Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

Hegemoni Pasca Perang Dunia II

Tatanan ekonomi politik dunia ekonomi mengalami perkembangan yang sangat jauh berbeda. Tatanan ekonomi politik ini di wujudkan dengan adanya institusionalisme  yang menekankan peran kepentingan bersama. Hal ini dibuat karena demi mewujudkannya rasa saling ketergantungan ekonomi dan efek lembaga (Keohane 2005, 135). Perwujudan yang ingin dicapai ini dilihatnya Amerika Serikat sebagai negara hegemon. Hegemoni muncul karena pengaruh dari power yang dimiliki suatu negara yang lebih dominan dibandingkan dengan negara lain. Hal inilah yang nantinya akan mempengaruhi bahwa hegemon memilki pengaruh besar terhadap jalannya suatu rezim atau organisasi. Hegemoni ini semakin berkembang setelah usainya Perang Dunia II. Para hegemon ini berusaha untuk melakukan tindakan kerjasama yang nantinya akan dapat menjalin suatu hubungan dengan negara satu dengan yang lain. Selain Amerika Serikat yang terkenal dengan peran hegemoninya, Uni Soviet juga memiliki kesan yang sama terhadap pandangan terhadap dirinya mengenai salah satu negara hegemon.

Dalam penjelasan Keohane (2005) menegaskan bahwa terdapat dua pandangan mengenai kondisi kerjasama pasca Perang Dunia II, yaitu liberalisme dan realisme. Dalam pandangan liberalis menjelaskan bahwa terjadinya kerjasama dalam sebuah rezim ini didasarkan karena adanya rasa kepentingan antara aktor satu dengan  yang lainnya. Pemahaman yang kaum liberal tekankan ialah dengan terbentuknya kerjasama internasional dapat mengatasi permasalahan-permasalahan ekonomi akibat Perang Dunia II.  Selain itu, pandangan realisme bahwa kerjasama internasional adalah kerjasama yang hanya merupakan perwujudan dari kepentingan-kepentingan bagi negara-negara besar. Padangan realis ini menekankan adanya hegemon yang nantinya menghasut negara-negara yang kecil karena dengan begitu hegemon ini dapat mencapai kepentingannya. Amerika sebagai hegemoni, membantu melaksanakan untuk menciptakan kerjasama. Terciptanya kerjasama ini dengan membangun rezim internasional yang nantinya akan mengatur hubungan antar negara. Namun, seperti yang diketahui bahwa negara yang melakukan kerjasama internasional sebenarnya ingin mewujudkan dalam pembangunan ekonomi politik internasional. Selain itu, dengan menjalin hubungan seperti inilah ditenkankan bahwa prinsip kerjasama yang dilakukan harus sesuai dengan kepentingan dan ideologi yang dianut (Keohane 2005, 136). Telah dikatakan sebelumnya bahwa negara hegemon memiliki peranan penting karena negara hegemon ini dapat mewujudkan kestabilan nasional. Amerika sebagai hegemoni berhasil dalam menghasut negara-negara lain agar dapat menjalin kerjasama dengannya. Dalam hal ini kekuasaan hegemoni dan rezim internasional didirikan berdasarkan pada kondisi negara hegemon tersebut. Peran hegemoni disini ialah membantu untuk mengurangi dan meringankan ketidakpastian. Biasanya dalam pelaksanaan kerjasama ini diikuti dengan terbentuknya rezim internasional juga. Peran rezim internasional disini ialah menjamin legitimasi bagi standar pelaku hegemon memainkan peran kunci dalam menjaga kerjasama tersebut (Keohane 2005, 137-138).

Selain itu, dalam Hasenclever (2000) menyatakan bahwa terdapat tiga pendekatan utama mengenai kerjasama internasional dalam rezim, yaitu pendekatan neoliberalis, pendekatan realis, dan pendekatan kognitif. Pendekatan neoliberalis ini beranggapan bahwa kerjasama internasional fokus pada peranan dan bersandarkan rezim internasional agar negara dapat memahami common interest (Hasenclever et al. 2000, 7). Pendekatan realis, memandang bahwa hubungan antar negara memerlukan penjelasan. Selain itu, dalam pandangan realis mengenai adanya negara hegemoni. Hal inilah yang nantinya akan menjelaskan bagaimana kooperasi yang akan terjadi pada hubungan antar negara (Hasenclever et al. 2000, 9). Pendekatan kognitif, memandang pada karakter sosial yang terjadi, namun kebebasan suatu negara dalam mengikuti suatu kerjasama internasional tidak dicampuri karena dalam hal mengambil tindakan ini semua sudah diatur oleh para decision-maker dalam keputusan.

Kesimpulan yang didapat, yaitu dengan adanya hegemoni memiliki peranan yang sangat dominan bagi jalannya kerjasama yang rezim. Kerjasama yang dilaksanakan ini menekankan pada pengoperasian lembaga-lembaga internasional sebagai pelaksanaan kekuasaan. Lembaga-lembaga yang dijalankan ini yang dipengaruhi oleh hegemoni biasanya mempengaruhi hasil akhir yang nanti di dapat karena biasanya keuntungan hanya didapat oleh hegemoni tersebut. Selain itu, dengan adanya rezim ini merupakan alasan yang diperbuat oleh hegemon dalam melakukan misi-misi dalam bidang politik yang ingin dicapainya. Maka power dari hegemon ini tidak dapat dihindarkan. Selain itu, dengan adanya kerjasama membuat terbentuknya wadah dalam melakukan interaksi hubungan internasional.

Referensi :

Keohane, Robert O. 2005. ‘Hegemonic Cooperation in the Postwar Era’ dalam O.Keohane, Robert. “After Hegemony Cooperation and Discord inthe world Political Economy”. New Jersey : Princeton University Press. hlm. 135-181.

Hasenclever, Andreas, Peter Mayer dan Volker Rittberger. 2000 “Integrating Theories of International Regimes”,dalam Review of International Studies, Vol. 26, No. 1 (Jan, 2000)

 

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :