Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

Realisme

Banyak pandangan yang diterapkan dalam hubungan internasional. Hubungan internasional sendiri memang tidak lepas dari berbagai macam pandangan. Semua ini merupakan cara dalam memahami bagaimana pandangan tersebut mengenali atau memahami hubungan internasional itu sendiri. Pandangan yang terdapat dalam hubungan internasional seperti realisme, liberalisme, neo-realisme, marxisme, dan paham-paham lainnya. Namun, pembahasan kali ini menjelaskan bagaimana pandangan realisme. Kaum realis memiliki cara dalam melakukan pendekatan-pendekatan, antara lain pendekatan klasik dan pendekatan kontemporer pada realisme. Kaum realisme klasik lebih menekankan aspek-aspek normatif dan juga aspek-aspek empiris, namun penekanan seperti ini juga dipahami oleh kaum realis neoklasik, sedangkan kaum realis kontemporer lebih menekankan dalam analisis ilmiah sosial atas struktur dan proses politik dunia. Semua ini juga berakibat pada pandangan kaum realis terhadap pemikiran dengan mengabaikan norma-norma dan nilai-nilai (Jackson & Sorensen 2009, 87). Dengan cara ini, realisme kembali menekankan kekekalan dan pentingnya kontinuitas dalam penelitian teoritis. Perhatian normatif dengan permasalahan sebab-sebab perang dan keadaan damai, keamanan dan ketertiban yang menjadi pedoman penelitian dan pengajaran Hubungan Internasional karena semua itu pada intinya merupakan permasalahan-permasalahan yang penting.

Realisme merupakan pandangan yang muncul sudah sangat lama dalam perkembangan hubungan internasional sendiri. Dapat dikatakan pula bahwa realisme merupakan pemikiran tertua dalam hubungan internasional. Realisme bukanlah kaum yang sependapat dengan perdamaian abadi karena kaum realis menentang adanya perdamaian dunia. Awal mula munculnya realisme karena pecahnya perang dunia. Terdapat tokoh yang memahami dan berpandangan juga terhadap pandangan realisme sendiri, antara lain Thucydides, Niccolo Machiavelli, Morgenthau, dan kaum realis lainnya. Pemikiran dari kaum realis yang dikatakan dominan atau lebih berpengaruh terhadap (dalam) hubungan internasional karena dalam praktek diplomasi internasional yang telah menempatkan posisinya dalam posisi penting. Kekuatan tradisi kaum realis terletak pada kemampuannya menyatakan argumen karena kebutuhan. Tradisi kaum realis berusaha menjabarkan realitas, memecahkan masalah dan memahami keberlangsungan politik dunia. Terdapat empat dasar yang mendasari kaum realis, antara lain pandangan pesimis atas sifat manusia, keyakinan bahwa hubungan internasional pada dasarnya konfliktual dan bahwa konflik internasional pada akhirnya diselesaikan melalui perang, menjunjung tinggi nilai-nilai keamanan nasional dan kelangsungan hidup negara, serta skeptisisme dasar bahwa terdapat kemajuan dalam politik internasional. Pemikiran seperti ini mengendalikan atas apa yang dipikirkan oleh para ahli terkemuka dalam memahami realisme (Jackson & Sorensen 2009, 88). Realisme menjelaskan kompetisi dan konflik yang tidak bisa dihindari antar negara dengan menyoroti sifat tidak aman dan anarkis dari lingkungan internasional.

Dalam realis terdapat tiga pilar utama yang penting, yaitu statism (state), self help (anarchy), dan survival (power). Pilar pertama, statism mempercayai bahwa aktor merupakan yang paling dominan. Negara adalah aktor unggulan dalam politik internasional. Pilar kedua, self help menjelaskan bahwa keamanan yang diperlukan oleh suatu negara merupakan tanggung jawab negara itu sendiri. Selain itu, dalam self help terkenal dengan penyebutan akan anarchy. Anarchy sendiri bukanlah tentang arti yang dipahami selama ini seperti tentang sesuatu yang keras. Namun, dalam hubungan internasional anarchy sendiri merupakan penjelasan tentang tidak adanya aturan dan tidak ada yang mengatur. Semua ini dapat terlihat perbedaannya pemahaman yang dilihat dari sudut pandang yang berbeda (Vasquez, dalam Wardhani 2013). Pilar ketiga, survival, terdapat dua poin yang menjelaskan pilar tersebut, yaitu balance of power dengan multipolar. Balance of power sendiri merupakan sifat yang nantinya hanya berpengaruh pada negara-negara besar, atau dengan kata lain hanya akan mengerucut pada negara besar. Contoh dari balance of power, yaitu dengan adanya perang dingin antara Amerika dengan Uni Soviet dan kekuatan besar ini mengerucut pada dua kekuatan negara superpower tersebut. Pada saat inilah terjadi yang namanya balance of power karena yang bermain ini terpusat pada kedua negara tersebut. Sedangkan, multipolar merupakan kekuatan yang di distribusi oleh aktor. Dengan kata lain, aktor-aktor akan mampu bersaing karena memiliki kekuasaan tertentu. Contohnya, yaitu dengan banyaknya negara superpower yang bermunculan pada masa sekarang ini misalnya Amerika dan Korea Utara.

Realisme tidak terlepas dari adanya aktor utama, yaitu negara. Negara dikatakan sebagai aktor utama karena negara memiliki otoritas untuk mengatur apa yang terjadi di dalam negara tersebut, yaitu negara dapat merancang dan membuat kebijakan luar negeri dan kebijakan tersebut digunakan untuk mendapatkan kepentingan nasional negaranya.  Selain itu, terdapat asumsi dasar dalam realisme, antara lain sistem internasional yang digunakan ialah anarki, negara dipandang sebagai unit yang satu dan rasional, negara adalah aktor utama, bahasan utamanya ialah survival, dalam politik internasional moral memiliki batasan, dan tidak ada sesuatu yang mutlak, serta lebih mementingkan politik internasional daripada politik yang terjadi didalam negara itu sendiri. Dalam pernyataan terakhir yang menjelaskan bahwa negara lebih mementingkan politik internasionalnya daripada politik yang terjadi di dalam negara tersebut, namun ini semua bisa saja tidak terjadi kalau dalam domestic politics terjadi gangguan dan yang diutamakan oleh kaum realis ini ialah menyelesaikan masalah yang ada di dalam domestic politics agar tidak mempengaruhi bagi politik internasionalnya  (Vasquez, dalam Wardhani 2013). Menurut kaum realis, negara hanya memikirkan dirinya sendiri karena ini semua dipengaruhi oleh national interst dan struggle of power yang dimiliki negara tersebut. Realisme muncul karena berdasarkan sifat manusia, yaitu egois dan agresif. Hal ini merupakan fondasi bagi realisme. Sikap inilah yang menjadi pemicu dalam terjadinya perang dan perang yag nantinya terjadi bisa saja tidak akan ada akhirnya. Selain itu, bagi kaum realis tidak ada yang namanya prinsip-prinsip moral universal dan lebih mementingkan interest. Semua ini merupakan hal yang bisa dipertimbangkan, namun tidak dapat diperhitungkan.

Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa realisme merupakan pemikiran tertua dalam hubungan internasional. Realisme sendiri menentang adanya perdamaian dunia. Selain itu, realisme mengambil jalan perdamaian melalui perang. Namun, semua ini bukanlah cara yang terbaik dalam melakukan perdamaian jika melalui perang karena jika ingin melakukan perdamaian, lebih baik menggunakan cara diplomasi yang nantinya akan menguntunkan bagi semua pihak.

 

Referensi :

Jackson, Robert & Sorensen, Georg. 2009. “Pengantar Studi Hubungan Internasional”.

Pustaka Pelajar: Yogyakarta.

 

Wardhani, Baiq L. S., 2013. Realism in Int’l Relation. materi disampaikan pada kuliah Teori

Hubungan Internasional. Departemen Hubungan Internasional, Universitas Airlangga.

7 Maret 2013.

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :