Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

Perdebatan Besar dalam Globalisasi

Globalisasi merupakan sebuah gambaran mengenai tatanan dunia yang semakin lama mengalami perkembangan baik dalam bidang teknologi ataupun dalam bidang-bidang yang lain. Globalisasi tidak memandang bulu untuk dapat mempengaruhi hal-hal yang dulunya tidak terlalu menonjol, namun kali ini dapat menjadi lebih berkembang karena pengaruhnya. Globalisasi memiliki tiga konsep yang memiliki pengaruh penting, yaitu ekspansi, refleksi, dan kompresi. Ekspansi menggambarkan bahwa globalisasi berbicara mengenai perpindahan manusia dan barang-barang. Refleksi, globalisasi adalah perpindahan yang terjadi semacam identitas, ide-ide, dan values dari masyarakat. Sedangkan, integrasi berbicara bahwa globalisasi menghilangkan batas-batas teritori (Susanto 2013).

Globalisasi merupakan cerminan persepsi yang berkembang luas bahwa dunia sedang mengalami perubahan bentuk yang diikuti dengan terbentuknya ruang sosial karena kekuatan ekonomi dan teknologi dan perkembangan ini dapat menimbulkan pengaruh besar terhadap kehidupan individu atau masyarakat di sisi lain dunia (Held et al. 1999, 1). Dahulu globalisasi dianggap sebagai pelebaran, pendalaman, dan percepatan terhadap keterkaitannya di seluruh dunia yang mempengaruhi dalam semua aspek kehidupan sosial. Hal ini telah memunculkan berbagai spekulasi mengenai globalisasi karena dalam kaitannya perdebatan-perdebatan terjadi dan dilakukan oleh kaum-kaum yang lebih memandang globalisasi dalam posisi yang berbeda-beda, yaitu hiperglobalis, skeptis, dan transformasionalis (Held et al. 1999, 2).  Pandangan-pandangan yang terjadi inilah kemudian yang memberikan masukan atas apa yang dimaksud dengan globalisasi dan dalam artikel ini dijelaskan mengenai perdebatan yang terjadi pada pengertian atau pandangan mengenai globalisasi.

Pandangan pertama oleh hiperglobalis. Kaum hiperglobalis seperti Ohamae menyatakan bahwa globalisasi kontemporer mendefinisikan zaman baru telah membuat orang-orang tunduk pada disiplin pasar global (Held et al. 1999, 2). Selain itu, kaum hiperglobalis menyatakan bahwa globalisasi telah mengganti era baru sejarah manusia dimana nation-state tradisional sudah tidak wajar lagi dan bahkan unit bisnis sudah masuk terjerumus ke dalam ekonomi global. Ekonomi global telah memberikan dampak munculnya non-state actor yang mempengaruhi kehidupan ekonomi di dunia dan menghapuskan peran negara. Selain itu, ekonomi global adalah satu-satunya yang dapat memenuhi permintaan masyarakat karena negara tak sanggup dalam memenuhi permintaan mereka. Salah satu contoh non-state actor ialah MNC. Pengaruh ini kemudian membuat pandangan bahwa negara adalah aktor utama sudah tidak ditekankan lagi (berkurang) karena dalam pandangan hiperglobalis, negara sebagai fasilitator dalam kerjasama global antar individu dan instansi. Globalisasi ekonomi telah membawa denasionalisasi ekonomi melalui pembentukan jaringan transnasional melalui produksi, perdagangan, dan keuangan. Dengan adanya globalisasi ekonomi, juga telah memberikan dampak terhadap terbangunnya bentuk-bentuk baru dari organisasi sosial dan nation-state tradisional sebagai unit ekonomi dan politik dalam kehidupan politik masyarakat dunia (Held et al. 1999, 3).

Pandangan kedua, skeptis, yang menyebutkan bahwa pada dasarnya globalisasi merupakan mitos yang menyembunyikan realitas ekonomi internasional dan tersegementasi menjadi tiga blok regional utama dan dalam hal ini masih beranggapan bahwa negara masih menjadi hal yang terkuat (Held et al. 1999, 2). Hal ini sangat berbeda dengan pandangan hiperglobalis mengenai bahwa negara telah mengalami krisis mengenai fungsinya yang terkikis menjadi aktor utama. Selain itu, pandangan kaum skeptis ini memiliki kebergantungan pada konsepsi mengenai ekonomi globalisasi dan beranggapan persamaan dengan pasar global yang terintegrasi sempurna. Dalam pandangan kaum skeptis ini beranggapan bahwa kekuatan-kekuatan global yang terbentuk ini bergantung pada kekuatan pemerintah dalam mengatur pemerintahan nasionalnya dan dalam hal ini terdapat regulasi dari MNC yang terlibat di dalamnya, kemudian hal ini akan dijalankan sesuai dengan kepentingan negara tersebut.

Pandangan terakhir, yaitu ketiga, transformationalis beranggapan bahwa globalisasi merupakan pendorong utama di balik perubahan-perubahan sosial, politik, dan ekonomi yang cepat dalam membentuk kembali masyarakat modern dan tatanan dunia (Held et al. 1999, 7). Namun, dalam perjalanannya transformasionalis ini memberikan keambiguan karena tranformasionalis tidak dapat memberikan kepastian yang pasti. Hal ini terjadi diakibatkan karena kaum transformasionalis tidak dapat memposisikan diri. Dengan ini semua kaum transformasionalis juga beranggapan bahwa pemusatan global bukanlah bukti dari adanya keberadaan sistem global tunggal. Namun, kaum transformasionalis berasumsi mengenai globalisasi yang disamakan dengan stratifikasi global.

Pandangan-pandangan yang muncul mengenai globalisasi tidak bisa ditentukan benar atau tidaknya karena ini merupakan pandangan yang dapat diperluas kembali agar dapat memahami sebenarnya artian globalisasi tersebut. Globalisasi ini terjadi secara mendunia tidak hanya disatu sisi saja dan tidak hanya fokus pada satu titik saja,  maka dengan adanya pandangan-pandangan tersebut dapatlah sangat membantu adanya karena dapat mengertikan dan memahami globalisasi. Selain itu, pandangan-pandangan yang telah dijelaskan tersebut sebenarnya memiliki keterikatan diantara satu dengan yang lain. Namun, ini semua bagaimana cara kita dalam mengambil kesimpulan untuk dapat memahami globalisasi itu sendiri.

 

Referensi :

Held, David et. al. 1999. “Introduction”, dalam Global Transformation: Politics, Economics, and Culture, Stanford University Press [pp 1-31]

Susanto, Joko.2013. Apa itu Globalisasi?. materi disampaikan pada kuliah Pengantar Globalisasi. Departemen HI. UA. 21 maret 2013

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :