Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

Ekonomi Global

Globalisasi tidak hanya terjadi pada satu bidang saja, melainkan terjadi juga pada bidang ekonomi. Globalisasi dalam ekonomi telah mengalami kemajuan yang sangat pesat. Dengan adanya globalisasi pada bidang ekonomi telah membuka pasar yang kian berkembang dan bukan hanya sebatas pada negara sendiri saja, melainkan secara internasional. Globalisasi dalam hal ini mempengaruhi pada pilihan-pilihan. Hal yang dimaksudkan ialah dengan adanya globalisasi akan semakin menyeragamkan pilihan (Susilo 2013). Penyeragaman dalam pemilihan ini bisa dilihat dari macamnya pilihan barang-barang yang terdapat di toko-toko swalayan. Dapat dilihat dengan tersebarnya produk-produk Malaysia yang terdapat di swalayan Indonesia. Hal inilah yang menjadi pesaing produk bangsa Indonesia.

Dalam artikel “A Global Economy”, Held dan McGrew (2003) mejelaskan mengenai globalisasi yang terjadi dalam bidang ekonomi ini melibatkan antara dua pandangan yang saling bertentangan, yaitu skeptis dan hiperglobalis. Kaum hiperglobalis menyatakan bahwa globalisasi kontemporer mendefinisikan zaman baru telah membuat orang-orang tunduk pada disiplin pasar global (Held et al. 1999, 2). Selain itu, kaum hiperglobalis menyatakan bahwa ekonomi global telah memberikan dampak atas munculnya non-state actor dan tidak menganggap bahwa negara memiliki otoritas besar di dalam aksi ekonomi global tersebut. Globalisasi yang ada saat ini dan mempengaruhi dalam sistem ekonomi global telah membuat kaum hiperglobalis meyakini bahwa perdagangan masa kini lebih terbuka. Hal ini disimpulkan karena adanya perdagangan bebas.

Ekonomi global yang terjadi telah mendorong era konsumerisme global. Kegiatan tersebut dapat dilihat dari adanya perilaku bangsa Indonesia yang mengimpor beras, tetapi sebenarnya bangsa Indonesia sendiri memiliki lahan yang cukup untuk menghasilkan produk beras tersebut. Hal demikian terjadi karena adanya perdagangan bebas yang kali ini lebih terbuka dan konsumerisme yang sudah kian meningkat. Terdapat argumen yang dikemukakan oleh ahli, yaitu Thompson dan Hirst, yang menyatakan bahwa globalisasi sama dengan imperialisme lama dan ekonomi sekarang jauh lebih terbuka. Pendapat inilah yang membuktikan bahwa pandangan ini lebih mengacu pada kaum hiperglobalis. Selain itu, Thompson dan Hirst berpendapat lain mengenai ekonomi yang terjadi sekarang lebih terkotak-kotak dan berulangnya era kolonialisme dan imperialisme lama, yang saat ini disebut dengan globalisasi.

Kaum skeptis lebih memilih dalam pola lama, yaitu kapitalisme lama, dan hal ini terdapat signifikasi dalam ekonomi, tetapi pola dan modelnya tidak berubah dan keuntungan masuk ke negara. Namun, dalam pandangan kaum memiliki kebergantungan pada konsepsi mengenai ekonomi globalisasi dan beranggapan persamaan dengan pasar global yang terintegrasi sempurna. Hal ini membuktikan bahwa dalam pandangan kaum skeptis lebih dominan terhadap negara dan tidak percaya (kurang meyakini) adanya ekonomi global. Dapat dikatakan bahwa sebenarnya kaum skeptis lebih memilih bahwa otoritas besar masih dipegang oleh negara. Globalisasi yang sedang terjadi ini, kaum skeptis memposisikan dirinya dalam sebuah tren ekonomi global (Held dan McGrew 2003, 38).

Kaum skeptis lebih melihat bahwa aktor utama ialah negara dan dalam kaitannya menggunakan sistem kapitalisme karena mereka mencari untung. Dalam sebuah perdagangan yang mencari keuntungan yang dapat dilihat ialah dengan adanya suatu brand produk makanan junk food, yaitu KFC dan McDonald, dalam hal ini kedua brand tersebut berada dibelakang negara dan memiliki untung besar bagi yang memiliki brand tersebut. Selain itu, dapat dikatakan bahwa dengan semakin berkembang ekonomi global yang terjadi dalam produk yang dikatakan sebelumnya bukanlah dari produk tersebut yang membuat semakin merambah dipasaran, melainkan karena adanya ekonomi informasi. Ekonomi informasi inilebih mengdepankan informasi tentang sebuah produk. Dalam hal ini dapat dilihat bahwa perkembangan informasi yang terjadi telah menstimulus ekonomi. selain itu, konsumen yang ada lebih tertarik pada konstruksi informasi, maka dengan adanya hal tersebut telah membuat informassi menjadi komoditas yang terpenting dan dapat diperjual belikan (Safril 2013).

Kesimpulan yang didapat ialah dengan adanya pandangan mengenai kaum skeptis dan hiperglobalis yang berbeda dalam pandangan mengenai peran negara. Kaum skeptis yang lebih memilih bahwa negara merupakan aktor terpenting dalam jalannya ekonomi global, namun bagi kaum hiperglobalis mengarah pada peran dari non-state actor. Globalisasi yang terjadi ini merupakan jaringan yang terjalin dan dilakukan oleh manusia, serta saling berhubungan yang memiliki dampak. Selain itu, yang telah dikatakan sebelumnya bahwa negara dalam pandangan kedua kaum ini tidak memiliki peran yang sama bukan berarti tidak menjadi patokan dalam globalisasi, melainkan dalam hal ini negara masih berwenang untuk melakukan tugas yang berkaitan dengan sistem pemerintahannya.

 

Referensi :

Held, David dan Anthony McGrew. 2003. “A Global Economy?”, dalam Globalization / Anti-Globalization, Oxford: Blackwell Publishing Ltd., pp. 38-57

Susanto, Joko. 2013. Global Economy, dalam kuliah Pengantar Globalisasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga, pada 28 Maret 2013.

Held, David et. al. 1999. “Introduction”, dalam Global Transformation: Politics, Economics, and Culture, Stanford University Press [pp 1-31]

Safril, Ahmad. 2013. Global Economy, dalam kuliah Pengantar Globalisasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga, pada 28 Maret 2013.

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :