Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

Apa Globalisasi Itu?

Sejarah mengenai kapan terjadinya globalisasi belum bisa dikatakan secara pasti karena globalisasi sendiri mungkin sudah terjadi sejaka zaman dahulu dan itu bisa diyakini dengan kejadian yang dramatis, yaitu pasar dunia yang telah terjadi sejak tahun 1945 dikalahkan dengan adanya globalisasi ekonomi pada abad ke-19 (Le Grain 2003, 90). Selain itu, tidak selalu globalisasi dikaitkan dengan perkembangan ekonomi, namun adanya politik dan pertukaran budaya juga mempengaruhi terjadinya globalisasi. Globalisasi dalam perjalanannya pun mengalami pasang surut. Selain itu, globalisasi yang terjadi ini bisa dikatakan terjadi karena adanya pengaruh dari negara-negara liberal. Negara-negara liberal ketika globalisasi mengalami keruntuhan (penurunan) mengalami dampak yang sama. Penurunan yang terjadi pada globalisasi ini terjadi pada bidang ekonomi, namun ini semua berbanding terbalik dalam bidang teknologi karena selama negara-negara ini mengalami kemerosotan dalam bidang ekonomi, mereka menerapkan sistem yang nantinya akan membantu dalam sistem ekonomi mereka, yaitu tarif import (Le Grain 2003, 102). Setelah kemerosotan menggeluti globalisasi bukan berarti globalisasi tidak akan lahir kembali. Globalisasi lahir kembali dengan adanya keyakinan dari ahli-ahli, Harry Dexter White dan John Maynard Keynes, yang meyakini bahwa ekonomi akan semakin baik dalam globalisasi kali ini. Namun, tatanan ekonomi kali ini di bantu dengan adanya organisasi-organisasi seperti WTO dan IMF, yang membantu naiknya perekonomian dalam globalisasi.

Pemahaman mengenai adanya globalisasi mengakibatkan terjadi selisih paham dalam memandang pengaruhnya. Globalisasi yang dalam pandangan neoliberal Amerika memiliki pandangan tentang globalisasi dalam dua hal, baik itu positif dan negatif. Hal ini terjadi karena globalisasi menurut kaum neoliberal Amerika, globalisasi memberikan dampak yang positif, yaitu sesuatu yang baik bagi bagi konsumen dan bisnis di Amerika dan dunia. Selain itu, dampak negatifnya ialah mereka takut untuk kehilangan pekerjaan karena pengaruh dari globalisasi tersebut. Semua ini merupakan berkaitan dengan dua hal penting mengenai dimensi ideologi globalisasi. Pertama, pemimpin politik dan bisnis yang berperan aktif dalam aksinya di globalisasi ini karena disini mereka menganggap globalisasi dalam sisi positif sebagai hal yang penting mengenai global order yang mendasari prinsip pasar bebas. Dengan kata lain, pengambilan keputusan yang dibuat neoliberal harus bisa mengambil peranan penting agar dapat menarik perhatian bagi market-friendly mereka. Kedua, ini semua dilihat dari hasil data yang terkumpulkan dalam Bussiness Week mengenai disonansi kognitif antara orientasi normatif rakyat Amerika terhadap globalisasi dan pengalaman pribadi mereka dalam dunia global. Namun, bagaimana dengan ini semua yang memiliki pandangan berbeda mengenai globalisasi karena disisi lain ketika ada yang beranggapan positif mengenai globalisasi terdapat pandangan negatif yang mengerubunginya. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan dalam ideologi yang mereka tekankan dalam memandang globalisasi ini sendiri. Dalam hal ini telah menjelaskan bahwa visi neoliberal yang memiliki pengaruh dalam opini publik Amerika (Manfred 2002, 43-44). Penjelasan sebelumnya ini menjelaskan bahwa ideologi pasar bagi neoliberal berfungsi sebagai tujuan politik yang konkret.

Dalam hal ini, globalisme untuk pandangannya mengenai globalisasi telah melampaui batas dalam menjelaskan ini semua. Semua ini diperkuat dengan hasil yang mengakui adanya globalisasi mengakui bahwa manguntungkan sebagian besar dari liberalisasi ekonomi, dan lain-lain. Steger Manfred (2002) menjelaskan tentang pandangan para globalis yang dibagi menjadi lima klaim-klaim, antara lain globalisasi adalah tentang liberalisasi dan integrasi pasar, globalisasi adalah hal yang tak terelak dan permanen, tak ada seorang pun dapat memegang kendali dalam globalisasi, globalisasi menguntungkan semua pihak, dan globalisasi merupakan pengaruh dalam meningkatkan demokrasi di seluruh dunia. Pandangan globalis ini merupakan pembelajaran pemahaman dari neoliberal tentang globalisasi yang dianggap sebagai ideologi dan pembangunan kepercayaan dan nilai-nilai (Manfred 2002, 47). Pertama, globalisasi adalah tentang liberalisasi dan integrasi pasar, menjelaskan tentang globalisme yang mengatur neoliberal dalam pasar self-regulating sebagai dasar normatif untuk tatanan global kedepannya. Pandangan yang diutarakan pada klaim pertama ialah terbentuknya pasar bebas karena dalam hal ini kebebasan individu yang diatur oleh aturan pemerintahn juga diterapkan pada pasar bebas ini. Kedua, globalisasi adalah hal yang tak terelak dan permanen, menurut pandangan para globalis, globalisasi mencerminkan fokus penyebaran pasar yang tak terelak oleh inovasi teknologi yang membuat integrasi global ekonomi nasional permanen. Ketiga, tak ada pemegang kendali dalam globalisasi,  menurut Robert Hotmants, globalisasi yang sebenarnya ialah globalisasi tanpa adanya kontrol dari seorang pun, baik itu individu, pemerintah, dan institusi (Manfred 2002, 61). Sebenarnya, pada klaim ketiga ini terjadi semacam perdebatan karena terdapat para ahli yang menyatakan bahwa globalisasi memiliki aktor, namun terdapat pula sebaliknya. Dengan ini semua, para globalis akhirnya memiliki kepercayaan bahwa globalisasi nantinya akan membawa kemakmuran ke seluruh dunia. Keempat, globalisasi menguntungkan semua pihak, dapat dilihat dari pandangan menurut Ravi Kanbur mengenai dengan adanya free-trade bukan berarti seluruh negara akan terkena damprat yang sama, tetapi semua tidak berlaku dengan orang-orang yang levelnya di bawah yang tidak memiliki keuntungan material dari adanya free-trade tersebut . Kelima, globalisasi merupakan pengaruh dalam meningkatkan demokrasi di seluruh dunia, globalisme berpendapat bahwa dengan adanya pasar bebas, misalnya WTO mengibaratkan dengan adanya organisasi tersebut sistem demokrasi dapat terjalankan.

Globalisasi tidak bisa ditentukan kapan datangnya. Namun, globalisasi itu merupakan pandangan yang menjelaskan bahwa batas-batas antar negara hilang (tersamarkan). Globalisasi yang diyakini dan dimengerti oleh masyarakat berbeda halnya dengan klaim-klaim yang telah disebutkan sebelumnya. Hal ini dapat terjadi karena bukan berarti mudah baginya dalam menentukan sikap yang harus dihadapinya pada globalisasi kali ini. Globalisme yang bisa disebut ideologi dalam globalisasi untuk hal ini seakan mendoktrin masyarakat sekarang untuk mempercayai globalisasi yang terjadi ini karena pengaruh dominasi pasar.

 

Referensi :

LeGrain, Philippe. 2003. “A Brief History of Globalisation”, dalam Open World: The Truth About Globalisation, London: Abacus Book, pp. 80-117

Steger, Manfred B. 2002. “Five Central Claims of Globalism”, dalam Globalism: The New Market Ideology, Oxford: Rowman & Littlefield Publisher, Inc., pp.43-80

 

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :