Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

Rezim Perdagangan Internasional : Perubahan GATT menuju WTO

Berdasarkan review mengenai rezim perdagangan internasional bahwa adanya GATT (General Agreements on Tariffs and Trade) yeng merupakan salah satu wadah internasional yang menjadi pemandu bagi negara-negara dalam pelaksanaan jalannya suatu kerjasama. Jalannya kerjasama ini tidak lepas dengan diperlukannya rezim dalam pelaksanaan kerjasama tersebut. GATT merupakan rezim perdagangan internasional yang memiliki peranan penting di dalam perkembangan kerjasama internasional yang dilaksanakan oleh negara-negara yang tergabung. GATT terdapat karena dilatarbelakangi dengan berakhirnya Perang Dunia II.  

Dalam peperangan yang terjadi ini telah mengakibatkan sebagian banyak dari negara-negara yang terlibat, khususnya bangsa Eropa menjadi lemah. Lemahnya mereka ialah dengan semakin menipisnya ekonomi yang dimilikinya. GATT yang ada ini tidak terlepas dari lahirnya WTO (World Trade Organization). Organisasi ini merupakan revolusi yang terjadi pada GATT dan berubah nama menjadi WTO. Dalam tulisan Ford (2002) menjelaskan bahwa WTO merupakan kerjasama (organisasi) yang berdasarkan dalam bidang perekonomian, yaitu perdagangan internasional.

Terdapat banyak pertanyaan mengenai alasan mengapa GATT bertransformasi menjadi WTO. Hal ini kemudian memberikan penjelasan bahwa GATT tidak kuat dalam menanggapi aliran jasa yang mengalir di dalamnya. Namun, GATT hanya fokus terhadap jalannya perdagangan internasional yang terjadi di antara negara-negara anggota. Tindakan semacam ini dikenal dengan sifat ad hoc. Dengan adanya sifat ad hoc ini kemudian menjadikan rezim GATT tidak digunakan kembali dan bertransformasi menjadi WTO. Hal ini disebabkan karena GATT dianggap kurang mampu (berhasil) dalam menjadi rezim. Namun, menurut Ford (2002) dalam GATT terdapat dua teori yang menjelaskan bagaimana rezim GATT dapat berubah menjadi rezim WTO, yaitu teori materialist dan teori constructivist. Selain itu, terjadi pendekatan yang terjadi di dalam rezim perdagangan ini, yaitu pendekatan yang dipandang oleh kaum materialis dan pendekatan tradisional.

Menurut Ford (2002) mengenai pandangan materialis menjelaskan bahwa rezim perdagangan internasional merupakan produk dari negara hegemon, yaitu Amerika Serikat. Rezim dikatakan sebagai produk negara hegemon tidak hanya mencakup kumpulan dari negara-negara hegemon saja. Melainkan, rezim yang terjadi ini juga mencakup negara-negara berkembang. Dengan adanya kerjasama yang dilakukan negara hegemon dengan negara-negara berkembang ini diharapkan agar mampu membantu dan menaikkan taraf hidup bagi negara-negara berkembang. Selain itu, dalam hal ini negara hegemon dan negara-negara berkembang juga dapat mengakibatkan terjadinya perdagangan multilateral. Namun, dengan adanya kejadian seperti ini telah mengakibatkan teori materialist menjadi tidak kuat kembali.

Menurut Ford (2002) mengenai pandangan tradisional menjelaskan bahwa rezim perdagangan internasional ini dilihat dari berbagai sudut pandang yang dilihat dalam pembagian kelas. Pembagian kelas ini terdiri dari berbagai macam, yaitu dengan adanya negara hegemon merupakan sebuah pemimpin yang nantinya akan mencapai impian yang diharapkan. Selain itu, tuntutan dari negara kapitalis dalam sebuah rezim mengenai peran negara yang sesuai dengan struktur.

Kedua teori tersebut sesungguhnya menjelaskan mengenai alasan GATT bertranformasi menjadi WTO. Hal ini semua kemudian memberikan pemahaman bahwa dari kedua teori tersebut secara kolektif menjelaskan mengenai ide yang seharusnya dipaparkan dalam menjalani perdagangan internasional. Hal ini kemudian memberikan gambaran mengenai perlunya kerjasama perdagangan internasional yang terjadi di antara negara-negara di dunia tanpa terkecuali dalam memenuhi kebutuhan. Selain itu, perdagangan internasional yang terjadi ini bisa dikatakan sebagai rezim yang nantinya dapat membantu demi jalannya hubungan yang dilakukan diantara negara-negara anggota. Dengan adanya GATT dapat membantu jalannya sebuah kerjasama, namun memang dalam perjalanannya GATT mengalami kemerosotan karena tidak dapat mengimbangi mengenai perkembangan yang telah terjadi. Hal ini kemudian merubah GATT menjadi WTO yang memiliki peran yang sama. Selain itu, dengan adanya WTO lebih melengkapi dan bertindak secara tegas dibandingkan dengan GATT (rezim terdahulu).

Referensi :

Ford, Jane. 2002. “A Social Theory of Trade Regime Change: GATT to WTO”, International Studies Review, Vol. 4, No. 3, USA: Blackwell Publishing. pp. 115-138.

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :