Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

Perkembangan Ideologi yang Terjadi di Indonesia

Dalam menentukan ideologi yang akan dianut oleh bangsa Indonesia tidaklah sangat mudah. Hal ini disebabkan karena ideologi-ideologi yang berkembang tidaklah sedikit adanya, namun ideologi yang terdapat dan berpengaruh di dalam perkembangan bangsa Indonesia beragam. Dalam tulisan Soekarno (1964) menjelaskan bahwa terdapat tiga ideologi yang mempengaruhi perkembangan bangsa Indonesia, yaitu Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme. Selain itu, ketiga ideologi tersebut merupakan ideologi-ideologi utama yang menaungi seluruh organisasi politik Indonesia (Feith 1988, liv). Ketiga ideologi yang dijelaskan oleh Soekarno sebenarnya sangatlah bertentangan, namun dalam artikelnya, ingin mewujudkan seperti layaknya persatuan (perapatan) antara ketiga ideologi tersebut. Mewujudkan perapatan yang akan dilaksanakan pada ketiga ideologi tersebut tidaklah semudah membalikkan telapak tangan karena dalam hal ini terjadi pertentangan yang menyebabkan pergejolakan-pergejolakan yang membuat ideologi-ideologi tersebut semakin bermunculan konflik.

Terdapat lima aliran dalam pemikiran politik yang dijelaskan dalam artikel Feith (1988), yaitu Nasionalisme Radikal, Tradisionalisme Jawa, Islam, Sosialisme Demokratis, dan Komunisme. Klasifikasi lima golongan ideologi merupakan sebagai pendobrak atas ketidakjelasan pandangan ideologi mengenai siapa yang merasa dirinya dekat dengan tokoh mana dalam politik Indonesia dan klasifikasi ini memberikan pemikiran yang nantinya akan lebih harmonis dan berarti. Dalam hal ini pembedaaan mengenai pemikiran-pemikiran lima ideologi tersebut menjelaskan bagaimana ketegangan yang terjadi antara warisan-warisan tradisional khusus, serta kaitannya dengan dunia modern. Selain itu, adanya perbedaan-perbedaan tajam antara pengaruh-pengaruh ideologis yang diambil dari dunia barat (Feith 1988, lvi).

Ideologi-ideologi yang berkembang ini terjadi dan berpengaruh terhadap jalannya politik ( Ir. Soekarno 1964). Namun, dalam artikel Feith (1988) menjelaskan bahwa dengan adanya konflik yang terjadi di dalam ideologi-ideologi tersebut karena adanya konflik partai. Konflik ini terjadi karena adanya persaingan mengenai sistem-sistem gagasan. Selain itu, pada saat kegiatan ideologi pemerintah yang merupakan akibat dari kebutuhan akan adanya rangka-rangka dasar bagi suatu konsensus, yang menyebabkan kabinet-kabinet terpaksa mengembangkan dna menanamkan rumusan ideologi yang luas. Dengan hal ini diharapkan agar mampu menjadi penghubung antara pelbagai partai yang berlandaskan ideologi untuk dapat bekerja sama (Feith 1988, lii). 

Bukan menjadi alasan bagi Soekarno untuk tidak mewujudkan perapatan itu, namun Soekarno sangatlah yakin dengan adanya perapatan dari ketiga ideologi tersebut dapat mewujudkan persatuan dan membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan. Dengan alasan inilah rakyat Indonesia dituntut untuk dapat mewujudkan hal tersebut. Namun, dengan ini semua rakyat Indonesia juga dituntut agar dapat menerima dan memberi. Ini semua merupakan rahasia Persatuan. Selain itu, dengan adanya perasatuan akan membawa pada bangsa Indonesia ke arah ke-Besaran dan ke-Merdekaan (Ir. Soekarno 1964, 22-23).

Kesimpulan yang didapat ialah dengan adanya berbagai macam ideologi yang berkembang dan menjadi acuan dalam kehidupan politik di Indonesia khususnya, tidak memberikan hal yang secara tuntas dan pasti. Selain itu, dalam memahami ideologi-ideologi yang berkembang tersebut perlu untuk mengambil dari berbagai perspektif. Jika mengaca pada tempo lama mengenai ideologi yang pernah atau dipakai ini dapat memberikan pemahaman lebih dan kepastian. Ideologi-ideologi yang berkembang melalui pandangan para politisi bangsa Indonesia tak pantas diremehkan begtu saja karena hal ini merupakan cara untuk mempertahankan hubungan pemikiran yang sekarang dengan yang terdahulu.

 

Referensi :

Feith, Herbert dan L. Castles. ed. 1988. "Pengantar", dalam Pemikiran Politik Indonesia 1945-1965, Jakarta: LP3ES , pp. xiI-Ixvii

Ir. Soekarno. 1964. "Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme", dalam Dibawah Bendera Revolusi, Jakarta: Departemen Penerangan , pp. 1-23

 


1. rida yanthi hasibuan

pada : 11 August 2013

"kalimat tersebut kurang lengkap dan jelas."


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :