Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

Mengapa Pancasila?

Studi Strategis Indonesia I

Kelompok 4 :

  • Surya Perwira                          ()
  • Devi Anggraini                       (071211231003)
  • Robbi Imanurrachman            (071211231015)
  • Meisa Kurnia                           (071211231028)
  • Fikri Fendi                              (071211232014)
  • Alief Iman                               (071211233017)
  • Amanda Rizki                         (071211233030)
  • Ashfar Tito                              (071211233044)
  • Muratbek Dadabaev               (071211233055)

 

Mengapa Pancasila?

Lahirnya Indonesia diikuti dengan adanya ideologi yang terbentuk. Pancasila adalah ideologi yang dipegang dan menjadi pedoman bagi bangsa Indonesia. Dalam pembentukannya, Pancasila mengalami penolakan serta mengalami perubahan-perubahan yang terjadi. Pancasila yang lahir pada tanggal 1 Juni ini dicetuskan oleh Soekarno. Soekarno memilih menggunakan nama Pancasila karena jika ditelusuri lebih dalam, nama Pancasila sendiri berasal dari bahasa Sansekerta dan berarti Panca ialah lima, sedangkan sila merupakan dasar. Pancasila sendiri diilhami dari adanya pendawa yang merupakan tokoh pewayangan dan Rukun Islam (Soekarno 2007, 51). Diilhami dari kedua unsur itu karena kedua unsur tersebut mengandung unsur lima. Hal inilah yang kemudian menjadi alasan dan penentu Soekarno dalam menindak lanjuti Pancasila yang merupakan ideologi bangsa Indonesia.

Pancasila merupakan dasar landasan negara yang dibentuk oleh Founding Fathers sejak masa pra-kemerdekaan dengan berbagai proses menyeluruh dalam mengkaji situasi sosial-politik di Indonesia saat itu beserta ciri khasnya. Proses tersebut dimulai dengan adanya rapat BPUPKI pada 1 Juni 1945. Pada rapat tersebut Soekarno mengemukakan lima prinsip sila sebagai dasar falsafah negara Indonesia merdeka (Somantri 2006, 1). Pembentukan Panitia Sembilan sebagai panitia khusus yang diketuai oleh Ir. Soekarno turut merancang dasar negara atau “Mukadimah” yang dikenal pula sebagai “Piagam Jakarta” (Jakarta Charter). Bukan rahasia lagi, bahwa di dalam Piagam Jakarta ini terdapat susunan Pancasila kasar yang lantas diperdebatkan oleh dua kalangan besar, yaitu kalangan nasionalis Islam dan kalangan Kristen di timur Indonesia perihal sila pertama dalam Pancasila yang pada saat itu masih mencantumkan kalimat memfokuskan pada syariat Islam saja sebagai kewajiban berketuhanan di Indonesia.

Pancasila yang kemudian disetujui dengan adanya proses meyakini nasionalis Islam oleh Moh. Hatta sebagai penggerak persuasif demi mempersatukan bangsa pun mencapai kesepakatan bahwa sila pertama direvisi dengan kalimat yang cenderung lebih netral yakni bermakna berketuhanan tunggal bagi masyarakat Indonesia. Lantas, Pancasila menjadi suatu dasar falsafah negara yang digunakan untuk merumuskan suatu dasar inklusif, yakni dianggap dapat merangkum berbagai kepentingan di dalamnya. Pancasila dipilih sebagai landasan bangsa dapat dikatakan didasarkan pada hal-hal berikut, dimulai dengan adanya dasar relijiusitas namun tidak berlandaskan teokrasi merupakan fokus terhadap satu agama saja, didasarkan dengan pengkajian menyeluruh terhadap latar belakang masyarakat Indonesia di bagian manapun (Somantri 2006, 20). Efektivitas Pancasila menurut Darmaputera terlihat pada keyakinan Founding Fathers untuk mengilhami Pancasila ke dalam jiwa kepribadian bangsa agar menjadi instrument pemersatu berbagai etnis maupun keragaman suku di Indonesia, selain itu Pancasila dianggap mampu menjadi suatu “ketidakjelasan” yang menanggapi realitas sosial dengan bijak disertai kekuatan pendekatan “neither-nor” nya dengan menekankan wajah Pancasila yang kompromistik, sintetis, pencampuran segala aspek budaya serta kombinasi harmonis dan estetis (Somantri 2006, 22-24).

Pancasila hingga kini telah mengalami berbagai dinamika terkait dengan implementasi berbagai situasi di Indonesia yang lantas ditanggapi sesuai falsafah negara ini. Dinamika Pancasila dimulai pada jaman Soekarno yang lama-kelamaan malah menerapkan sosialis sebagai ideologinya, diperparah dengan keinginannya untuk merubah Indonesia yang berlandaskan Nasionalisme, Agama, dan Komunisme (NASAKOM). Kemudian, meletusnya G30S/PKI membuktikan bahwa komunisme bukanlah hal tepat bagi Indonesia. Keberpalingan Soekarno terhadap Pancasila meruntuhkan tampuk pemerintahannya dan menjadikan Indonesia dengan Pancasila dipegang oleh Soeharto yang berhasil menumpas gerakan PKI. Namun, tahun 1980, orde baru Soeharto runtuh. Penuntutan adanya kebebasan oleh berbagai gerakan mahasiswa mencirikan pemerintahan Soeharto menjadikan Pancasila yang kompromistis terhadap situasi sosial seolah-olah rigid dan kaku. Hingga saat ini, implementasi Pancasila dirasa mengalami kemerosotan. Adanya restorasi nilai-nilai Pancasila dianggap perlu oleh Somantri (2006) dengan berlandaskan pada tiga metode, yaitu mengkaji kembali pendekatan “neither-nor” yang lebih condong menempatkan Pancasila sebagai filsafat negatif, restorasi Pancasila harus diiringi dengan pencapaian konsensus antar komponen bangsa baik dengan panel diskusi maupun dialog berkelanjutan, dan adanya perbaikan metode internalisasi nilai-nilai Pancasila terhadap bangsa Indonesia.

Segala sesuatu yang menjadi objek krusial seperti Pancasila tidak pernah mengalami perjalanan ‘mulus’ dalam interpretasinya pada masa-masa yang dialami di negara Indonesia. Ketika masa perjuangan kemerdekaan, perdebatan tentang lima sila dalam pembukaan UUD 1945 bukan merupakan hal yang krusial. Karena pada masa itu bangsa Indonesia fokus pada upaya untuk mempertahankan kemerdekaan dan memperoleh pengakuan dari dunia internasional. Berbeda dinamika Pancasila saat dalam ortodoks ideologi Soekarno yang terjadi pada sekitar tahun 1959, Soekarno berada pada posisi yang kritis karena disadarinya bahwa keadaan darurat perang akan memperkuat peranan dan posisi militer dalam pertarungan kekuasaan di Republik. Karena kondisi kritis tersebut, Presiden Soekarno melihat Pancasila bukan lagi sebagai instrument atau alat yang mencukupi untuk ia memainkan bidak catur politiknya (Somantri 2006, 12).

Lanjut pada masa pemerintahan Soeharto, sosok tokoh militer pada masa demokrasi terpimpin. Masuk pada masa awal Soeharto berkuasa maka dimulailah Masa Orde Baru yang terjadi pada sekitar tahun 1980-an. Pancasila ditekankan sebagai dasar negara dan ideologis. Namun, Pancasila berkembang jauh dari semangat para pemimpin bangsa dimasa pergerakkan ketika rezim Orde Baru dibawah kepemimpinan Soeharto secara fatal telah mengotori Pancasila jauh dari semestinya (Somantri 2006, 17). Saat ini demokrasi yang berbicara, masyarakat bebas berbicara didepan hukum yang tidak pernah didapati pada masa Orde Baru. Sehingga Pancasila saat ini dijadikan dasar negara yang paling fundamental bagi para pemimpin dalam memutuskan setiap piihan demi kesejahteraan bangsa Indonesia.

Kesimpulan bahwa Pancasila merupakan dasar negara yang paling bisa mewakili masyarakat Indonesia. Pancasila hanya di Indonesia, jadi dapat dikatakan bahwa Pancasila itu adalah Indonesia. Menurut negara-negara lain pun memandang Pancasila sebagai dasar negara yang dapat menyentuh bidang dasar kehidupan manusia Indonesia. Sebagai bangsa Indonesia yang memiliki nasionalisme kenegaraan yang tinggi diwajibkan bangga terhadap Pancasila, karena dengan itu akan menjadi pembeda dengan negara-negara lain. Namun, penanaman Pancasila ini sangatlah penting demi mewujudkan cita-cita dan tujuan bangsa Indonesia. Banyak hal yang menjadi penentu agar tujuan Pancasila tercapai, yaitu dengan penanaman dini kepada bangsa Indonesia karena telah diketahui bahwa bangsa Indonesia sudah mulai luntur dari nilai-nilai Pancasila.

REFERENSI :

Soekarno, Ir. 2007. “Lahirnya Pancasila: Pidato di Hadapan Sidang BPUPKI 1 Juni

1945”, dalam Revolusi Indonesia: Nasionalisme, Marhaen, dan Pancasila,

Yogyakarta: Galar Press, pp 27-55

 

Somantri, Gumilar Rusliwa. 2006. “Pancasila dalam Perubahan Sosial-Politik IndonesiaModern”, dalam Restorasi Pancasila: Mendamaikan Politik dan Modernitas, Jakarta: Brighten Press, pp 1-32

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :