Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

Teori Kritis

Frankfurt School of Thought merupakan salah satu sekolah yang melahirkan beberapa pemikir yang mengkritisi pandangan-pandangan yang terdapat dalam hubungan internasional. Dengan adanya Frankfurt School of Thought menyebabkan adanya kemunculan dari teori kritis. Teori kritis muncul pada tahun 1980 dan didasari dengan adanya pemikiran dari Kant, Hegel, dan Marx (Burchill dan Linklater 2009, 196). Mereka berpendapat bahwa adanya teori-teori sebelum adanya teori kritis belum memiliki kelengkapan yang cukup. Hal ini kemudian menyebabkan adanya kemunculan teori kritis yang membantu dalam melengkapi teori-teori yang ada sebelumnya. Selain itu, dengan adanya teori kritis ini mempertanyakan mengenai sosial politik yang terjadi melalui cara immanent critique (Wardhani 2013). Hal ini menjelaskan bahwa tidak akan ada habisnya mengenai kritik-kritik yang dilontarkan.

Teori kritis tidak termasuk teori yang lahir dari hubungan internasional secara langsung. Teori kritis masih memiliki kandungan mengenai strukturalisme dan marxisme. Selain itu, teori kritis juga dikenal dengan sebutan maxist humanist. Terdapat pemahaman yang dianut oleh kaum teori kritis ini, yaitu given. Teori kritis menjelaskan mengenai pemikiran dalam memahami sifat-sifat utama dari masyarakat kontemporer dengan memahami perkembangan sejarah dan sosialnya, dan menurut kontradiksi saat ini yang bisa membuka kemungkinan melebihi masyarakat kontemporer dan bangunan patologi dan bentuk-bentuk dominasi (Burchill dan Linklater 2009, 196).

Pertentangan sering dilakukan oleh teoritisi kritis. Mereka menentang dengan adanya pandangan yang dilakukan oleh kaum positivis, liberalis, behavioralis, dan yang termasuk dalam perspektif tradisional. Teori kritis menentang pandangan positivisme mengenai tiga postulat dasar posistivisme, yaitu realitas eksternal objektif, perbedaan subjek/objek, dan ilmu sosial bebas nilai (Jackson dan Sorensen 2009, 299).  Dapat dilihat bahwa dalam perspektif positivisme, teori memisahkan diri dengan objek analisisnya dan meninggalkan ideologi, value, opini, serta subjek dan objek dipisahkan dalam rangka teorisasi. Dengan adanya hal ini membuat teori kritis angkat bicara, bahwa teori kritis tidak bertujuan untuk memisahkan diri dari masyarakat dengan teori tersebut dan berbeda dengan perspektif tradisional.

Teori kritis dapat dikatakan sebagai filsafahnya hubungan internasional. Teori kritis yang berbicara mengenai pandangannya bahwa perspektif tradisional muncul bersifat abuses (Wardhani 2013). Terdapat pendapat yang dikeluarkan oleh teori kritis, yaitu dengan adanya negara-negara kuat yang merupakan kontruksi sosial. Contoh yang dapat diberikan ialah negara Singapura yang dibantu oleh negara-negara kuat, maka ia menjadi negara yang kuat juga. Namun, dalam hal ini Singapura memiliki potensi untuk menjadi failed stated. Dalam hal ini bisa dilihat bahwa terbentuknya ketidakadilan yang terjadi dalam perkembangan negara-negara di dunia.

Dalam hal ini teori kritis menekankan fokusnya mengenai keadilan. Teori kritis merupakan Mahzab Frankfurt, mengkritisi berbagai hal dan memperluas cakupan hubungan internasional (Burchill dan Linklater 2009, 196). Sejak adanya teori kritis dalam hubungan internasional menjadi suatu aktivitas dan mulai tertanamnya poin-poin yang berbeda dalam tubuh ilmu hubungan internasional. Teori kritis lahir dari marxism tetapi bukan salah satu aliran marxist, namun dalam hal ini teori kritis juga mengkritik pandangan marxisme.

Terdapat asumsi teori kritis, yaitu dalam pembelajaran hubungan internasional diorientasikan dari emancipatory dan teori kritis membebaskan mind set. Dalam mengorientasikan dari emancipatory terdapat tiga perspektif besar dalam emancipatory sendiri, yaitu critical theory, postmodern, dan feminist/m (Wardhani 2013). Dalam mengorientasikan emancipatory, teori kritis memberikan penegasan dalam pemahaman, yaitu dengan tujuan menganalisis kemungkinan memahami emansipasi dalam dunia modern yang membawa analisis kritis dari kedua halangan dan kecenderungan-kecenderungan yang tetap ada, kepada “organisasi rasional aktifitas manusia”. Pemahaman ini lebih menekankan dalam bidang yang berkaitan dengan pencapaian kehidupan yang adil (Burchill dan Linklater 2009, 197). Sedangkan, mengenai critical theory membebaskan mind set, yaitu pembebasan aturan dan pembebasan dalam cara berpikir.

Teori kritis tidak hanya mengkritisi perspektif tradisional, namun teori kritis juga mengkritisi dirinya sendiri. Hal ini dikenal dengan sebutan self-critic. Selain itu, teori kritis mengandung unsur yang utopianisme karena adanya keinginan untuk memperbaiki diri untuk menjadi yang sempurna. Menurut Robert Cox, teori kritis mengandung elemen utopianisme dalam hal teori kritis dapat menghadirkan gambaran yang koheren tatanan alternatif, tetapi utopianismenya dibatasi oleh pemahamannya atas proses-proses historis (Jackson dan Sorensen 2009, 301). Selain itu, dengan adanya teori kritis diinginkan untuk menjadi teori yang reflektif dan harus pula meliputi catatan asal-usul dan penerapannya dalam masyarakat (Burchill dan Linklater 2009, 197).  

Kesimpulan mengenai teori kritis yang muncul dan berkembang ini memiliki pengaruh yang dalam melengkapi kekurangan pada perspektif sebelumnya. Selain itu, teori kritis yang berkembang dalam hubungan internasional masih menekankan keadilan dalam masyarakat. Hal ini yang menjadi pengembangan terhadap perkembangan teori-teori yang berkembang sebelumnya dan menjadikan perluasan dalam pemahaman mengenai teori-teori sebelumnya yang telah dilengkapi oleh teori kritis. Selain itu, teori kritis yang berkembang ini tidak mencampur adukkan terhadap objek yang ditelitinya.

 

 

Referensi :

Jackson, Robert, dan Georg Sorensen. 2009. Pengantar Studi Hubungan Internasional (terj. Dadan Suryadipura, Introduction to International Relations). Jogjakarta: Pustaka Pelajar. 

Wardhani, Baiq L. S., 2013. Rationalism and the English School of Thought, materi disampaikan pada kuliah Teori Hubungan Internasional. Departemen Hubungan Internasional, Universitas Airlangga. 4 April 2013.

Burchill, Scott, dan Andrew Linklater. 2009. Teori-Teori Hubungan Internasional (terj. M. Sobirin, Theories of International Relations). Bandung: Nusamedia.

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :