Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

Marxisme dan Strukturalisme

Berbeda dengan bahasan yang lalu, marxisme merupakan sebuah pandangan yang berdasarkan kelas sosial. Marxisme sebenarnya bukanlah sebuah pandangan yang memang lahir dari hubungan internasional seperti realisme dan liberalisme. Marxisme memiliki kritik terhadap realisme dan liberalisme mengenai objek pandangan yang mereka lakukan. Dalam marxisme, memandang mengenai individu dan mereka lebih mementingkan bagaimana individu tersebut (self-serving). Hal ini juga tidak memiliki manfaat bagi khalayak luas karena mereka dikenalkan oleh elit ekonomi sendiri. Marxisme muncul karena menanggapi pandangan dari kaum kapitalis. Bagi kaum marxis, perekonomian kapitalis didasarkan pada dua kelas sosial yang bertentangan, yaitu kaum borjuis dan kaum proletar. Kaum borjuis merupakan kaum yang dianggap memiliki alat-alat produksi, sedangkan kaum proletar merupakan kaum yang hanya memiliki kekuatan kerja dan hal inilah yang dijual kepada kaum borjuis (Jackson dan Sorensen 2009, 239). Marxisme tidak menyetujui dengan padangan kaum realis dan liberalis, hal ini terjadi karena ideologi kaum realis dan liberalis tidak berguna dalam society. Kedua ideologi itu dibuat oleh kaum economic of high yang tidak sesuai dengan kaum marxisme akui. Ideologi kaum kapitalis ini merupakan ideologi yang menggambarkan bahwa kaum kapitalis ingin mengumpulkan modal (capital) sebanyak-banyaknya untuk melakukan eksploitasi dan kolonialisme.

Marxisme ini muncul bukan karena adanya perkembangan dari pandangan-pandangan yang ada sebelumnya. Namun, padangan marxisme ini merupakan pandangan yang muncul dari pandangan seseorang, yaitu Marx, pandangan ini menganggap bahwa dirinya sebagai anak angkat dari hubungan internasional dan pandangan ini tidak memiliki paradigma khas dari hubungan internasional (Wardhani 2013). Marx membuat pandangan ini adalah sebagai aksi penolakan terhadap pandangan kaum ekonomi liberal. Kaum ekonomi liberal memandang perekonomian sebagai “positive sum game” dengan keuntungan bagi semua (Jackson dan Sorensen 2009, 238). Namun, ini semua berbeda dengan padangannya mengenai peran perekonomian yang menjadi tempat pengeksploitasi manusia dan pembeda dalam kelas.

Marx memberi kesimpulan terhadap revolusi politik yang akan menggulingkan tatanan kapitalis dan menciptakan sebuah tatanan masyarakat yang sosialis, yaitu dengan prinsip-prinsip kebebasan dan kesetaraan. Namun, kesetaraan dan kebebasan yang sering diserukan oleh ideologi kapitalis ini mengalami hambatan karena struktur kapitalistik, yang akan terwujud untuk meningkatkan derajat kehidupan manusia di seluruh dunia (Burchill dan Linklater 2009, 161). Selain itu, marxisme memandang manusia secara oriented dan rasional. Hal ini berhubungan dengan proses sejarah dan kaum marxisme juga menjelaskan mengenai hubungan manusia, yaitu hubungan manusia dengan alam, hubungan manusia dengan sosial institusi, dan hubungan manusia dengan diri sendiri yang bermaksud untuk memperbaiki individu tersebut.

Marxisme meyakini bahwa perdamaian dunia dapar dicapai melalui tindakan kesetaraan dunia dan hal ini bertolak belakang dengan pandangan-pandangan sebelumnya yang meyakini bahwa perdamaian dunia dapat dicapai melalui seperti nasionalisme, perang, dan Balance of Power. Selain itu, marxis memandang dirinya dalam hal equality (kesetaraan) dan equity (kesempatan). Hal ini merupakan gambaran mengenai keadaan domestik yang terjadi di dalam pandangan marxisme. Selain itu, kaum marxis sepakat mengenai peran politik dan ekonomi saling berkaitan. Dalam hal ini kaum marxisme menempatkan ekonomi dalam urutan pertama dan urutan kedua terhadap politik (Jackson dan Sorensen 2009, 238-239). Terdapat analisis atas globalisasi dan fragmentasi dalam tradisi pemikiran marxis yang disandarkan pada paradigma tentang kelas dan produksi, serta banyak yang beragumen bahwa fokus perhatiannya yang merduksi kondisi sosial ke dalam dimensi ekonomi menghambat pemahaman yang lebih dalam atas kontur utama sejarah modern dan menghalangi upaya pembentukan respon normatif dan politis atas permasalahan politik internasional (Burchill dan Linklater 2009, 163).

Strukturalisme merupakan pandangan yang bernasib sama seperti marxisme, yaitu tidaklah lahir dari hubungan internasional secara langsung, melainkan bagi strukturalisme ini menganggap bahwa dirinya lahir dari hubungan internasional (Wardhani 2013). Strukturalisme lahir karena diilhami dari pandangan marxisme, namun strukturalisme ini juga mengkritisi marxisme mengenai hubungan eksploitatif borjuis terhadap proletar. Strukturalisme meyakini bahwa tidak mungkin untuk menghilangkan stratifikasi sosial. Selain itu, strukturalisme pesimis akan adanya revolusi buruh.

Terdapat hal-hal yang menyukseskan bagi kaum strukturalisme, yaitu dengan adanya World System Theory dan Dependence Theory. Dalam World System Theory, dunia dibagi menjadi tiga kelompok besar, yaitu First World (Core), Third World (Periphery), dan Semi-periphery. First World ini merupakan penggolongan bagi negara makmur, yaitu kaum borjuis karena mereka memiliki modal dan kapital. Third World merupakan sebutan bagi negara yang dimiskinkan oleh sistem dan hal ini bisanya terjadi pada negara-negara yang sedang berkembang karena dalam hal ini sumber tenaga kerja dan sumber daya alam yang dimiliki oleh negara tersebut dieksploitasi oleh negara kaya. Sedangkan, Semi-periphery adalah sebutan bagi negara yang tidak dapat disebut sebagai negara core ataupun periphery, misalnya Malaysia.

Terdapat dua tipe World System Theory, yaitu World Empire dan World Economies. World Empire merupakan pemerintahan yang tersentralisasi, sedangkan World Economies merupakan mekanisme sistem pasar. Dependence Theory adalah merupakan dasar dari politik internasional yang menjadi transfer dari sumber alam dari peripheray ke core (Wardhani 2013). Selain itu, terdapat kontribusi strukturalisme, yaitu satu-satunya mainstream theory yang fokus ke equality dan emancipation dan sistematik. Dalam hal ini juga kaum strukturalisme juga memilki kritik-kritik mengenai produk-produk dari konflik Europe (belum tentu objektif), terjadi dalam keadaan domestik saja, dan tidak membantu persoalan perang dan damai.

Dari hal yang telah dipaparkan dapat disimpulkan bahwa pandangan kaum marxisme tidaklah pandangan yang diakui oleh hubungan internasional. Hal ini disebabkan karena marxisme dalam pandangannya tidak masuk akal. Berbeda dengan strukturalisme yang diakui sebagai marxisme dalam hubungan internasional. Selain itu, strukturalisme memang merupakan pandangan yang mengkritik marxisme dan dalam hal ini marxisme dapat menjadi pandangan yang telah diakui oleh hubungan internasional.

 

 

Referensi :

Jackson, Robert, dan Georg Sorensen. 2009. Pengantar Studi Hubungan Internasional (terj. Dadan Suryadipura, Introduction to International Relations). Jogjakarta: Pustaka Pelajar. 

Burchill, Scott, dan Andrew Linklater. 2009. Teori-Teori Hubungan Internasional (terj. M. Sobirin, Theories of International Relations). Bandung: Nusamedia.

Wardhani, Baiq L. S., 2013. Marxisme dan Strukturalisme, materi disampaikan pada kuliah Teori Hubungan Internasional. Departemen Hubungan Internasional, Universitas Airlangga. 28 Maret 2013.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :