Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

Kepentingan, Kekuatan, Pengetahuan dalam Pembelajaran Rezim Internasional

Dalam rezim internasional juga dibahas mengenai kepentingan, kekuatan, dan pengetahuan. Dalam artikel ini telah dijelaskan oleh Hansenclever et. al. (1996) bahwa kepentingan dalam rezim internasional yang didasari oleh pemikiran kaum neoliberal. Pemikiran neoliberalisme mengenai kepentingan ini ialah dengan alasan adanya kepentingan yang membuat terjadinya kerjasama diantara negara satu dengan yang lain. Selain itu, menurut kaum neoliberal aktor yang paling dominan adalah negara. Dalam hal ini, kerjasama yang dilaksanakan oleh negara-negara ini menjadi hal penentu demi jalannya kerjasama yang didasari oleh kepentingan-kepentingan masing-masing negara dan akan membentuk yang namanya kepentingan bersama atau common interest.

Pencapaian yang dilakukan demi terwujudnya common interest ialah dengan adanya power. Power yang dimiliki karena adanya rezim tersebut membantu dalam pelaksanaan institusi yang nantinya akan dilakukan oleh negara-negara yang memiliki kekuatan yang sama. Dalam kasus ini hegemon bukanlah menjadi satu penentu demi terciptanya rezim yang terjadi di dalam kerjasama. Selain itu, terhadap anggapan mengenai rezim oleh kaum neoliberalis, yaitu rezim merupakan wadah yang membantu bagi negara-negara untuk mencapai suatu kepentingan.

Power yang tak lepas dari adanya peranan negara hegemon merupakan hal yang menjadi penentu demi jalannya rezim tersebut. Hansenclever et. al. (1996) menyatakan jika tidak adanya negara hegemon yang memegang rezim akan membuat rezim yang terdapat pada kerjasama internasional menjadi tidak tahan lama. Hal demikian terjadi karena tidak adanya penengah jika terjadi konflik dalam kerjasama yang dilakukan negara-negara tersebut. Dengan adanya negara hegemon memiliki keuntungan agar terciptanya stabilitas. Selain itu, negara hegemon merupakan negara yang memfasilitasi demi berjalannya rezim yang terdapat dalam kerjasama internasional yang dilakukan.

Dalam artikel Hansenclever (1996) menjelaskan mengenai pengetahuan atau knowledge yang terdapat dalam rezim internasional. Pengetahuan yang diutarakan ini berdasarkan pemikiran dari kaum kognitivis. Terdapat dua macam kognitivisme, yaitu kognitivisme lemah dan kognitivisme kuat. Kognitivisme lemah bertentangan dengan pemikiran neoliberalisme dan realisme yang menjadi permasalahan utama. Dalam hal ini kognitivisme lemah lebih menekankan terhadap perspektif mengenai kepentingan negara-negara yang menjalin kerjasama internasional.  

Kognitivisme kuat dalam Hansenclever (1996) menjelaskan bahwa pengetahuan merupakan identitas. Identitas tersebut merupakan dasar pemikiran bagi negara-negara dalam menjalankan kerjasama internasional. Identitas dalam hal ini sangat penting peranannya karena sebelum melakukan kerjasama internasional bagi negara-negara yang terlibat harus mengetahui identitasnya sendiri. Identitas yang ada merupakan salah satu pengaruh untuk menjaga kestabilan dalam rezim internasional tersebut.

Kepentingan, kekuatan, dan pengetahuan merupakan hal-hal yang paling berpengaruh demi berjalannya rezim. Namun, dalam hal ini masih menjadi kebingungan penulis untuk dapat memahami pengetahuan yang bisa mempengaruhi jalannya rezim internasional. adanya kepentingan dan kekuatan memang tentunya sangat berpengaruh demi jalannya rezim tersebut dan kedua hal tersebut telah dapat membuktikan dengan adanya kepentingan dan kekuatan dapat menstabilkan rezim yang menjadi penentu demi jalannya sebuah kerjasama internasional.

 

Referensi :

Andreas Hasenclever, Peter Mayer, Volker Rittberger, 1996, “Interests, Power, Knowledge: The Study of International Regimes”, Mershon International Studies Review, Vol. 40, No. 2 (Oct., 1996), pp. 177-228 dalam http://www.jstor.org/stable/222775

 

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :