Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

Teori Rezim Internasional

Rezim muncul karena adanya ketidakpuasan terhadap konsepsi dominan tatanan internasional, otoritas, dan organisasi. Tak luput dalam fokus bahasannya, rezim internasional pun tak bisa lepas dari hubungan internasional yang merupakan fokus utama dalam penelitian empiris dan debat teoritisnya (Haggard dan Simmons 1987, 491). Namun, banyak yang masih meragukan arti definisi rezim internasional itu sendiri. Definisi rezim internasional ini banyak dikemukakan oleh para ahli. Menurut Donald Puchala dan Raymond Hopkins, menyebutkan bahwa dalam setiap substansi issue-area dalam hubungan internasional harus terdapat rezim, baik itu terdapat keteraturan tentang perilaku, beberapa jenis prinsip, norma atau aturan yang ada dan mampu menjelaskan itu semua. Selain itu, Stephen D. Krasner berpendapat bahwa rezim merupakan seperangkat prinsip baik itu implisit maupun eksplisit, norma, aturan dan prosedur pengambilan keputusan yang dijalankan oleh para aktor dalam hubungan internasional (Haggard dan Simmons 1987, 493).

Rezim internasional merupakan suatu instrument yang digunakan oleh aktor internasional dalam melakukan survival oleh negara-negara. Kemunculan rezim internasional digunakan sebagai alternatif dalam menjalin hubungan antar negara maupun aktor-aktor non negara. Selain itu, terdapat empat dimensi dalam rezim jika mengalami perubahan, antara lain strength (kekuatan), organizational form (bentuk organisasi), scope (ruang lingkup), dan allocational mode (modus alokasi). Strength (kekuatan), menjelaskan bahwa alasan apa yang dapat melemahkan rezim karena jika kekuatan dalam aktor rezim tersebut besar, maka akan memberikan dampak kepada rezim tersebut yang nantinya kuat juga, tetapi jika aktor rezim tersebut memiliki kekuatan yang lemah, maka akan menghancurkan rezim tersebut. Organizational form, dimensi yang menjelaskan bahwa rezim dipengaruhi oleh organisasi dan organisasi tersebut perannya bisa memaksa seperti negara karena dalam hal ini rezim tersebut ingin mencapai tujuan tertentu. Scope, hal ini tergantung pada ruang lingkup isu yang mencakup rezim itu sendiri karena ruang lingkup isu rezim memiliki cakupan yang sangat luas. Dapat dilihat sebagai contoh GATT yang awalnya mencakup umum seperti perdangan, namun karena adanya perubahan isu menyebabkan meluasnya cakupan isu hingga pengaturan nasional berinvestasi. Allocation mode, rezim yang dapat mendukung mekanisme sosial berbeda untuk alokasi sumber dana. Hal ini membuat mode alokasi melakukan kontrol yang nantinya akan dapat menentukan untuk menyeimbangkan antara rezim (Haggard dan Simmons 1987, 497-498).

Terdapat empat jenis pendekatan rezim, yaitu structural, game-theoretic, functional, dan cognitif. Pendekatam structural menjelaskan khususnya teori stabilitas hegemoni mencoba menunjukkan bagaimana kondisi internasional dalam melakukan kerjasama. Pendekatan game-theoretic merupakan teori yang menjelaskan kondisi di mana rezim mungkin timbul sebagai turunan dari perilaku kooperatif dan juga dapat menunjukkan kondisi yang kondusif untuk stabil kepatuhan, tetapi memiliki kesulitan menjelaskan bentuk organisasi, ruang lingkup, atau perubahan (Haggard dan Simmons 1987, 504). Pendekatan functional Teori fungsional menjelaskan kekuatan rezim, terutama teka-teki mengapa kepatuhan terhadap rezim cenderung bertahan bahkan ketika struktural kondisi yang awalnya memunculkan perubahan. Sedangkan, pendekatan cognitif  merupakan pendekatan yang ada karena adanya pembelajaran dari pendekatan-pendekatan sebelumnya, yaitu structural, game-theoretic dan functional, kerjasama yang tidak dapat sepenuhnya dijelaskan tanpa mengacu pada ideologi, nilai-nilai aktor, keyakinan yang mereka pegang tentang saling ketergantungan isu, dan tersedia bagi mereka pengetahuan tentang bagaimana mereka dapat mewujudkan tujuan tertentu. Kerjasama dipengaruhi oleh persepsi dan mispersepsi, kapasitas dalam proses informasi, dan pembelajaran.

Semua ini dapat memberikan kesimpulan bahwa fokus utama rezim tidak bisa lepas dari hubungan internasional. Dengan ini semua telah membuktikan bahwa kajian hubungan internasional memerlukan adanya rezim. Rezim bukanlah pembelajaran yang begitu saja dapat diabaikan karena dengan pembelajaran mengenai rezim sendiri dapat memberikan dampak positif juga bagi yang memperlajarinya dan memperdalam ilmu dalam hubungan internasional itu sendiri.

 

Referensi :

Haggard, Stephan & Simmons, Beth A. 1987. “Theories of International Regimes”,

International Organization, Vol. 41, No.3 (Summer, 1987). pp. 491-517 dalam

http://www.jstor.org/stable/2706754

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :