Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

Globalisasi Kultur

Pembahasan dalam globalisasi kali ini berbicara mengenai globalisasi kultur. Globalisasi kultur masa sekarang ini sudah kian merambat. Merambatnya globalisasi kultur ini karena adanya bantuan dari teknologi yang semakin berkembang. Perkembangan teknologi yang terjadi dengan berkembangnya media informasi yang semakin menjamah dunia global saat ini. Menurut Benedict Anderson, salah satu contoh media informasi, yaitu adanya telegraph dan printing (Held dan McGrew 2003, 26).

Mungkin masih menjadi pertanyaan apakah kultur sudah ada sebelum adanya negara? Sebelum terbentuknya suatu negara sebenarnya kultur sudah ada lebih dulu. Hal ini kemudian membuat pandangan terhadap kultur yang dianggap sebagai buatan kaum elit (Susanto 2013). Budaya yang terdapat di setiap negara merupakan salah satu bentuk dari identitas yang dimiliki oleh negara tersebut. Dalam hal ini identitas dianggap sebagai inti dari kultur. Hal demikian terjadi karena kultur yang terbentuk dapat membentuk identitas bagi negara. Namun, terdapat pernyataan yang menyabutkan bahwa identitas nasional merupakan salah satu bentuk nyata dari proyek politik kaum elit (Held dan McGrew 2003, 27).

Dalam memahami identitas dapat dibagi menjadi tiga kategori, yaitu place, space, dan scape. Space dan scape merupakan hal yang masih abstrak untuk dijadikan sebuah identitas. Namun, berbeda dengan place yang bisa dijadikan sumber untuk identitas. Hal demikian terjadi karena globalisasi dalam ranah tertentu sifatnya adalah mentransfer atau mereduksi keterkaitan yang terjadi antara manusia dan tempat (Susanto 2013).

Nederveen Pietersen menjelaskan mengenai tiga teori mengenai globalisasi, yaitu differentralism, hybridization, dan convergen (Susanto 2013). Differentralism merupakan asumsi dari pandangan kaum diferensialis bahwa globalisasi mempengaruhi culture. Namun, terpengaruhnya culture ini hanya seperti terfragmentasi dan tidak menghilangkan kultur asli. Dapat dilihat bahwa dalam globalisasi kultur ini telah membuat pergeseran budaya asli, tetapi budaya asli ini tidak selamanya kalah dengan adanya budaya asing yang masuk. Hal ini terjadi karena budaya asli masih dapat menjadi andalan bagi negara yang menjadi identitas bangsanya.

Hybridization memiliki asumsi-asumsi dalam globalisasi, yaitu tidak ada yang murni dalam culture, globalisasi merupakan hasil dari proses yang kompleks, dan hasilnya tidak pernah sama dengan komponen pembentuknya. Namun, pengaruh ini kemudian memberikan hal-hal yang dapat dijadikan sebuah gambaran baru terhadap khalayak umum (global). Hal ini dapat dilihat dengan masuknya budaya asing yang masuk ke Indonesia, misalnya dengan berkembangnya tren Harajuku Style yang menjamah masyarakat Indonesia dan kemudian menjadi pengaruh dalam tren yang nantinya akan digunakan oleh masyarakat, khususnya kalangan muda.

Convergen menjelaskan mengenai globalisasi terjadi dan hal itu juga akan mempengaruhi dalam menyeragamkan budaya. Hal ini dapat dilihat terdapatnya bangunan yang bisa dibilang meniru antara bangunan satu dengan yang lain. Kemudian, dengan adanya peniruan budaya seperti ini telah membuat keunikan yang dimiliki oleh wilayah satu dengan yang lain tidak terlihat.

Adanya globalisasi tidak hanya berpengaruh terdahap satu titik saja, namun globalisasi juga menyangkut pada masalah culture. Culture dalam hal ini merupakan peran yang paling penting karena merupakan salah satu bentuk dari identitas yang dimiliki suatu bangsa/negara. Dalam hal ini penulis melihat bahwa globalisasi kultur yang terjadi dalam dunia global saat ini sudah sangat memiliki pengaruh karena budaya yang dimiliki oleh suatu bangsa/negara sudah semakin memudar. Memudarnya budaya ini merupakan contoh kasus yang sangat memiliki pengaruh karena identitas yang dimiliki suatu bangsa/negara ini bisa dikatakan dalam masa kritis.  

 

      

Referensi :

Held, David dan Anthony McGrew. 2003. “the Fate of National Culture”, dalam Globalization/Anti-Globalization, Oxford: Blackwell Publishing Ltd., pp. 25-37.

Susanto, Joko. 2013. Globalisasi Kultural. materi disampaikan pada kuliah Pengantar Globalisasi. Departemen Hubungan Internasional, Universitas Airlangga. 4 April 2013.

 

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :