Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

Bagaimana Dekontruksi Posmodernisme?

Posmodernisme lahir sekitar tahun 1980an. Posmodernisme merupakan salah satu pendekatan yang terdapat dalam hubungan internasional. Pendekatan ini menolak akan pandangan yang dilakukan oleh pendekatan positivisme. Posmodernisme adalah pendekatan yang tidak dapat dipastikan mengenai definisi dan artinya (Burchill dan Linklater 2009, 241). Hal ini terjadi karena tidak ada definisi yang absolut mengenai posmodernisme. Selain itu, dengan alasan mengenai definisi yang tidak absolut tersebut telah mengakibatkan perdebatan diantara para pengkritiknya dan juga para pendukung pendekatan tersebut.

Posmodernisme muncul karena adanya keinginan untuk menentang mengenai pendekatan-pendekatan yang ada terdahulu. Terdapat alasan lain yang menjadi penyebab dari kemunculan dari posmodernisme, yaitu karena adanya dekontruksi yang dapat disebut juga sebagai modernisme. Dekontruksi dalam hal ini berkaitan dengan maksud yang ingin dicapai oleh posmodernisme, yaitu mendenkontruksikan mengenai teori-teori yang ada sebelumnya dan dibangun kembali untuk membentuk pengertian baru dengan cara yang rasional, serta berusaha untuk lebih maju dalam mengikuti perkembangan dunia yang ada saat ini. Posmodernisme juga dikatakan sebagai ketidakpercayaan menuju metanaratif (Lyotard dalam Jackson dan Sorensen 2009, 303). Metanaratif adalah pemikiran yang menyatakan bahwa telah menemukan arti kebenaran.

Terdapat asumsi-asumsi dasar yang dimiliki oleh posmodernisme, yaitu karakteristik manusia bukan tidak mengalami perubahan, nilai, kepercayaan, dan tindakan manusia beragam, sesuai dengan konteks sosial dan budaya, tidak bisa menunjukkan beberapa teori umum untuk membuat pengertian tentang dunia atau menentukan sebuah blueprint atau skema bagi emansipasi umat manusia secara universal, dan tidak ada fakta tentang dunia (Steans et al. 2005). Posmodernisme ada karena terdapat kekecewaan yang dirasakan sekelompok orang mengenai konstruksi modernitas. Konsep modernitas ini mengenai “seeing you believing”, yang menjelaskan bahwa mempercayai sesuatu yang dapat dilihat. Hal inilah yang menjadi masalah bagi sekelompok orang yang tidak setuju dengan konsep-konsep yang ada, yaitu konstruksi modernitas (Wardhani 2013). Konsep modernitas yang diinginkan oleh kaum posmodernisme ialah dengan adanya modernitas yang ada akan mampu menggiring ke dalam perubahan kehidupan yang lebih baik lagi.

Posmodernisme merupakan tendensi imanen dari modernisme (Suryajaya t.t., 54). Posmodernisme diyakini karena adanya keputusasaan mengenai modernitas yang kemudian hal ini dikenal dengan adanya posmodernisme terdapat di jantung dari modernitas itu sendiri. Selain itu, posmodernisme merupakan suatu fenomena kultural (Suryajaya t.t., 55). Terdapat beberapa pendapat yang dikemukakan oleh kaum posmodernisme ialah mengenai power dan knowledge. Telah diketahui bahwa dengan adanya power yang dimiliki oleh suatu negara dapat memberikan nilai lebih. Power memiliki peranan penting karena konsep negara pada awal merupakan lahirnya disiplin ilmu hubungan internasional dan dianggap sebagai konsep dasar dari hubungan internasional itu sendiri (Burchill dan Linklater 2009, 242).

Knowledge merupakan salah satu hal yang penting selain power karena menjadikan knowledge tersebut sebagai aspek yang fundamental dalam teori hubungan internasional (Burchill dan Linklater 2009, 242). Posmodernisme menolak pemikiran kebenaran objektif karena kaum posmodernisme memiliki keyakinan bahwa pengetahuan dapat meningkat dan meluas. Peningkatan ini dapat dilihat dengan adanya kemampuan yang dimiliki oleh manusia dalam hal penguasaan di dalam dunia sosial termasuk sistem internasional (Jackson dan Sorensen 2009, 303). 

Power dan knowledge tidak dapat dipisahkan karena dalam hal ini kedua hal ini sangat berhubungan. Keterkaitan tersebut dapat dilihat bahwa jika suatu negara dalam melakukan tindakan lobi, dalam hal ini negara memang memiliki power, namun tindakan ini tidak akan berjalan jika negara tersebut tidak memiliki knowledge yang dapat meyakinkan negara yang ingin mereka lobi tersebut dan begitu sebaliknya. Menurut kaum posmodernisme power merupakan knowledge. Hal ini disebutkan karena pengetahuan yang ada digunakan sebagai gaining power dan power ada untuk mengontrol pengetahuan.

Posmodernisme dikatakan bersifat genealogi. Genealogi merupakan suatu jenis pemikiran historis yang mengungkap dan mencatat signifikansi dalam relasi kekuasaan pengetahuan (Burchill dan Linklater 2009, 247). Pengertian mengenai genealogi adalah suatu bentuk sejarah yang mengartikan sejarah atas hal-hal yang dianggap berada di luar sejarah. Kapasitas genealogi ini berkaitan dengan tulisan kontra sejarah yang mengungkapkan proses peniadaan dan penutupan yang membuat ide tentang sejarah menjadi alur yang terbuka dan menyatu. Sejarah yang ada ini merupakan sebuah rangkaian dominasi dan beban dalam pengetahuan dan kekuasaan  (Burchill dan Linklater 2009, 248).

Posmodernisme merupakan pandangan yang memiliki kekuatan dalam penurunan ego dan kesombongan akademik, serta memiliki pemikiran kebenaran universal yang dikatakan valid sepanjang waktu dan tempat (Jackson dan Sorensen 2009, 305). Posmodernisme ada karena adanya keinginan mengenai modernitas. Namun, terdapat pernyataan lain yang mengungkapkan bahwa posmodernisme merupakan englightenment. Dengan ini kesimpulan yang didapat ialah posmodernisme belum bisa menunjukkan bahwa pandangan ini merupakan pandangan yang dapat memberikan fakta. Posmodernisme tidak melakukan tindakan yang nyata, melainkan dalam hal ini posmodernisme hanya berupaya sebatas mengeluarkan pernyataan kepada pandangan-pandangan lain. Selain itu, posmodernisme juga tidak terlalu dapat menyakinkan mengenai apa yang hal-hal menguatkan dalam perspektifnya tersebut.

 

Referensi :

Wardhani, Baiq L. S., 2013. Postmodernism, materi disampaikan pada kuliah Teori Hubungan Internasional. Departemen Hubungan Internasional, Universitas Airlangga. 2 Mei 2013.

Burchill, Scott, dan Andrew Linklater. 2009. Teori-Teori Hubungan Internasional (terj. M. Sobirin, Theories of International Relations). Bandung: Nusamedia.

Suryajaya, Martin, t.t. “Tiga Tesis Tentang Posmodernisme”, dalam http://www.academia.edu/405312/Tiga_Tesis_tentang_Posmodernisme [diakses 4 Mei 2013].

Jackson, Robert, dan Georg Sorensen. 2009. Pengantar Studi Hubungan Internasional (terj. Dadan Suryadipura, Introduction to International Relations). Jogjakarta: Pustaka Pelajar.

Steans, Jill and Pettiford, Lloyd & Diez, Thomas, 2005. Introduction to International Relations, Perspective & Themes, 2nd edition, Pearson & Longman, Chap. 5, pp. 129-154

 

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :