Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

Neoliberalisasi Globalisasi dan Arus Balik Globalisasi

Globalisasi yang berkembang di segala aspek bidang memiliki peranan yang sangat dominan. globalisasi yang terlihat dominan dalam hal ini ialah dalam bidang ekonomi. Bidang ekonomi yang menjadi sebuah patokan dimana memunculkan perspektif yang menjadi sebuah panutan dalam sebuah sistem. Perspektif tersebut ialah neoliberalisme. Dalam hal ini neoliberalisme lebih terlihat mencolok dalam perannya dalam kegiatan pasar yang berlangsung diantara negara-negara di dunia. Dengan adanya hal tersebut neoliberalisme menampakkan dirinya pada dunia bahwa dirinya berpegang teguh dengan ideologinya, yaitu free market, free trade, dan pro american capitalism (Susanto 2013).

Terdapat beberapa hal yang diungkapkan oleh para studi mengenai awal neoliberalisme. Neoliberalisme yang dianggap sebagai penyambung dalam hal gambaran ekonomi antara Chicago School dan polis dari Ronald Reagan dan Margareth Thatcher (Pieterse 2004, 1). Selain itu, dengan adanya neoliberalisme ini telah menyebabkan beberapa efek dalam hal perdagangan yang terjadi di antara negara-negara di dunia. Pengaruh yang sangat terlihat karena peranan neoliberalisme ini ialah adalah World Trade Organization (WTO). Organisasi tersebut ada digunakan sebagai pengatur perdagangan bebas. Munculnya WTO disebabkan karena adanya kekuasaan lebih dari negara hegemon, yaitu Amerika Serikat.

Amerika Serikat yang dikatakan sebagai negara hegemon memiliki pengaruh yang sangat besar karena negara tersebut sudah dianggap sebagai negara yang mengatur bagaimana ekonomi dunia berjalan saat ini. Telah diketahui bahwa WTO merupakan organisasi yang berjalan dalam bidang kerjasama ekonomi tetapi dalam hal ini juga WTO dianggap sebagai rezim internasional. Namun, dalam rezim internasional, yaitu WTO ini tidak hanya peran negara hegemon saja yang dijadikan fokus utama, tetapi adanya negara-negara berkembang juga dianggap di dalam karena rezim ini berfokus dengan prinsipnya, yaitu non diskriminasi. Selain itu, rezim tersebut telah memberikan dampak positif dari negara-negara berkembang karena dapat diketahui dahulu negara-negara berkembang seakan menolak liberalisasi yang terjadi di dunia, namun kali ini negara-negara berkembang mendorong adanya liberalisasi perdagangan.

Neoliberalisme telah memiliki dampak pada dunia, yaitu menjadikan dunia ke dalam tatanan yang lebih modern. Tatanan modern tersebut kemudian merujuk pada globalisasi kontemporer menjadi satu kesatuan yang membahas mengenai informasi, flexibilitas, dan beberapa perubahan seperti bahasan regional dan rekonfigurasi sebuah negara (Pieterse 2004, 1). Infrastruktur neoliberalisme terbentuk dalam pemikiran ekonomi dan ideologi mengenai pasar bebas, think tanks, dan kebijakan ekonomi (Pieterse 2004, 8).

Neoliberalisme yang mempengaruhi adanya pasar bebas memiliki penolakan dari anti globalisasi. Gerakan anti globalisasi merupakan gerakan yang muncul pada belahan bumi utara. Hal ini terjadi karena adanya gerakan neoliberalisme di belahan bumi utara (Susanto 2013). Anti globalisasi ini merupakan sekelompok orang yang menentang adanya perdagangan bebas yang terjadi di antara negara-negara di dunia. Pergerakan ini karena adanya aksi protes dari masyarakat mengenai globalisasi yang menjadikan adanya krisis ekonomi, terdapatnya negara berkembang disebabkan karena adanya massif globalisasi, disepakatinya integrasi pasar yang nantinya akan adanya keterlibatan dengan pihak swasta, dan blok perdagangan yang membuat regulasi atau keputusan ekonomi yang hanya dihadiri dan diikuti oleh negara, yaitu yang terlegitimasi (Susanto 2013).

Adanya anti globalisasi sering disalahartikan karena dianggap sebagai lawan dari globalisasi. Gerakan anti globalisasi yang terjadi ini lebih memfokuskan diri terhadap globalisasi ekonomi. Globalisasi ekonomi yang dijadikan pergejolakan oleh anti globalisasi dinilai sebagai hal yang dapat mematahkan. Namun, dalam hal ini anti globalisasi tidak hanya menentang begitu saja, tetapi mereka juga memberikan alternatif lain yang digunakan sebagai perlawanan terhadap pro globalisasi, ekonomi pasar bebas, dan politik ortodoks. Alternatif-alternatif tersebut ialah dengan membentuk beberapa kelompok seperti Non Governmental Organizations (NGOs) dan alternatif partai politik (Buckman 2004, 107-108).  

Pergerakan anti globalisasi muncul karena adanya ketidakadilan yang dirasakan. Masalah utama yang menyebabkan adanya pergerakan anti globalisasi ini pada dasarnya terletak pada sisi negatif dan kritikan mengenai globalisasi (Thompson 2003, 407). Selain itu, pergerakan yang terjadi ini tidak hanya organisasi tunggal saja, namun dalam hal ini membentuk pergerakan yang nantinya akan menggerakkan individu dan berbagai organisasi lainnya (Buckman 2004, 110).

Arus balik globalisasi ada karena pengaruh dari pergerakan anti globalisasi. Pergerakan ini bisa dilihat pada tahun 1999. Pada tahun tersebut terjadi protes besar-besaran yang dikenal dengan sebutan Battle for Seattle. Namun, pergerakan protes ini bukan hanya pada bidang ekonomi saja, namun juga memprotes norma (Buckman 2004, 107-108). Pergerakan yang menunjukkan adanya sikap anti globalisasi ini seperti aksi Boston Tea Party. Pergerakan ini merupakan salah satu contoh terhadap penolakan dari adanya globalisasi.

Pergerakan anti globalisasi yang dicontohkan sebelumnya merupakan pergerakan yang menandakan penolakan terhadap adanya neoliberalisme. Pergerakan neoliberalisme ini menjadikan ketimpangan yang terjadi antara negara satu dengan negara lain, khususnya negara ketiga. Negara ketiga bisa dikatakan sebagai negara yang tidak mendapatkan dampak terlalu besar, tetapi negara-negara di belahan bumi utara yang lebih condong mendapatkan dampak positifnya. Namun, bukan berarti negara ketiga tidak mendapatkan dampak positif, tetapi keduanya, yaitu positif dan negatif.  

 

 

 

 

 

Referensi :

Buckman, Greg. 2004. “the Anti-Globalization Movement”, dalam Globalization: Tame It or Scrap It?, London: Zed Book, pp. 107-121  

 

Pieterse, Jan Nederveen. 2004. “Neoliberal Globalization”, dalam Globalization or Empire?, London: Routledge, pp. 1-15

 

Thompson, Grahame F. 2003. “Globalisation as the Total Commersialisation of Politics?”, New Political Economy, Vol. 8, No. 3, pp. 401-408

 

Susanto, Joko. 2013. Globalisasi Neoliberal dan Arus Balik Globalisasi. materi disampaikan pada kuliah Pengantar Globalisasi. Departemen Hubungan Internasional, Universitas Airlangga. 2 Mei 2013.

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :