah strukturalisasi yang termodifikasi. Dalam hal ini terdapat dua opsi yang menyebutkan bahwa variabel penyebab dasar bisa langsung membentuk hasil dan atau bisa juga variabel dasar tadi membentukrezim terlebih dahulu dan rezim menjadi alat agar bisa mendapatkan hasil. Lalu, perkembangan ketiga ini berdasarkan dari kaum grotian yang menyebutkan bahwa rezim itu menjadi dasar dibentuknya institusi dan organisasi internasional, dan hal ini juga dianggap sebagai dasar dalam bertindak dari sistem internasional kalau hal ini diwujudkan. Terdapat pula hubungan rezim dengan hubungan internasional ialah karena rezim sendiri merupakan dasar yang harus dipegang jika ingin melakukan interaksi antar negara dan hal inilah yang kemudian menjadi penguat setiap negara dalam melakukan hubungan dengan negara lain.

Kesimpulan yang didapat dari uraian diatas ialah dengan adanya rezim sendiri dapat memberikan dampak bagi setiap negara yang melakukan interaksi. Karena pengertian rezim sendiri ialah pengertian sebagai prinsip, norma, peraturan, dan prosedur pengambilan keputusan yang dapat menjadi suatu harapan dalam suatu isu tertentu. Semua hal ini yang kemudian memberikan dasar kepada setiap negara bahwa jika ingin melakukan kerjasama itu diperlukan adanya rezim, dan rezim itu sendiri merupakan dasar dalam melakukan sebuah tindakan.

 

Referensi :

Krasner, Stephen D. 1982. “Structural Causes and Regime Consequences: Regimes as

Intervening Variables.” International Organization 36/2 (Spring). Reprinted in

Stephen D. Krasner, ed., International Regimes, Ithaca, NY: Cornell University Press, 1983.

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :