Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

Liberalisme

Liberalisme merupakan paham terhadap pandangan yang berbanding terbalik dengan realisme. Paham realisme yang lebih menekankan jika ingin melakukan perdamaian lebih memilih melalui jalan perang, namun berbeda dengan paham liberalisme yang lebih memilih untuk melakukan perdamaian dengan cara melakukan kerjasama. Menurut kaum liberal, perang itu tidak alami dan tidak masuk akal. Selain itu, perang merupakan alat buatan dan bukanlah hasil dari hubungan sosial atau keganjilan sifat manusia yang tak sempurna (Burchill dan Linklater, 41). Kaum liberal dengan kaum realis dalam memandang sifat manusia memiliki pandangan yang berbeda jauh karena kaum liberal lebih memandang sifat manusia dalam pandangan positif, sedangkan kaum realis memandang sifat manusia dalam pandangan negatif. Manusia dalam pandangan realis dianggap sebagai makhluk yang egois, emosional. Namun, dalam pandangan liberal menyakini bahwa setiap individu mampu terlibat dalam aksi sosial yang kolaboratif dan kooperatif. Manusia sendiri memiliki akal dan kemampuan. Hal itu diwujudkan dengan potensi diri mereka dan dengan menyakini bahwa perang dapat dialihkan (dihapuskan) dari kehidupan manusia (Burchill dan Linklater, 41).

Dengan ini semua, paham liberalisme telah menyakini terhadap manusia bahwa memiliki sifat yang positif. Mungkin pada dasarnya memang sifat manusia ialah egois. Semua hal ini tidaklah mungkin karena dengan adanya keyakinan bahwa manusia memiliki sifat yang dapat memajukan perkembangan modernisasi. Modernisasi ini muncul karena adanya dorongan terhadap oleh revolusi intelektual kaum liberal (Jackson dan Sorensen 2009, 140). Tak luput jauh dari pandangan paham realisme, liberalisme pun memiliki pandangan yang sama terhadap sifat manusia, yaitu mengakui individu selalu mementingkan diri sendiri dan bersaing terhadap sesuatu hal (Jackson dan Sorensen 2009, 141). Namun, ini semua bukanlah hal yang menjadikan masalah dalam kaum liberalisme dalam menyakini bahwa manusia khususnya memiliki sifat positif juga yang dapat dipastikan dapat menjalankan perdamaian dunia yang selama ini diidamkan. Perdamaian yang dijalankan ini bisa melalui dengan cara melakukan kerjasama. Kerjasama sendiri pada dasarnya memiliki pengaruh yang positif diantara aktor-aktor yang menjalaninya. Terdapat asumsi-asumsi dasar liberal, antara lain pandangan positif tentang sifat manusia, keyakinan bahwa hubungan internasional dapat bersifat kooperatif daripada konfliktual, dan kepercayaan terhadap kemajuan (Jackson dan Sorensen 2009, 139).

Dalam buku Jackson dan Sorensen (2009) menyebutkan bahwa liberalisme terdiri dari beberapa macam aliran, antara lain liberalisme sosiologis, liberalisme interdependensi, liberalisme institusional, dan liberalisme republikan. Liberalisme sosiologis merupakan paham liberalisme yang lebih menekankan hubungan transnasional diantara rakyat dari negara-negara yang berbeda membantu menciptakan bentuk baru masyarakat manusia yang hadir sepanjang atau bahkan dalam persaingan dengan negara-bangsa (Jackson dan Sorensen 2009, 145). Dalam liberalisme sosiologis memiliki analaogi yang dianalogikan seperti jaring laba-laba karena dalam jaringan laba-laba ini menjelaskan jika dalam melakukan kerjasama dan itu merupakan sambungan antar satu dengan yang lain. Namun, jika dalam jaring tersebut mengalami perpatahan disatu titik dan titik tersebut memiliki pengaruh terhadap yang lainnya dan itu semua bukanlah hal yang tidak mungkin jika dalam melakukan hubungan kerjasama. Jika terjadi hal seperti ini dapat mengalami perpecahan dalam hubungan kerjasama tersebut. Liberalisme interdependensi merupakan paham liberalisme yang lebih menekankan pada hubungan ekonomi dalam pertukaran dan ketergantungan yang menguntungkan antara rakyat dan pemerintah (Jackson dan Sorensen 2009, 139).  Hal semacam ini bisa digambarkan melalui contoh negara dagang, Jerman dan Jepang, yang berhasil mengembalikan ekonomi negaranya pasca perang dengan menahan diri terhadap politik-militer tradisional dan mencukupi kebutuhan ekonomi negaranya sendiri. Liberalisme institusional merupakan paham liberalisme yang menekankan terhadap adanya institusi internasional karena hal ini adalah kepentingan yang independen dan dapat memajukan kerjasama antara negara-negara. Contoh dari liberalisme intsitusional ialah dengan adanya NATO yang merupakan suatu organisasi internasional dan dengan adanya organisasi ini merupakan seperangkat aturan yang mengatur tindakan negara dalam bidang tertentu (Jackson dan Sorensen 2009, 154). Sedangkan, liberalisme republikan merupakan salah satu aliran liberalisme yang lebih menyakini bahwa perdamaian dan kerjasama pada akhirnya akan berlangsung dalam hubungan internasional. Dengan ini semua kaum liberalis republikan menyadari akan pentingnya dalam memajukan demokrasi di seluruh dunia karena itu semua merupakan salah satu dari nilai-nilai politik yang paling fundamental (Jackson dan Sorensen 2009, 161).

Dalam penjelasan yang diutarakan diatas, dengan paham liberalisme yang lebih memilih untuk tidak melakukan tindakan yang merugikan, yaitu dengan melakukan kerjasama karena berbeda dengan paham realisme yang lebih menyukai dalam mewujudkan perdamaian dunia dengan melakukan tindakan, perang. Namun, tindakan yang dilakukan oleh kaum realis bukanlah hal seluruhnya benar karena hal itu juga bisa mengakibatkan hancurnya sebuah negara dan merugikan negara yang terjadi konflik. Aset-aset yang dimiliki negara bukanlah aset yang sangat mudah untuk dicapai dan itu semua membutuhkan waktu. Pandangan yang diterapkan oleh kaum liberalisme yang menyakini bahwa dalam melakukan perdamaian bisa dengan menerapkan kerjasama yang nantinya akan menguntugkan diantara aktor-aktor yang menjalaninya. Selain itu, dengan pandangan paham liberalisme ini lebih menunjukkan bahwa hak asasi manusia lebih terlihat karena kebebasan individu merupakan hal utama yang dipikirkan oleh kaum liberal.

 

Referensi :

Jackson, Robert, dan Georg Sorensen. 2009. Pengantar Studi Hubungan Internasional (terj. Dadan Suryadipura, Introduction to International Relations). Jogjakarta: Pustaka Pelajar.  

 

Burchill, Scott, dan Andrew Linklater. Teori-Teori Hubungan Internasional (terj. M. Sobirin, Theories of International Relations). Bandung: Nusamedia.

 


1. wina

pada : 18 August 2013

"Waw hebat"


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :